Aileen yang baru saja ingin membuka gerbang rumahnya langsung terhenti, saat telingan mendengar suara teriakan dari arah belakang.
Wanita manis itu menolehkan kepala kebelakang dengan tubuh masih menghadap pagar rumah, dan...
Bug!
Sebuah kerikil kecil melayang ke arahnya, dan tepat menghantam kening Aileen. Sontak Aileen langsung meringis. Tubuhnya terputar sempurna menghadap ke arah seorang wanita paruh baya yang tengah menatapnya sengit.
Aileen sedikit memejamkan mata kala rasa perih mulai dia rasakan di area kening yang sekarang mengalirkan darah segar.
"Kembalikan suamiku, jaalaang! Kembalikan suamiku!" Wanita paruh baya itu berteriak dengan keras. Mulutnya tidak ada hentinya meneriaki kata-kata jaalaang, pun jari telunjuk kanannya mengacung ke wajah Aileen.
Kompleks perumahan yang tadinya hening, tiba-tiba saja menjadi ramai karena beberapa tetangga Aileen mulai keluar dari dalam rumah, pun bersama suaminya ikut keluar menyaksikan Aileen yang lagi-lagi di datangi oleh seorang wanita.
Semua orang yang berdiri di teras rumah mereka masing-masing dapat menebak, kalau suami wanita paruh baya berpakaian modis itu sudah pernah berbagi kehangatan dengan Aileen.
"Kau sembunyikan dimana suamiku, jaalaang!" Wanita paruh baya itu kembali berteriak, membuat Aileen memamerkan senyum miring.
"Maaf— Anda siapa yah? Kenapa menanyakan keberadaan suami Anda ke sini? Emang sa-"
"Jangan pura-pura enggak tahu yah! Seminggu yang lalu kau pergi dengan suamiku, dan gara-gara kau. Suamiku jarang pulang, rendaahan!" Wanita paruh baya itu semakin sarkas.
Sedangkan Aileen yang melihat itu menegakkan posisi berdirinya. Kedua tangan lentiknya dia silangkan di atas d**a, "Seminggu yang lalu yah ...." Aileen menjeda ucapannya hanya untuk mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan seminggu yang lalu.
Aileen menaikan dua alis matanya yang diikuti kedua sudut bibir yang tertarik ke atas, "Seingatku, seminggu yang lalu aku pergi dengan empat pria. Jadi, suami Nyonya yang mana? Apa keempatnya?" imbuh Aileen dengan nada angkuh, seolah merasa bangga, dan tidak malu dengan apa yang diucapkannya tadi.
Sedangkan wanita paruh baya yang berdiri di depan Aileen langsung bergerak membekap mulutnya, "Dasar wanita murah. Apa kau tidak punya malu, hah?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada tidak percaya.
Sementara para tetangga yang masih setia menonton perseteruan mereka berdua, tidak terkejut dengan perkataan Aileen. Karena mereka semua sudah tahu tentang wanita malam itu.
"Tentu saja tidak. Malahan aku bangga, karena bisa memuaskan mereka semua yang tidak puas dengan istri-istrinya. Termasuk Tuan Ramos Haryono. Dia begitu kecanduan dengan menikmati lekuk tubuhku. Bahkan dia sampai mengemis untuk menyewaku." Aileen berucap dengan nada angkuh dan senyum yang masih sama.
Sedangkan wanita paruh baya di depannya itu, mulai naik pitam saat Aileen menyebutkan nama Ramos Haryono. Aileen menarik bibir bawahnya ke atas. Kedua matanya menatap rendah ke arah wanita paruh baya itu, "Apa Nyonya adalah istri dari, