Part 02 #Gadis imut itu, Aileen Ayudia

1044 Words
22 tahun yang lalu. Mentari pagi mulai bergerak naik dari ufuk timur. Embun pagi pun mulai menguap saat cahaya keemasan sang surya menerpa rerumputan yang terlihat basah. Di sebuah kawasan perumahan elit yang berada di Jakarta pusat, tepatnya di paling ujung kawasan perumahan elit yang berjajar itu, berdiri sebuah rumah berlantai dua dengan pekarangan minimalis, dan cat tembok berwarna hijau sangat kontras dengan rumput-rumput yang tumbuh rapi di sudut-sudut rumah tertentu. Sedangkan di dalam rumah berlantai dua itu, tepatnya di lantai paling dasar, di mana, di sini hanya terdapat tiga buah ruangan yaitu, ruang keluarga, ruang makan yang menyatu dengan dapur, dan terakhir iyalah ruang kamar untuk tamu. Bukan hanya tiga ruangan itu saja, di belakang rumah sendiri terdapat sebuah taman mini yang digunakan anggota keluarga untuk bersantai, piknik, dan banyak hal. Sementara di lantai atas terdapat empat ruangan. Tiga di antara empat ruangan itu dijadikan kamar tidur, dan satu sisanya di jadikan tempat bekerja untuk sang kepala keluarga. Begitulah susunan rumah yang di miliki oleh keluarga besar Admadja, di mana pria bernama lengkap Wahyu Antoni Admadja yang berusia tiga puluh dua tahun sebagai kepala keluarga. Sekarang— pria yang terbilang berparas rupawan itu sedang duduk di ruang keluarga. Karena hari ini weekend, pria itu terlihat semakin rupawan saat tubuh kekarnya dilapisi oleh baju santai dengan bawahan celana jeans. Penampilannya pagi ini terlihat seperti orang yang akan pergi piknik. "Papa!" teriak seorang bocah wanita dengan suara berisik khas anak-anak itu, langsung menyalami gendang telinga Anton, membuat pria tiga puluh dua tahun itu mengalihkan fokusnya dari ponsel menuju ke arah tangga, di mana, di atas sana ada seorang gadis cilik sedang tersenyum sambil menggandeng tangan seorang wanita dewasa. Anton langsung melukis senyum. Pria tiga puluh dua tahun itu bergerak berdiri dari duduknya, dan berjalan untuk mendekati tangga yang sedang gadis cilik itu turunkan ditemani oleh wanita dewasa yang sudah terbalut dengan pakaian modis dengan riasan tipis itu, masih setia menggandeng lengan mungil gadis cilik itu. "Papa!" girang gadis itu saat sudah sampai di anak terakhir tangga, dan langsung berhamburan ke pelukan Anton yang dia panggil dengan sebutan ayah itu. Melihat itu, Anton langsung sigap menangkap tubuh mungil gadis cilik itu, dan membawanya masuk ke dalam gendongannya, "Ayu jangan berlari seperti itu. Bagaimana tadi kalau kamu jatuh?" marah Wanita dewasa yang tadinya menemani gadis cilik yang bernama lengkap Aileen Ayudia Admadja itu dengan raut khawatir. Iya, gadis cilik berusia empat tahun itu adalah Aileen Ayudia. Sekarang gadis cilik berparas cantik, dan berwajah imut itu sedang tersenyum di gendongan ayahnya. "Mama— Ayu tidak mungkin jatuh. Ayu yakin kalau Papa akan selalu menangkap Ayu. Benarkan Papa?" Anton yang melihat ekspresi menggemaskan milik putrinya itu, hanya bisa tersenyum, dan langsung membombardir pipi gembul Aileen dengan ciuman. "Benar sekali tuan putri." Anton berhenti sejenak, tapi dia kembali menghujani pipi gembul Aileen dengan kecupan-kecupan sayangnya. Sementara wanita dewasa yang dipanggil Mama tadi, hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum yang mengembang. Iya, wanita yang mempunyai nama lengkap Friska Fanny Admadja itu iyalah, istri dari Wahyu Antoni Admadja, dan ibu dari Aileen Ayudia Admadja. "Papa geli~" adu Aileen dengan suara yang terdengar sangat kegelian itu membaut Anton semakin gencar untuk melakukan itu, "Mama tolong hentikan Pa— akhhahahahha geli Pa, geli." Aileen mencoba mencari bantuan ke sang Mama untuk menghentikan tingkah laku Papanya itu. Friska yang mendengar itu hanya bisa terkekeh, karena melihat kelakuan ayah dan anak itu. Akan tetapi, Fesiak tidak diam saja, wanita dua puluh sembilan tahun itu langsung mengambil alih tubuh anaknya dari gendongan sang suami, membuat Anton cengengesan. Berbeda dengan Aileen. Saat ini gadis cilik itu bernafas lega, dan langsung menjulurkan lidah mengejek sang ayah yang sedang terkekeh. Melihat anaknya menjulurkan lidah, Anton kembali berniat menciumi pipi Aileen, tapi dengan cepat Fesiak menghentikan gerakan suaminya. "Papa jangan kayak gitu lagi," ujar Friska dan membuat Anton kembali cengengesan. "Maaf Mama. Habisnya tuan putri kita ini menggemaskan sekali." Anton hendak menggelitik perut sedikit berisi Aileen, tapi tatapan penuh akan ancaman dari sang istri kembali menghentikannya, dan Anton langsung memilih untuk merangkul pundak Friska penuh akan sayang. "Papa berhenti mengganggu Ayu dong," protes Friska yang tidak sengaja melihat tangan kiri milik suaminya hendak mencubit pipi gembul milik anaknya itu. "Siapa yang mau ganggu Ayu. Tadi papa mau anu-" "Anu apa?" potong Friska dengan tatapan penuh akan selidik. "Anu— sudah lah, lebih baik kita berangkat sekarang," ajak Anton mengalihkan pembicaraan. "Ehh Papa main berangkat saja. Apa Papa sudah memasukan barang-barang yang kita butuhkan di sana?" "Sudah Mama— ayok kita pergi sekarang." Anton menggeret sang istri yang sudah dari tadi dia rangkul untuk cepat bergegas kelaur. "Asik! Piknik sama Papa dan Mama," girang Aileen yang masih dalam gendongan sang ibu, dan membuat sepasang suami istri itu terkekeh. "Kita akan pergi piknik, dan bermain-main di sana," celetuk Anton, membuat Aileen semakin kegirangan. Iya, mereka bertiga sekarang akan pergi piknik, dan menghabiskan weekend ini bersama-sama. Sebenarnya piknik keluarga ini mereka lakukan setiap weekend, dan itu atas permintaan Anton sang kepala keluarga. Pria tiga puluh dua tahun itu sangaja mengadakan acara ini untuk menghabiskan waktu dengan keluarga, setelah dia lima hari penuh di kantor. Yang paling menggembirakan di acara piknik ini adalah, senyum Aileen yang tidak akan pernah luntur. Iya, gadis cilik itu sangat suka yang namanya piknik. Terlebih lagi jika bermain-main dengan ayah kesayangannya itu semakin membuat dia bahagia, gembira, sekaligus senang. Flashback off Tapi itu dua puluh dua tahun yang lalu. Sekarang Aileen yang pering, gembira, dan bahagia sudah tercemar dengan kejamnya kehidupan dunia, membuat dia terjerumus dalam kehidupan malam yang dipenuhi oleh banyaknya dosa di setiap perbuatannya. Serpihan-serpihan potongan masa lalu yang Aileen kenang malam ini, mampu membuat air matanya terjatuh, dan mengingat sudah sepuluh tahun lamanya dia tidak berkunjung ke makam ayahnya. "Papa— Ayu rindu," gumam Aileen yang sudah berada di dalam lift yang sedang bergerak turun ke lantai dasar. "Mungkin besok sudah waktunya Ayu mengunjungi papa setelah sekian lamanya." Aileen langsung mengayunkan langkah keluar dari dalam lift setelah pintu itu terbuka. Sama seperti reaksi di lantai tiga tadi. Sekarang setiap pengunjung pria entah itu tua atau muda, semuanya menatap Aileen penuh damba. Akan tetapi mereka yang ada di lantai bawah ini sadar tidak bisa menikmati wanita malam satu itu, karena harga tubuhnya sangat mahal. Bahkan satu ginjal saja tidak cukup untuk membuat Aileen berada di bawah mereka. T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD