Keduanya saling menatap dengan tatapan sayu. Elfathan sudah tidak bisa menahan diri lagi, begitupun dengan Arsyila. Keduanya sama-sama saling menginginkan. “Arsyila, saya sudah tidak tahan. Apa kamu sudah siap jika saya melakukannya sekarang?” tanya Elfathan dengan nafas memburu
Arsyila mengangguk. “Silahkan lakukan sekarang, Kak!”
Elfathan tersenyum mendengar jawaban Arsyila. Ia menggenggam kedua tangan Arsyila dan menyiapkan diri untuk melakukannya. “Saya akan melakukannya dengan perlahan.”
Dan…
“Aahh..”
“Sshh.. Kak, sakit!”
“Awhss..” Arsyila memekik kesakitan.
“Kak, udahh..”
Elfathan berhenti karena tidak tega mendengar suara rintihan Arsyila. Namun ia tidak bisa berhenti di tengah jalan begitu saja. Ia harus masuk ke dalam. “Sshh.. sakit, Kak!”
“Arsyila nggak kuat.”
“Tahan, ya! Memang akan terasa sangat sakit saat pertama melakukannya, tapi setelahnya rasa saki itu akan hilang.”
“Tapi…”
“Saya akan melakukannya dengan perlahan, Arsyila. Kamu tahan, ya!”
Elfathan membujuk Arsyila agar mau melanjutkan aktivitas mereka. Ia tidak bisa berhenti begitu saja. Setelahnya Elfathan mendorong semakin ke dalam, sontak hal itu membuat Arsyila memekik kesakitan. Rasanya begitu sakit, bahkan ia sampai menitihkan air matanya.
“Aakkhh..”
“Kak, sakit!” Arsyila mencengkram punggung Elfathan dengan cukup kuat seolah melampiaskan apa yang dirasakan saat ini.
“Ahh.. tahan, Arsyila! Sedikit lagi.”
Dan…
Jlebb
“Aarrgghh..”
“Sshh..”
Elfathan berhasil masuk ke dalam sepenuhnya. Ia tersenyum lega saat merasakan hal tersebut. Namun berbeda dengan respon Arsyila. Wanita itu menitihkan air mata karena rasanya begitu sakit. Ia merasakan luka robekan. “Hikss..” isak tangisnya
Elfathan menunduk saat mendengar suara tangisan. Ia tersenyum kecil melihat Arsyila menangis. Ia memang tidak merasakan sakit itu, tapi ia bahagia karena telah menjadi laki-laki pertama yang mendapatkan istrinya. Karena selama belasan tahun Arsyila selalu menjaga diri hanya untuk suaminya.
“Maaf!”
“Apa rasanya begitu sakit?” Elfathan mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi istrinya.
Arsyila mengangguk. “Hikss.. sangat sakit, Kak.”
“Maaf, saya tidak bermaksud menyakiti kamu.”
Elfathan terdiam untuk menetralisir rasa sakit yang dirasakan istrinya. Ia tidak bermaksud menyakiti Arsyila namun dirinya tidak bisa berhenti begitu saja. Justru ia yang akan tersiksa nantinya. Dan sekarang ia telah berhasil memiliki Arsyila seutuhnya, begitupun dengan sebaliknya.
“Masih sakit?” tanya Elfathan
“Sedikit!”
Perlahan rasa sakit itu menghilang. Arsyila mulai menerima rasa sakit tersebut dengan ikhlas, karena mau bagaimanapun hak tersebut sudah menjadi milik suaminya. Sekarang atau nanti rasanya akan tetap sama. Lebih baik sakit sekarang karena setelah itu akan berubah menjadi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Boleh saya bergerak?”
Arsyila mengangguk. “Bergeraklah, Kak!”
Elfathan tersenyum mendengarnya. Ia bergerak secara perlahan agar tidak semakin menyakiti istrinya. “Sshh..” Arsyila kembali merintih.
Bahkan ia kembali mencengkram punggung Elfathan dengan cukup kuat. Rasanya masih sedikit sakit namun berbeda dengan yang tadi. Kali ini ada rasa nikmat di dalamnya. Rasa yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Lama-kelamaan Elfathan bergerak semakin cepat. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Rasa nikmat mulai ia dapatkan. “Aahh..”
“Kak El.. pelanhh..”
“Owhh..”
Arsyila mulai meracau tidak jelas. Keduanya merasakan hal yang sama. Begitupun dengan Arsyila, rasa sakit itu mulai hilang dan tergantikan dengan rasa nikmat. Ia memegang bahu Elfathan dengan mata terpejam. Ia tidak bisa berkata-kata selain mengeluarkan suara indahnya.
“Owhh..”
“Enakk, Kakhh…”
“Lebih cepat, Kakh!”
Suara Arsyila mengalun indah di telinga Elfathan. Hal itu membuatnya semakin bersemangat. Elfathan memenuhi permintaan Arsyila untuk lebih cepat. Ia bergerak semakin cepat seiringi mengalunnya suara indah Arsyila di telinganya.
“Aargghh..” Elfathan merintih nikmat.
“Enakk, Arsyila.”
Malam ini akan menjadi malam terpanjang bagi keduanya. Untuk pertama kalinya Arsyila dan Elfathan menikmati malam panjang seperti saat ini. Malam yang tidak akan pernah terlupakan oleh keduanya. Moment terindah yang terjadi dalam hidup Elfathan dan Arsyila.
Tubuh Arsyila terhentak ke belakang saat Elfathan semakin mempercepat pergerakannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah di bawah tubuh suaminya. Ia tidak akan merasakan sebuah kenikmatan seperti sekarang ini jika dirinya meminta berhenti hanya karena merasakan sakit.
“Sedikit lagi, Arsyila!”
“Lebih cepat, Kakhh!”
“Aahh..”
Arsyila dan Elfathan melenguh panjang. Mereka telah mencapai kenikmatan dunia. Perut Arsyila terasa hangat dan terasa seperti ada sesuatu yang mengalir ke dalamnya. Elfathan menanamkan buah hatinya ke dalam perut Arsyila dengan penuh harapan.
Brugh
“Sshh..”
Elfathan menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tubuh Arsyila. Ia tersenyum karena merasakan bahagia luar biasa. Kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ternyata seperti ini setelah menikah. Perasaannya campur aduk setiap malam.
“Kak, berat!” Arsyila mencoba menyingkirkan tubuh Elfathan dari atasnya namun tidak bisa. Tenaganya sudah terkuras habis karena aktivitas keduanya barusan.
“Biarkan seperti ini dulu, Arsyila!”
“Tapi tubuh Kak El berat.”
“Hmm.. di bawah sana kita masih menyatu. Saya masih ingin tetap seperti ini lebih lama.”
“Huhh..” Arsyila menghela nafas.
Percuma, karena Elfathan tidak akan mau menyingkir dari atasnya. Ia memilih untuk membalas pelukan suaminya agar merasakan kehangatan. Elfathan menidurkan kepalanya di d**a Arsyila sembari memeluknya erat. Ia bisa mendengar suara detak jantung istrinya yang cukup kencang.
“Detak jantung kamu cukup kuat, Arsyila.” ujar Elfathan sembari tersenyum kecil.
“Kak El bisa mendengarnya?”
“Bahkan terdengar sangat jelas.”
Arsyila tersenyum malu. Ia tidak bisa mengelak karena saat ini detak jantungnya berpacu cepat, itu karena aktivitasnya barusan. Elfathan mendongak menatap istrinya. “Saya suka mendengar suaranya.”
Blush
Kedua pipi Arsyila bersemu merah mendengarnya. Ia tersipu malu, padahal Elfathan tidak sedang menggodanya. Mungkin karena posisi mereka yang membuat Arsyila semakin merasa malu. Melihat istrinya tersenyum Elfathan kembali menidurkan kepalanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya agar merasa lebih hangat.
“Sampai kapan Kak El mau berada di posisi seperti ini?” tanya Arsyila
“Sampai besok pagi.”
“Apa?” Arsyila terkejut mendengarnya.
“Tapi…”
“Hanya seperti ini! Saya tidak akan melakukannya lagi. Cukup dengan posisi seperti ini sampai besok pagi.”
“Hmm.. baiklah.”
Arsyila hanya bisa pasrah dengan permintaan suaminya. Ia tidak banyak protes karena di bawah sana keduanya masih menyatu dengan sempurna. Jika dirinya banyak bergerak sama saja telah membangunkan Singa yang sedang tidur. Lebih baik ia mengalah dan diam.
“Kalau gitu tarik selimutnya, Kak!”
Elfathan menarik selimut untuk menutupi keduanya. Karena tubuh mereka mulai terasa dingin. Keringat yang sebelumnya membanjiri hilang seketika, entah ke mana perginya. Hari sudah semakin malam dan waktunya mereka beristirahat. Tubuh keduanya terasa lelah karena aktivitas barusan.
"Tidur, yuk! Kamu pasti kecapean." ujar Elfathan
"Hmm.."
Elfathan mendongak setelah mendengar gumaman istrinya. Keduanya saling menatap dengan tatapan sulit diartikan. Setelahnya Elfathan tersenyum kecil. "Kenapa Kak El menatap Arsyila seperti itu?"
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Semuanya. Apalagi tentang aktivitas kita berdua barusan."
Arsyila tersenyum malu-malu. "Tidak perlu berterima kasih, Kak. Karena itu semua sudah menjadi hak Kak El sebagai suami Arsyila. Lagipula Arsyila ikhlas melakukannya."
Elfathan tersenyum manis. "Makasih juga karena kamu telah menjadi diri hanya untuk saya."
"Hmm.."
"Udah ah, Kak El jangan makasih terus! Lebih baik kita istirahat karena tubuh Arsyila terasa sakit-sakit."
"Baiklah."
"Selamat malam, Istriku!"
Arsyila menahan senyum mendengar ucapan Elfathan barusan. Rasanya ia ingin menghilang detik ini juga. "Kok diam saja? Jawab dong!"
"Selamat malam, Kak El!" Elfathan tersenyum lalu kembali membaringkan kepalanya.
Next