Napas Aileen memburu disertai keringat dingin yang entah sejak kapan bercucuran di wajahnya, "Hah—hah—hah." Bunyi deru napas wanita pendosa itu semakin terengah-engah.
Dan hal itu membuat dadanya saat ini bergerak naik turun dengan gerakan sangat-sangat cepat. Aileen menggerakkan kedua tangannya untuk menjambak sisi-sisi rambutnya, sedikit menekuk kedua kakinya, dan....
"Akhhh!" Aileen mulai berteriak histeris. Wanita penuh dosa itu belum menyadari kalau dia sekarang berada di sebuah ruang rawat.
"Ayu, tenangkan dirimu," ujar seorang pria dengan nada penuh kepanikan. Buktinya sekarang dia sudah berdiri dari duduknya, dan langsung merangkul pundak Aileen.
Sementara Aileen yang saat ini sedang hilang kendali tidak memperdulikan ucapan pria itu. Malahan dia semakin gencar untuk menjambak rambutnya sendiri dan itu terlihat persis seperti orang yang depresinya sedang kambuh.
"Ayu, kau dengar aku kan? Tolong berhenti." tuturnya dengan masih bernada panik, dan dua tangannya tentu masih setia menghentikan gerakan ayu yang menjambak rambutnya sendiri.
Pria dewasa itu bergerak menjauhkan kedua tangan Aileen dari sisi-sisi kepalanya agar dia tidak bisa lagi menyakiti diri sendiri, "Akhhhhh!" teriak Aileen bak orang kesetanan, membuat beberapa suster wanita masuk ke dalam ruang rawat.
"Apa yang terjadi dengan pasien?" tanya salah satu suster itu ditunjukkan kepada pria yang saat ini sedang bersusah payah menahan tubuh tak terkendali Aileen.
"Saya tidak tahu sus, tapi tolong kau berikan suntikan obat penenang!" perintah pria itu dengan nada panik bercampur dengan takut.
Suster yang tadi berbicara langsung menganggukkan kepala, seolah menyetujui perkataan pria berwajah tegas yang sialnya sekarang menunjukkan ekspresi tidak menentu, hingga pria itu berhasil mengembuskan napas lega. Dia kembali duduk di kursi tinggi yang tersedia di sebelah brankar.
Suara dentingan proses kembali dia dengar dengan jelas saat beberapa detik tadi sempat memudar, karena Aileen yang sadarkan diri tanpa pemberitahuan. Tetapi, itu hanya seperkian detik, dan sekarang.
Aileen kembali tidak sadarkan diri, dan semua itu berkat cairan bius yang dimasukkan ke dalam tubuhnya lewat sebuah jarum suntik.
"Terima kasih." Hanya itu yang mampu pria itu utarakan, hingga kebisuan langsung menyergapnya, dan memaksa pria itu untuk diam dengan terus menatap Aileen yang saat ini sedang di periksa oleh para suster-suster tadi.
Ada yang sekedar mengecek denyut nadi, ada yang terlihat seperti menelisik tubuh Aileen untuk mencari sebuah luka, dan pemeriksaan itu berakhir dengan raut wajah lega semua suster.
Bahkan saking fokusnya, mereka lupa kalau ada satu orang pria yang berada di sini, dan tadi sempat mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama Tuan. Mungkin pasien akan kembali sadar beberapa jam lagi. Kalau begitu kami permisi dulu Tuan Adelard." Para suster itu berlalu pergi meninggalkan pria bernama lengkap Arsenio Adelard yang lagi-lagi harus kembali bersama dengan Aileen di dalam ruang raut ini berdua saja.
Diluar masih hujan, bahkan Arsenio dapat menebak kalau rintikan air yang jatuh dari langit itu sangatlah deras dengan hanya mendengar suara dentuman atap yang begitu melengking, membuat Arsenio merasa sedikit tidak kesepian.
Iya, pria itu bernama Arsenio Adelard. Dia seorang pria berusia dua puluh delapan tahum. Dilihat dari wajahnya yang agak sedikit ke berat-beratan. Semua orang sudah pasti akan langsung mengetahui kalau Arsenio iyalah keturuna campuran, dan benar saja. Arsenio bukan orang yang terlahir dengan darah kental pribumi, karena dia terlahir dari rahim seorang wanita western.
Arsenio memiliki warna rambut hitam sedikit kecoklatan, netra yang dia miliki juga berwarna coklat, dengan alis mata yang tidak terlalu tebal yang juga berwarna coklat, hidung yang bisa dibilang cukup mancung, dan jangan lupakan bulu-bulu halus berwarna coklat yang tumbuh di rahang tegasnya membuat kata tampan sangat cocok untuk pria dua puluh delapan tahun itu.
Arsenio adalah sahabat Aileen sedari gadis itu berusia empat tahun. Pria yang mempunyai profesi sebagai fotografer itu sebenarnya sangat peduli kepada Aileen. Wanita yang saat ini kembali berbaring tak sadarkan diri.
Iya, Aileen yang tadinya kehilangan kesadaran di tempat pemakaman umum. Dibawa ke rumah sakit oleh Arsenio. Kenapa bisa begitu? Karena saat Aileen keluar dari wilayah kompleks perumahannya. Arsenio diam-diam mengikuti mobil Aileen dari belakang, hingga sampai ke tempat pemakaman umum.
Dia terus saja mengikuti Aileen yang masuk ke dalam tempat pemakaman umum, tapi setelah melihat Aileen bersimpuh di sebuah makam. Arsenio langsung bersembunyi di balik pohon kamboja dengan terus memegangi payungnya. Dia melakukan itu hanya untuk memperhatikan Aileen dari jauh, seolah tidak ingin mendekati wanita itu.
Mungkin ada satu kejadian, di mana Arsenio hanya berani melihat punggung Aileen, tanpa mau merangkul wanita yang bisa dia tebak sedang menangis tepat di depan makam orang tuanya.
Dia tidak berniat beranjak untuk pergi mendekati Aileen, dan menghibur wanita yang saat ini sedang tersendu-sendunya.
Namun, saat Aileen terkapar tak sadarkan diri. Arsenio langsung bergerak berjalan cepat mendekati wanita itu, membopongnya, dan langsung membawa Aileen.
Dan di sini lah mereka sekarang. Di selah satu ruang rawat rumah sakit cempaka yang berada tidak jauh dari pusat pemakaman umum ibu kota. Sedari tadi Arsenio hanya melihat Aileen dengan tatapan sendu penuh perihatin.
Pria dua puluh delapan tahun itu juga tak segan mengelus pucuk kepala Aileen, "Kenapa Ayu bisa menjadi seperti ini?" gumam Arsenio dengan terus menatap Aileen yang di mana, saat ini kesadarannya belum kembali.
"Aku akan keluar mencari makan dulu. Jadi, Ayu cepatlah sadarkan diri agar kita bisa makan bersama nantinya." Arsenio berucap sembari bangkit dari duduknya.
Setelah dia berdiri dan menapakkan kakinya di atas marmer, Arsenio tidak langsung beranjak pergi. Malahan pria itu menatap Aileen penuh sayang, dan baru setelahnya dia langsung mengayunkan langkah keluar dari dalam ruang rawat. Meninggalkan Aileen yang akan ditemani oleh suara bisingnya monitor, dan air hujan yang beradu dengan atap rumah sakit.
***
Satu jam telah berlalu, tapi Aileen masih tak kunjung sadarkan diri. Arsenio yang sedari tadi menunggu wanita itu dalam diam, hanya bisa menggenggam tangan Aileen.
Sesekali dia bergerak mengelus punggung tangan wanita itu dengan gerakan seringan kapas, tapi itu masih belum bisa membuat Aileen sadar, "Apa kamu masih belum mau bangun, cantik?" tutur Arsenio dengan nada lembut.
Tidak ada jawaban yang pria dua puluh delapan tahun itu dapatkan, dan itu berhasil membuat senyum ironi tersungging di wajah tampannya, "Padahal aku sudah membelikan nasi padang kesukaanmu loh, tapi kamu masih belum mau bangun juga," imbuh Arsenio dengan kedua mata menatap sebuah keresek yang berisikan sebungkus nasi padsng yang dia beli jam sepuluh pagi tadi.
Arsenio melirik arloji yang melingkar di tangan kananya, "Ayu mau bangun kapan sih? Ini udah jam dua belas siang loh. Yok bangun," ujar Arsenio kembali.
Sementara diluar hujan sudah sedari tadi reda. Buktinya, cahaya matahari yang tadi tertutup awan mendung itu sudah sedari tadi meminta gumpalan asap menghitam itu untuk enyah, karena sudah cukup dia menemani Aileen larut dalam kesedihannya.
Matahari semakin bersinar terang. Biasan cahaya teriknya mulai masuk melalui celah-celah lobang angin, seolah ingin mengatakan ke Aileen kalau sedihnya sudah cukup hari ini.
"Ayu— bangun atuh." Pria dua puluh delapan tahun itu sudah sedari tadi mengatakan hal yang sama. Tetapi, tetap saja Aileen tidak ada tanda-tanda akan membuka mata.
Namun, selang beberapa detik setelah perkataan Arsenio tadi. Tiba-tiba saja pemuda itu merasakan tangan Aileen yang ada di genggamannya melakukan pergerakan, dan itu sukses membuat Arsenio melukis senyum sumringah.
"Ayu, kamu sudah sadar?" ujar Arsenio dengan nada girang. Terlebih lagi rasa girang itu langsung berubah menjadi bahagia saat melihat Aileen mulai membuka matanya.
"Akhhh!" Aileen meringis saat dia merasakan nyeri di kepalanya. Wanita itu tidak berteriak histeris seperti tadi.
Malahan sekarang dia terlihat seperti memindai, dan mencari tahu dimana keberadaannya sekarang. Hingga kedua mata hitamnya berhenti tepat saat melihat wajah Arsenio.
"Kak Ars?" tebak Aileen dengan mata yang sedikit tertutup. Biar begitu, dia masih bisa melihat dengan jelas wajah Arsenio yang saat ini terkesan seperti mengeluarkan cahaya terang.
Arsenio yang mendengar panggilan Aileen langsung menganggukkan kepalanya. Dia menggerakkan tangan kirinya untuk mengelus rambut Aileen, "Iya— ini aku, Ayu."
"Mendengar itu, Aileen langsung bangkit dari berbaringnya. Dia bergerak memeluk tubuh Arsenio, "Aku merindukan Kakak Ars," tutur Aileen dengan semakin mempererat pelukannya ditubuh Arsenio.
Arsenio tidak menjawab. Pria itu sekarang sedang menikmati pelukan dari sahabat kecil yang sedari dulu sudah sangat-sangat dia rindukan.
"Aku tahu kenapa Kakak Ars tidak mau menemui aku lagi." Aileen berucap sembari bergerak mengurai pelukannya.
Arsenio yang mendengar penuturan dari sahabat kecilnya itu, langsung menaikkan satu alisnya. Aileen yang melihat itu langsung mengeluarkan kekehan yang terdengar sangat-sangat menyedihkan di telinga Arsenio.
"Kakak Ars pasti tidak mau menemui diriku, karena aku sudah menjadi wanita yang rusak. Aku sudah tidak pantas lagi menjadi sahabat Kakak Ars. Benar begitu kan?"
Arsenio yang mendengar itu langsung membingkai wajah Aileen, "Husssss! Ayu enggak boleh ngomong gitu," tegur Arsenio dengan ibu jari yang mulai bergerak menghapus butiran demi butiran air mata yang keluar dari pelupuk Aileen.
"Kenapa aku tidak boleh mengatakan itu? Apa karena semua yang aku katakan itu benar? Apa benar Kak Ars tidak mau bertemu dengan aku, karena aku sudah menjadi wanita kotor, benar begitu?"
Arsenio yang mendengar Aileen mengatakan itu langsung menggelengkan kepala, "Tidak seperti itu Ayu. Kakak tidak menemui Ayu karena...." Arsenio menghentikan perkataannya, dan itu juga berhasil membuat sesegukan Aileen menghilang.
Sekarang Aileen sedang menatap Arsenio yang sedang menundukkan kepalanya, "Karena apa kak?" tanya Aileen yang melihat Arsenio— pria yang memiliki selisih umur lebih besar dua tahun dari dirinya itu diam.
"Kak?" tegur Aileen, dan itu berhasil membuat Arsenio bangkit dari duduknya, dan langsung memutar tubuhnya membelakangi Aileen.
"Karena Kakak masih merasa sangat bersalah akan kejadian waktu itu. Andai saja Kakak mengetahui kondisi Ayu. Mungkin kejadian saat itu, tidak akan menimpa ayu, dan semuanya pasti tidak akan seperti ini." Arsenio berucap dengan terus memunggungi Aileen.
Sementara Aileen yang melihat punggung tegap Arsenio mulai bergetar, langsung melukiskan seutas senyum, "Kakak tidak bersalah. Apa yang terjadi denganku di masa lalu. Semua itu sudah menjadi takdir hidupku."
Arsenio yang mendengar itu, kembali bergerak memutar tubuhnya hingga menghadap ke Aileen, "Apa yang aku alami di masa lalu bukanlah salah Kakak ataupun Mama. Semua itu sudah menjadi suratan takdir hidupku," imbuh Aileen sembari mengulas seutas senyum di wajahnya.
Arsenio yang mendengar itu kembali mendudukkan pantatnya di kursi yang ada di sebelah brankar Aileen. Kedua tangannya juga kembali bergerak membingkai wajah berkabut milik sahabat kecilnya, "Tidak— itu bukanlah takdir hidup Ayu. Jika saja dia tidak melakukan itu pada Ayu. Aku yakin, Ayu tidak akan terjerumus ke dalam dunia seperti ini."
Aileen yang mendengar itu hanya bisa melebarkan senyumnya, dan dia kembali bergerak memeluk Arsenio— sahabat sekaligus pria yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu, "Terima kasih karena Kak Ars mau menemui wanita kotor sepertiku ini lagi. Jujur aku sangat merindukan Kak Ars selama ini," tutur Aileen, membuat Arsenio memejamkan mata, dan semakin mempererat pelukannya di tubuh hangat milik Aileen.
"Kakak juga sangat merindukan Ayu. Dari dulu Kakak ingin menemui Ayu, tapi Kakak tidak mempunyai keberanian menatap mata sendu Ayu," terang Arsenio, dan setelahnya tidak ada lagi yang mengatakan apapun.
Mereka berdua diam membisu, dan membiarkan rintikan air hujan yang tiba-tiba turun, kembali mengambil alih keadaan hening di ruang rawat Aileen yang bercahaya remang-remang itu.
***
"Ayu yakin enggak mau dirawat dulu di sini?" tanya Arsenio yang sudah berulang kali dilontarkannya.
Aileen yang sudah jengah mendengar penuturan sahabat sekaligus kakaknya itu hanya menggelengkan kepala. Saat ini Aileen sedang diperiksa kesehatannya oleh seorang dokter pria.
Terlihat dokter pria itu memeriksa seluruh tubuh Aileen. Setelah dirasa cukup, baru dia menolehkan kepala ke arah Arsenio, "Keadaannya tidak terlalu buruk Tuan. Jadi, pasien tidak musti dirawat," ujar dokter pria itu, berhasil membuat senyum merekah terlukis di wajah Aileen.
"Anda yakin dok?" tanya Arsenio seolah masih takut jika Aileen dibiarkan pulang dari rumah sakit.
"Saya sangat yakin Tuan. Pasien hanya sedikit demam, dan dia tidak perlu dirawat inap. Tetapi, agar Tuan bisa tenang. Saya akan memberikan resep obat untuk nona Aileen," jelas dokter itu, dan dia mulai menulis sesuatu di sepucuk kertas.
Setelah selesai, dokter pria itu. Langsung menyerahkan kertas itu, ke Arsenio, "Anda bisa menebusnya di Apotek yang ada di lantai bawah."
Arsenio mengambil alih sepucuk kertas itu dengan kepala yang bergerak memgangguk, "Kalau begitu, saya permisi dulu Tuan." Dokter itu langsung berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Aileen.
Alhasil sekarang Arsenio dan Aileen kembali berdua di dalam ruang rawat, "Tuh kan. Aku itu tidak dalam kondisi untuk dirawat inap. Jadi, cepat Kakak antar aku pulang saja," ujar Aileen sembari bergerak turun dari atas brankar.
Arsenio yang mendengar itu, langsung bergerak merangkul pundak sahabatnya, "Baiklah. Mari kita pulang tuan putri," ujar Arsenio, dan mereka berdua langsung mengayunkan langkah keluar dari dalam ruang rawat itu.
"Kak Ars tidak perlu mengantar aku pulang," ujar Aileen yang sudah berada di luar ruang rawat, dan itu berhasil.membuat langkah Arsenio terhenti.
"Kenapa tidak boleh?"
"Iya tidak boleh. Kak Ars antar saja aku ke pemakaman umum untuk mengambil mobilku yang ada di sana," jawab Aileen dengan kedua alis terangkat.
"Sebenarnya mobilmu sudah dibawa oleh sopirku. Jadi, tanpa membuang waktu lagi. Ayok kita tebus obat di apotek, dan setelahnya aku akan mengantar Ayu pulang." Arsenio berjalan dengan tangan kanan menggema jemari Aileen yang saat ini sedang meleongo bak orang yang masih belum mengerti.