Firda terus melangkah di belakang Barra dengan perasaan yang tak tenang. Apalagi saat kaki mereka sudah memasuki ruangan sang CEO dari perusahaan Wiyatama. Sampai sekarang dia masih bertanya-tanya, apa tugas yang akan Barra berikan padanya?
"P-pak?" panggil Firda sedikit kelu. Dia berdiri di depan sang atasan yang baru saja mendudukan tubuh pada kursi kebesaran.
"Kenapa?" Barra menatap Firda dengan alis yang terangkat. Dia bisa melihat ada raut kecemasan pada wajah cantik yang terpoles make up tipis itu.
Firda meremas kedua tangan untuk menormalkan degup jantungnya. Menarik napas sejenak sambil memejamkan mata. Sungguh, dia tidak pernah segugup ini sebelumnya saat berhadapan dengan Barra.
"P-pak Barra mau kasih saya tugas apa?" Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Firda.
Barra seketika tersenyum miring dalam hati. Pria tampan nan gagah itu bangkit dari duduknya, lalu berdiri tepat di hadapan sang istri.
Seperti saat dalam lift tadi. Barra mencondongkan wajahnya agar lebih dekat wajah Firda yang sudah berubah pias seketika. "Kamu gak tahu tugas seorang istri itu apa?"
Firda menahan napas saat melihat manik tajam Barra begitu dekat. Apalagi saat mendengar pertanyaan yang begitu ambigu dari bibir sexy itu.
"Kamu gak tahu, Firda?" Lagi, Barra masih menuntut jawaban, membuat Firda sedikit gelagapan.
"Emh, t-tahu." Tak mungkin menjawab tidak, kan? Dia dengan sadar, sangat paham bagaimana tugas seorang istri. Jika harus dijabarkan pun, Firda berani. Hanya saja dia takut pada tatapan Barra yang tengah mengintimidasi.
"Sungguh?"
Firda mengangguk lucu bak seekor kucing penurut. Membuat Barra lagi-lagi tersenyum dalam hati. Ya, hanya dalam hati. Dia tidak ingin menurunkan rasa gengsi.
"Bagus kalau kamu tahu. Sekarang, sebutkan!"
Kelopak mata Firda membeliak lebar. Barra ingin dia benar-benar menyebutkan semua tugasnya? Hah! Apa pria ini sudah gila?
Tapi, tunggu! Ini masih di tempat kerja, jadi tidak seharusnya mereka membahas topik di luar pekerjaan, kan?
Baiklah! Firda akan coba membalikkan keadaan sekarang.
"Tunggu, bukannya kita masih di tempat kerja ya, Pak? Apa pantes bahas masalah rumah tangga?" Firda bertanya sambil mendorong d**a Barra hingga pria itu menegakan tubuh tegapnya.
"Ya, ini emang di kantor. Tapi ini masih jam istirahat, Firda. Kamu gak lupa, kan?"
Barra tampak menampilkan seringaian dengan jelas sekarang. Dan sialnya malah membuat Firda semakin ketakutan. Rencana ingin membalikkan keadaan, malah dia yang semakin terjepit sekarang.
"Jadi, apa saja tugas seorang istri, Nona Firdania Maheswara?"
Firda memejamkan matanya. Oke, dia akan mengalah sekarang. Tapi lihat saja! Lain kali dia tidak akan membiarkan Barra menang.
"Tugas seorang istri itu adalah mencari ridho suami." Satu kalimat yang lolos dari mulut Firda dan berhasil membuatnya merasa jadi wanita terpintar di dunia.
Ya, kenapa dari tadi dia tak langsung menjawab ini saja? Memang ini kan tugas seorang istri sesungguhnya?
Sebelah alis tebal Barra tampak naik ke atas. Dia menatap sang istri dengan tatapan yang menuntut penjelasan. "Terus, apa yang dilakukan seorang istri supaya dapat ridho dari suami?"
Firda mendengkus kesal dalam hati. 'Dasar suami rese! Sengaja banget minta diperjelas!'
"Firda?"
Wanita cantik itu menghela napas pelan sebelum kembali membuka suara. "Banyak. Menyiapkan keperluan suami, menemani dan melayani suami sepenuh hati."
Barra mengangguk mengerti. Pria tampan itu kemudian berjalan mendekati kaca besar dan berdiri di sana sambil menatap pemandangan gedung-gedung tinggi di depannya.
"Kamu cukup pintar dan paham tugas seorang istri itu bagaimana."
Firda tersenyum senang mendengar pujian dari sang suami.
"Kalau begitu, sekarang buatin saya kopi!"
Senyuman cerah yang menghiasi wajah cantik Firda pun luntur seketika. Sejak tadi Barra bertanya sedetail itu hanya untuk secangkir kopi?
"Itu bagian dari cara mendapat ridho dari suami, kan?" Barra menyeringai lebar sambil memunggungi istrinya. Dia yakin, Firda pasti sudah kesal di belakang sana.
Biarkan saja! Barra sengaja mengerjai istrinya. Salah siapa tadi tidak mendengar ucapannya yang panjang lebar saat di resto. Ditambah bersikap sok manis pada karyawan baru di kantor.
Firda mengepalkan kedua tangannya ke udara. Andai saja tidak takut dosa, sudah dia acak-acak tuh wajah tampan si Tuan Barra!
***
Waktu begitu cepat berlalu bagi Firda. Tadi baru saja dia membuatkan kopi untuk Barra, mengantarkan hingga ke depan suaminya dengan drama penuh cinta. Seolah dia adalah istri yang paling bahagia di dunia.
Untunglah Barra tidak membuat drama hingga Firda bisa terlepas dan kembali bekerja dengan normal.
Hingga kini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Maheswara.
Ya, sang ayah yang meminta Barra dan Firda untuk datang ke sana. Entahlah ada apa.
Mobil Barra tiba-tiba menepi di bahu jalan yang sepi. Membuat Firda menatap heran, sebab di luar sana tengah hujan.
"Kenapa, Pak?"
"Kayaknya ban mobil saya kempes. Coba saya periksa dulu," jawab Barra sambil mematikan mesin mobilnya.
"Emang Bapak bawa payung?"
Barra menggeleng sebagai jawaban. Terakhir payung yang biasa dia simpan di dalam mobil terbang oleh angin saat ia kenakan. Dan sampai sekarang, dia lupa untuk menggantinya.
"Di luar hujan deres. Gak papa Bapak kehujanan?" tanya Firda lagi. Biar begini dia masih punya hati nurani.
"Gak apa-apa."
Barra segera turun dari mobilnya. Menerobos hujan deras untuk mengecek kondisi ban yang terasa tak nyaman saat berjalan. Dan benar saja, ban mobilnya tertusuk paku yang lumayan besar dan tajam.
Barra menghela napas. Jika begini, dia tidak bisa memperbaikinya sekarang. Pria tampan itu kembali masuk ke dalam mobilnya dengan keadaan yang basah. Lalu, meraih ponsel yang ia simpan di samping kursinya.
Beberapa saat Barra menelpon seseorang. Firda hanya diam memperhatikan. Tatapannya juga jatuh pada tubuh sang suami yang basah sekali.
"Apa di mobil ini gak ada handuk buat ngeringin badan?" tanya Firda sesaat setelah Barra mengakhiri panggilan.
Barra menolehkan kepala sambil menggeleng pelan.
"Terus badan Bapak gak papa basah kayak gitu?"
"Gak apa-apa."
"Oh, ya. Saya udah suruh sopir buat antar mobil ke sini. Mungkin akan gak lama. Gak apa-apa kamu nunggu, kan?"
Firda mengangguk saja. Lagipula tidak mungkin dia datang ke rumah orang tuanya sendirian. Mengingat di luar sana jalanan sedang diguyur hujan.
Wanita cantik itu menyandarkan punggungnya dengan nyaman, kemudian memejamkan mata sambil menunggu sopir suaminya datang.
***
Firda mengerjapkan matanya pelan. Dia memindai sekeliling ruangan. "Kamar? Sejak kapan aku ada di kamar ini?"
Perhatiannya kemudian beralih pada suara pintu kamar mandi yang terbuka. Terlihat Barra yang keluar dari sana.
"Udah bangun, kamu?" tanya Barra sambil mendekati ranjang yang terdapat istrinya di sana. Sesekali menggosok rambutnya yang basah dengan handuk yang bertengger di pundak.
"Pak Barra udah mandi?" Malah pertanyaan itu yang lolos dari mulut Firda.
Seperti biasa, Barra hanya membalas dengan deheman pelan sambil melanjutkan kegiatan.
"Kapan sampai ke sini? Kenapa saya bisa langsung ada di kamar?" Seingat Firda, terakhir dia tertidur di dalam mobil saat menunggu sopir Barra tiba. Ya, karena kelelahan, ia terlelap di sana.
Barra merubah posisi untuk menghadap Firda lebih dulu. Manik tajamnya menatap wanita itu dengan serius. "Saya pindahin kamu ke mobil sopir, setelah sampai, saya angkat lagi sampai ke sini."
Firda terdiam mencerna ucapan Barra. Berarti tadi Barra sudah menggendongnya? Hah! Pipi Firda rasanya panas seketika.
"Kenapa pipi kamu merah?"
Pertanyaan Barra sontak membuat Firda tersadar dan segera memalingkan muka. 'Ih! Kenapa harus blushing di depan Pak Barra, sih?!'
Barra hanya menatap istrinya heran. "Mandi sana! Sebentar lagi maghrib."
Firda sedikit melirik pada suaminya. Dia juga melirik pada jendela yang masih memperlihatkan hujan deras di luar sana.
"Kita nginep di sini?" Firda bertanya tanpa mau menatap sepenuhnya pada Barra.
"Kalau kamu mau pulang, silakan. Saya mau nginap di sini biar gak kehujanan."
Firda menarik napas dalam-dalam. Mulai sekarang dia harus lebih terbiasa dengan sikap Barra yang menyebalkan.
Wanita cantik itu hendak menurunkan kakinya ke lantai, namun suara petir yang menggelegar seketika membuat Firda memutar tubuhnya ke belakang.
"Aaaaaaa!" Dengan sekali gerakan dia memeluk tubuh atletis Barra yang kini sedang mematung di tempatnya.
Barra merasa waktu berhenti sementara saat ia dipeluk oleh Firda. Sebelum tersadar saat merasakan cengkeraman di punggungnya. Firda sepertinya tengah ketakutan.
"Kamu takut petir?" Barra bertanya dengan tanpa sadar membalas pelukan istrinya.
Firda mengangguk masih dalam pelukan Barra, tanpa mau membuka mata. Mulut Barra kembali terkunci. Pikirannya melayang pada nama seseorang. 'Kenapa harus sama dengan dia?'