BAB 8

1212 Words
Pindahan Tepat pukul 8 malam dan setelah melaksanakan Sholat Isya Elfathan dan Arsyila pamit untuk pergi meninggalkan rumah. Lebih tepatnya mereka akan pindahan ke rumah baru. Sebelumnya mereka sudah membicarakan hal ini, dan Orang Tuanya setuju. Apapun keputusan Elfathan dan Arsyila mereka akan mendukung selagi baik. “Pa, Ma, kita berangkat dulu ya!” ujar Elfathan “Iya, El. Kalian hati-hati. Dan jangan lupa sering-sering main ke sini.” ujar Kinan “InsyaAllah, Ma. Kalau ada waktu luang kita pasti main ke sini.” Kinan menatap putrinya sedih. Beliau pasti akan merindukan putri kecilnya itu. Beliau tidak menyangka sosok putri yang telah ia besarkan sudah menjadi istri orang. Dan sekarang memiliki tugas dan kewajibannya sendiri. Kinan menangkup wajah Arsyila sembari menatapnya lekat. “Sayang, Mama pasti akan merindukan kamu.” “Begitupun dengan Arsyila, Ma.” “Kamu jaga diri baik-baik, ya. Jangan lalai dengan tugas kamu sebagai seorang istri.” Arsyila mengangguk sembari tersenyum. Ia akan melaksanakan kewajiban dan tugasnya sebagai seorang istri sebaik mungkin. Cita-citanya adalah menjadi istri terbaik. Ia tidak ingin menjadi istri durhaka. Karena itu ia selalu mendengarkan setiap nasehat yang diberikan oleh Orang Tuanya. Kinan menarik Arsyila ke dalam pelukannya. Beliau memeluknya erat seolah takut kehilangan. “Dah, kalian hati-hati!” ucapnya setelah melepas pelukannya. Arsyila dan Elfathan pamit. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam. Hati-hati, sayang!” Elfathan dan Arsyila mulai melangkah pergi menuju mobil. Namun baru dua langkah tiba-tiba suara Kinan berhasil menghentikan langkah pasangan tersebut. “Oh ya, Mama nitip cucu ya. Kalau bisa sih secepatnya.” ujar Kinan sembari tersenyum “Astagaa.. Mama apa-apaan sih!” gerutu Arsyila dalam hati Tanpa disangka Elfathan tersenyum seolah mengatakan ia akan mengurusnya. “InsyaAllah, Ma. Doa’kan yang terbaik.” “Pasti, El. Papa dan Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.” “Kak, udah! Ayo ah, kita berangkat sekarang.” Arsyila buru-buru mengajak suaminya pergi karena menahan rasa malu. Bahkan saat ini ia mati-matian menahan rasa salah tingkah di hadapan Orang Tua dan suaminya. “Kak, ayo berangkat sekarang!” “Hahaha..” “Nggak usah malu-malu gitu, Arsyila. Mama juga pernah muda kok.” Kinan semakin gencar menggoda putrinya. “Apasih, Ma?!” Setelah itu Arsyila dan Elfathan masuk ke dalam mobil. Moment seperti ini yang akan Kinan rindukan, bercanda dengan putrinya. Kinan melambaikan tangannya saat mobil yang Elfathan kendarai mulai berjalan pergi meninggalkan rumahnya. Kinan tersenyum namun tidak dengan hatinya. Beliau merasa sedih karena ditinggal putrinya. “Huft.” Beliau menghela nafas setelah tidak melihat mobil menantunya. Fauzan mengelus lengan istrinya. Beliau mengerti apa yang dirasakan istrinya. “Nggak papa, Ma. Jangan sedih!” “Mama nggak sedih, Pa. Mama bahagia melihat putri kita bahagia.” Fauzan tersenyum mendengarnya. “Kita doa’kan yang terbaik untuk mereka.” “Pasti.” *** Mobil yang Elfathan kendarai sudah sampai di tempat tujuan. Mobilnya mulai memasuki perkarangan rumahnya. Arsyila berdecak kagum melihat bangunan rumah di hadapannya. Cukup besar dan luas, itulah yang menggambarkan rumahnya saat ini. Bahkan lebih besar rumah barunya daripada rumah Orang Tuanya. “Kak, ini rumah siapa?” tanya Arsyila masih menatap kagum bangunan tersebut. “Rumah kita.” “Ha?” Arsyila menatap suaminya dengan mulut terbuka. Ia seolah tidak percaya setelah mendengar jawaban Elfathan. “Kak, jangan bercanda!” Elfathan terkekeh geli melihat respon istrinya. Apakah wajahnya terlihat bercanda? Elfathan sudah mempersiapkan rumah ini sejak lama, bahkan jauh sebelum kenal dengan Arsyila. Sebelum menikah ia memastikan sudah memiliki segalanya. Karena ia tidak ingin bergantung pada Orang Tua. “Udah ah, ayo keluar!” ajak Elfathan Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Elfathan justru lebih dulu keluar dari mobil. “Kak El, tunggu!” teriak Arsyila Buru-buru Arsyila menyusul suaminya. Ia masih belum percaya dengan jawaban Elfathan. Bukan ia meragukan suaminya, namun dirinya terkejut dengan semua ini. Arsyila mendekat ke arah Elfathan. Ia berdiri di hadapan laki-laki itu sembari menuntut jawaban. Ia membutuhkan kepastian darinya. “Kak, ini beneran rumah baru kita?” tanya Arsyila sekali lagi untuk memastikan Elfathan mengangguk. “Iya, Arsyila. Ini rumah baru kita.” “MasyaAllah.” Arsyila menutup mulutnya tidak menyangka. Ia berbalik badan menatap bangunan megah tepat di hadapannya. Ia masih belum percaya akan menempati rumah sebesar ini. Bahkan sebelumnya ia tidak pernah memimpikan semua hal ini. Elfathan ikut tersenyum melihat kebahagiaan istrinya. Ia menggenggam tangan Arsyila lalu mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. Saat berdiri tepat di depan pintu Elfathan memberikan kunci rumah tersebut pada Arsyila agar dibuka olehnya. Karena rumah ini sudah ia berikan pada istrinya, Arsyila. Apa yang ia punya telah ia berikan pada Arsyila, semuanya. “Buka gih!” ujar Elfathan sembari tersenyum manis. “—“ Arsyila terdiam sembari menerima kunci tersebut. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Ia menatap lekat kunci tersebut. “Kak, ini Arsyila yang buka?” “Iya. Karena rumah ini sudah menjadi milik kamu.” Lagi-lagi Arsyila dibuat terkejut dengan jawaban suaminya. Apa ia tidak salah dengar? Mulutnya sedikit terbuka sembari menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Apa ini semua tidak berlebihan? Apalagi hanya dua orang yang akan tinggal di rumah sebesar ini. “Untuk Arsyila?” Elfathan merasa gemas dengan istrinya. Arsyila bertanya berulang kali yang membuat laki-laki itu merasa gemas. “Iya, Arsyila. Sekarang kamu buka pintunya karena sudah malam. Saya sudah tidak sabar ingin istirahat.” “Ah, iya.” Wajah Arsyila masih terlihat kebingungan. Meskipun begitu ia membuka pintu tersebut dengan kunci yang dipegang. Dan setelah itu pintu rumah terbuka lebar. “MasyaAllah.” Arsyila tidak berhenti berdecak kagum melihat kemewahan rumah barunya. “Ayo masuk! Jangan bengong.” Langkah kakinya mulai masuk ke dalam. Arsyila menatap sekeliling rumah tersebut dengan tatapan kagum. Bahkan hatinya tidak berhenti mengucap Lafadz Allah, bentuk dari rasa syukurnya. Apa yang ia dapatkan saat ini lebih dari apa yang ia minta pada-Nya. Hap “Eh,” Arsyila terkejut karena tiba-tiba mendapat pelukan dari belakang. Siapa lagi jika bukan Elfathan pelakunya. Elfathan menumpukan dagunya di bahu sang istri dengan mesra. Bibirnya tidak berhenti tersenyum karena kebahagiaan yang didapatkan. “Kamu suka dengan rumah baru kita?” tanya Elfathan “Kak, ini lebih dari yang Arsyila bayangkan sebelumnya.” “Arsyila sangat suka dengan rumah ini.” lanjutnya Elfathan tersenyum manis mendengar jawaban istrinya. Karena membahagiakan istri adalah tugasnya sekarang. “Alhamdulillah. Saya ikut senang kalau kamu senang.” “Kak, apa rumah ini tidak terlalu besar untuk kita berdua?” “Enggak.” “Tapi.. hanya ada kita berdua di rumah ini, Kak.” “Kata siapa?” Arsyila mengernyitkan keningnya bingung. “Maksudnya?” “Setelah ini tidak hanya ada kita berdua di rumah ini, melainkan ada banyak. Ada pembantu rumah tangga, sopir, security, dan tentunya…” Elfathan menggantungkan perkataannya membuat Arsyila merasa penasaran. “Dan apa lagi, Kak?” Elfathan tersenyum kecil. “Anak-anak kita nantinya.” Blush Seketika kedua pipi Arsyila bersemu merah mendengarnya. Ia menahan senyum. Ia tidak menyangka Elfathan sudah berpikir sejauh itu. Bahkan seketika rasa menggelitik terjadi di perutnya. Sedikit mendebarkan saat Elfathan berbicara mengenai seorang anak. “Kamu mau kan punya anak dari saya?” tanya Elfathan “Kenapa Kak El bertanya seperti itu?” Karena tanpa ditanya sekalipun Arsyila pasti memberikan hak tersebut pada suaminya. Tidak ada pasangan suami-istri yang tidak menginginkan seorang keturuan. "Hanya hanya memastikan, Arsyila. Dan kalau bisa sesegera mungkin kita memprosesnya." jawab Elfathan sembari tersenyum penuh arti. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD