BAB 9

1118 Words
Pukul 23.30 WIB Sebelum tidur Elfathan mengajak Arsyila untuk makan malam terlebih dulu karena perutnya terasa lapar. Padahal sebelumnya ia sudah makan di rumah mertuanya. Karena Arsyila menjaga tubuhnya ia tidak makan malam, melainkan hanya menemani suaminya. “Kamu yakin nggak makan lagi?” tanya Elfathan yang ke sekian kali. “Enggak, Kak.” “Kenapa sih? Takut gendut ya?” Arsyila menyengir kuda. Ia tidak takut, melainkan menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ideal. “Nggak usah takut gendut. Saya menerima kamu apa adanya kok, sekalipun gendut.” ujar Elfathan “Nggak, ah.” “Itu hanya tipuan seorang laki-laki. Awalnya aja bilang gitu tapi ujung-ujungnya ninggalin kalau udah nggak seleranya.” ujar Arsyila dengan nada sedikit kesal. Bukannya tersinggung Elfathan justru terkekeh mendengarnya. Ia takut maksud perkataan Arsyila. Secara tidak langsung Arsyila mengatakan dirinya sama saja dengan laki-laki yang ada di luar sana, yang suka menyakiti perempuannya. Namun hal itu tidak berlaku dalam diri Elfathan. Karena setia pada satu perempuan adalah prinsipnya. Arsyila menyipitkan matanya. “Kenapa Kak El ketawa? Emang ada yang lucu?” “Nggak ada.” “Terus kenapa ketawa?” “Nggak papa. Saya cuma pengen ketawa aja.” “Ck,” Arsyila berdecak mendengarnya. “Udah lanjutin aja makannya, setelah itu kita istirahat.” ujar Arsyila “Hmm..” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban. Beberapa menit kemudian Karena pembantu rumah belum datang membuat Arsyila yang mengurus rumah terlebih dulu. Contohnya mencuci piring setelah suaminya makan. Setelah ini ia akan istirahat karena hari semakin malam. Apalagi besok pagi ia harus berangkat ke kampus. “Kak, kita langsung…” Hap “Astagfirullah.” Arsyila terkejut karena mendapat pelukan secara tiba-tiba dari arah belakang. Semenjak menikah sikap Elfathan berubah lebih manis. Ia sering melakukan sesuatu hal yang membuat Arsyila terkejut, seperti sekarang ini. “Kenapa, Kak?” tanya Arsyila “—“ Elfathan terdiam. Arsyila mengusap tangannya dengan tisu setelah mencuci piring. Ia menoleh ke samping menatap suaminya karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Elfathan. “Kak El nggak tidur?” “Hmm.. saya nungguin kamu.” Arsyila terkekeh geli mendengarnya. Ia melepas pelukannya lalu berbalik badan menghadap suaminya. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Elfathan sembari tersenyum manis. Keduanya saling menatap. Tidak ada lagi rasa canggung di antara keduanya sekalipun Arsyila memulai lebih dulu. “Harus banget nungguin Arsyila, hm?” “Karena saya ingin meminta sesuatu dari kamu.” “Oh ya, apa itu?” “Seperti apa yang diminta Mama sebelum kita berangkat ke rumah baru.” Arsyila mengernyitkan kening. Ia mencoba mengingat apa yang Ibunya katakan. “Memangnya Mama bilang apa, Kak? Arsyila lupa.” “Cucu!” Glek Arsyila menelan ludahnya kasar. Satu kata yang membuatnya terkejut. Namun setelah itu ia kembali menormalkan mimik wajahnya. Arsyila mendekatkan tubuhnya. Senyumannya terlihat manis dan memikat. “Dengan senang hati Arsyila akan memberikannya, Kak.” Jawaban Arsyila membuat Elfathan tersenyum manis. Ia menarik pinggang Arsyila semakin mendekat ke arahnya. Ia menunduk menyatukan kening keduanya. Hembusan nafasnya menerpa kulit wajah Arsyila. Jantung keduanya berdebar kencang seiring hembusan nafas mereka. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Elfathan. Ibu jarinya fokus mengelus pipi Arsyila dengan lembut. Tatapannya tertuju pada bibir merah alami milik istrinya. Ia memegang dagu Arsyila lalu mengangkatnya sedikit. Dan… Cup “Uumhh..” Elfathan menyatukan bibir keduanya. Tidak ada penolakan dari Arsyila. Ia justru tersenyum manis menerima sentuhan dari suaminya. “Emhh..” Arsyila mlenguh pelan. Suara decapan lembut mulai terdengar. Apalagi Elfathan melakukannya semakin dalam. Tidak disangka Elfathan mengangkat tubuh Arsyila lalu menggendongnya seperti koala. Ia akan membawa istrinya masuk ke dalam kamar. “Enghh..” “Uuhh..” Arsyila menarik diri dari suaminya. Ia menghirup udara sebanyak mungkin karena pernafasannya mulai terasa sesak. “Kak El mau bawa Arsyila ke mana?” tanyanya dengan nafas terengah “Kita akan melanjutkan ke kamar.” Arsyila tersenyum kecil mendengarnya. Brugh “Aakkhh..” Elfathan melempar tubuh Arsyila ke atas tempat tidur. Arsyila jatuh terlentang dan Elfathan langsung bergerak menindihnya tanpa basa-basi. Cup “Uumhh..” Bibir keduanya kembali menyatu dengan sempurna. Kali ini Elfathan melakukannya sedikit lebih kasar. Suara decapan mulai terdengar memenuhi ruangan. Tubuh keduanya menempel sempurna, tidak ada space yang menjadi penghalang di antara keduanya. “Emhh..” “Uuhh..” Arsyila melenguh. “Enghh..” Arsyila meremas rambut suaminya sebagai pelampiasan. “Emhh.. Kak El..” Arsyila mulai meracau tidak jelas. “Awhss..” Elfathan meninggalkan gigitan kecil di bibir bawah Arsyila, hal itu membuatnya merintih pelan. Tubuh Arsyila mulai bereaksi. Ia merasakan getaran dalam dirinya. Setelah merasa cukup Elfathan beralih pada leher jenjang istrinya. Elfathan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. “Sshh..” Arsyila merintih nikmat saat gigitan kecil dirasakan olehnya. Bibirnya tersenyum menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Tangannya tidak berhenti meremas rambut Elfathan. Hal itu menambah sensasi menggetarkan dalam diri Elfathan. “Aahh..” “Sshh.. Kak Ell..” “Enghh..” Arsyila menoleh ke samping seolah memberi ruang pada suaminya untuk melakukan hal lebih. Mulutnya tidak berhenti bersuara. Itulah yang membuat Elfathan tidak bisa berhenti, karena suara Arsyila mengalun indah di telinganya. Membuat ia ingin terus melakukannya. “Emhh..” “Saya menyukai wangi kamu, Arsyila.” Cup “Enghh..” “Kak, gelii!” “Emhh..” Elfathan bergerak turun ke bawah. Ia berhenti pada area favoritnya. Ia tersenyum lalu membuka satu per satu kancing baju yang dikenakan istrinya. Ia sudah tidak sabar melakukannya. Dalam satu tarikan pakaian itu terlempar ke lantai. Dan sekarang terlihatlah pemandangan yang sangat indah tepat di hadapannya. Tanpa penghalang apapun yang membuat Elfathan melihatnya dengan jelas. “Sungguh indah!” gumam Elfathan “Aahh..” “Owhh.. Kak..” “Sshh..” Arsyila mendongak saat Elfathan tiba-tiba melakukannya tanpa aba-aba. Elfathan minum seperti Bayi yang sedang kehausan. Arsyila menggigit bibir bawahnya karena menahan sensasi luar biasa yang dirasakan. “Owhh..” “Kak.. pelanh-pelanhh!” “Sshh..” Arsyila tidak berhenti bersuara. Rasa nikmat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia menekan kepala Elfathan agar semakin dalam melakukannya. “Kak.. teruss!” “Lebih kuat, Kak! Emhh..” “Enakk..” Elfathan tersenyum mendengar suara istrinya. Ia tidak menyangka gadis polos yang ia kenal ternyata tidak selugu itu. Justru Arsyila terlihat pandai dengan urusan di atas tempat tidur. Bahkan Arsyila cepat memahami dan mengimbangi pergerakan suaminya. “Sshh.. owhh..” “Aahh..” Arsyila tersenyum menikmati sentuhan suaminya. Tangan Elfathan yang satunya tidak mau diam. Ia bergerak menelusuri keindahan yang dimiliki istrinya. Tangannya bermain pada benda kenyal kesukaannya. Terasa kenyal seperti squisy. Genggamannya cukup kuat, itulah yang membuat Arsyila tidak berhenti bersuara. Untung saja hanya ada mereka berdua di rumah ini. Mereka dengan bebas melakukan apapun. Karena pintu kamar terbuka lebar. Elfathan dan Arsyila lupa tidak menutupnya. Mereka terlalu menikmati permainan yang dilakukan membuatnya lupa akan segala hal. Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD