Part 03 #Sekelabat Kenangan lalu

1022 Words
Jakarta pusat, perumahan elit. Hari sudah berganti, dan seperti hari biasa di bulan Mei ini, rintik-rintik hujan sudah dari subuh tadi mengguyur ibu kota. Termasuk di salah satu perumahan elit yang ada di pusat kota. Sekarang tempat itu sedang dilanda gerimis, tapi biarpun hanya gerimis. Beruntunglah hari ini weekend, dan para penghuni rumah yang ada di tempat itu lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar, seolah enggan keluar untuk beraktifitas. Akan tetapi, ada juga ibu rumah tangga yang berada di halaman untuk sekedar menyapu. Jauh masuk ke dalam kompleks perumahan elit itu, tepat di paling ujung, berdiri sebuah rumah berlantai dua, dengan gerbang hitam sebagai penghalang antara jalanan kompleks, dan halamannya yang luas, dan cat dinding berwarna hijau yang sangat kontras dengan warna rumput yang tumbuh rapi di sudut-sudut tertentu rumah itu. Sedangkan di dalam rumah sendiri tidak kalah cantiknya dengan halaman depan. Di dalam rumah, tepatnya di lantai satu rumah itu terdiri dari tiga ruangan. Yang pertama ruang keluarga yang digunakan untuk bersantai oleh sang pemilik, terus setelah itu ada ruang makan yang terhubung langsung dengan dapur, dan ruangan terakhir adalah kamar untuk tamu. Sementara di lantai dua rumah itu, hanya terdapat satu buah kamar, dan itu milik seorang wanita cantik bernama Aileen Ayudia. Iya, rumah ini milik Aileen Ayudia si wanita malam itu. Sekarang dia sedang berada di dalam kamar, dan tengah duduk di depan cermin yang ada di meja riasnya. Wanita itu nampak cantik dengan balutan kemeja wanita hitam dipadukan celana panjang berwarna senada dengan kemejanya, dan jangan lupakan sebuah kain hitam yang melingkar di kepalanya, membuat wajah ayunya itu tertutup. Jika di pikir-pikir, rumah Aileen ini mirip seperti rumahnya sewaktu dia kecil, dan masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Akan tetapi bedanya, rumah Aileen ini tidak memiliki taman belakang, dan hanya ada satu kamar di lantai atas. Mungkin yang menyamai rumah Aileen yang sekarang dan dulu adalah tata letaknya. Kedua rumahnya itu sama-sama berada tepat di paling akhir kompleks perumahan. Hujan yang mulanya gerimis, sekarang mulai turun sedikit deras. Namun itu belum bisa mengurungkan niat wanita cantik itu untuk pergi ke makam ayahnya. Aileen menutup matanya yang tertutup kaca mata hitam itu, baru setelah itu dia bergerak membuang nafasnya pelan, dan mulai berdiri dari duduknya, "Ada baiknya aku segera pergi sebelum hujan turun semakin deras." Aileen langsung mengayunkan langkah kakinya keluar dari dalam kamar. Sesampainya di luar kamar, wanita itu langsung berjalan menuju tangga, dan mulai bergerak menuruninya untuk sampai ke lantai dasar rumahnya. Setibanya di lantai bawah, Aileen melirik arloji yang melingkar di tangannya, dan wanita itu kembali berjalan ke pintu utama rumahnya. Setibanya di pintu utama, Aileen langsung bergerak memutar knop pintu, menariknya ke belakang, dan langsung melangkah keluar dari dalam rumah. Pandangan matanya langsung disambut oleh rintikan air hujan, dan itu kembali membuat Aileen bimbang antara memilih pergi atau mengurungkan niatnya. "Persetan dengan hujan. Sekarang aku hanya ingin bertemu dengan papa," sebal Aileen pada dirinya sendiri. Setalah mengatakan itu, Aileen berjalan ke pojok kiri rumahnya untuk mengambil sebuah payung hitam yang tergantung rapi di sebatang kayu dengan kedua ujungnya tergantung. Dengan sedikit berjinjit Aileen mampu meraih payung hitam itu, dan baru setelah itu. Dia langsung melebarkannya, menggenggam pegangannya, dan langsung berjalan ke arah mobil hitam yang sudah terparkir rapi di depan garasi. Aileen terus berjalan menuju pintu mobil bagian kemudi dengan payung sebagai pelindung dirinya dari guyuran hujan. Setibanya di sana, Aileen bergerak cepat membuka pintu, dan langsung masuk ke dalam mobil dengan satu tangan masih dia biarkan berada di luar untuk mengembalikan posisi payung kesemula. "Berangkat," ujar Aileen setelah meletakkan payung yang sudah tertutup itu ke jok belakang. Wanita itu bergerak menghidupkan mesin mobilnya, dan langsung memacu kendaraan roda empat itu keluar dari halaman rumahnya melewati gerbang hitam yang sudah terbuka otomatis itu. Setelah keluar dari halaman rumah, Aileen kembali melajukan mobilnya membelah jalanan kompleks agar bisa ke jalan utama. Aileen kembali menghentikan laju mobilnya di ujung jalanan kompleks, atau lebih tepatnya di pos satpam kompleks. Wanita itu terlihat menoleh ke kanan, dan kiri untuk melihat suasana jalanan utama yang sekarang terlihat sedikit ramai. Sementara di sisi kiri Aileen, terdapat sebuah warung, di mana di sana menjual aneka lauk pauk, dan bahan masakan yang sering di datangi ibu-ibu kompleks. Tepat setelah mereka melihat mobil Aileen berhenti, semua ibu-ibu yang sedang berbelanja di sana langsung berbisik-bisik dengan tatapan tak suka ke arah mobil itu. Sedangkan Aileen yang berada di dalam mobil tidak mengetahui itu, dan wanita itu kembali menjalankan mobilnya untuk masuk ke jalanan kota, dan bergegas pergi ke rumah sang Ayah. *** Jakarta pusat, TPU. Satu jam sudah mobil Aileen melaju di jalanan kota Jakarta. Hujan yang satu jam lalu turun sangat derasnya, dan sekarang berubah kembali menjadi gerimis setelah Aileen memarkirkan kendaraan roda empatnya itu di parkiran sebuah pemakaman umum. Dengan mata sendu Aileen menoleh ke arah gerbang masuk pemakaman, dan tanpa wanita itu sadari. Sebutir air hangat berukuran biji jagung lolos dari pelupuk matanya. Entah kenapa dari subuh tadi hujan tidak ingin berhenti turun seolah air ciptaan tuhan itu sangat tahu, kalau salah satu umatnya sedang dilanda kesedihan. 'mama— papa kenapa di bawa kesini? Bukankah kita harus bawa papa pulang ke rumah ma,' Ingatan kelam kejadian puluhan tahun mulai menyeruak memenuhi pikirannya. Entah kenapa setiap kali Aileen ke sini, hal yang selalu membuat air matanya terjatuh itu, adalah kata-kata polosnya. Tanpa mau membuang waktu lagi, wanita itu bergerak meraih payung yang ada di jok belakang, lalu kedua tangannya dia keluarkan. Setelah payung kembali melebar, Aileen bergerak turun dari dalam mobil. Sesampainya di luar, wanita itu langsung mengayunkan langkah untuk masuk ke area pemakaman. Dengan air hujan yang turun gerimis, ditemani air mata yang sudah mengalir. Aileen semakin masuk ke dalam pemakaman, dan tepat di sebuah batu nisan yang bertuliskan nama "Wahyu Antoni Admadja" Aileen menghentikan langkah. Terlihat jelas wanita itu sudah sedari tadi menahan Isak tangisnya, "hiks— papa." Aileen langsung bertekuk lutut di tanah basah kuburan setelah dia mengeluarkan satu isakan. Payung yang tadi melindunginya dari guyuran air hujan itu, sekarang sudah terbang entah ke mana, karena tangan yang dia gunakan untuk memeganginya, sudah sedari tadi memeluk nisan sang ayah. "Papa— Ayu kangen papa, hiks—hiks." T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD