BAB 12

1213 Words
“Awhh..” Arsyila merintih kesakitan saat berjalan, padahal ia sudah sepelan mungkin berjalannya. Elfathan menoleh ke belakang saat mendengar suara rintihan istrinya. Rasa sakitnya bertambah setelah Elfathan menggempurnya di kamar mandi. Elfathan menghampiri istrinya dengan wajah cemas. “Sakit banget?” tanyanya dengan nada polos “Kak El pikir?!” Arsyila berucap dengan nada sedikit sinis, karena seharusnya Elfathan sudah tahu tanpa bertanya. Elfathan justru menyengir kuda. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak bermaksud, tapi sepertinya hal itu wajar karena untuk pertama kalinya bagi Arsyila. Mungkin untuk ke depannya mereka akan biasa saja. “Maaf, saya tidak sengaja.” “Ck, tau ah.” “Yaudah, libur aja hari ini. Nanti saya izinin ke Dosen kamu.” “Nggak mau. Arsyila pagi ini ada kuis, lumayan buat nambah nilai.” “Gitu ya!” Elfathan tidak tahu harus melakukan apa karena sarannya tidak membuat Arsyila berubah pikiran. Padahal jika sakit tidak perlu dipaksa. “Saya gendong!” ujar Elfathan “Eh, nggak…” “Aakkhh..” pekik Arsyila Reflek Arsyila memekik karena Elfathan tiba-tiba menggendong tubuhnya ala bridal style. Bahkan ia belum selesai berbicara. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Elfathan untuk berpegangan. Elfathan membawa istrinya menuju mobil. Sebenarnya ia khawatir membiarkan Arsyila masuk kampus hari ini. “Kamu yakin tetap mau masuk kampus?” tanya Elfathan sekali lagi untuk memastikan. Arsyila mengangguk.”Iya, Kak. Arsyila sudah banyak izin bulan ini.” “Tapi kaki kamu…” “Sstt!” Arsyila membungkam mulut Elfathan dengan tangannya. Ia tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut suaminya. Tanpa Elfathan berbicara ia sudah tahu. “Udah nggak usah dibahas. Lagipula Arsyila nggak papa kok.” “Nanti juga hilang sendiri rasa sakitnya.” ujar Arsyila sembari menahan rasa malu. Kampus Setelah mobil Elfathan sampai di tempat tujuan Arsyila pamit pergi ke kampus. Ia mencium punggung tangan suaminya sebelum keluar mobil. “Kamu yakin masuk kampus? Nggak berubah pikiran?” tanya Elfathan yang ke sekian kali. “Huhh..” Arsyila menghela nafas kasar. “Kak El, Arsyila yakin. Tidak perlu bertanya sampai berulang kali karena Arsyila tidak akan berubah pikiran.” “Udah ah, Arsyila mau keluar.” lanjutnya “Hmm.. yaudah. Kalau ada apa-apa langsung beritahu saya!” Arsyila mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban. “Dan satu lagi sarapan di kantin karena kamu belum makan pagi ini.” ujar Elfathan dengan penuh perhatian. Arsyila mengangkat tangannya. Ia hormat pada suaminya, sangat patuh dengan perintah Elfathan. “Siap laksanakan, suamiku.” ucapnya dengan anda bercanda Setelahnya Arsyila keluar dari mobil. Ia melangkah sepelan mungkin agar tidak merasakan sakit, meskipun wajahnya tidak bisa berbohong jika ia masih kesakitan. Arsyila berusaha tidak membuat anak-anak kampus curiga dengan cara jalannya. Mereka bisa berpikir yang tidak-tidak jika menyadari cara jalannya. “Huhh.. ternyata sakit sekali. Seharusnya tadi aku ambil libu aja.” ujar Arsyila dalam hati Elfathan menatap istrinya dari dalam mobil. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali. Bibirnya tersenyum kecil seolah mengatakan, “Kan sudah dibilangin, ngeyel sih!” Setelah memastikan Arsyila jalan cukup jauh Elfathan mulai mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan area kampus. Perutnya terasa lapar karena tadi belum sempat sarapan. Untung saja kantornya tidak terlalu jauh dari area kampus istrinya. Di sisi lain, Arsyila terus berjalan memasuki area kampus. Perutnya terasa lapar namun ia tidak sanggup jika harus berjalan ke kantin dengan rasa sakit seperti ini. Ia menahan rasa laparnya entah sampai kapan. Ia langsung menuju kelas agar bisa segera duduk. “Kenapa nyeselnya baru sekarang sih?” gerutunya dalam hati “Kak El, Arsyila lapar!” rasanya Arsyila ingin berteriak karena merasa lapar dan anggota tubuhnya masih terasa sakit. Namun sayangnya sudah terlambat. Itulah akibatnya jika tidak percaya dengan ucapan suami. “Huhh..” Arsyila menghela nafas kasar. “Sebentar lagi sampai kelas kok!” gumamnya *** Elfathan masuk ke dalam Lobby Perusahaan dengan senyuman manis di bibirnya. Wajahnya pagi ini terlihat berseri akan kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia jika semalaman penuh ia telah mengisi energy. Pagi ini ia akan bersemangat menjalani aktivitasnya. “Selamat pagi, Pak!” sapa para pegawainya “Pagi!” Mereka menatap Elfathan dengan tatapan tidak percaya. Bahkan wajah mereka terlihat bengong saat melihat senyuman Elfathan yang begitu manis pagi ini. Mereka mengerjapkan matanya berulang kali seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat. “Itu barusan benar Pak Elfathan?” tanyanya dengan tatapan tidak percaya “I-iya. Aku juga nggak salah lihat kan? Pak El tersenyum begitu manis pagi ini.” “MasyaAllah.. Jin apa yang memasuki Pak El sampai bisa semanis itu pagi ini?” Mereka masih menatap punggung Elfathan yang semakin menjauh. Seolah tidak percaya namun benar adanya. Pagi ini adalah moment yang sangat langkah. Meskipun sikap Elfathan terlihat dingin namun laki-laki itu tidak jahat pada para pegawainya, hanya saja ia jarang tersenyum manis seperti pagi ini. Moment langkah yang harus diabadikan oleh para pegawainya. Ting! Elfathan melangkah keluar saat pintu lift terbuka. Ia membuka pintu ruang kerjanya dan di sana sudah ada kedua temannya yang sedang duduk manis ditemani dengan secangkir kopi di atas meja. Pemandangan biasa yang hampir setiap hari ia lihat. “Hai, Bos! Selamat pagi!” sapa Haikal sembari tersenyum manis “Pagi!” Elfathan menjawab dengan senyuman manis di bibirnya, sontak hal itu membuat kedua temannya terkejut. “What?” ujar Haikal dalam hati “Ini gue nggak salah lihat?” ujar Nizar dalam hati Kedua laki-laki itu kompak saling menatap. Dalam tatapan mereka mengandung arti sendiri, dan keduanya saling memahami meskipun hanya melalui tatapan. Mereka menganggap laki-laki di hadapannya saat ini bukanlah Elfathan melainkan orang lain. Karena Elfathan selalu marah jika melihat Nizar dan Haikal pagi-pagi sudah berada di dalam ruangannya. “El, lo baik-baik saja kan?” tanya Nizar dengan wajah sedikit cemas. “Baik. Kenapa emangnya?” “—“ Nizar dan Haikal lagi-lagi saling menatap. Wajah mereka kebingungan sekaligus bertanya-tanya. Melalui tatapan mereka seolah mengatakan, “Ini beneran Elfathan?” Elfathan duduk di kursi kebesarannya. Seperti biasa ia langsung menghidupkan laptop untuk melihat Email yang masuk. Ia menatap kedua temannya karena mereka terdiam membisu. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka berdua. “Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Elfathan “Ha? Nggak papa.” Jawab Nizar sembari tertawa sumbang. Elfathan mengangkat bahunya acuh. Karena terlalu bahagia membuat dirinya tidak terlalu peduli dengan sikap kedua temannya itu. Ia fokus dengan laptop di hadapannya. Ia mengabaikan keberadaan Nizar dan Haikal yang saat ini menatapnya lekat. Ia seolah menganggap mereka tidak ada. “El, lo kemarin ke mana aja? Tumben ambil cuti?” tanya Haikal dengan rasa penasaran “Kapan?” “Beberapa hari yang lalu. Kita ke sini kata Zain lo nggak masuk.” Elfathan terdiam sejenak. Ingatannya tertuju pada hari pernikahannya. Ia memang mengambil cuti, padahal sebelumnya ia tidak pernah absen masuk ke kantor. Hal itu membuat Nizar dan Haikal bertanya-tanya karena mereka belum tahu soal pernikahannya. Hanya keluarga terdekat dan Zain yang mengetahui tentang pernikahannya. “Ada acara.” Jawab Elfathan “Acara apa?” “Nikahan.” “Ooh..” Nizar dan Haikal mengangguk mengerti. Mereka tidak curiga sama sekali dengan jawaban Elfathan. Ia menganggap Elfathan menghadiri acara nikahan, karena itu dia mengambil cuti. Dan setelahnya tidak ada pertanyaan lagi dari Nizar dan Haikal. Elfathan melirik ke arah kedua temannya itu. Ia tersenyum tipis. “Baguslah, mereka tidak curiga sama sekali.” ucapnya dalam hati Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD