Haikal diam sembari menatap Elfathan dan Arsyila. Ia menunggu mereka menjelaskan sesuatu padanya. Karena apa yang ia lihat bukanlah Elfathan yang dikenal. Sahabatnya tidak mungkin bertingkah berani seperti apa yang ia lihat barusan.
“El, jelasin sekarang!” ujar Haikal
“Gue dan Arsyila sudah menikah.”
Uhukk.. uhukk..
Haikal tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar jawaban Elfathan. Tidak mungkin dirinya salah dengar. “Apa?” lagi-lagi ia terbengong karena perbuatan sahabatnya itu. Suatu hal yang sangat mengejutkan.
“I-iya, Kak. Aku dan Kak El sudah menikah sejak beberapa hari lalu.” ujar Arsyila membenarkan
“Astagaa.. kenapa hal sebesar ini gue nggak tahu?”
BRAK
“Dan lo nggak ngundang gue El.”
“Astagaa.. sahabat macam apa lo?!” Haikal berteriak setelah menggebrak meja kerja Elfathan. Ia tidak terima karena baru tahu hal sebesar ini. Bahkan Elfathan tidak mengundang di acara pernikahannya.
“Huhh..” Elfathan menghela nafas kasar.
Ia memijat kepalanya yang terasa pusing karena teriakan Haikal. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi jika kedua sahabatnya tahu. Dan feelingnya tidak pernah salah. Haikal kesal karena seharusnya ia tamu paling penting di acara pernikahan Elfathan dan Arsyila. Padahal ia sangat menunggu keduanya menikah.
“Kenapa lo nggak undang gue dan Nizar?” tanya Haikal dengan nada tidak terima
“Sebenarnya…”
“Arsyila nggak mungkin hamil kan?”
BUGH
“Aakkhh..” Haikal merintih kesakitan saat Elfathan melayangkan pukulan di lengannya.
Seketika wajah Elfathan berubah marah setelah mendengar perkataan Haikal. Ia tidak sebrengsek itu sebagai laki-laki. “Sialan lo!” umpatnya
“Sorry! Habisnya lo nikah secara tiba-tiba.”
“Gue dan Arsyila hanya melakukan Akad nikah. Untuk resepsinya menyusul.”
“Ooh..” Haikal mengangguk mengerti.
Haikal menghela nafas lega setelahnya. Namun masih sedikit kesal karena Elfathan menikah secara diam-diam. Karena seharusnya ia dan Nizar ada di saat acara Ijab Qobul Elfathan. Karena hal tersebut moment yang sangat penting untuk mereka berdua.
“Oh, sekarang gue tahu kenapa lo beberapa hari yang lalu nggak masuk kantor.” ujar Haikal
Elfathan mengangguk membenarkan. “Hmm.. begitulah.”
“Sialan emang! Seharusnya gue ada di acara sakral itu.”
“Sudah terjadi. Lagipula semuanya diadakan secara mendadak. Hanya keluarga inti yang tahu.”
“Next, kalau ada acara resepsi gue diundang.”
“Hmm..” Elfathan hanya bergumam sebagai jawaban.
“Jangan hm, hm aja, El. Gue pokoknya harus diundang, titik!”
***
Malam harinya
Setelah melaksanakan Sholat Isya berjama’ah dengan suaminya, Arsyila langsung memutuskan untuk memasak. Ia membuat makan malam untuk dirinya dan sang suami tercinta. Arsyila masih banyak belajar, karena itu ia selalu bertanya mengenai bahan-bahan masak pada Ibunya.
Saat sibuk memasak tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari arah belakang. “Astagafirullah.” Arsyila terlonjak kaget karena perbuatan suaminya.
“Maaf, nggak sengaja.”
Elfathan menumpukan dagunya di bahu Arsyila dengan mesra. “Lagi masak apa?”
“Arsyila lagi buat ikan bakar, Kak El suka?”
“Suka!”
Bahkan harum masakan sudah tercium memenuhi dapur. Elfathan sudah tidak sabar untuk makan malam. Ia ingin merasakan hasil masakan istrinya, pasti rasanya sangat lezat. Untuk pertama kalinya Arsyila memasak untuk Elfathan. Karena selama ini bukan hasil masakannya sendiri, melainkan dibantu oleh Ibunya.
“Hmm.. harum sekali!” ujar Elfathan
“Semoga Kak El suka.”
“Pasti suka.”
Arsyila tersenyum kecil mendengarnya. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa kurang yakin dengan hasil masakannya. Ia takut hasilnya tidak memuaskan seperti masakan Ibunya. Ia juga takut Elfathan kurang cocok dengan rasanya.
“Tapi.. untuk pertama kalinya Arsyila memasak untuk Kak El.”
“Bagus dong!”
“Arsyila takut rasanya nggak cocok di lidah Kak El.”
“Dicoba dulu, ya. Jangan langsung insecure. Apapun masakan kamu pasti saya menyukainya.” Elfathan memberikan support terbaik pada istrinya. Ia tidak ingin membuat Arsyila merasa insecure dengan hasil masakannya, karena menjadi seorang Istri bukanlah hal yang mudah.
Beberapa menit kemudian
“Alhamdulillah.. akhirnya selesai juga.” Arsyila tersenyum melihat hasil masakannya.
“Hmm.. nggak sabar mau makan.”
Elfathan tersenyum sembari menunggu Arsyila menyiapkan makanan untuknya. Selain menjadi seorang Mahasiswi Arsyila juga menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Ia menikmati hari-harinya meskipun cukup melelahkan. Meskipun begitu ia tidak mengeluh menjalani peran barunya.
“Selamat makan, Kak!”
“Selamat makan, Istriku.”
Elfathan mulai menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya. Arsyila menatapnya lekat menunggu respon suaminya. Wajah Arsyila terlihat was-was karena takut. Ia berharap Elfathan cocok dengan rasa masakannya.
“Gimana, Kak? Enak nggak?” tanya Arsyila dengan perasaan was-was
“—“ Elfathan terdiam sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya. Diamnya Elfathan membuat Arsyila semakin was-was. Ia tidak bisa menebak apa yang dirasakan suaminya.
“Kak, jangan diam saja! Gimana rasanya? Kak El suka nggak?”
“Em.. rasanya…” Elfathan menggantungkan perkataannya membuat Arsyila merasa gemas.
“Nggak…”
“Enak.” Elfathan sempat memutus jawabannya. Hal itu membuat Arsyila berpikir jika rasa masakannya nggak enak.
“Nggak enak, ya!” wajah Arsyila berubah sedih setelah mendengar jawaban suaminya.
“Huft.”
Arsyila menghela nafas. Ia merasa gagal menjadi seorang Istri, padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Wajar, karena ia masih proses belajar. Masih membutuhkan waktu untuk menciptakan rasa yang sempurna.
“Tapi bohong! Enak kok.” ujar Elfathan sembari tersenyum manis
Elfathan menggenggam kedua tangan Arsyila sembari tersenyum. Barusan ia hanya bercanda. Hasil masakan istrinya terasa begitu lezat. Bahkan hampir sama dengan masakan Ibunya, Sandra. Rasa enaknya tidak jauh berbeda.
Arsyila terdiam mencerna respon suaminya. Ia sudah terlanjur merasa sedih. Justru ia menganggap respon Elfathan saat ini hanya karena tidak ingin melihatnya bersedih. “Kalau emang nggak enak jangan dipaksa, Kak. Arsyila memang belum pandai…”
“Sstt.. ini beneran enak, Arsyila. Saya tadi hanya bercanda.”
“Bohong!”
Arsyila menarik tangannya dengan kasar. Ia mengerucutkan bibirnya kesal. “Masakan Arsyila nggak enak.” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis.
Sepertinya Elfathan salah. Ia bercanda di waktu yang tidak tepat. Elfathan berdiri lalu mendekat ke arah istrinya, karena mereka duduk dengan posisi berhadapan. Ia akan meyakinkan Arsyila jika hasil masakannya terasa begitu lezat.
“Aaa.. buka mulutnya!” Elfathan menyuapi Arsyila.
Arsyila membuka mulut menerima suapan dari suaminya. “Coba dirasain enak apa enggak!” ujar Elfathan
Setelan menelan makanan tersebut rasanya begitu lezat. “Gimana rasanya?” tanya Elfathan sembari tersenyum
“Enak.”
“Nah kan, emang enak kok.”
“IHH.. KAK EL!” pekik Arsyila
Bugh
Bugh
“JAHAT!” Arsyila melayangkan pukulan pada Elfathan karena merasa kesal dengannya. Ia pikir rasanya memang tidak enak, tapi Elfathan hanya bercanda. Hampir saja ia menangis karena perbuatan suaminya itu.
"Maaf, ya. Karena tidak mungkin masakan seorang Arsyila nggak enak." Arsyila tersipu malu mendengar perkataan suaminya.
Next