BAB 16

1011 Words
Pukul 01.00 WIB “Selamat ya broo!” ujar Haikal sembari menepuk bahu Elfathan. “Hmm.. makasih.” “Udah sana pulang! Kalian ngapain si masih ada di sini!?” Elfathan mengusir Haikal dan Nizar karena tubuhnya sudah lelah. Seharian penuh ia harus menghadapi para tamu undangan, dan sekarang waktunya istirahat. “Astagaa.. sampai hati lo ngusir kita.” ujar Nizar dengan penuh dramatis “Huhh..” Elfathan menghela nafas kasar. “Gue capek mau istirahat, Nizar.” lanjutnya setelah menghela nafas. Nizar dan Haikal saling melirik. Tanpa berucap mereka sudah memahami arti dari tatapan masing-masing. Sudah cukup lama berteman, itulah yang membuat mereka mudah peka saat memberi kode. Bahkan mereka menahan senyum seolah meledek Elfathan. “Capek atau emang nggak sabar pengen unboxing?” Haikal berucap dengan nada menyindir. Bugh “Aduh!” Haikal mengaduh kesakitan saat Elfathan melayangkan pukulan di lengannya. Kejadiannya begitu cepat membuat ia tidak sempat menghindar. Sedangkan Nizar menyengir kuda saat mendapat tatapan tajam dari Elfathan. Senyumannya seolah mengatkan kita damai. “Sakit, El!” ujar Haikal sembari mengelus lengannya yang terasa sakit. “Sukurin! Makanya jangan suka bicara sembarangan.” “Udah, pulang sana! Gue mau istirahat.” lanjut Elfathan Bahkan setelahnya Elfathan langsung melangkah pergi meninggalkan Nizar dan Haikal begitu saja. Mereka menganga tidak percaya saat Elfathan pergi. Padahal mereka belum menjawab perkataan laki-laki itu. Tapi Nizar dan Haikal tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Mereka mengerti kondisi Elfathan saat ini. Tubuhnya pasti lelah setelah seharian menghadapi ratusan para tamu undangan. “Sialan emang Elfathan!” umpat Nizar “Wajar, dia nggak sabar ehem-ehem sama istrinya.” “Yaudah. Kita pulang sekarang, ngapain juga di sini.” setelahnya Nizar dan Haikal melangkah pergi meninggalkan tempat acara. Lagipula acara sudah selesai sejak 1 jam yang lalu. Elfathan berjalan menuju kamar Hotel. Karena acara sudah selesai para tamu undangan sudah pulang, bahkan tempat acara sudah cukup sepi. Orang Tuanya sudah pulang lebih dulu setelah acara selesai. Karena besok pagi mereka harus kembali beraktivitas. Ceklek “Assalamualaikum.” Salam Elfathan sembari membuka pintu kamar “Waalaikumsalam.” Saat masuk ke dalam kamar Hotel Elfathan tidak menemukan keberadaan istrinya. Ia mengernyitkan kening bertanya-tanya ke mana istrinya pergi. “Arsyila!” panggilnya “—“ “Ke mana Arsyila?” gumamnya Elfathan mengangkat bahunya acuh. Sebelum mencari keberadaan istrinya ia memustukan untuk bersih-bersih terlebih dulu karena tubuhnya terasa lengket. Setelah pintu kamar mandi tertutup Arsyila keluar dari persembunyiannya. Dengan sengaja ia bersembunyi dari suaminya. Ia ingin memberikan surprise malam ini. Arsyila menatap dirinya dari pantulan kaca. Malam ini ia menggunakan pakaian spesial yang diberikan oleh Ibunya, khusus untuk malam ini. Sebagai anak yang berbakti pada Orang Tua ia memenuhi permintaan sang Ibu. Entah keberanian dari mana ia melakukan hal tersebut. Arsyila tersenyum menatap dirinya sendiri. “Perfect!” “Pasti Kak El suka dengan penampilanku malam ini.” gumamnya dengan penuh percaya diri. Arsyila terlihat begitu tenang dan percaya diri. Karena ia yakin Elfathan langsung luluh setelah melihat penampilannya. Sikap bar-barnya malam ini akan ia keluarkan. Lagipula mereka sudah pernah berhubungan. Seharusnya Arsyila sudah bisa memahami suaminya. Beberapa menit kemudian Ceklek Arsyila tersenyum kecil mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, pertanda Elfathan sudah selesai. Ia juga tidak mendengar suara gemercik air arah kamar mandi. Elfathan belum sadar dengan keberadaan Arsyila yang sedang duduk di pinggir kasur dengan posisi membelakanginya. Ia masih sibuk menggosok rambutnya yang basah. Setelah merasa cukup Elfathan mendongak, dan… Deg Tubuhnya mematung di tempat. Ia terkejut melihat keberadaan Arsyila. Tidak, lebih tepatnya terkejut dengan pakaian yang dia kenakan. Ia menelan ludahnya kasar. Punggung putih mulus istrinya terlihat begitu jelas. “Asryila!” panggilnya dengan nada lirih. Bahkan suara Elfathan mulai berubah sedikit lebih berat. Perlahan namun pasti, ia mendekat ke arah istrinya. Elfathan berdiri di hadapan Arsyila. Wanita itu langsung berdiri sembari tersenyum menatap suaminya. Senyumannya terlihat begitu manis dan ada sedikit godaan di dalamnya. “Kak El baru selesai mandi?!” ujar Arsyila dengan nada lembut. “—“ Elfathan terdiam. Elfathan menelan ludahnya kasar. Lidahnya terasa keluh saat ingin berbicara. Bahkan nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Tetesan air dari rambut Elfathan yang masih basah menambah kesan mempesona. Arsyila mendekat lalu mengambil handuk yang ada di bahu suaminya. “Kak El kenapa diam aja, hm?” “Sini duduk, biar Arsyila keringin rambutnya.” Arsyila meminta Elfathan duduk di pinggir kasur agar mempermudah dirinya mengeringkan rambut laki-laki itu. Arsyila tersenyum tipis sembari mengusap rambut Elfathan dengan handuk. Elfathan menatapnya lekat. Bahkan ia tidak berkedip menatap kecantikan istrinya malam ini. Penampilan Arsyila telah membangunkan Singa yang sedang tertidur. Srett “Eh,” Arsyila terkejut karena Elfathan tiba-tiba menarik pinggangnya lebih mendekat. “Kamu dari mana?” tanya Elfathan “Arsyila nggak dari mana-mana.” “Bohong. Saat saya masuk kamu nggak ada di kamar.” Arsyila hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Kamu nggak keluar dengan pakaian seperti ini kan?” Arsyila mengernyitkan kening. “Nggak mungkin dong, Kak.” “Hmm.. kan siapa tahu.” “Saya suka dengan penampilan kamu malam ini. Sangat cantik dan…” Elfathan menggantungkan perkataannya. “Dan apa, Kak?” “Mempesona.” Arsyila tersenyum manis. Ia mengerlingkan matanya menggoda untuk menarik perhatian sang suami tercinta. Tanpa Arsyila melakukan hal tersebut Elfathan sudah tergoda sejak tadi. Bahkan saat ini mati-matian ia menahan diri. Ia ingin membuat Arsyila tidak berdaya di bawah tubuhnya. “Owhh.. s**t!” umpat Elfathan dalam hati “Sepertinya kamu dengan sengaja menggoda saya, hm?” Arsyila tersenyum smirk. “Nggak ada yang salah kan?” “Nggak sama sekali.” Srett Brugh “Aakkhh..” Arsyila memekik karena terkejut. Tiba-tiba Elfathan menarik Arsyila sampai terbaring di atas tempat tidur. Kejadiannya begitu cepat, bahkan Arsyila belum siap. Ia tidak tahu kalau Elfathan akan menariknya. Dengan cepat Elfathan menindih tubuh istrinya. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan. Handuk yang dipegang Arsyila terjatuh ke lantai. “Kak, bisa nggak kalau melakukan apa-apa itu kasih tahu dulu.” ujar Arsyila Elfathan tersenyum smirk. “Tidak perlu.” “Tapi…” Cup “Uummhh..” belum selesai Arsyila bicara Elfathan lebih dulu membungkan mulut istrinya dengan cara menyatukan bibir keduanya. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD