“Aahh..”
“Owhh.. enakk..”
“Teruss, Kak! Lebih cepat..” Arsyila meracau tidak jelas.
Sesekali Arsyila memejamkan mata menikmati perbuatan suaminya. Suaranya menggema di dalam ruangan tersebut. Cengkraman di punggung suaminya sangat terasa. Tubuhnya terasa terbang ke atas awan saat Elfathan menyentuhnya.
“Enghh..”
“Lebih cepat, Kak!”
Elfathan memenuhi permintaan istrinya. Ia mempercepat gerakannya agar segera mendapat kenikmatan dunia. Kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Suara keduanya saling bersahutan di dalam ruangan. Hal itu membuat Elfathan semakin bersemangat, tidak peduli keringat yang sudah membanjiri tubuh keduanya.
Bibir keduanya tidak berhenti tersenyum seolah sangat menikmati moment malam ini. Malam panjang penuh kehangatan. Suhu dingin seolah tidak berfungsi bagi keduanya. Mereka hanyut dengan permainan malam ini. Elfathan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, apalagi istrinya yang lebih dulu memulai.
“Sedikit lagi, sayang!”
“Owhh..”
Dan…
“Aahh..”
Brugh
Elfathan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Arsyila setelah pelepasan. Arsyila merasakan sesuatu mengalir di dalam perutnya. Rasanya hangat, dan tentunya membuat jantung Arsyila berdebar kencang. Mereka mengambil nafas sebanyak mungkin karena baru saja mengeluargkan energy besar.
“Huhh..” nafas Arsyila terengah.
Elfathan menarik Arsyila ke dalam pelukannya. “Sshh..” Arsyila merintih pelan karena di bawah sana Elfathan kembali melakukannya.
Elfathan terdiam. Seperti biasa, ia selalu menyukai posisi seperti ini. Ia akan membiarkan sampai besok pagi agar tidurnya terasa nyaman dan nyenyak. Apa yang ia lakukan saat ini sama saja dengan mimpi indah. Elfathan tidak ingin cepat-cepat pagi agar ia bisa lebih lama menikmati malam panjang hari ini. Malam penuh kehangatan dan beradu keringat.
“Awhss..”
“Sstt.. jangan banyak bergerak, sayang!” ujar Elfathan dengan suara serak
Arsyila mendongak setelah mendengar perkataan suaminya. Ia masih bertanya-tanya tentang panggilan baru untuknya. Sejak kapan Elfathan memikirkan hal tersebut? Kenapa ia tidak diberitahu terlebih dulu? “Kenapa, hm?” tanya Elfathan sembari mengelus pipi istrinya dengan lembut.
“Sejak kapan Kak El memikirkan panggilan baru untuk Arsyila?”
“Belum lama.”
Elfathan tersenyum kecil. Ia tahu apa yang dipikirkan istrinya. Panggilan sayang jauh lebih cocok karena mereka pasangan suami-istri. Hubungan keduanya terasa lebih bahagia setelah adanya panggilan sayang. Awalnya memang terdengar aneh namun Elfathan akan membiasakan diri. Baginya semua orang harus tahu kalau Arsyila adalah istrinya.
“Kamu suka?” tanya Elfathan
“Suka.”
“Kalau nanti kita sudah punya Baby nggak mungkin kita memanggil dengan sebutan nama, rasanya nggak pantas. Saya juga mau kamu mengubah panggilan untuk saya.”
Arsyila terdiam sejenak. Hal itu tidak terpikirkan sebelumnya. Ternyata pikiran Elfathan jauh lebih luas dan dewasa. Bahkan hal kecil seperti panggilan baru Elfathan sudah memikirkan lebih dulu daripada dirinya. Arsyila terlalu fokus menjadi Mahasiswi sekaligus istri yang baik untuk suaminya. Untuk hal kurang penting tidak terpikirkan olehnya.
“Em.. memangnya Kak El mau dipanggil apa?”
“Apa saja, yang terpenting ada romantis di dalamnya.”
“Em…” Arsyila mengetuk jari telunjuknya di dagu sembari berpikir nama panggilan yang cocok untuk suaminya.
Elfathan mendekatkan wajahnya pada telinga Arsyila lalu membisikkan sesuatu padanya. “Kalau berpikirnya lama saya akan bergerak dan melanjutkan aktivitas kita barusan.” ucapnya dengan nada penuh ancaman.
Glek
Arsyila menelan ludahnya kasar. Elfathan tidak suka menunggu lama, apalagi hanya sekedar nama panggilan. Ia menginginkan ada sedikit keromantisan di dalamnya. “Satu…”
“Kak, tunggu!”
“Dua…” Elfathan tidak peduli sekalipun Arsyila memohon. Ia lebih suka Arsyila memohon di bawahnya.
“Ti…”
“Hubby gimana?” tiba-tiba panggilan itu yang terlintas di kepalanya. Sebelum hitungan ke tiga Arsyila buru-buru menjawab. Hampir saja jantungnya lepas dari tempatnya.
“Em..” Elfathan berpikir apakah panggilan itu cocok untuknya atau tidak. Dan setelah berpikir akhirnya ia mengangguk setuju. Panggilan itu cocok untuknya.
“Hmm.. bagus.”
“Huhh.. syukulah.”
Arsyila menghela nafas lega setelahnya. Ia senang jika Elfathan setuju dengan panggilannya. Namun Elfathan terlihat murung setelahnya. Ia tidak jadi melakukannya sekali lagi, padahal ia sudah siap. “Yahh.. padahal Hubby sudah siap melakukannya.” ujar Elfathan sembari menghela nafas kasar.
Arsyila terkekeh geli mendengarnya. “Sabar ya, By! Berarti alam meminta kita untuk segera istirahat karena hari semakin malam. Besok kita harus menjalani aktivitas masing-masing.”
“Baiklah.”
Elfathan menarik Arsyila agar mereka semakin dekat. Ia memeluknya erat seolah takut kehilangan. Di bawah sana mereka masih menyatu dengan sempurna. Hal itu membuat Arsyila merasa sedikit kurang nyaman, namun ada rasa nikmat di dalamnya. Mungkin karena belum terbiasa yang membuatnya merasa kurang nyaman.
“Sshh..” Elfathan merintih pelan.
“Jangan terlalu banyak bergerak, sayang.” ucapnya dengan suara serak. Ia menahan diri agar tidak melakukannya lagi.
“Hubby yang gerak terus. Makanya lepasin biar nggak janggal.”
“Nggak mau.” Elfathan menolaknya dengan tegas. Ia nyaman dengan posisinya saat ini. Bahkan terasa sangat nyaman. Rasa lelah karena pekerjaannya seharian hilang seketika.
Arsyila mengelus rambut suaminya dengan lembut agar Elfathan cepat tidur. Laki-laki itu bisa rewel jika sedang lelah. Lebih baik Elfathan tidur lebih dulu dan setelahnya ia menyusul. “Jangan terlalu lelah bekerja, By. Nggak baik buat kesehatan. Arsyila nggak mau Hubby sakit.”
“Hmm..” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban.
“Ck, jangan hmm..hmm.. aja.”
Elfathan terkekeh mendengarnya. Bukannya menjawab Elfathan justru bergerak ke bawah. Ia menuju area favoritnya agar bisa lebih cepat tertidur. “Eh, Hubby mau ngapain?” Arsyila terlihat panik.
“—“
“Enghh..” Arsyila melenguh pelan.
Tanpa menjawab pertanyaan Arsyila, Elfathan langsung melakukannya. Ia minum seperti Bayi yang sedang kehausan. Baru saja Arsyila mengambil nafas namun baru hitungan menit Elfathan kembali melakukannya yang membuat nafasnya tercekat.
Arsyila menggigit bibir bawahnya agar tidak kelepasan. Ia meremas rambut suaminya sebagai pelampiasan. Bahkan sesekali menekan kepala Elfathan seolah menginginkan hal lebih. “Emhh..”
“Pelanhh-pelanhh, By!”
“Owhh..”
“Sstt.. jangan berisik, sayang! Hubby mau tidur.” ujar Elfathan dengan mata terpejam.
Bagaimana Arsyila bisa diam jika Elfathan terus menggempurnya. Semakin malam laki-laki itu semakin berulah, bahkan tangannya tidak mau diam. Jika seperti ini Arsyila bisa bergadang sampai besok pagi. Tidurnya tidak akan nyenyak karena sentuhan sang suami tercinta.
Arsyila memejamkan mata sembari menggigit bibirnya bagian dalam. Ia tidak ingin berisik karena sudah malam. Meskipun kamar mereka kedap suara namun suaranya bisa membangunkan Singa yang sudah tidur. Arsyila tidak ingin hal itu terjadi. Ia lebih memilih mencari aman.
"Astagaa.. aku tidak akan bisa tidur jika Hubby terus seperti ini." pekiknya dalam hati
"Sshh.." Arsyila merintih dalam hati.
"Emhh.. enak, sayang."
"Hubby suka." Elfathan meracau tidak jelas. Matanya terpejam namun mulutnya tidak berhenti bersuara. Ia mulai kehilangan kesadarannya karena sudah mengantuk.
"Sstt.. tidur By, sudah malam." Arsyila sebisa mungkin menahan suaranya agar tidak kelepasan. Akan menjadi bahaya bagi dirinya sendiri jika hal itu terjadi.
Next