Pagi harinya
Tringg..
Tringg..
Suara Alarm mengganggu tidur Arsyila. “Enghh..” Arsyila melenguh karena terganggu dalam tidurnya.
Matanya mengerjap pelan. Perlahan matanya mulai terbuka dengan tangan yang mencoba mengambil ponselnya yang terus berbunyi. Ia merasa kesulitan karena tubuhnya ditindih oleh sang suami, Elfathan. Semalaman penuh posisi mereka tidak berubah.
“Kak, awas!” ucapnya sembari merintih pelan
“Enghh..”
Elfathan melenguh karena merasa terganggu dengan pergerakan istrinya. Dan tidak lama ia membuka mata. Penglihatannya terlihat buram karena masih mengantuk. Ia mengernyitkan kening karena Arsyila terus bergerak membuatnya merasa tidak nyaman. Karena di bawah sana mereka masih menyatu.
“Kamu ngapain Arsyila?” tanya Elfathan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Kak, menyingkirlah! Tubuh Kak El berat.”
“Hmm.. baiklah.”
Brugh
Elfathan menggulingkan tubuhnya ke samping. Setelahnya ia memeluk Arsyila dengan erat seolah takut kehilangan. Arsyila mematikan alarm yang mengganggu tidurnya. Namun berbeda dengan Elfathan yang justru kembali tidur. Ia masih sangat mengantuk karena baru tidur beberapa jam yang lalu. Ia butuh istirahat lebih.
“Kak El jangan lanjut tidur!” ujar Arsyila sembari menepuk pipi suaminya pelan.
“Memangnya kenapa?” tanya Elfathan dengan mata terpejam.
“Sudah memasuki waktu subuh, Kak.”
“Hmm..” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban.
Bukan maksud Elfathan tidak peduli tapi ia masih sangat mengantuk. Matanya seolah terdapat lem yang membuatnya berat untuk membuka mata. “Kak, ayo bangun!” ujar Arsyila sembari menggoyangkan lengan suaminya.
“Hmm..”
Elfathan membuka matanya secara perlahan. Ia tersenyum kecil ke arah istrinya. “Kenapa, hm?”
“Bangun! Kita harus Sholat subuh sebelum kesiangan.”
“Hmm..” lagi-lagi Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban.
“Ck,”
Arsyila berdecak kesal melihat respon suaminya. Justru seharusnya ia yang susah untuk bangun karena tubuhnya terasa sakit-sakit. Bahkan tulang-tulangnya serasa ingin patah karena perbuatan suaminya tadi malam. Semalaman penuh Elfathan tidak pindah tempat, tetap berada di atas tubuhnya yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas.
Arsyila melepas pelukan Elfathan lalu bangun dari baringnya. “Sshh..” Arsyila merintih karena merasa sedikit kesakitan.
Elfathan membuka mata karena pergerakan istrinya. “Kamu mau ke mana?”
“Mandi!”
“Sama-sama!”
“Nggak ah, Arsyila mau mandi sendiri.”
Saat ingin bergerak turun dengan cepat Elfathan menahan pergelangan tangannya. Elfathan tidak mengizinkan Arsyila mandi sendiri. Ia ingin melakukan sunnah mandi berdua dengan istri setelah berhubungan. Pahala keduanya akan mengalir deras jika melakukan sunnah tersebut.
“Kenapa, Kak?” tanya Arsyila
“Saya mau mandi berdua!”
“Tapi…”
“Kamu mau menolak perintah saya, hm? Lagipula saya ingin menjalankan sunnah. Kita akan mendapat pahala jika melakukan hal tersebut.”
“Huhh..” Arsyila menghela nafas kasar. Jika Elfathan sudah berkata tegas ia tidak bisa menolak.
“Hmm.. baiklah. Arsyila setuju.”
Elfathan tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia langsung bangun. Seketika Elfathan langsung bersemangat setelah Arsyila setuju dengan permintaannya. Lagi-lagi ia menahan pergerakan Arsyila saat wanita itu ingin bergerak turun dari atas tempat tidur.
“Kenapa lagi, Kak?” tanya Arsyila dengan nada sedikit gemas.
“Biar saya gendong!”
“Eh, nggak usah. Biar Arsyila…”
“Saya tidak menerima penolakan, Arsyila.”
Elfathan langsung berdiri. Ia mendekat ke arah istrinya lalu menggendong Arsyila ala bridal style. Untung saja Arsyila masih menggunakan selimut yang bisa menutupi tubuhnya. Arsyila tersipu malu saat bertatapan dengan suaminya. Ia tidak yakin jika mereka hanya akan mandi. Apalagi setelah melihat tatapan suaminya yang mengandung arti tersendiri.
Ceklek
Arsyila membuka pintu kamar mandi. Karena hanya ada mereka berdua di rumah ini Elfathan bisa dengan bebas melakukan apapun pada istrinya. Aktivitas keduanya tadi malam tidak membuatnya merasa cukup. Justru ia ingin melanjutkan di kamar mandi.
Elfathan menurunkan Arsyila di atas bath up dengan hati-hati. Saat menarik selimut yang menutupinya Arsyila justru menahannya. “Kenapa?”
“Kak El mau ngapain?” tanya Arsyila dengan nada sedikit gugup
“Kita mau mandi kan! Jadi buat apa memakai selimut?”
“Em.. Arsyila…”
“Biar saya taruh di keranjang kotor.”
“Kak, tapi…” Arsyila menggantungkan perkatannya.
Elfathan tahu apa yang ingin Arsyila katakan. Bahkan respon tubuh Arsyila sudah menjelaskan semuanya. “Sini, biar saya taruh di keranjang kotor!” ucapnya sekali lagi
“Tapi Arsyila malu, Kak.” cicitnya dengan wajah memerah.
Arsyila menunduk malu. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa malu sekaligus salah tingkah. Ia teringat dengan aktivitas mereka tadi malam. Meskipun Elfathan sudah melihat semuanya namun ia masih terlihat malu-malu. Arsyila belum terbiasa dengan semuanya.
Elfathan terkekeh geli. Melihat sikap Arsyila saat ini membuat Elfathan merasa semakin gemas padanya. Justru ia semakin terpancing dan tidak sabar menyentuh istrinya itu. “Kenapa malu, hm?”
Arsyila menggeleng pelan. “Nggak usah malu karena saya sudah melihat semuanya. Bahkan…”
“Kak, cukup!” belum selesai Elfathan bicara Arsyila langsung memotongnya.
“Kak El jangan bicara aneh-aneh!”
Elfathan mengangkat bahunya acuh. Di saat Arsyila lengah ia menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Ia menarik selimut yang menutupi Arsyila dan langsung membuangnya ke lantai. “KAK EL!” Arsyila berteriak karena terkejut.
“Sstt.. jangan teriak-teriak gitu, ah!”
Wajah Arsyila semakin memerah. Tidak ada lagi yang menutupi keindahan miliknya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a sembari menundukkan kepala. Ia benar-benar malu saat ini. Rasanya ingin menghilang detik ini juga. Lidahnya terasa keluh saat ingin mengatakan sesuatu.
Namun berbeda dengan respon Elfathan. Ia justru tersenyum manis. Ia berdecak kagum melihat pemandangan indah di hadapannya saat ini. Mulai hari ini oment seperti sekarang ini akan ia dapatkan setiap pagi. Moment yang begitu indah. Sayang sekali jika dilewatkan.
Elfathan masuk ke dalam bath up. Ia mencari posisi terbaik agar istrinya tidak semakin malu. Ia duduk tepat di belakang tubuh istrinya, sontak hal itu membuat Arsyila terkejut. Ia langsung mendongak saat merasakan sesuatu dari arah belakang.
“Kak…”
“Sstt.. biarkan seperti ini!” ujar Elfathan dengan suara berat.
“Tapi Arsyila nggak nyaman.”
Elfathan tersenyum smirk mendengarnya. “Nggak nyaman atau kamu malu, hm?”
“—“ Arsyila terdiam. Dua-duanya adalah jawaban yang tepat.
Elfathan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Arsyila. Sontak hal itu membuat Arsyila semakin terkejut. Ia melebarkan matanya karena merasakan sesuatu di bawahnya. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya terasa kaku saat merasakan hal tersebut. Ia tidak berani banyak bergerak karena takut salah.
Elfathan tersenyum kecil. Ia menarik pinggang Arsyila agar semakin dekat dengannya. “Jangan tegang seperti itu, Arsyila! Seharusnya kamu tenang saja karena kita sudah melakukannya semalam.” bisiknya dengan suara serak.
Deg.. deg.. deg..
Perasaan Arsyila semakin tidak karuan mendengar suara Elfathan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah suaminya saat ini. Suara itu sama seperti tadi malam saat mereka berhubungan. Bahkan ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah suaminya.
Tiba-tiba…
“Aakkhh..”
“Kakhh..” Arsyila mencengkram lengan Elfathan karena laki-laki itu tiba-tiba melakukannya.
Arsyila terkejut namun tidak bisa melakukan apa-apa. Kejadiannya begitu cepat, bahkan ia tidak tahu Elfathan akan melakukannya. “Enghh..” Arsyila merintih keenakan. Namun merasa kurang nyaman karena belum terbiasa.
Elfathan mendekatkan wajahnya pada telinga Arsyila lalu membisikkan sesuatu padanya. "Kita melakukan sekali lagi nggak ada masalah kan?!"
"Sshh.. tapi.."
"Aakkhh.."
Belum selesai Arsyila menjawab tiba-tiba Elfathan mendorong tubuhnya. Ia tidak bisa berkata-kata setelahnya. Ia menggigit bibir bawahnya sebagai pelampiasan. Melihat respon Arsyila membuat Elfathan tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak butuh penolakan dari istrinya melainkan jawaban iya darinya.
Next