Part 04

2010 Words
Aileen semakin terisak setelah mengatakan kata-kata yang mencurahkan rasa kangennya. wanita yang sudah dipenuhi dosa itu sekarang sudah menangis sejadi-jadinya. Dia tidak peduli dengan gerimis yang saat ini menimpa tubuhnya, dan membuat seluruh pakaian hitamnya basah kuyup. "Maafkan Ayu, pa. Ayu tidak bisa menjadi anak baik seperti yang pernah papa inginkan dulu. Seandainya papa masih hidup, mungkin sekarang Ayu tidak akan terjerumus jatuh ke kubangan kotor penuh dosa ini...." Aileen menghentikan ucapannya hanya untuk menarik napas untuk meredam sesak yang tiba-tiba menimpanya. Wanita penuh dosa itu menarik napasnya kembali mencoba untuk, meredakan isak tangisnya. Tetapi, bukannya mereda justru dia semakin tersendu. Dinginnya hujan seolah tidak terasa lagi di tubuhnya. Malahan saat ini dia sangat bersyukur atas turunnya hujan. Kenapa begitu? Karena rintikan kecil yang turun dari atas sana sedikit mampu membuat Isak tangis Aileen teredam, dan air matanya pun tak terlalu nampak berlinan, dan itu penyebabnya adalah hujan pagi ini. Berkat hujan ini, Aileen juga dapat berteriak mencurahkan isi hatinya, tanpa perduli orang lain akan mendengarnya. Toh di pemakaman ini tidak ada siapapun selain Aileen bukan. "Ayu minta maaf, pa. Ayu pasti sudah buat papa kecewa, tapi ini sudah menjadi pilihan ayu. Semua ini terjadi karena dia. Seandainya dia tidak datang ke kehidupan, Ayu. Mungkin saja Ayu, tidak akan jatuh ke kubangan berisikan dosa ini." Aileen tidak bisa berkata-kata lagi, karena semakin dia berbicara rasa sesak yang saat ini dia rasakan seperti sedang menggerogoti hatinya di setiap kali dia berkeluh kesah. Alhasil dia hanya duduk bersimpuh dengan terus memeluk nisan ayahnya. Baju, celana hitam, serta kain hitam yang tadinya terlihat rapi serta masih kering, sekarang sudah basah dan tak berbentuk lagi. Padahal kedatangannya ke sini hanya untuk mengunjungi makam sang ayah, dan sedikit bercerita tentang perjalanan hidupnya. Tetapi, Aileen malahan menangis histeris, "Papa— pasti papa saat ini malu dengan apa yang Ayu lakukan. Pasti Papa di atas sana enggan untuk melihat langkah kaki Ayu yang semakin masuk ke kubangan dosa ini, iyakan? Iyakan papa?" Tidak ada sahutan yang ditangkap oleh gendang telinga Aileen, pun suara kicauan burung enggan untuk timbul. Malahan sedari tadi hanya suara gemuruh dari atas langit lah yang menjawab Aileen, dan itu seolah menandakan kalau papanya yang ada di atas sana begitu marah dan penuh akan kekecewaan, "Maaf—" itulah kata-kata terakhir yang Aileen ucapkan, dan setelahnya. Wanita pendosa itu terjatuh pingsan tepat di tengah-tengah hujan yang mulai turun sangat deras. *** 20 tahun yang lalu. Hujan deras mengguyur kawasan ibu kota Jakarta. Suara dentuman butiran air yang tengah beradu dengan atap terekam jelas di telinga seorang bocah perempuan kecil berusia enam tahun, di mana sekarang bocah itu sedang duduk dengan sebuah alat tulis di tangan kirinya, dan satu buku gambar. "Ayu— pakai baju hangat ini dulu, agar tubuhmu tidak kedinginan sayang," ujar seorang wanita yang saat ini sedang mengayunkan langkah menuruni anak tangga demi anak tangga agar bisa menuju ke lantai bawah rumahnya. Bocah wanita yang dipanggil ayu tadi menolehkan kepala, "Ayu enggak kedinginan kok Mama," jawab dia— Aileen Ayudia, bocah perempuan berusia enam tahun itu dengan senyum merekah. Wanita yang dipanggil Mama itu hanya bisa tersenyum, dan kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti untuk menuruni anak tangga dengan masih menenteng sebuah jaket berwarna pink yang ukurannya khusus untuk bocah berusia enam tahun. Setelah wanita berparas cantik itu menapakkan kaki di marmer lantai satu. Dia langsung mengayunkan langkah mendekat ke anaknya yang sekarang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Sementara Aileen yang beberapa detik lalu menoleh, sekarang sudah kembali fokus keaktivitas menggambar yang saat ini dia kerjakan. Aileen kecil tampak sangat berkonsentrasi dengan apa yang dia kerjakan saat ini, hingga ia tidak sadar kalau Mamanya sudah berdiri tepat di sampingnya. Seandainya wanita itu tidak menghalangi cahaya lampu yang menerangi ruang keluarga, mungkin Aileen akan tetap fokus pada kerjaannya. Tetapi, bocah kecil itu terpaksa menolehkan kepala untuk melihat wanita yang sekarang membuat dia mengerucutkan bibir mungilnya diikuti tatapan mata yang memicing. "Mama minggir," pinta Aileen dengan memperlihatkan wajah sebal khas anak enam tahun, "Iiiih— Mama tahu enggak, sekarang tubuh tinggi Mama itu menghalangi cahaya, dan itu membuat ayu jadi enggak bisa lihat hasil gambaran Ayu," imbuh polos Aileen, membuat senyum di wajah— Friska Fanny Admadja semakin mengembang. Namun, ibu dari bocah bernama Aileen itu pura-pura menaikkan satu alisnya agar dia terlihat bingung, "Ayu ada-ada saja deh. Masak iya, Mama bisa halangi cahaya." Aileen yang mendengar itu langsung mengembungkan pipi chubby miliknya, dan kedua alisnya saling bertautan, "Mama tengok saja sendiri. Lihat— bayang-bayang Mama menutupi buku gambar Ayu," tutur Aileen dengan raut dibuat cemberut. Friska yang melihat itu langsung terkekeh, dan mengangkat tubuh mungil anaknya, "Anak Mama kok pinter banget. Belajar dari mana kok bisa pinter seperti ini?" tutur Friska yang sudah menggendong tubuh Aileen. Tidak lupa Friska juga langsung bergerak menggelitik perut sedikit berisi milik anaknya dengan menggesek-gesekkan ujung hidungnya di sana. Aileen yang mendapatkan serangan itu tertawa kegelian. Bahkan suara tawa Aileen lebih keras, jika dibandingkan dengan suara rintikan air hujan yang menerpa atap rumahnya saat ini. "Mama geli, Ayu enggak tahan Mama," adu Aileen ditengah-tengah jerit tawa, dan suara rintikan air hujan yang memenuhi seisi rumah. Friska yang samar-samar mendengar pengaduan Aileen menghentikan sejenak gerakan menggelitik perut sang putri. Wanita berparas cantik itu bergerak mendudukkan pantatnya di sofa, menidurkan Aileen di sebelahnya, dan dia kembali menggelitik perut anaknya. "Ayok kasih tahu Mama. Anak siapa ini kenapa pintar sekali," ujar Friska disela menggelitik perut gembul milik putrinya. "Mama geli— hentikan! Hahahaha." Aileen mulai menjerit karena dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa geli yang saat ini menjalar ke seluruh tubuhnya. "Mama akan berhenti, jika Ayu mau pakai baju hangat ini," tawar Friska, dan tanpa banyak bicara. Bocah berusia enam tahun itu langsung mengangguk, "gitu dong. Padahal kamu itu tidak kuat dengan hawa dingin, tapi sok-sokan tidak mau pakai baju hangat," imbuh Friska. Aileen hanya diam dengan napas yang sudah ngos-ngosan. Bocah perempuan enam tahun itu milih untuk bergerak mengangkat kedua tangannya sangat tinggi. Friska yang melihat itu, langsung memasangkan baju hangat yang sedari tadi dia bawa itu ke tubuh mungil anaknya. "Nah kalau gini kan Ayu jadi semakin cantik," puji Friska, dan itu berhasil membuat Aileen tersenyum menunjukkan beberapa giginya yang sudah tanggal. "Mama temani ayu di sini," pinta Aileen yang mulai bergerak turun dari sofa, dan malah berdiri tepat di pinggir meja kaca berukuran kecil. Di mana, di sana dia letakkan buku gambarnya. "Tentu saja nak." Friska berucap dengan mengelus surai hitam milik putrinya. "Terima kasih Mama," ujar Aileen. Bocah berusia enam tahun itu kembali melanjutkan aktivitas menggambar yang sedari tadi dia lakukan. Keheningan tiba-tiba saja tercipta diantara dua orang wanita beda usia yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga yang mereka gunakan untuk berkumpul dikala pulang selepas kerja. Ruang keluarga yang setiap malamnya dipenuhi oleh tawa dari pemilik rumah itu, sekarang hanya dipenuhi oleh suara helaan napas yang dilakukan Friska, dan jangan lupakan derai air hujan yang semakin gencar menyerang atap rumah. Iya, beginilah jika sudah memasuki bulan Mei. Curah hujan di wilayah ibu kota tiba-tiba tidak bisa diprediksi. Bahkan hujan malam ini sudah turun sedari magrib tadi, hingga jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Ayu dari tadi gambar apaan sih?" celetuk Friska memecah keheningan diantara mereka sembari kepala bergerak untuk mengintip. Aileen yang menyadari gerakan sang ibu, langsung bergerak menyembunyikan bagian buku gambar yang sedari tadi dia coret-coret tepat menempel di perutnya, "Tidak boleh. Mama tidak boleh melihat ini, karena gambaran Ayu belum selesai. Jadi, Mama duduk diam saja, dan lihat Ayu dari belakang, paham?" Aileen berucap panjang lebar membuat Friska gemes, dan tidak tahun untuk tidak mencubit pipi gembul putrinya. "Iya deh anak Mama yang unyu," ujar Friska sembari mencubit gemes pipi gembul Aileen. "Anak papa juga," imbuh Aileen, dan Friska langsung menganggukkan kepala. "Iya, Ayu itu anak papa dan Mama," ujar Friska dengan masih mencubit gemes pipi Aileen. Friska melepas cubitannya membuat Aileen kembali melanjutkan gambaran yang belum terselesaikan. Lengkungan senyum tercipta di bibir Friska. Entah kenapa setiap melihat Aileen, dia merasa sangat bahagia. Terlebih lagi jika melihat wajah lucu yang suaminya wariskan untuk anak perempuannya itu, membuat Friska semakin gemes saja. Namun, sedetik kemudian senyum dibibir Friska memudar. Dia melirik jam yang tergantung di dinding ruang keluarga. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, dan tiba-tiba saja pikirannya langsung dipenuhi oleh nama suaminya. Iya, temben sekali suami Friska— Wahyu Antoni Admadja belum pulang dari kantor. Malahan dari jam lima tadi, Anton tidak menelepon. Padahal jika pria itu ada rapat mendadak, dia tanpa di suruh langsung menghubungi nomer Friska. Namun, hari ini Friska belum sama sekali mendapatkan panggilan satu kali pun dari Antoni. Panggilan terakhir yang dilakukannya dengan sang suami terjadi siang tadi, tapi setelah itu Antoni tidak menelepon lagi. Rasa khawatir, curiga, dan cemas mulai memenuhi benak Friska. Wanita yang masih berparas cantik walaupun sudah punya satu anak itu, khawatir jika terjadi apa-apa pada suaminya. Dia juga curiga jika suaminya keluyuran walaupun dia tahu kalau Antoni tidak pernah seperti itu. Dia juga sekarang sangat mencemaskan keadaan Antoni, terlebih lagi diluar sana hujan turun cukup deras, membuat ketiga rasa itu berpadu menjadi satu dibenak Friska. 'Papa dimana sih?' batin Friska bertanya-tanya sembari kepala menoleh ke pintu masuk yang tidak ada tanda-tandanya akan terbuka. "Mama," Aileen memanggil ibunya dengan kedua mata masih terfokus melihat gambarannya. Sementara Friska yang dipanggil tidak bergeming sama sekali, dan itu membuat Aileen menoleh melihat ke arah ibunya. "Mama!" panggil Aileen dengan nada sedikit meninggi, dan itu berhasil membuat Friska tersentak kaget. "Ada apa nak?" tanya Friska. "Mama kenapa?" Bukannya menjawab, Aileen malah balik bertanya dan itu berhasil membuat seutas senyum tertoreh di wajah tegang Friska. "Mama tidak apa-apa sayang," jawab Friska selembut mungkin, dan dia juga tidak lupa untuk terus menyungging senyum. "Kamu ada apa panggil Mama tadi?" imbuh Friska, dan Aileen bukannya menjawab. Bocah enam tahun itu malah kembali melanjutkan aktivitas menggambarnya. "Aileen tadi mau nanyak, Kenapa Papa belum peluang bekerja?" Deg! Tiba-tiba saja jantung Friska langsung berdetak cepat saat Aileen menanyakan sesuatu hal yang Friska tidak tahu mau menjawab apa. Alhasil, wanita itu hanya terdiam membisu, dengan pikiran-pikiran aneh yang kembali bermunculan di dalam otaknya. Aileen yang merasa belum mendapatkan jawaban, menoleh kembali ke arah ibunya yang lagi-lagi terdiam, "Mama kenapa diam lagi sih?" "I— iya sayang, apa nak?" Friska gugup karena tidak tahu mau menjawab apa, dan akhirnya dia malah melontarkan pertanyaan. "Ihhh Mama kenapa sih? Tadi Ayu tanya, kenapa papa belum pulang bekerja? Apa dia masih punya banyak pekerjaan di kantornya?" ceriwis Aileen, dan Friska yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala. "Iya— papa mungkin lagi ada pertemuan sayang. Makanya sekarang dia belum pul-" Ucapan Friska terhenti saat dering telepon rumah menggema di antara suara turunnya hujan yang menimpa atap, dan detak jantung Friska yang saat ini bergemuruh tak karuan. "Mama telepon rumah berdering," lapor Aileen dan bocah enam tahun itu hendak berlari ke arah tempat telepon rumah, tapi suara Friska membuat langkah kecilnya terhenti. "Ayu, biar Mama saja, nak," tutur Friska, dan wanita itu langsung berjalan cepat ke arah dimana telepon rumah berada. Aileen yang melihat ibunya sudah berjalan, ikut mengayunkan langkah, dan dia berhenti tepat dibelakang ibunya. Friska tanpa banyak cakap, langsung bergerak meraih ganggang telepon rumah. Wanita itu langsung menempelkan ke salah satu telinganya, "Halo— apa ini kediaman keluarga Admadja?" Terdengar suara seorang wanita yang keluar dari dalam telepon, dan itu berhasil membuat degup jantung Friska berdetak cepat. "I—iya. Ini dengan siapa yah?" tanya Friska dengan nada gugup karena rasa takut yang mulai memenuhi benaknya. "Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu, kalau Tuan Admadja mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit Cahaya Hati. Tolong Nyonya cepat kemari, karena keadaan Tuan Admadja sangat kritis." Prang! Pegangan tangan Friska di ganggang telepon terlepas. Seketika air mata wanita itu langsung mengalir keluar dari pelupuk matanya, "Ayu papa— papa mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Jadi, ayok kita pergi melihat papa sayang." Aileen kecil yang mendengar penuturan ibunya langsung diam seketika, dan.... "Papa!" Jerit Aileen dewasa saat dia berhasil terbangun dari mimpi buruknya, dan itu berhasil membuat seorang pria dewasa yang sedari tadi duduk di sebelahnya tersentak kaget. "Ayu, kau sudah sadar?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD