"Kak Ars di mana sih?" gerutu Aileen dengan nada yang terdengar bosan. Saat ini dia sudah berada di dalam mobil milik Arsenio yang masih berada di parkiran rumah sakit.
Sekarang Aileen sedang duduk dengan tubuh tegap, dan kedua tangannya terlipat di d**a. Padahal wanita itu baru saja kembali siuman setelah beberapa jam pingsan.
Hujan yang kedua kalinya juga sudah sedari tadi berhenti menguyur pusat kota Jakarta. Malahan sekarang di ujung barat sana, matahari mulai mengeluarkan semburat warna jingganya.
Dan itu sedikit membuat kedua sudut bibir Aileen membentuk sebuah garis lengkung, yang banyak orang menyebutnya senyum.
Cantik— itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Aileen saat ini. Biarpun wajahnya terlihat pucat, tapi kecantikan wanita itu tidak akan petnah memudar karena bisa dibilang Aileen dan kecantikan sudah berteman sangat baik. Malahan sekarang, dia kelihatan lebih menawan, dan mempesona dari hari sebelumnya.
Terbelah lagi baju yang digunakan juga sudah berganti. Dari kemeja wanita dan celana panjang hitam, menjadi sebuah dress santai berwarna merah maron. Berkat pakaian yang dibelikan oleh Arsenio, Aileen jadi tidak perlu memakai baju rumah sakit untuk pulang.
"Ihhhh kok lama sih," geram Aileen sembari wanita itu menolehkan kepala ke arah pintu masuk rumah sakit.
Bertepatan dengan Aileen yang menolehkan kepala. Kedua mata wanita itu, langsung menangkap sosok Arsenio yang saat ini berjalan angkuh mendekat ke mobil.
Nampak jelas tubuh tinggi terbalut kemeja berlengan panjang yang digulung hingga sikut, dengan bawahan menggunakan celana jeans, dan sepasang sepatu santai, "Datang juga," gumam Aileen dengan kedua tangan masih terlipat di d**a, dan pandangan matanya masih mengikuti gerakan Arsenio yang mengayunkan langkah berjalan dari depan mobil, dan....
Ckrek!
Pintu mobil bagian kemudi terbuka, "Nunggu lama yah?" tanya Arsenio sembari bergerak masuk ke dalam mobil.
Aileen yang mendengar pertanyaan bodoh itu, langsung mengerucutkan bibirnya, "Enggak— palingan bokongku akan jamuran nunggu kak Ars yang lama banget," sindir Aileen, dan itu berhasil membuat Arsenio mencubit pelan hidungnya.
"Jangan aneh-aneh deh. Nanti jika bener jamuran, gimana?" tanya Arsenio dengan terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
"Yah jika bener jamuran, kak Ars harus tanggung jawab," jawab Aileen dengan masih bernada judes. Malah sekarang wanita itu sedang membuang pandangannya ke arah luar.
"Oh iya, Yu. Ini obatnya, dan kau harus minum ini dua kali sehari, dan ini obat penambah darah. Kau wajib minum ini, karena tadi dokter mengatakan kau kekurangan darah." Aileen mengambil tas keresek yang disodorkan oleh Arsenio, tanpa banyak bicara.
Dia kembali memeriksa tiga macam obat yang ada di dalam tas keresek. Aileen hanya menganggukkan kepala, dan setelahnya dia menaruh tas keresek itu di dashboard mobil.
Arsenio yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, dan dia mulai memasukkan kunci mobil ke dalam kunci kontak. Arsenio bergerak memutar kunci.
Mobil pun menyala saat Arsenio menstarternya, "Makanya jangan terlalu sering bergadang, jika enggak mau kurang darah Yu," ujar Arsenio yang saat ini mencoba mengeluarkan mobil keluar dari tempat parkirnya.
Aileen yang mendengar jelas ucapan Arsenio, langsung menoleh melihat pria yang saat ini sedang fokus melihat jalanan yang harus dia lalui agar mobil keluar dengan selamat dari area parkir rumah sakit yang sekarang terbilang cukup padat.
"Itu harus aku lakukan, karena kalau enggak begadang. Aku enggak bisa makan kak," jawab Aileen sekenanya, dan dia kembali membuang pandangan ke arah luar.
Seketika Arsenio langsung dipenuhi oleh rasa bersalah, saat dia menyadari kata-katanya yang tadi terdengar menyindir profesi Aileen, "Maaf Yu. Kakak enggak bermaksud mengatakan itu," sesal Arsenio yang saat ini sudah mengehentikan mobilnya, dan dia malah menoleh ke arah Aileen.
Aileen yang mendengar itu, menolehkan kepala. Wanita itu menyungging senyum sangat manis, setelah dia berhasil menghadapkan wajah ayu miliknya, berhadapan dengan wajah tampan Arsenio, "Tidak apa-apa kak."
Deg!
Seketika jantung Arsenio berdetak cepat. Pria dua puluh delapan tahun itu, seketika diam, dan tidak bisa menggerakkan kepalanya ke arah lain saat kedua matanya menatap jelas kecantikan Aileen.
