BAB 13

1223 Words
Pukul 12.00 WIB Setelah meeting Nizar dan Haikal belum juga pulang dari Kantor Elfathan. Mereka sangat betah saat berada di Perusahaan sahabatnya itu. Entahlah, bahkan Elfathan merasa heran karena kedua temannya itu selalu memiliki waktu luang untuk ke kantornya. Padahal mereka seorang Ceo, yang seharusnya mengurus Perusahaannya sendiri. “El!” panggil Haikal “Hmm.” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban. “Lo nggak ngusir kita?” Elfathan melirik sekilas ke arah kedua sahabatnya lalu kembali fokus pada laptop di hadapannya. Di lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya ia merasa muak dengan kedua sahabatnya itu. Bukan hanya ingin mengusir melainkan menendangnya sejauh mungkin. Tapi karena suasana hatinya saat ini sedang baik-baik saja Elfathan memilih untuk diam. Ia membiarkan apa yang ingin kedua sahabatnya itu lalukan. Ia tidak peduli. “Nggak.” jawabnya dengan nada singkat, padat dan jelas. “Tumben lo nggak ngusir kita?” tanya Nizar “Males aja.” Nizar dan Haikal terkekeh mendengarnya. Jawaban Elfathan terdengar lucu bagi mereka berdua. Karena sudah siang waktunya mereka kembali ke kantor masing-masing. Urusannya dengan Elfathan sudah selesai. Nizar dan Haikal kompak berdiri. Mereka berniat pamit untuk kembali ke kantor masing-masing. “Kita cabut dulu!” “Hmm..” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban. Bahkan ia tidak menatap kedua temannya itu sedikitpun. Setelahnya Nizar dan Haikal keluar dari ruangan Elfathan. Mereka selalu disambut ramah dengan para pegawai Elfathan, karena mereka tahu siapa kedua laki-laki itu. Bahkan Nizar dan Haikal sering mentraktir pegawai Elfathan untuk makan siang. *** Arsyila keluar dari mobil setelah sampai di Perusahaan suaminya. Ia langsung mendapat sambutan hangat dari para pegawai Elfathan. Mereka belum mengetahui jika Arsyila sudah menikah dengan Elfathan. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui pernikahan mereka. Saat memasuki Lobby Perusahaan Arsyila tidak sengaja bertemu dengan kedua sahabat suaminya, Nizar dan Haikal. “Hai Arsyila!” sapa Nizar sembari tersenyum “Hai, Kak!” “Mau ketemu Elfathan?” Arsyila mengangguk sembari tersenyum kecil. “Kebetulan sekali dia sedang bersantai di ruangannya. Temui gih!” ujar Haikal “Iya. Terima kasih, Kak.” “Kalian ingin pulang?” tanya Arsyila “Iya. Urusan kita sudah selesai.” Arsyila mengangguk sebagai jawaban. “Hati-hati, Kak!” Setelahnya Arsyila pamit menuju ruangan suaminya. Nizar berdecak kagum melihat kecantikan Arsyila. Jika wanita itu bukan kekasih dari sahabatnya kemungkinan ia sudah merebutnya dari Elfathan. Bukan hanya sekedar cantik, melainkan juga pintar. “Ekhm,” “Ingat, cewe sahabat sendiri!” ujar Haikal dengan nada menyindir “Astagfirullah.” Nizar langsung tersadar setelah mendengar perkataan Haikal. Ia langsung mengalihkan pandangannya sembari terkekeh. “Ck, Arsyila begitu cantik, Kal.” “Hmm..” Haikal hanya bergumam sebagai jawaban. Ia membenarkan perkataan Nizar. “Lagian Elfathan lama banget nggak nikahin Arsyila. Gue ambil baru tahu rasa dia.” Haikal tertawa mendengar perkataan Nizar. Ia tahu Nizar hanya bercanda. “Masih nunggu moment yang tepat, Maybe.” Haikal dan Nizar tidak tahu jika Arsyila sudah menikah dengan Elfathan. Jika mereka mengetahui hal besar itu pasti sangat terkejut. Mereka pasti bersikap dramatis karena Elfathan tidak memberitahu hal sebesar itu. Di sisi lain, Arsyila baru saja keluar dari lift. Langkahnya terlihat pelan dan hati-hati karena masih sedikit kesakitan, namun tidak sesakit sebelumnya. “Assalamualaikum.” Arsyila membuka pintu sembari mengucap salam. “Waalaikumsalam.” Elfathan tersenyum melihat kedatangan istrinya. Bahkan ia langsung berdiri menyambut kedatangan Arsyila. “Kamu sudah pulang!” Arsyila mengangguk. “Hmm.. iya, Kak.” Arsyila mendekat ke arah suaminya. Ie mencium punggung tangan Elfathan. Saat ingin melangkah menuju sofa tiba-tiba Elfathan menarik pinggangnya, sontak hal itu membuat ia jatuh terduduk di atas pangkuannya. “Sshh..” Arsyila merintih pelan karena merasa kesakitan sekaligus terkejut dengan perbuatan suaminya. “Maaf. Masih sakit?” “Hmm.. sedikit, Kak.” “Kan saya sudah bilang tadi pagi ambil libur aja kalau masih sakit. Ngeyel banget waktu dibilangin.” Arsyila terkekeh geli. Sejak kapan seorang Elfathan jadi cerewet seperti ini? Tapi ia menyukainya. Pernikahan mereka telah membawa perubahan besar dalam diri Elfathan. Yang dulunya sikap Elfathan begitu dingin berubah menjadi lebih hangat. Hal itu membuat diri Arsyila betah berada di dekat suaminya. “Gimana di kampus tadi, hm?” tanya Elfathan “Tadi…” Krukk.. krukk.. Tiba-tiba perut Arsyila berbunyi sebelum ia menjawab pertanyaan suaminya. Wajar, karena Arsyila belum makan sejak tadi pagi. Bukan hanya karena sibuk, melainkan kakinya terasa sakit saat dibuat jalan. Karena itu ia lebih memilih untuk menahannya sampai saat ini. “Perut kamu bunyi?” tanya Elfathan Arsyila menyengir kuda. Ia mengangguk dengan wajah malu-malu. “Arsyila belum sarapan sejak tadi pagi.” cicitnya sembari menundukkan kepala “Astagfirullah, Arsyila. Kenapa nggak makan?” Elfathan merasa gemas sendiri dengan istrinya. Bisa menjadi penyakit jika Arsyila melakukan aktivitas di saat perut masih kosong. Padahal ia sudah mengatakan berulang kali agar Arsyila sarapan terlebih dulu, tapi ternyata wanita itu tidak mendengarkan perkataannya. “Kak, kaki Arsyila sakit kalau dibuat jalan. Jadi yaudah, Arsyila lebih memilih menahannya.” “Astagfirullah.” Entah apa yang ada di pikiran istrinya itu. Padahal dia bisa memesan makanan online daripada menahan diri sampai kelaparan. Padahal saat ini waktunya makan siang. Tanpa banyak bicara Elfathan langsung memesan makanan untuk mereka berdua. Karena kebetulan ia belum makan siang. Dengan manja Arsyila menyandarkan tubuhnya di d**a bidang Elfathan. Ia memeluknya erat seolah takut kehilangan suaminya. Jemari lentiknya menggambar abstak di d**a bidang suaminya. Setelah memesan makanan Elfathan kembali menaruh ponselnya. Ia menunduk menatap istrinya yang terlihat kelelahan. “Capek banget, hm?” tanyanya sembari mengelus kepala Arsyila dengan lembut. “He’em. Arsyila capek banget, Kak.” ucapnya dengan nada manja Di sisi lain, Haikal teringat sesuatu. Ia memegang saku jas kantor dan celananya. Ia tidak menemukan keberadaan ponselnya. “Astaga,” pekiknya “Kenapa?” tanya Nizar “Ponsel gue ketinggalan di ruangan Elfathan.” “Astagaa, Haikal. Kebiasaan banget sih,” “Sorry! Namanya juga orang lupa nggak ada yang tahu.” “Yaudah, ambil sana!” “Oke. Kalau lo buru-buru pergi duluan aja!” “Hmm..” Nizar hanya bergumam sebagai jawaban. Sudah sering Haikal lupa dengan ponselnya sendiri. Kejadian ini bukanlah yang pertama, melainkan untuk yang ke sekian kali. Haikal berjalan cepat menuju lift. Memang waktunya tidak cukup padat, tapi ia masih ada urusan di luar. Setelah pintu lift terbuka ia langsung berlari kecil menuju ruangan Elfathan. Ia tidak mengetuk pintu ataupun mengucap salam terlebih dulu. Ia langsung membuka pintu dan betapa terkejutnya saat melihat Elfathan bersama Arsyila. “El!” panggilnya dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya. Arsyila langsung mendorong d**a bidang Elfathan saat mendengar suara seseorang. Dan betapa terkejutnya saat melihat Haikal berdiri di ambang pintu dengan wajah shock. Saat ingin bergerak turun dengan cepat Elfathan menghalanginya. Haikal mengerjapkan matanya berulang kali. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihat. “Itu barusan beneran?” ucapnya dalam hati “What? Kalian…” “Kak, Arsyila bisa jelasin! Kita sebenarnya…” perkataan Arsyila menggantung karena masih terkejut. Namun berbeda dengan respon Elfathan yang terlihat begitu santai, bahkan wajahnya terlihat begitu tenang. Tidak ada yang ditakutkan karena ia dan Arsyila sudah menikah. Sah-sah saja mereka melakukan apapun. Bahkan lebih dari aktivitas mereka barusan. Haikal mendekat ke arah Arsyila dan Elfathan. Wajahnya terlihat memerah karena terkejut. Entahlah, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Karena Elfathan yang ia kenal bukan laki-laki b******k yang mudah menyentuh perempuan bukan mahromnya. "El, apa yang gue lihat nggak benar kan?" "Benar kok. Seperti yang lo lihat." "Astaga." Next
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD