Firda mengerjapkan matanya pelan saat suara pintu yang dibuka masuk ke dalam pendengaran. Wanita cantik dengan kepala yang masih terbalut hijab itu seketika mendudukan tubuhnya saat melihat sang atasan hanya melilitkan handuk sebatas pinggang.
"Aaaaa ...." teriak Firda sambil menutup mata dengan kedua tangan.
Barra mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Dia berjalan santai hingga berdiri tepat di depan sang istri. "Kenapa kamu teriak?" tanyanya begitu santai seperti tak ada beban.
"Kenapa Pak Barra gak pake baju? Mata saya jadi ternoda, kan!" ucap Firda kesal dengan suara yang terendam oleh tangan.
Barra berdecak pelan. "Gak usah lebay kamu! Turunin tangannya!"
"Gak mau! Pak Barra pake baju dulu!" Firda masih tak mau menurunkan tangannya. Enak saja! Dia tidak mau mata yang suci ini tercemar gara-gara melihat roti sobek milik seorang Barra Ivander Wiyatama.
Walaupun kesal, Barra tetap melangkahkan kaki menuju ruang ganti. Gegas memakai koko, sarung juga peci. Kebetulan adzan subuh akan berkumandang sebentar lagi.
Pria tampan itu keluar dari ruang ganti setelah selesai memakai pakaian juga peci. Namun keningnya mengkerut bingung saat melihat Firda masih saja menutup mata. Kepala Barra menggeleng pelan. Dia mengambil bantal yang ada di atas ranjang, lalu melemparnya tepat mengenai wajah Firda dengan sekali gerakan.
Bugh!
"Aaaaa!" Firda berteriak sambil menurunkan kedua tangannya. Dia menyorot tajam pada Barra yang berdiri dengan santai di depan sana. "Ngapain Bapak pake lempar-lempar saya segala?!"
"Saya udah bilang turunin tangan kamu. Sana mandi! Perempuan kok jam segini baru bangun."
Firda membuatkan mata. Enak saja! Ini semua gara-gara Barra yang menyuruhnya tidur di sofa. Dia susah tidur semalam hingga bangun kesiangan.
"Mandi, Firda!" ulang Barra sambil menggelar sajadahnya.
Firda segera bangkit dari sofa, lalu memasuki kamar mandi setelah mengambil pakaian dari dalam kopernya.
Brak!
Barra terlonjak kala mendengar suara pintu kamar mandi yang dibanting keras. Dia hanya bisa menggelengkan kepala pelan sambil bergumam, "Dasar cewek!"
***
"Assalamualaikum warahmatullah ...."
"Assalamualaikum warahmatullah ...."
Sepasang suami istri yang tengah melaksanakan sholat subuh berjamaah itu mengucap salam ke kanan dan ke kiri sebagai akhir dari ibadah sholat mereka. Setelahnya, mengangkat kedua tangan untuk berdoa pada Sang Maha Pencipta.
"Ya Allah ... setelah mendapatkan luka, hamba tidak pernah berpikir untuk menikah dengan wanita manapun juga. Tapi entah kenapa Engkau malah mengirimkan Firda untuk menjadi istri hamba. Maafkan hamba, Ya Allah... hamba tetap tidak bisa menerima Firda. Masih sangat basah luka yang dulu menggores hati hamba, dan hamba belum bisa menyembuhkannya. Maafkan hamba, Ya Allah ...." lirih Barra dalam hati.
"Ya Allah... hamba tidak tahu pertanda apakah ini dariMu. Tapi satu yang hamba yakini bahwa Engkau adalah sebaik-baik Perencana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba. Hamba akan menerima pernikahan ini dengan ikhlas, Ya Allah. Meskipun hamba belum mempunyai perasaan untuk pria yang berstatus sebagai suami hamba saat ini. Bimbing hamba, Ya Allah ... bimbing hamba agar tetap berada di jalanMu." Firda memohon pada Sang Maha Pencipta sambil memejamkan mata.
"Aamiin ...."
Keduanya saling mengusap telapak tangan pada wajah masing-masing setelah selesai berdoa. Barra memutar badan menghadap pada Firda yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya. Pria tampan itu dengan santai mengulurkan tangan kanan ke depan.
Firda mengerti, dia mengambil tangan Barra dan menyalaminya, meskipun kesal karena pagi-pagi begini sudah diberi tatapan dingin sekali. Entahlah kenapa wajah Barra tak bisa terlihat hangat sedikit saja.
Firda kembali menegakkan tubuh. Dia sempat mengira Barra akan memberikan kecupan pada keningnya. Tapi ternyata tidak. Ya, harusnya Firda sadar sejak awal Barra tidak akan pernah memperlakukan dia sebagai istrinya.
"Ada yang mau saya bilang," ujar Barra tiba-tiba.
"Apa?" tanya Firda sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Tolong jangan kasih tahu siapa pun soal pernikahan kita."
"Saya tahu," sahut Firda cepat. Lagipula dia juga tak ingin satu kantor tahu jika dia adalah istri seorang Barra yang dingin tiada duanya. Lagipula pernikahan mereka belum sah di mata negara. Bisa saja 'kan besok Barra akan membuangnya?
"Bagus!" Barra manggut-manggut mengerti sambil melipat sajadahnya.
"Gitu aja, Pak?"
Pertanyaan Firda sontak menghentikan pergerakan Barra. "Emang mau apa lagi?" Barra balik bertanya sambil menatap heran pada wanita di depannya.
Firda menggelengkan kepalanya pelan. Tidak ada apa-apa, sih. Dia hanya mengira ada hal penting lainnya yang ingin Barra bicarakan.
Firda masih setia duduk di atas sajadahnya sambil sesekali melafadzkan dzikir dengan mata yang terpejam. Sedangkan Barra sudah duduk di atas sofa sambil memangku laptop yang menyala.
Selesai dengan kegiatannya, Firda menolehkan kepala pada Barra. Ada sesuatu yang mengganjal sejak semalam dan ingin dia tanyakan. "Pak?" panggil Firda hati-hati.
"Hem." Barra hanya berdehem dengan tatapan yang tak beralih dari layar laptopnya.
"Kenapa Bapak gak nolak pas diminta nikahin saya?"
Jemari kekar Barra yang semula bergerak lincah di atas keyboard berhenti seketika. Dia menoleh sedikit pada Firda yang tengah menatapnya. "Emangnya kenapa?"
"Ya, gak papa. Harusnya kalau Bapak gak mau, Bapak bisa nolak juga, dong. Kayak saya gitu."
Barra kembali mengarahkan tatapannya pada laptop. Aura di wajah tampan itu masih sama, dingin seperti biasa. Ada jeda sebentar sebelum dia memberikan jawaban. "Karena bagi saya, menikah atau tidak sama saja. Saya tetap tidak akan mencintai siapa-siapa."
Degh!
***
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Firda terus terngiang jawaban Barra ketika dia bertanya. 'Tidak akan mencintai siapa-siapa'. Apakah Barra juga tidak akan pernah mencintainya? Lalu untuk apa mereka membina rumah tangga?
Ya, Firda tahu dia pun belum memiliki perasaan apapun untuk Barra. Tapi setidaknya dia akan berusaha agar perasaan cinta itu tumbuh di hatinya. Tapi jika Barra memiliki prinsip seperti itu, apakah dia bisa bertahan di sisi Barra selamanya?
Walaupun belum pernah merasakan, Firda tahu bahwa cinta sepihak itu pasti sangat menyakitkan.
Ckiit!
Mobil yang dikendarai Barra tiba-tiba menepi di pinggir jalan, membuat Firda keheranan. "Kenapa berhenti di sini?" tanyanya heran.
"Turun!" titah Barra dengan raut dinginnya.
Kedua alis Firda tertaut tanda tak suka. "Bapak suruh saya turun di sini?"
"Apa perintah saya kurang jelas?" Barra menatap dingin pada istrinya.
"Terus kalau Bapak turunin saya di sini, saya ke kantor harus naik apa?" tanya Firda kesal. Enak sekali Barra menurunkan orang sembarangan. Jika dia kesiangan bagaimana coba? Tetap saja pria itu akan memarahinya.
"Kamu lihat di depan sana!" Barra mengarahkan dagunya ke depan. "Ada halte bus."
"Maksud Bapak, saya suruh naik bus itu?"
"Kalau kamu pintar, kamu pasti paham."
Hidung Firda tampak kembang kempis seketika. "Oke, fine! Saya naik bus!"
Perempuan berhijab itu langsung turun dari mobil dan menutup pintunya dengan kencang, hingga membuat beberapa orang menatap heran. Akibat emosi, Firda sampai tidak bersalaman dengan sang suami.
Wanita cantik itu mencak-mencak dengan kesal, lalu mendudukan tubuhnya padahal halte, menunggu bus datang. 'Punya suami nyebelin, rese! Gak ada untungnya sama sekali!' gerutunya dalam hati.
Untunglah keberuntungan sedang berpihak padanya. Karena tak lama setelah itu sebuah bus datang dan berhenti di sana. Firda segera berdiri, bersiap untuk masuk dengan mengantri. Namun saat berhasil memasuki bus, dia tak menemukan tempat duduk lagi. Semua kursi sudah terpenuhi.
Firda mengerucutkan bibirnya kesal. Dia tidak memiliki pilihan selain berdiri hingga sampai di tempat tujuan. Padahal jarak kantor Wiyatama Grup itu masih sangat jauh sekali. Dia bisa pegal kalau begini.
"Mbak-nya mau duduk?"
Firda mengedarkan pandangan saat mendengar suara seseorang. Terlihat seorang pria berpakaian hitam putih menatap padanya. "Mas ngomong sama saya?" tunjuknya pada diri sendiri.
Pria itu menganggukan kepala. "Iya, Mbak bisa duduk di sini. Saya bisa berdiri." Dia segera berdiri mengosongkan kursi yang tadi ia duduki.
"Emh, gak usah, Mas. Saya berdiri aja, Mas-nya aja yang duduk." Firda merasa sungkan. Apalagi mereka tak saling mengenal.
"Gak apa-apa, Mbak. Saya aja yang berdiri. Lagian yang berdiri semua laki-laki, nanti Mbak-nya malah gak nyaman."
Benar juga, sih. Firda juga merasa risih. Takut tiba-tiba mereka bergesekan atau bahkan bertubrukan. Hih, Firda tidak mau itu terjadi!
"Oke, deh. Makasih ya, Mas." Firda segera duduk pada kursi pria tadi. Kebetulan di sampingnya pun seorang perempuan, bukan laki-laki.
'Ya ampun... ademnya kalau punya suami kaya gitu. Gak kayak Pak Barra yang gak punya hati nurani sama istri sendiri!'