Dua hari kemudian
Elfathan dan Arsyila sudah pulang ke rumah Orang Tuanya. Dan hari ini Elfathan mengajak Arsyila tinggal berdua di rumah baru mereka. Setelah pulang dari urusan masing-masing nanti mereka langsung pindah ke rumah baru. Pagi ini mereka ingin menjalani aktivitas masing-masing setelah libur.
Arsyila terlihat bingung harus melakukan apa setelah ini. Ia dan keluarganya baru saja sarapan bersama dan setelahnya ia duduk terdiam di ruang makan. “Arsyila kok kamu masih ada di sini sih?” ujar Kinan
“Terus Arsyila seharusnya duduk di mana, Ma?”
“Astagfirullah. Ya seharusnya kamu menyusul Elfathan ke kamar lalu kamu bantu dia siap-siap.”
Arsyila tersenyum canggung. Ia belum belajar tentang hal itu. Ia mengerti namun memilih diam karena bingung. Mungkin karena ia belum terbiasa. Karena itu ia masih butuh bimbingan dari Orang Tuanya. Ia dan Elfathan menikah secara mendadak, itulah yang membuat Arsyila tidak memiliki persiapan sebelumnya.
“Terus setelah itu ngapain, Ma?”
“Huhh..” Kinan menghela nafas kasar.
“Ya, melakukan apa gitu. Yang terpenting sekarang kamu bantu Elfathan dulu, dia mau berangkat bekerja.”
“Hmm.. baiklah.”
Arsyila menurut. Ia pergi meninggalkan ruang makan. Ia berjalan menuju kamar menyusul suaminya. Saat membuka pintu seseorang yang ia lihat pertama kali adalah suaminya. Elfathan sedang bersiap-siap ingin ke kantor.
Elfathan menoleh sebentar ke arah pintu namun setelah itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Arsyila mendekat ke arah suaminya lalu mengambil alih apa yang Elfathan lakukan. “Eh,” Elfathan terkejut dengan perbuatan istrinya yang tiba-tiba.
“Biar Arsyila bantu, Kak!”
“Hmm..” Elfathan tersenyum kecil melihatnya.
Ia membiarkan Arsyila merapikan pakaiannya. Tatapannya tertuju pada gadis itu. Tidak ada yang keluar dari mulutnya. Ia asik menatap wajah cantik Arsyila. “Dah, selesai!” ujar Arsyila sembari menepuk bahu suaminya dengan lembut.
“Ternyata kamu pandai juga melakukannya.” ujar Elfathan
“Kak Elfathan lupa kalau Papa Arsyila juga Ceo. Jadi sudah terbiasa Arsyila melakukan hal itu.”
Elfathan menganggukkan kepalanya berulang kali. Hal itu sudah sering Arsyila lakukan karena membantu Ayahnya jika Kinan sedang sibuk. Jadi Arsyila tidak bingung saat membantu Elfathan. Hanya saja ia bingung harus memulai dari mana.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Em.. pagi ini sekalian saya antar ke kampus, ya!” ujar Elfathan
“Memangnya nggak papa, Kak?”
“Nggak papa. Justru hal itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai seorang suami.”
“Hmm.. baiklah.” Arsyila mengangguk sembari tersenyum.
Untuk pertama kalinya Elfathan mengantar Arsyila ke kampus. Karena selama menjadi kekasih Elfathan belum pernah mengantar Arsyila, karena mereka disibukkan dengan urusan masing-masing. Dan karena merek sudah satu rumah hal itu memudahkan Elfathan untuk mengantar istrinya. Lagipula jalan mereka searah.
Arsyila siap-siap terlebih dulu. Style Arsyila tidak pernah gagal. Sebagai Gen Z ia selalu mengutamakan penampilan. Tanpa ia sadari sejak tadi Elfathan memperhatikannya. Elfathan merasa kurang suka dengan penampilan Arsyila pagi ini.
Setelah selesai Arsyila mendekat ke arah suaminya yang sedang duduk di sofa sembari menunggunya.”Ayo, Kak! Kita berangkat sekarang!”
“—“ Elfathan terdiam.
Arsyila menatap suaminya lekat. Ia menaikkan sebelah alisnya bertanya-tanya karena Elfathan hanya diam saja. “Kenapa, Kak?”
“Ada yang salah dari pakaian kamu.”
“Ha?” Arsyila langsung menunduk menatap penampilannya.
Ia menghadap ke arah kaca untuk memastikan lagi pakaiannya. Setelah memastikan berulang kali ia merasa tidak ada yang salah. “Apanya yang salah, Kak? Arsyila merasa sudah pas kok.”
“—“ bukannya menjawab Elfathan justru mendekat ke arah Arsyila. Ia berdiri tepat di belakang gadis itu.
Keduanya saling menatap dari pantulan kaca. Arsyila bertanya-tanya apa yang salah dari pakaiannya. “Mana yang salah, Kak?” tanyanya sekali lagi
“Ini!”
Elfathan memegang hijab Arsyila. Setelahnya ia menurunkan hijab Arsyila agar menutup d**a. Ia tidak suka apa yang menjadi miliknya dilihat oleh orang lain. Keindahan yang dimiliki Arsyila tidak boleh dinikmati laki-laki lain.
“Kak, jangan diturunin! Itu…”
“Sstt!” Elfathan meminta Arsyila untuk diam.
Arsyila mengerucutkan bibirnya. Ia terlihat cemberut karena Elfathan menurunkan hijabnya sampai menutupi d**a. Padahal sebelumnya sudah bagus, menurutnya. “Dah, selesai!” ujar Elfathan sembari tersenyum melihat hasilnya.
“Kak, kenapa diturunin? Padahal sebelumnya udah bagus.” Arsyila merengak karena tidak setuju.
“Bagus seperti itu.”
“Tapi…”
“Arsyila dengerin saya!”
Elfathan memutar tubuh Arsyila menghadap ke arahnya. Ia memegang kedua lengan Arsyila sembari menatapnya lekat. “Saya nggak suka berbagi dengan laki-laki lain, Arsyila.”
Arsyila mengernyitkan kening. Ia tidak mengerti maksud suaminya. “Maksud Kak El?”
“Saya tidak mau keindahan kamu ikut dinikmati oleh laki-laki lain. Jadi, biarkan hijab itu menutupi d**a kamu.” Elfathan menjelaskan secara lembut agar Arsyila mengerti.
Blush
Kedua pipi Arsyila bersemu merah setelah mendengar perkataan Elfathan. Ia tidak menyangka suaminya berpikir sejauh itu. Karena selama ini sikap Elfathan terlihat dingin, hal itu membuat Arsyila berpikir dia tidak menyayanginya, namun ia salah besar.
“Maaf, Kak.” cicitnya
“Yaudah. Hijabnya benar seperti itu, jangan diubah lagi!” Arsyila mengangguk kaku sebagai jawaban.
Setelah keduanya siap Elfathan menggenggam tangan Arsyila. Mereka beranjak keluar dari kamar. Meskipun sikap Elfathan terlihat dingin namun ia menyayangi Arsyila. Tidak ada suami yang tidak menyayangi istrinya.
Melihat putri dan menantunya membuat Fauzan dan Kinan tersenyum. Keharmonisan begitu terlihat di pengantin baru itu. “Udah mau berangkat ya?” ujar Kinan
“Iya, Ma. Kita mau berangkat sekarang.”
“Yaudah. Kalian hati-hati!”
Elfathan dan Arsyila mencium punggung tangan Orang Tua mereka, setelah itu beranjak pergi meninggalkan rumah tersebut. Namun baru dua langkah tiba-tiba Fauzan mengatakan sesuatu yang membuat Arsyila merasa salah tingkah.
“Ciee.. sekarang kalau mau ke kampus sudah ada yang anterin, biasanya kan nebeng Papa.” Dengan sengaja Fauzan memberi candaan kecil pada putrinya itu.
“Apasih, Pa?!”
“Iya kan? Sekarang lebih enak.”
Elfathan terkekeh geli mendengarnya. Yang dimaksud adalah dirinya sebagai pengganti Fauzan. Sudah menjadi tugas dan kewajibannya mengantar ke manapun Arsyila pergi. Bahkan sebentar lagi mereka akan tinggal berdua dalam satu rumah. Hal itu bertujuan agar mereka bisa hidup lebih mandiri, tidak bergantung pada kedua Orang Tua.
Beberapa menit kemudian
Membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di kampus. Setelah Elfathan menghentikan mobilnya Arsyila pamit berangkat ke kampus. Ia salim pada suaminya. Karena hal itu akan menjadi kebiasaan keduanya setiap mau beraktivitas. Hal baru yang harus mereka lakukan.
“Kak, Arsyila berangkat dulu!” pamitnya
“Sebentar!”
“Kenapa, Kak?”
Elfathan mengambil dompetnya lalu memberikan sebuah kartu debit untuk Arsyila. Kartu itu sebagai bentuk nafkah untuk istrinya. Bukan untuk memenuhi kebutuhan rumah, melainkan untuk jajan Arsyila setiap harinya. Kartu yang ia berikan adalah nafkah khusus kesenangan istrinya.
“Untuk Arsyila?” tanyanya sembari tersenyum
“Iya. Ambil!”
Tanpa segan Arsyila langsung mengambil kartu tersebut. Jika biasanya perempuan lain akan malu-malu atau menolak namun tidak berlaku bagi Arsyila. Lagipula sudah menjadi kewajiban Elfathan untuk memberi nafkah padanya. Sekaligus rezeki tidak boleh ditolak.
“Terima kasih, Kak.” Elfathan mengangguk sembari tersenyum.
“Kalau gitu Arsyila keluar dulu.”
“Tunggu! Ada yang ketinggalan, Arsyila.”
“Oh ya? Apa itu, Kak?”
Arsyila melihat tas miliknya untuk memastikan kembali isi yang ada di dalam. Setelah memastikan ternyata tidak ada yang ketinggalan. Ia menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. “Nggak ada, Kak. Memangnya apa yang ketinggalan?”
“—“
Srett
Bukannya menjawab pertanyaan Arsyila, Elfathan justru menarik gadis itu mendekat ke arahnya. Dan…
Cup
Elfathan mencium kening istrinya cukup lama. Arsyila tersenyum manis. Ternyata hal itu yang lupa. Seketika hati Arsyila berbunga-bunga. Semenjak menikah sikap Elfathan berubah drastis, jadi lebih hangat dan sedikit romantis.
“Dah, berangkat gih!”
Arsyila mengangguk dengan kedua pipi yang bersemu merah. “Assalamualaikum.” pamitnya sebelum keluar mobil.
“Waalaikumsalam.”
“Belajar yang benar!”
“Iya, Kak. Kak El juga semangat kerjanya.”
Elfathan tersenyum. “Terima kasih.”
Arsyila keluar dari mobil dengan perasaan campur aduk. Elfathan telah melambungkan perasaannya setinggi mungkin. Padahal sikapnya dulu cukup dingin dan tidak tersentuh, tapi setelah menikah jauh berbeda.
“Kenapa nggak dari dulu aja sih Kak El nikahin aku! Sikapnya begitu manis setelah menikah.” gumamnya sembari tersenyum sendiri.
“Duhh.. rasanya nggak mau ninggalin Kak El.”
“Mau terus di sampingnya setiap saat.” Arsyila seperti orang gila karena bicara dan tersenyum sendiri. Bahkan ia tidak sadar telah menjadi pusat perhatian anak-anak kampus karena perbuatan gilanya itu.
Next