"Kak...." Aileen mulai memanggil Arsenio yang saat ini masih terpana dengan paras cantik yang Aileen miliki.
"Kak...." Aileen kembali memanggil Arsenio, dan sekarang dia mulai melambaikan tangan tepat di depan wajah tampan pria itu.
Sontak Arsenio langsung tersadar, dan dia langsung bergerak menghadap ke depan, "Kakak kenapa diam?" tanya Aileen pura-pura. Padahal dia tahu, kalau tadi Arsenio sedang terpana dengan paras cantik yang dia miliki. Tetapi, Aileen pura-pura tidak tahu karena takut Arsenio merasa canggung nantinya.
"Tidak— hanya saja kakak tadi terpesona dengan kecantikan Ayu. Dari dulu ayu tidak pernah berubah. Apa lagi saat tadi Ayu tersenyum. Jujur, senyum itu masih sama saat Ayu pertama kali masuk SMA." Arsenio berucap dengan menyungging seutas senyum di wajahnya, 'dan itu masih bisa membuat jantungku berdetak Yu,' lanjut Arsenio di dalam hati.
Aileen yang mendengar tidak terlihat senang, ataupun bahagia, karena sudah banyak pria yang mengatakan itu, "Makasih, tapi senyum itu sudah berbeda dengan yang dulu, karena Ayu yang kakak kenal sudah berubah."
***
"Es krim yang ayu minta, sudah datang. Jadi, ini silahkan di nikmati tuan putri," ujar Arsenio dari arah belakang Aileen, dan suara riang yang dia keluarkan.
Aileen yang tadinya duduk-duduk santai di kursi taman tersentak kaget, "Ihhh kak Ars ngagetin," protes Aileen dan itu berhasil membuat Arsenio terkekeh.
Arsenio bergerak meloncat dari arah belakang kursi, dan dia langsung mendudukkan bokongnya tepat di sebelah Aileen, "Lagian Ayu lagi mikirin apa sih, hingga kakak Dateng enggak Ayu sadari?"
Aileen hanya menggelengkan kepalanya, dan dia malah bergerak meraih es krim yang mempunyai bentuk lancip itu.
Aileen membukanya, dan langsung menikmati es krim itu dengan lahap. Arsenio yang melihat itu menggelengkan kepala, satu tangannya terulur saat melihat ada jejak es krim di atas bibir wanita itu.
"Ayu emang masih kayak dulu. Jika sudah ketemu es krim, pasti lupa cara makan yang anggun," tutur Arsenio seolah ingin membuat Aileen bernostalgia ke kejadian lalu, yang sudah dari dulu Aileen lupakan.
Atau bisa dibilang, dia sedari dulu mencoba untuk lupakan, dan jujur hingga sekarang. Aileen masih tidak bisa menghilangkan kenangan-kenangan kelam itu dari dalam pikirannya ataupun kehidupannya.
Malahan setiap kali Aileen memejamkan mata. Kejadian-kejadian buruk masa lalunya, langsung terputar ibarat kaset yang di mana hanya menunjukkan sebuah kenangan-kengan kelam.
"Benarkah seperti itu?" tanya Aileen yang saat ini sedang pura-pura tidak mengingatnya. Padahal wanita itu masih jelas mengingat saat dia memakan es krim dengan Arsenio setelah pulang sekolah dulu.
Arsenio yang mendengar penuturan kata Aileen, langsung menjauhkan es krim yang sekarang dia nikmati, "Benar. Kejadiannya dulu sekali saat kita pulang sekolah, dan kau merengek minta es krim," jelas Arsenio, tapi Aileen hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak ingat kejadian itu kak," ujar Aileen berbohong, dan Arsenio menyadari itu.
"Benar-benar tidak ingat, atau berpura-pura untuk tidak mengingatnya?"
Deg!
Aileen langsung menolehkan kepala, dan melihat Arsenio dengan satu alis terangkat, "Kau tidak bisa membohongiku Ayu. Aku itu bukan orang baru, yang bisa Ayu bohongi seperti itu."
Aileen langsung merubah raut wajahnya menjadi datar, "Terus kenapa? Apa kakak sekarang sedang mencoba untuk membuat aku bernostalgia, dan mulai mengigat kenangan-kenangan pahit di masa laluku?"
Deg!
Sekarang giliran Arsenio yang terkejut, saat Aileen berhasil menebak tujuannya, "Jika itu yang kakak inginkan. Aku minta tolong hentikan. Sekarang aku mencoba untuk melupakan masa laluku, dan kak Ars jangan coba-coba mengungkit hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu," terang Aileen dan wanita itu langsung bergerak bangkit.
Dia mulai tidak nyaman dengan obrolan yang saat ini terjadi di antara mereka. Entah, setiap kali Aileen mulai mengingat masa lalunya. Disaat itu juga emosinya tidak menentu. Bahkan disaat seperti ini, dia bisa saja menyakiti dirinya sendiri.
Arsenio melihat gelagat Aileen yang mulai berubah, pun ikut bangkit dari duduknya, "Apa yang Ayu katakan itu tidak benar. Ingatlah, disaat masa lalu. Ayu juga mempunya kenangan manis." Aileen yang mendengar penuturan Arsenio menghentikan langkahnya.
"Tidak semuanya yang terjadi di masa lalu itu buruk, Ayu. Kau ingat waktu kita pergi piknik keluarga, waktu kita bermain di taman, waktu kita bersepeda bareng, dan wak-"
"Tapi bagi aku. Semuanya sudah lenyap. Kenangan itu lenyap, saat ayahku meninggal, dan kenangan itu juga sudah lenyap tepat saat kejadian itu. Aku tidak bisa mengingat apapun, selain kejadian yang membuat aku hancur, membuat aku rapuh, dan membuat aku menjadi wanita seperti ini Ars. Semua gara-gara kejadian itu." terang Aileen panjang lebar, dan dia juga mulai menghilangkan embel-embel kakak saat memanggil Arsenio.
Sementara Arsenio yang mendengar itu, hanya bisa menunjukkan sebuah senyum ironi, "Ayu hanya mengingat kejadian itu, karena Ayu selalu memikirkannya. Coba Ayu juga memikirkan kejadian menyenangkan di masa lalu, pasti Ayu tidak akan menjadi seperti ini."
Deg!
Perkataan Arsenio berhasil menusuk jantung Aileen. Seketika air mata wanita itu terjatuh bertepatan dengan adzan magrib yang mulai menggema di seluruh kota Jakarta.
"Kembali lah Ayu. Jangan terus seperti ini. Berubah lah, dan cobalah merangkak naik dari kubangan penuh dosa ini," imbuh Arsenio, dan itu berhasil membuat Aileen menatap dirinya dengan tajam.
Seketika angin berembus kencang, membuat pohon-pohon yang tumbuh rindang di taman, mengeluarkan suara desiran merdu. Bertepatan dengan embusan angin itu, kedua pasangan manusia berbeda jenis itu langsung terdiam.
Tidak ada yang berniat berbicara, dan mereka seolah sedang membiarkan lantunan adzan magrib mengambil alih suasana hening yang mereka ciptakan itu. Memang sekarang mulut mereka terkatup, dan enggan untuk mengeluarkan sepatah kata pun, tapi percayalah kalau sekarang mereka berdua sedang saling menatap.
Terlihat seperti ingin saling menyelidiki satu sama lain tentang apa yang saat ini dia pikirkan. Hingga mereka terdiam, setelah perdebatan satu dengan yang lainnya.
"Cobalah memulai hidup yang baru, Yu. Jangan terus seperti ini. Kakak tahu, kalau Ayu terpaksa masuk ke dalam dunia malam itu karena Ayu mengira, kalau Ayu sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tetapi, sekarang kakak sudah di sini menemani Ayu, jad-"
"Apa kau sudah selesai dengan semua omong kosong yang kau katakan Ars?" Aileen memotong perkataan Arsenio dengan raut yang sekarang terlihat sangat-sangat datar.
Mendengar penuturan Aileen yang seperti itu, Arsenio langsung menatap asing wanita yang sekarang berdiri di depannya, "Apa maksudmu, Ayu?"
"Apa maksudku? Tentu saja maksudku kalau semua perkataan kau itu omong kosong. Tadi kau mengatakan aku terpaksa memasuki dunia malam? Heh— kau itu sok tahu sekali Ars. Justru aku masuk keduani gelap ini, karena tempat itu sudah menjadi takdir hidupku. Jadi kak Ars jangan sok tau deh." Setelah mengatakan itu, Aileen langsung bergerak memutar tubuhnya, dan hendak mengayunkan langkah.
"Mau ke mana?" tanya Arsenio yang saat ini sudah menggenggam pergelangan tangan Aileen.
"Pulang," jawab singkat Aileen, dan wanita itu sedang berusaha melepaskan tangannya yang saat ini di genggam erat oleh Arsenio.
"Kalau begitu, aku akan mengantar Ayu. Jadi, ayok." Tanpa menunggu persetujuan Aileen. Arsenio langsung menarik tubuh wanita itu, agar mengikuti langkahnya.
"Aku akan pulang sendiri. Jadi, kak Ars tidak usah repot-repot."
"Sudah jangan membantah. Bukankah kakak mengatakan, kalau kakak akan mengantar Ayu. Jadi, ayu diam saja, dan ikuti saja dengan kakak." Arsenio berucap dengan masih menarik tubuh Aileen.
Sementara Aileen tidak hentinya memberontak, agar Arsenio melepaskan tangannya, dan membiarkan dirinya pulang sendiri, "Kak Ars lepas. Aku akan pulang sendiri."
"Maaf kakak enggak denger," jawab Arsenio dengan nada terkekeh, dan itu berhasil membuat Aileen mengembuskan napas pasrah. Akhirnya wanita itu menyerah, dan dengan terpaksa dia mengikuti kemauan Arsenio.
Entah apa yang akan terjadi di dalam mobil nantinya, karena jujur saja. Aileen masih marah kepada pria tampan yang sedang menyeretnya saat ini.