BAB 17

1050 Words
“Emhh..” Arsyila melenguh pelan. “Sshh.. pelanhh-pelanhh, Kak!” “Enghh..” Elfathan meninggalkan gigitan kecil di leher istrinya, hal itu membuat Arsyila melenguh pelan. Bibir Arsyila tidak berhenti tersenyum menikmati sentuhan suaminya. Ia memberi ruang lebih pada Elfathan agar keduanya merasa lebih nyaman. “Emhh..” Pergerakan Elfathan semakin turun ke bawah. Ia menuju area favoritnya yang tidak boleh tertinggal. Ia terdiam sejenak sembari menatapnya lekat. “Sangat indah!” gumamnya “Kak, jangan menatapnya seperti itu!” ujar Arsyila dengan nada malu-malu. Elfathan terkekeh geli. Meskipun mereka sudah terbiasa berhubungan tapi rasa malu-malu saat melakukannya sangat terasa dalam diri Arsyila. Bukannya berhenti menatap Elfathan justru menunduk. Ia memberikan sentuhan kecil yang membuat Arsyila merasa geli. “Owhh.. Kak, gelii!” “Enghh..” Arsyila menggeliat kecil merasakan tubuhnya sedikit bergetar akibat sentuhan suaminya. Sekecil apapun sentuhan Elfathan mampu menggetarkan tubuhnya. Elfathan tersenyum smrik. Rambut Arsyila yang berantakan menambah kesan cantik dan mempesona. Ia sangat suka menatapnya. “Emhh.. Kak El!” panggil Arsyila dengan nada meracau. Elfathan minum seperti Bayi yang sedang kehausan. Arsyila tidak bisa berkata-kata. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Hanya suara indahnya yang mengalun memenuhi ruangan tersebut. Sentuhan Elfathan membuatnya gila. “Aahh..” “Sshh.. lebih kuat, Kak!” “Owhh.. enakk..” Elfathan tersenyum mendengar suara rintihan istrinya. Suara Arsyila mengalun indah di telinganya. Tangan yang satunya tidak tinggal diam. Ia menelusuri keindahan yang dimiliki istrinya. Semua yang ada di dalam diri Arsyila adalah miliknya. Dengan bebas ia melakukan apapun padanya. “Teruss, Kak!” Setelah merasa cukup Elfathan bergerak semakin ke bawah. Ia menuju perut Arsyila yang masih rata. Ia tersenyum sembari mengelusnya dengan lembut. Dalam hati ia berdoa agar segera tumbuh buah hatinya di sana. Cup “Enghh..” Elfathan mencium perut Arsyila cukup lama dan penuh perasaan. Hembusan nafas serta kumis tipis Elfathan membuat sensasi menggelitik dalam diri Arsyila. Kumis tipis Elfathan menusuk-nusuk kulit perutnya. “Kak, gelii!” ujar Arsyila dengan nafas terengah. Elfathan mendongak sembari tersenyum tipis. Bukannya berhenti Elfathan justru dengan sengaja memberi ciuman kecil berulang kali di atas perutnya. “Hahah.. geli, Kak!” Arsyila tertawa kecil dibuatnya. “Tapi kamu sukan kan?” “Hmm.. Arsyila menyukainya.” “Semoga di dalam sini segera tumbuh buah hati kita.” ujar Elfathan sembari mengelus perut istrinya. “Aamiin.” Elfathan tersenyum. Ia menegakkan tubuhnya bersiap melakukan ke inti. Wajah Arsyila memerah karena malu. Ia mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup melihat penampilan Elfathan malam ini. Terlihat gagah dan sangat tampan. Elfathan tersenyum smirk melihat istrinya mengalihkan pandangan. “Kenapa berpaling, hm?” tanyanya dengan suara serak. Arsyila hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Elfathan kembali menindih tubuh Arsyila sembari menatapnya lekat. Dengan sengaja ia menghembuskan nafas di telinga istrinya. Seketika Arsyila memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya agar tidak kelepasan. “Kak, jangan menggodaku!” “Uuhh..” nafas Arsyila terengah. “Kamu yang lebih dulu menggoda saya, Arsyila.” Elfathan bergerak menggenggam kedua tangan istrinya. Ia sudah siap, dan… “Aahh..” “Enghh..” Keduanya menyatu dengan sempurna. Arsyila dibuat terkejut padahal sebelumnya sudah mempersiapkan diri. Suara Arsyila semakin keras seiring pergerakan suaminya. Elfathan malam ini tidak memberi ampun padanya. Apalagi Arsyila yang telah memancingnya. “Owhh..” “Enak, Kak.” “Terusss.. sshh..” Arsyila meracau tidak jelas. Ia terus memanggil nama suaminya setiap hentakan yang dilakukan Elfathan. Bahkan ia mulai kuwalahan mengimbangi pergerakan suaminya. Ia benar-benar pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. “Uuhh.. s**t!” “Enak, Arsyila.” ujar Elfathan dengan nada meracau. Tubuh keduanya dibanjiri keringat. Pendingin ruangan seolah tidak berfungsi bagi mereka berdua. Justru Elfathan semakin mempercepat pergerakannya. “Sedikit lagi, Arsyila!” Namun tiba-tiba Arsyila memutar tubuh keduanya. Saat ini ia menjadi pemimpin. Ia mencoba untuk mengendalikan permainan malam ini. Perbuatan Arsyila membuat Elfathan terkejut, namun ia menyukainya. “Apa yang ingin kamu lakukan Arsyila?” tanya Elfathan dengan nafas terengah “Arsyila ingin memimpin permainan malam ini, Kak.” “Tapi…” “Owhh..” Belum selesai Elfathan menjawab tiba-tiba Arsyila bergerak. Ia benar-benar memimpin permainan. Tanpa disangka Arsyila begitu pandai memimpin permainan. Bahkan Elfathan dibuat terkejut olehnya. Hal baru yang Elfathan ketahui. Elfathan mencengkram pinggang Arsyila dengan cukup kuat. Suara keduanya saling bersahutan. Untung saja kamar Hotel mereka memiliki kedap suara jika tidak, entah apa yang akan dipikirkan pengunjung lain. Apalagi suara mereka cukup kencang. “Lebih cepat, sayang!” “Uuhh..” Tanpa sadar Elfathan memanggil Arsyila dengan sebutan sayang. Karena terlalu nikmat ia tidak sadar dengan penyebutannya. Bahkan Elfathan sesekali memejamkan mata karena merasakan sebuah kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata-kata. Dan, untuk pertama kalinya Arsyila memimpin. “Owhh.. sedikit lagi, sayang.” “Lebih cepatt!” Elfathan membantu istrinya, dan… “Aahh..” Brugh “Huhh..” “Huhh..” Arsyila menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Elfathan. Ia mulai mengatur nafasnya yang terengah. Rasanya begitu lega setelah berhasil mencapai kenikmatan. Rasa nikmat yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata. Namun setelah berhasil memimpin wajah Arsyila memerah bukan karena lelah, melainkan malu. Pasti Elfathan tidak menyangka dengan ini semua. Elfathan memeluk istrinya dengan erat. Keduanya masih berebut oksigen sebanyak mungkin. Di bawah sana keduanya masih menyatu dengan sempurna. Mereka masih menormalkan detak jantung masing-masing. “Saya tidak menyangka dengan perbuatan kamu malam ini, Arsyila.” ujar Elfathan masih dengan nafas terengah. “Nggak usah dibahas, Kak.” “Kamu belajar dari mana, hm? Kenapa bisa sepandai itu?” “KAK, UDAHH!” pekik Arsyila Arsyila malu sendiri mendengar perkataan suaminya. Ia tidak belajar dari manapun, melainkan dari suaminya sendiri. Padahal tanpa sadar Elfathan sendiri yang membuat dirinya bisa melakukan hal itu. Dan juga insting Arsyila bermain. Elfathan terkekeh mendengar pekikan istrinya. “Saya suka dengan permainan kamu tadi.” “Kak, cukup ya! Udah ah, Arsyila mau…” “Sshh..” “Aakkhh..” Elfathan merintih saat Arsyila bergerak. Arsyila tidak bisa bergerak dengan bebas karena di bawah sana mereka masih menyatu. Sama saja Arsyila membangunkan Singa yang sudah tidur. “Jangan banyak bergerak, Arsyila. Kita baru saja selesai.” ujar Elfathan dengan nafas terengah “Maaf, Kak. Makanya jangan mancing-mancing Arsyila.” Elfathan tersenyum kecil. Ia tidak memancing hanya mengatakan yang sebenarnya. Wajar, karena Arsyila seorang perempuan. Ia malu mengakuinya namun senang bisa membahagiakan suaminya dengan caranya sendiri. Karena para istri memiliki punya gaya sendiri untuk menyenangkan suaminya. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD