Suara hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang di jalan raya ibu kota yang sudah sedari tadi mengganggu telinga Aileen dan juga Arsenio.
Bukan hanya itu, suara peluit tukang parkir, dan para pedagang pejalan kaki juga sudah sedari tadi menyelami gendang telinga Aileen.
Padahal hari sudah cukup gelap untuk menjajarkan dagangan, tapi Aileen melihat tepat di seberang jalan. Ada seorang kakek-kakek tua tengah duduk di bawah lampu jalan.
Di depan kakek-kakek tua itu. Terdapat dua bak kecil warna hitam. Di atas bak itu, Aileen menangkap sebuah nampan besi berbentuk lingkaran yang dipenuhi oleh kacang rebus. Bahkan kacang itu menumpuk terlihat seperti sebuah bukit.
Aileen terus melihatnya dalam keramaian, dan bisingnya jalanan kota yang kian memadat. Tetapi, biarpun ramai orang berlalu lalang. Aileen tidak melihat satu pun pengendara berhenti hanya untuk membeli sebungkus kacang rebus si kakek itu.
Padahal. Hawa malam saat ini sangat lah dingin, dan disaat seperti inilah kacang rebus dikonsumsi. Murahan? Memang, tapi itu jauh lebih enak dari pada makanan-makanan cafe.
"Lagi ngeliatin apa?" tanya Arsenio dengan nada biasa saja, seperti orang yang tidak ada apa-apa, dan malahan mungkin para pejalan kaki akan mengira, kalau mereka itu sedang dalam keadaan baik-baik saja, karena melihat sang pria begitu bersikap sangat manis, dengan mengeluarkan nada lembut kepada sang wanita yang begitu menatapnya dengan tatapan sinis.
"Kenapa liatin aku kek gitu banget sih." Aileen berucap dengan nada sinis sembari menyambar minuman s**u kocok rasa strawberry yang baru saja Arsenio beli di warung minuman s**u kocok deket parkiran Indomaret.
Iya, karena jalanan malam ini terbilang cukup macet. Aileen meminta Arsenio mampir sebentar ke Indomaret, dan sekarang mereka sedang duduk-duduk di sebuah meja yang di mana, di sediakan dua buah kursi yang diletakkan berhadapan.
Sudah tiga puluh menit mereka berada di sana. Kadang mereka hanya saling diam satu sama lain, kadang Arsenio berceletuk mengeluarkan candaan yang Aileen tanggapi dengan hardikkan bahu.
"Maaf." Pada akhirnya Arsenio kembali mengucapkan kata maaf yang sudah Aileen dengar sepuluh kali lebih.
"Maaf atas apa yang kakak katakan di taman tadi. Seharusnya kakak tidak perlu ikut campur dengan apa yang Ayu lakukan, karena itu hak Ayu. Tetapi, jujur-" Perkataan Arsenio terhenti, saat tiba-tiba saja punggung tangannya yang sedari tadi digerogoti oleh hawa dingin menjadi hangat.
Arsenio bergerak menurunkan pandangannya ke bawah. Dia melihat tangan putih Aileen sedang menggenggam lembut jemarinya, "Aku enggak marah sama kakak. Tetapi, aku hanya kesal saja, karena kakak terlalu mengikut campuri urusanku," terang Aileen, mbuat Arsenio menegakkan kepala, dan netra coklat miliknya langsung bertemu dengan netra hitam cerah milik Aileen.
Heninh langsung menyergap pendengaran Arsenio. Sekarang pria dua puluh delapan tahun itu tidak bisa mendengar apapun kecuali suara embusan napas Aileen yang terdengar teratur, pun dia juga perlahan merasakan seluruh benda yang ada di sekitar menghilang, dan yang tersisa di teras Indomaret ini hanya Aileen.
Tiba-tiba saja Arsenio mengulas satu senyum kecil, dan tangan kirinya tanpa sadar bergerak mendekati pipi putih Aileen, "Tidak— kakak tidak bisa untuk tidak ikut campur, jika itu menyangkut kehidupan Ayu. Dulu kakak mengira ayu lah yang bersalah. Tetapi, saat semua terbongkar. Kakak menyesalinya, dan itulah kenapa selama ini kakak melihat Ayu dari belakang." Arsenio menjeda ucapannya hanya untuk menghirup napas panjang, dan bersamaan dengan itu. Tiba-tiba saja sesak langsung menyerang ulu hati pria blasteran itu.
Arsenio memejamkan mata hanya untuk menikmati rasa sakit dihatinya yang perlahan kian membesar saat ingatan-ingatan masa lalu terngiang-ngiang di kepalanya, dan tanpa sadar. Sebutir air mata terlihat bergelantungan begitu nyata di bulu mata Arsenio.
Aileen yang melihat itu hanya diam membisu. Dia tidak berniat menangapi. Terlebih lagi saat ini jemari yang tadi dia gunakan untuk menggenggam tangan besar Arsenio, malah sekarang menjadi dia yang digenggam.
Arsenio bergerak membuka matanya, dan bertepatan dengan itu. Dia kembali bisa melihat objek yang ada di sekelilingnya. Suara bising kenalpot, dan bau asap motor langsung menyeruak menusuk indera penciumannya.
"Namun, sekarang tidak lagi. Kakak sudah lelah menjadi seorang penguntit. Kakak ingin seperti dulu lagi. Saat di mana kita pulang bersama setelah pergi sekolah berjam-jam lamanya, pergi ke Timezone bersama, tanpa menghawatirkan bibi yang akan memarahi aku karena membawamu tanpa sepengetahuannya. Kakak ingin merasakan itu lagi." Arsenio melanjutkan penjelasannya yang tadi dia jeda.
Kedua sudut bibirnya tertarik, dan tangan kirinya masih terulur mengelus pipi putih Aileen, "Maukah Ayu melakukan itu lagi dengan kakak?"
Ayu hanya tersenyum ironi saat mendengar permintaan bodoh pria dua puluh delapan tahun di depannya ini, "Ars...." Ayu memanggil nama Arsenio dengan nada lembut sembari menggerakkan satu tangannya untuk menurunkan tangan Arsenio yang begitu setia mengelus pipinya.
"Kita sudah bukan lagi seorang remaja yang di mana, kita harus melakukan hal konyol seperti ke Timezone lagi. Kita sekarang sudah dewasa, dan-"
"Bagiku, kamu masih remaja. Senyummu masih terlihat manis seperti dulu, dan tatapan matamu masih tetap polos seperti dulu. Tidak ada yang berbeda dan tidak ada yang berubah. Begitu juga aku, Ayu." Arsenio memotong perkataan Aileen.
Tangannya yang tadi diturunkan oleh Aileen, sekarang sudah menggenggam jemari yang tadi membimbingnya jatuh mendarat ke permukaan meja yang terbuat dari kaca bening.
Jadilah sekarang kedua tangan mereka saling menggenggam, kedua mata mereka saling menyalami satu sama lain, embusan napas mereka pun saling bersahutan, dan posisi mereka berdua saat ini bisa saja membuat semua pejalan kaki akan mengira, kalau dua manusia berbeda jenis yang saat ini sedang duduk nongkrong di depan Indomaret itu, adalah sepasang kekasih.
Bahkan sedari tadi, kasar wanita yang berdiri di sebelah jendela. Berusaha mengintip kemesraan yang dilakukan oleh Aileen dan juga Arsenio, "Jangan buat aku ketawa Ars. Senyumku tidak semanis yang kau pikirkan, karena sudah banyak orang yang menjamah mulut yang sedari tadi kau banggakan senyumnya. Tatapan mataku juga tidak sepolos yang kau katakan, karena sudah banyak pria yang bertekuk lutut di saat aku mengedipkan mata untuk merek."
Aileen menjawab dengan nada jenaka. Jujur— dia ingin sekali tertawa, tapi disaat suara tawa itu berada di ujung lidah. Rasa enggan untuk mengeluarkan menyeruak, dan membuat Aileen mengurung kembali niatnya itu.
"Benar— yang kamu katakan itu memang benar adanya, karena aku juga merasakan hal yang sama dengan semua pria yang pernah bertemu denganmu. Tetapi, bedanya. Aku lah yang lebih dulu terperangkap dalam senyum, dan tatapan mata polos yang kamu miliki itu." Arsenio menimpali dengan kata-kata yang tidak Aileen mengerti.
Bahkan rombongan semut-semut merah yang tengah berjalan di permukaan meja, hanya berlenggak lenggok mendekat ke segelas minuman s**u kocok yang sudah sedari tadi mengeluarkan butiran-butiran air, karena sang empunya tidak menggubris keberadaannya, dan memilih menatap pria yang ada di depannya.
Pada akhirnya Aileen bungkam, dan tak bisa mengeluarkan jawaban. Tetapi, biar begitu. Satu alisnya terangkat, seolah memperlihatkan betapa bingungnya dia saat ini.
Arsenio yang melihat itu mengeluarkan kekehan pelan yang terdengar sangat lembut di telinga Aileen, "Ayu...." Pria dua puluh delapan tahun itu memanggil nama Aileen, dengan nada yang masih sama. Yaitu, lembut, dan terkesan menenangkan. Sangat tenang hingga membuat Aileen terkunci untuk melihat sosok rupawan Arsenio.
"Aku mencintaimu, dan itu terjadi sudah belasan tahun lamanya. Walau begitu, rasa cintaku masih tetap ada untukmu. Hanya untukmu, Aileen Ayudia."
Seketika kawasan Indomaret menjadi hening. Semut-semut merah yang tadi tengah bekerja sama mengangkut air-air yang berceceran di permukaan meja berhenti bergerak.
Suara permainan gitar anak-anak jalanan yang duduk santai di pojokan Indomaret itu pun tak lagi terdengar. Apakah ungkapan cinta Arsenio yang secara terang-tersngan ini membuat semua orang tidak percaya, pun saat ini Aileen hanya diam mematung.
"Maukah kamu meninggalkan kehidupan malam ini, dan memulai hidup baru bersamaku?" Arsenio kembali berucap hanya untuk membuat Aileen semakin tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Padahal sedari tadi penjaga kasir wanita itu, begitu girang seolah dialah yang saat ini menjadi Aileen, "Terima lah," bisik penjaga kasir itu dengan mulut komat-kamit. Bahkan sekarang dia tidak fokus melayani konsumen, hanya untuk melihat reaksi yang akan Aileen keluarkan.
"Ayu, maukah kamu menerima cintaku?" Dan tepat saat pertanyaan itu terlontar.
Aileen bergerak bangkit dari duduknya. Dia tanpa mengeluarkan sepatah kata langsung memutar tubuh, dan mengayunkan langkah untuk masuk ke Indomaret.
Arsenio yang melihat itu, seketika mengeluarkan senyum ironi. Matanya seketika berair, "Apa ini berarti, kamu menolakku?" gumam Arsenio dengan menunjukkan senyum kecut yang begitu jelas memperlihatkan kesedihan karena sakitnya ditinggalkan begitu saja, tanpa ada sebuah kata jawaban iya, atau pun jika dia tidak menerima. Apa beratnya untuk mengatakan tidak.
Arsenio mendongak hanya untuk melihat langit yang saat ini nampak terang, karena di sana ada jutaan bintang yang selalu menemani sang bulan, untuk menerangi bumi yang beberapa jam lalu sudah ditinggalkan oleh matahari.
'kenapa tidak ada awan kelabu yang akan membantuku menahan rasa sakit ini?' Arsenio membatin, dan setelah puas melihat langit, dia kembali menegakkan kepalanya, dan tatapan matanya langsung melihat kakek-kakek penjual kacang rebus, "Mungkin sebungkus kacang, tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman."
Arsenio berucap seolah ingin menghibur diri. Memang ucapannya tadi membuat dia menyunggingkan seutas senyum, tapi tidak dengan hatinya. Padahal dia berharap Aileen memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, tapi sudahlah.
Arsenio akhirnya melangkahkan kaki, menyebrangi jalan, kemudian duduk tepat di trotoar seberang, hanya untuk bercanda gurau dengan kakek-kakek penjual kacang rebus itu.
Sedangkan dari dalam Indomaret. Aileen hanya bisa menatap Arsenio dengan mata berkaca-kaca, "Kau pria yang baik Ars. Tidak seharusnya kau mengatakan aku mencintaimu pada wanita kotor sepertiku. Kau berhak mendapatkan gadis yang lebih baik, dari pada aku yang hanya seorang wanita malam ini."
***
Sekarang Aileen dan Arsenio sudah berbelok masuk ke kawasan kompleks perumahan elit yang ada di pusat kota Jakarta. Setelah kejadian menembak di Indomaret itu, mereka berdua bungkam seolah seperti orang yang tidak saling mengenal.
Sebenarnya mereka berdua mengetahui kalau inilah yang akan terjadi. Mereka berdua padahal sudah saling mengenal dari kecil. Bahkan saat Aileen masih berusia empat tahun. Arsenio sudah datang menjadi teman pertamanya. Dia yang selalu membawa Aileen berjalan-jalan keliling kompleks dengan saling berboncengan menggunakan sepeda.
Namun, malahan sekarang. Mereka tidak saling mengobrol. Arsenio yang sering menyeletuk saja sedari tadi enggan menoleh ke arah Aileen, hingga mobil yang dikendarainya pun berhenti tepat di depan gerbang rumah wanita itu.
Satu detik
Aileen masih enggan untuk turun, atau pun membuka suara hanya untuk mengucapkan sudah sampai.
"Rumahmu ini kan?" Pada akhirnya Arsenio lah yang mengeluarkan suara terlebih dahulu, dan itu berhasil membuat Aileen salah tingkah.
"I—iya, sudah sampai yah." jawab Aileen dengan nada meracau.
Arsenio yang melihat itu ingin sekali tertawa, tapi dia enggan untuk mengeluarkannya, karena hatinya saat ini begitu tidak mood.
"Te—terima kasih," cicit Aileen dengan nada gugup, Arsenio mengangguk tanpa mau melihat wajah Aileen, "Apa mau mampir dulu?" Aileen menawari Arsenio untuk mampir, dan itu justru terdengar sangat-sangat bodoh.
"Boleh...." Arsenio menjeda ucapannya saat melihat Aileen membuatkan mata terkejut, "tapi ini bukan waktu yang tepat. Jika aku mampir, maka aku akan semakin merasa sakit. Jadi, aku putuskan untuk mampir lain waktu saja," imbuh Arsenio membuat Aileen menganggukkan kepala paham.
"Kalau gitu hati-hati di jalan, dan sekali lagi terima kasih." Aileen langsung bergerak keluar dari dalam mobil, dan dia terlihat berdiri di depan pagar seolah ingin mengantar kepergian, Arsenio kah?
Aileen melambaikan tangan saat melihat seutas senyum di bibir Arsenio, "Istirahat, dan jangan pergi ke mana-mana." Arsenio berpesan, dan itu terdengar seperti seorang kekasih yang memperlihatkan betapa perhatiannya dia kepada sang pujaan. Tetapi, untuk kasus Arsenio sekarang. Dia tidak mengucapkan itu kepada pasangannya, melainkan kepada wanita yang menolaknya beberapa menit lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata penolakan semestinya.
Malahan wanita itu berbalik, meninggalkannya duduk termenung di depan Indomaret. Bahkan tadi para kawanan semut saja langsung pergi dengan sok cueknya.
Sedangkan Aileen. Setelah dia melihat mobil hitam Arsenio menjauh. Wanita itu menghela napas lega. Dia memutar tubuh, dan hendak membuka pengait gerbangnya.
"Dasar jaaalang rendaahan!"