SIAPA DIA?

1298 Words
Bus yang ditumpangi Firda sudah berhenti di halte yang tak jauh dari gedung tinggi Wiyatama Group. Gegas ia berdiri, bersiap untuk turun dari sini. Setelah menginjakkan kaki di depan halte, Firda merapikan sedikit jilbab yang membalut kepalanya. Takut saja acak-acakan sebab tadi di dalam bus sempat berdesakan. "Mbak kerja di mana?" Firda terperanjat saat mendegar suara pria yang berbicara tepat di sampingnya. Wanita cantik itu menolehkan kepala. Sejenak ia mengerutkan kening melihat pria yang tadi memberikan tempat duduk untuknya. "Mas berhenti di sini juga?" Dia malah bertanya balik, membuat pria itu terkekeh pelan. "Iya, saya mau masuk kerja hari pertama di kantor Wiyatama Group." "Wiyatama Group?" beo Firda. "Saya juga kerja di sana. Kebetulan banget, ya?" kekehnya. "Oh ya, saya Firda, sekretaris di Wiyatama Group." Firda memperkenalkan diri dengan ramah. Teringat sejak tadi mereka berdua belum saling mengetahui nama. "O-oh, iya. Saya Bayu." Firda menganggukan kepala mengerti. 'Oh, jadi namanya Bayu.' Wanita berhijab itu pun lebih dulu mengambil langkah dengan Bayu yang berjalan di belakangnya. Mereka sama-sama menuju gedung tinggi Wiyatama Group. "Oh, ya. Mas Bayu dapat posisi di bagian apa?" tanya Firda sedikit menolehkan kepala ke belakang. Bayu lebih dulu berpindah ke samping Firda sambil memasuki gedung Wiyatama. "Kata HRD, saya ditempatkan di bagian marketing, Mbak." "Oh gitu." Firda mengangguk lagi sambil meneruskan langkah. Beberapa orang tampak menyapa dengan ramah padanya. Ada juga yang langsung berbisik saat melihat ia berjalan dengan seorang pria. "Bu Firda sama siapa, ya? Ganteng juga." "Apa jangan-jangan itu pacarnya?" Firda melirik sedikit pada Bayu yang berjalan di sampingnya. Mata memang tidak bisa bohong. Bayu memiliki pahatan wajah yang nyaris sempurna. Huh! Sayang sekali bukan suaminya. Firda menggelengkan kepalanya cepat. Dia tidak boleh berpikir seperti itu. Bagaimana pun, dia sudah jadi istri orang sekarang. Ralat, istri dari pria yang sangat menyebalkan. "Ini ruangan Divisi Pemasaran. Mas Bayu masuk aja." Firda menghentikan langkah tepat di depan ruangan Divisi Pemasaran. Bayu terkesiap. Dia tidak tahu Firda akan mengantarnya langsung ke sini. Ah, wanita cantik ini sungguh baik sekali. "Terima kasih, Mbak. Mbak baik sekali." Firda mengangguk saja. "Saya tahu Mas Bayu pasti belum tahu ruangannya. Oh ya, panggil Firda aja, jangan panggil Mbak. Saya jadi ngerasa tua," kekeh Firda. Bayu ikut terkekeh juga. "O-oke. Terima kasih, Firda." "Sama-sama. Saya ke ruangan dulu ya, Mas. Selamat bekerja." Firda kembali melangkahkan kaki menuju tempat dia menghabiskan waktu sepanjang hari. Meja kerja yang terdapat di depan ruangan Barra. Di sebelah pojok lebih tepatnya. Firda baru saja hendak menyimpan tas juga laptop di atas meja, namun sebuah tangan kekar tiba-tiba saja menyeretnya masuk ke dalam ruangan. Barra. Ya, suaminya. Firda segera melepaskan cekalan sang suami dari tangannya setelah berada di dalam ruangan. "Pak Barra apa-apaan, sih? Sakit tahu!" Barra hanya menatap istrinya dengan datar. "Dari mana aja kamu?" Firda mengerucutkan bibirnya kesal. Masih saja bertanya. Padahal ini semua ulah Barra. "Dari mana, Firda?" Lagi, Barra bertanya, membuat Firda semakin kesal saja. "Ngapain Bapak nanya? Bapak sendiri kan yang turunin saya di halte?" Barra menghela napas dalam. Bukan itu maksud dia. "Saya lihat kamu sama laki-laki, siapa dia?" "Laki-laki?" Firda coba mengingat lagi. "Oh, yang dimaksud Pak Barra, Mas Bayu? Dia karyawan baru di sini, gak sengaja satu bus tadi." Ya, Firda rasa dia harus jujur pada sang suami. Pria tampan itu menganggukan kepalanya pelan sambil ber-oh ria. Dia kemudian mendudukan tubuhnya di atas sofa. "Seneng kamu?" Dahi Firda tampak mengkerut tipis mendegar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang suami. "Seneng gimana maksudnya?" "Ya, seneng. Sampai kamu senyum ramah sama dia. Saya kira kalian udah kenal lama," sahut Barra sambil menaikan kedua bahunya. "Emang salah ramah sama orang? Saya gak kayak Bapak yang pelit senyuman, ya!" Seketika Barra melotot tajam pada sekretaris yang merangkap jadi istrinya. "Firda ...." desisnya dengan geram. Wanita bertubuh mungil itu hanya bersikap biasa saja. Jika biasanya dia akan takut saat Barra menatap tajam, maka kali ini tidak. Ingat, ya! Selain sekretaris, dia sekarang adalah istrinya Barra! Semua keluarga Wiyatama sudah mendeklarasikan untuk mendukungnya jika Barra macam-macam. "Kenapa? Saya ngomong bener, kok," sahut Firda dengan santai. Barra menghela napas pelan. "Duduk! Buka materi untuk meeting hari ini!" Jika terus dilanjutkan, maka akan berkepanjangan. Asal tahu saja! Berlama-lama dengan Firda membuat kepala Barra rasanya seakan dipalu dengan kencang. Sakit, pening dan pusing tujuh keliling. *** Seperti agenda yang sudah direncanakan sebelumnya. Saat ini, Barra sudah berada di sebuah restoran bintang lima dengan ditemani Firda yang berperan sebagai sekretarisnya. Mereka sedang menunggu klien penting yang akan membahas kerja sama. Barra menatap arloji yang melingkar di tangannya. Masih ada 5 menit lagi sebelum klien tiba. "Firda, saya mau ke toilet dulu. Kamu tunggu Tuan Jefri di sini. Kalau beliau datang, ajak bahas yang lain dulu." Firda menganggukan kepala mengerti. Dia menatap punggung sang suami yang telah pergi. Suami? Hah! Lagi-lagi Firda menghela napas kasar saat ingat dia sudah jadi istri orang sekarang. Bukannya apa, dia hanya merasa aneh saja dengan pernikahannya. Terkesan hanya sebuah permainan. Bayangkan saja. Dia dan Barra tidak saling cinta. Tinggal satu kamar, tapi tidak boleh satu ranjang. Baik Barra maupun Firda sama-sama tidak menjalani peran. "Selamat siang." Lamunan Firda buyar saat mendengar sebuah sapaan. Dia segera berdiri dengan sopan saat mengetahui Tuan Jefri yang datang. "Selamat siang, Tuan. Selamat datang. Mari, silakan duduk. Pak Barra sedang di toilet sebentar." Pria matang bernama Jefri itu duduk pada kursi di depan Firda dengan penuh wibawa. "Emh, selagi menunggu Pak Barra kembali, apa Tuan berkenan saya menjelaskan sedikit tentang proyek ini?" tawar Firda hati-hati. Jujur saja, sebagai sekretaris baru yang masih minim pengalaman, bagi Firda hal ini sangat mendebarkan. Jika dia salah bicara sedikit saja, bisa membuat citra buruk untuk Wiyatama Group. "Boleh, dengan senang hati saya akan menyimak." Tuan Jefri tampak setuju dengan tawaran Firda. Firda pun mulai menjelaskan sedikit demi sedikit hal-hal yang menyangkut proyek tersebut dengan hati-hati. Tuan Jefri dengan setia menyimak sambil mengangguk mengerti. Sesekali pria tegas itu melontarkan pertanyaan yang langsung dijawab cerdas oleh Firda. Tanpa Firda sadari, Barra sedang memperhatikannya sejak tadi. Dari kejauhan, dia bisa melihat Firda menjelaskan proyeknya dengan pandai. Tanpa sadar kedua sudut bibir Barra tertarik ke atas, membentuk senyuman. Dia cukup bangga pada kemajuan Firda yang baru saja bekerja selama 3 bulan. Barra menghela napas sejenak, baru melanjutkan langkah. Dia harus segera menemui klien-nya. "Selamat siang, Tuan Jefri. Maaf menunggu lama," sapa Barra saat sudah kembali ke mejanya. "Oh, tidak apa-apa, Tuan Barra. Sekretaris Anda sudah banyak menjelaskan tentang proyek ini pada saya. Dan ya, entah kenapa saya langsung tertarik untuk bergabung bersama Anda dalam proyek kali ini." Senyuman di wajah Barra dan Firda terukir mendengar kepuasan klien-nya. "Terima kasih, Tuan. Tapi sepertinya tidak puas jika saya juga tidak menjelaskan secara langsung pada Tuan. Jadi, apa Tuan mau mendengarkan versi saya?" tawar Barra diiringi dengan kekehan di akhir kalimatnya. Tuan Jefri mengangguk sambil ikut terkekeh juga. "Tentu saja, Tuan Barra. Anda harus menjelaskan dengan versi lainnya." Barra pun mulai menjelaskan dengan serius dan rinci tentang proyek yang akan Wiyatama Group bangun dalam waktu dekat. Yang Barra jelaskan tak jauh beda dengan penjelasan Firda. Membuat klien mereka semakin puas saja. Tanpa banyak pertimbangan, Tuan Jefri langsung menyetujui tawaran Wiyatama Group untuk bekerja sama. "Terima kasih, Tuan Jefri. Dalam waktu dekat, kami akan mengundang Anda untuk meeting di Gedung Wiyatama." Barra dan Jefri saling bersalaman ala pria. Setelahnya, Tuan Jefri pamit undur diri, menyisakan sepasang suami istri. Firda cepat-cepat menyeruput minuman dinginnya saat Tuan Jefri sudah hilang dari pandangan. "Kamu kenapa?" tanya Barra sambil menahan tawa. Wanita cantik itu menarik napas sejenak, lantas menoleh pada sang atasan. "Saya takut banget tadi, takut Tuan Jefri gak suka sama penjelasan saya. Untung aja saya gak ada salah ngomong," keluh Firda. Barra hanya merespon dengan kekehan, namun wajahnya tetap datar. Dia meneguk kopi yang mulai dingin di atas meja. Melirik Firda sejenak, Barra ragu-ragu untuk berucap. "Ekhem! Firda?" "Hm? Kenapa, Pak?" "Terima kasih." Blush!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD