Firda merasakan kehangatan yang luar biasa. Kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kedua matanya masih betah terpejam sambil bersandar pada d**a bidang Barra.
Tanpa Firda sadari, pria yang tengah mendekapnya tampak terkekeh diam-diam. Padahal petir di luar sana sudah tak ada, tapi Firda masih belum melepaskan pelukannya.
"Senyaman itu pelukan saya?"
Kedua mata Firda terbuka seketika. Dia terdiam sebentar, seperti ada yang ia lupa. Hingga saat tersadar tangannya masih mendekap erat tubuh Barra, segera dia menarik diri sambil memalingkan muka.
"M-maaf," cicit Firda menahan malu. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu.
Barra hanya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang tipis. Sedang tatapannya tak beralih dari pipi Firda yang tampak merona.
Hah! Firda memang nyaris sempurna. Cantik dan bertalenta. Tapi tetap saja, Barra tidak bisa membuka hati untuknya. Hati Barra sudah terkunci sejak lama.
"Sana mandi! Setelah shalat kita harus turun untuk makan malam."
Tanpa berkata apa-apa, Firda segera melesat masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan suaminya seorang diri.
Pria tampan dengan pahatan yang nyaris sempurna itu hanya terkekeh pelan melihat tingkah istrinya. "Dia cukup menghibur."
Barra kembali menghela napas saat teringat masih ada sesak yang memenuhi rongga dadanya. Entah kapan rasa sesak itu akan sirna. Barra sendiri sudah lelah menghadapinya.
Perhatian pria berusia 25 tahun itu teralih saat mendengar getaran ponsel yang tergelak di atas nakas. Terlihat nama sang adik bungsu memenuhi layar. Segera Barra meraih benda pipih tersebut, dan mendekatkan pada telinga.
"Assalamualaikum. Kenapa, Zoe?"
"Waalaikumsalam. Bang Barra udah sampai di rumah Kak Firda?" tanya Zoeya dari seberang sana.
Barra menganggukan kepala sekalipun Zoeya tak bisa melihatnya. "Udah. Udah hampir satu jam yang lalu. Kenapa emangnya?"
"Ini biasa. Ibu—"
"Assalamualaikum, Barra." Suara di sebrang sana berubah, menjadi suara cinta pertamanya.
"Waalaikumsalam, Bu. Ibunya Barra yang cantik kenapa, hm?"
Sikap Barra memang banyak berubah. Tapi itu hanya berlaku ketika di luar saja, tidak jika sedang dengan keluarganya. Barra masih tetap hangat seperti biasa. Ya, meskipun sedikit berkurang kadar kehangatannya.
Terdengar decakan pelan yang keluar dari mulut ibunya. "Kamu udah sampai di rumah Firda? Kehujanan gak? Tadi sopir bilang kamu basah-basahan."
"Enggak, Barra aman, kok. Ibu gak usah khawatir," jawab Barra menenangkan sang ibu tercinta.
"Ya, gimana Ibu gak khawatir coba? Tadi Pak sopir bilang kamu basah-basahan. Kan Ibu jadi takut kamu kehujanan."
"Itu sopirnya aja yang berlebihan. Udah, Barra gak apa-apa, kok."
Barra bisa mendegar helaan napas lega yang keluar dari mulut Nisa. Melanjutkan obrolan sebentar, hingga Barra harus mengakhiri panggilan karena adzan maghrib berkumandang.
***
Raut wajah Firda tampak dua kali lebih ceria saat di kediaman orang tuanya. Seperti sekarang ini, wanita berhijab itu tengah memasak riang dengan ibunya.
Barra hanya duduk menunggu di depan meja makan bersama sang papah mertua. Sedang tatapannya tak lepas dari Firda. Sesekali perempuan itu tertawa begitu lepas bersama ibunya. Dari sini Barra paham, bahwa Firda pada dasarnya memang wanita yang ceria, cerewet, dan juga manja.
Tapi, entahlah. Barra masih sulit mengimbanginya. Dia masih betah memerankan karakter Barra yang dingin dan irit bicara.
Sadar tatapan sang menantu terus tertuju pada putrinya, Abi hanya bisa tersenyum menatap keduanya bergantian.
"Barra?"
Panggilan dari sang mertua membuat Barra memutus pandangan dari Firda. Dia memfokuskan tatapan pada sang ayah mertua. "Kenapa, Ayah?"
"Bagaimana perasaan kamu setelah menikah dengan Firda?" Pertanyaan itu lolos diiringi senyuman hangat dari wajah senja seorang Abimana Maheswara.
Barra terdiam sebentar. Dia rasa ini terlalu sulit untuk dijabarkan karena sejatinya dia masih kebingungan.
"Gak apa-apa, ini pasti terkesan buru-buru bagi kalian," ujar Abi saat tak mendapatkan jawaban dari menantunya.
"Barra, apa Ayah boleh meminta sesuatu?"
"Apa, Ayah?"
Abi lebih dulu melirik pada Firda yang masih sibuk memasak bersama istrinya. Kemudian beralih kembali pada Barra dengan senyuman. "Ayah boleh minta satu hal dari kamu? Tolong jaga Firda. Ayah tahu kamu belum menyayangi dia. Tapi kamu bisa 'kan menjaga dia untuk Ayah?"
Barra belum menyahuti apapun. Masih berusaha mencerna ucapan mertuanya.
"Barra, Firda memang anak yang ceria. Tapi, jauh di dalam hatinya, dia sedang menyembunyikan luka. Dia sedang berusaha menutupi luka itu untuk selama-lamanya. Entah dia bisa atau tidak."
"Suatu saat, dia pasti akan mengalami fase rapuh. Dan Ayah harap, saat itu kamu akan tetap ada untuk dia, Barra."
Barra meresapi setiap permintaan sang ayah mertua. Dia dapat melihat pancaran penuh permohonan di kedua matanya. Mungkin inilah yang disebut sebuah perlindungan yang dibangun oleh seorang ayah. Sama seperti Haris yang selalu menjadi tameng untuk Zoeya.
"Barra akan berusaha, Ayah." Akhirnya Barra meloloskan kalimat itu setelah sekian lama. Membuat kedua sudut bibir Abi melengkung seketika.
"Terima kasih, Barra."
"Wah sepertinya obrolan dua orang pria ini serius sekali, Firda." Wirda menggoda menantu juga suaminya sambil meletakan makanan di atas meja bersama Firda.
"Emang Ayah lagi ngobrol apa sama Pak Barra?"
"Ini rahasia pria. Wanita tidak usah ikut campur."
Tawa Barra tanpa sadar menyembur meski sangat pelan karena ucapan sang papah mertua. Membuat Firda mematung untuk beberapa detik sambil menatap takjub pada suaminya.
'What? Dia bisa ketawa?'
***
Selesai menyantap makan malam bersama, kini Firda dan Barra sudah memasuki kamar. Tanpa diminta, Barra mengambil sebuah bantal dari atas ranjang, lalu kembali berjalan ke arah sofa.
"Pak Barra mau ngapain?"
Pertanyaan dari Firda membuat Barra menghentikan langkahnya sejenak. "Tidur," jawabnya sambil mulai memposisikan diri di atas sofa.
"Di sofa? Tumben gak minta tidur di ranjang?" Dia menatap heran pada Barra dari atas ranjang.
"In kamar kamu, dan itu ranjang kamu. Jadi saya gak punya kekuasaan di sini."
Refleks mulut Firda menyemburkan tawa mendegar jawaban Barra. "Oh, jadi Pak Barra lagi gak berkuasa nih malam ini. Emh, cukup menarik. Selamat tidur di sofa, Pak Barra." Oke, mungkin ini waktu yang tepat untuk Firda membalas kesombongan suaminya. Biarkan saja pria itu tidur meringkuk di atas sofa.
Firda mulai membaringkan tubuhnya sambil berselimut tebal. Kedua matanya berusaha terpejam. Untuk beberapa saat Firda mencoba, namun tak bisa. Dia tidak bisa terlelap.
Wanita itu merubah posisi miring ke kanan, ke kiri, bahkan terlentang. Hasilnya tetap saja sama, dia tak lekas bisa tidur juga.
Firda sedikit mengangkat kepala. Merasa penasaran pada suaminya. Apakah dia nyenyak tidur di sofa?
"Kayaknya udah tidur," gumam Firda pelan.
Entah kenapa kakinya malah turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Barra yang tengah meringkuk di atas sofa. Semakin dekat, Firda bisa melihat tubuh Barra yang bergetar. Dengan ragu, Firda menyentuh pundak Barra dan menggoyangkan perlahan.
"Pak Barra?" panggilannya, namun tak ada sahutan.
Firda memperhatikan lagi. Bukannya bergetar, tubuh Barra seperti sedang menggigil. "Apa dia kedinginan?" Sang suami memang tidur tanpa selimut sekarang.
Dia beralih mengambil selimut yang ada di atas ranjang, lalu menutup tubuh Barra hingga sebatas d**a.
Ada rasa penasaran di hati Firda. Tanpa diminta, telapak tangan Firda tergerak menyentuh kening Barra. Hingga matanya membeliak kala mendapati rasa panas di sana. "Pak Barra demam?"
Dengan gerakan cepat Firda keluar dari kamar untuk mencari kompresan. Dia akan coba menurunkan panas Barra dengan cara ini saja. Ingin memanggil dokter pun rasanya tak enak karena sudah malam.
Firda kembali memasuki kamar dengan sebuah baskom kecil berisi air hangat juga handuk kecil di tangan. Ia menyelupkan handuk itu pada air, lantas memerasnya pelan. Kemudian, dia simpan di atas kening Barra. Begitu seterusnya.
Hingga 2 jam kemudian, Firda tampak menguap lebar. Perlahan kepalanya bersandar pada sofa hingga tanpa sadar ia ikut memejamkan mata di sana.