Hanya ucapan terima kasih, tapi mampu membuat kedua pipi Firda merona. Bagaimana tidak? Ini kali pertama Barra mengucapkan terima kasih padanya.
Selama bekerja dengan Barra, hanya omelan dan kritikanlah yang Firda terima setiap harinya. Dia sampai hafal semua yang pernah diucapkan oleh bosnya.
"Yang bener, Firda! Masa atur jadwal saya aja kamu salah?"
"Saya gak mau kamu ceroboh terus!"
"Jangan telat! Kalau sampai telat, kamu saya pecat!"
Dan masih banyak lagi ucapan yang terngiang di kepala Firda sampai sekarang.
Firda akui dia memang seringkali melakukan kecerobohan, tapi itu juga karena dia ketakutan. Takut setiap kali melihat tatapan Barra yang mengintimidasi.
"Firda?" Barra mengibaskan tangannya di depan sang istri yang melamun saja.
Firda terkesiap. Wanita cantik itu menolehkan kepala pada suaminya. "Hah? Ada apa, Pak?"
"Kamu gak dengar saya ngomong apa?" Alis tebal Barra tampak tertarik ke atas. Menambah kesan galak di wajahnya.
Firda menelan ludah kasar. Dia benar-benar tidak mendengar Barra berbicara apa-apa.
Hah! Sial! Ini semua gara-gara dia melamunkan Barra.
"M-maaf, Pak. Saya gak denger. Bapak ngomong apa, ya?"
Barra tampak menghela napas dalam. Padahal tadi dia sudah berbicara panjang lebar. Tapi Firda malah tidak mendengarkan. Sangat percuma sekali, bukan?
Beberapa saat yang lalu ...
"Khem. Terima kasih. Saya suka cara kamu bicara sama Tuan Jefri. Jujur saja, baru kali ini saya melihat kamu bicara lugas seperti itu di depan klien," ujar Barra tanpa mau menatap pada Firda. Mulutnya memang berbicara, tapi matanya terus menatap lurus pada makanan yang ada di atas meja.
"Emh, Firda. Saya minta maaf kalau selama ini saya sering keras sama kamu. Mungkin mulut saya emang pedas, tapi itu juga karena kecerobohan kamu. Kalau saja kamu terus bersikap baik seperti tadi, saya tidak mungkin mengomeli kamu tiap hari." Barra berucap dengan kedua tangan yang saling meremas. Baru kali dia mengeluarkan kata-kata sepanjang rel kereta setelah sekian lama.
"Khem. Sebagai ucapan terima kasih, saya mau traktir kamu makan siang di sini. Kamu gak keberatan, kan?"
Hening.
Tak ada jawaban dari wanita yang sejak tadi Barra ajak bicara. Pria tampan itu menolehkan pandangan, baru sadar jika Firda tengah melamun dengan tatapan lurus ke depan.
"Pak Barra?"
Panggilan yang dibarengi dengan tepukan pelan di pundaknya membuat Barra tersadar dari lamunan. Dia menolehkan kepala ke samping. Namun, sial! Netranya malah bersitatap dengan manik teduh Firda dalam jarak yang begitu dekat.
Untuk beberapa saat Barra menikmati mata coklat yang meneduhkan itu. Bentuk wajah yang tidak terlalu lebar juga tidak terlalu tirus, begitu serasi dengan bulu mata yang lentik juga hidung yang mancung. Jangan lupakan bibir tipis merah muda alami yang semakin membuat wanita di depannya cantik sekali.
Cantik?
Barra menggelengkan kepalanya. Dia pasti sudah gila sampai berpikir sejauh ini tentang Firda.
"Pak Barra kenapa, sih? Ditanya kok malah geleng-geleng kepala!" Firda bersungut kesal. Ini tuh sudah jam makan siang, perutnya sudah sangat lapar. Tapi sang atasan belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari restoran.
"A-ah, iya. Sorry."
"Saya gak butuh sorry, saya butuh makan, Pak. Kalau kita udah gak ada lagi urusan di sini, Bapak mau kan bawa saya balik ke kantor? Atau setidaknya izinin saya balik ke kantor duluan, deh. Saya udah laper banget tahu, biar nanti makan di kafe deket kantor aja. Pak Barra gak mau bikin saya kelapar—hmmph!"
Cerocosan Firda yang tak ada remnya itu harus terpotong saat tangan lebar Barra berhasil membungkam mulutnya.
"Bisa diam dulu?" Barra menatap datar pada istrinya.
Firda sedikit terpaku dengan apa yang Barra lakukan terhadapnya. Ini kali pertama tangan Barra menyentuh wajahnya. Satu tangan lelaki itu juga masih setia menahan tengkuknya.
Seakan tersadar, Firda segera memukul tangan sang suami yang masih membungkam mulutnya. "Hmmph!"
Bugh!
"Saya bakal lepas, tapi kamu harus diam, okey?" ancam Barra dengan tatapan yang tajam.
Firda hanya menganggukkan kepala dengan lugu. Sesaat kemudian, ia bisa menghirup udara dengan bebas setelah tangan Barra menyingkir dari mulutnya.
Bayangkan saja! Tangan yang begitu lebar itu bukan hanya membungkam mulut, tapi juga menutupi hidung Firda. Dia kan tidak bisa bernapas jadinya.
"Pesan makanan yang kamu mau, saya yang traktir." Barra menggeser buku menu ke hadapan Firda.
Wanita cantik itu menatap pria di sampingnya dengan heran. "Traktir? Tumben banget Pak Barra mau traktir saya."
Barra tidak menyahuti. Dia membiarkan saja Firda memilih makanannya sendiri.
Seakan tersadar akan sesuatu, Firda langsung menghentikan gerakannya, lalu kembali menatap pada sang suami. "Tadi Bapak bilang traktir? Bapak lupa kalau punya tanggung jawab nafkah buat saya? Atau jangan-jangan, Bapak lupa kalau kita udah nikah?"
Barra memejamkan kedua matanya. Dia tidak lupa jika sudah memiliki istri sekarang, sungguh. Hanya saja maksud ia memberikan traktiran sebagai ucapan terima kasih untuk Firda sebagai sekretarisnya, bukan istrinya.
"Iya, saya lupa," sahut Barra dengan enteng. Sengaja memancing emosi wanita yang duduk di sampingnya. Enak saja jika hanya dia yang dibuat emosi sendiri.
Benar saja, Firda cukup terpancing oleh ucapan Barra. Dia tampak mengembungkan kedua pipinya. Menatap kesal pada lelaki tampan yang kini tengah memilih menu dengan santai. "Dasar suami nyebelin!"
***
Sepanjang menikmati makan siang hingga kini sudah kembali menginjakan kaki di tempat kerja, mood Firda berantakan sekali. Dia kesal sekali pada sang suami. Sedangkan pria jangkung itu tampak santai berjalan lebih dulu.
Harusnya ini menjadi momen makan siang pertama yang menyenangkan setelah Firda memiliki dua status di sisi Barra. Tapi ternyata, pria itu malah membuat mood-nya tak karuan.
Firda terus mengekor di belakang Barra. Hingga saat akan memasuki lift, dia tak sengaja melihat Bayu yang tengah berjalan sendirian.
"Mas Bayu!" panggilnya membuat pria itu menoleh seketika.
Barra mengerutkan kening saat mendengar istrinya memanggil nama orang itu lagi. Sedangkan pria yang merasa terpanggil itu tampak berjalan menghampiri dengan senyuman yang terukir di kedua sudut bibir.
"Selamat siang, Tuan. Saya staf baru di sini. Maaf, belum sempat bertemu dengan Tuan langsung." Bayu dengan sopan menyapa sang atasan terlebih dahulu.
Barra mengangguk sambil berdehem sebagai jawaban. Ya, cukup hanya dengan begitu respon Barra pada setiap karyawan.
"Mas Bayu mau ke mana?" tanya Firda. Dia memanggil Bayu karena melihat pria itu tengah berjalan sendirian sambil celingukan.
"Oh, ini. Saya mau cari teman yang mau ke kafe juga. Mau makan di sana," jawab Bayu apa adanya.
"Oh ...." Firda menganggukan kepala mengerti. "Belum dapet temannya, ya? Gimana kalau sama saya aja?"
Tawaran Firda sontak membuat kedua sudut bibir Bayu semakin melengkung ke atas. Berbeda dengan Barra yang rasanya ingin langsung menarik tangan Firda untuk menjauh dari sana.
"Emang kamu juga belum makan, Firda?" tanya Bayu dengan mata yang berbinar.
"Emh, udah, sih." Firda menjawab sambil mengusap pelan lehernya yang terbalut hijab. "Tapi kalau Mas Bayu mau ada temen, gak apa-apa. Masih ada waktu juga sebelum masuk jam kerja."
Wajah Bayu semakin cerah saja. "Boleh kalau gitu."
Firda menatap sebentar pada bos sekaligus suaminya. "Saya sama Mas Bayu ke kafe depan dul—"
"Siapa yang izinin kamu pergi?" Barra dengan cepat memotong ucapan istri sekaligus sekretarisnya. "Kamu masih ada tugas dari saya."
Kening Firda tampak mengkerut bingung. "Tugas apa?"
"Kita bicarakan di ruangan saya."
Barra segera melenggang pergi memasuki lift, meninggalkan Firda yang masih kebingungan.
Tak mau mendapatkan amukan, Firda pun dengan tak enak hati harus membatalkan untuk menemani Bayu makan siang. "Maaf ya, Mas. Mungkin lain kali, deh."
"Gak apa-apa, Fir. Santai aja." Bayu berusaha tersenyum meskipun harapannya untuk makan siang ditemani Firda harus pupus seketika.
Firda segera memasuki lift untuk menyusul Barra. Beruntung dia bisa menahan pintu lift yang akan tertutup dan berhasil masuk ke dalam lift yang sama dengan suaminya.
"Emh, maksud Bapak tugas apa lagi sih, Pak? Seingat saya, gak ada tugas lagi." Firda memberanikan diri bertanya pada sang suami.
Barra beralih menatap Firda. Ia sedikit mencondongkan wajahnya hingga kini begitu dekat dengan wajah istrinya. "Tugas seorang istri," bisik Barra yang membuat tubuh Firda membeku seketika.
"T-tugas istri?"
Barra mengangguk sambil kembali menegakan tubuhnya. Berdiri dengan gagah di samping Firda.
Sedangkan perasaan Firda tampak campur aduk sekarang. Apakah Barra serius dengan apa yang baru saja ia ucapkan?
'Tugas istri yang kayak gimana maksud Pak Barra? Bisa mati aku kalau dia minta haknya sekarang!'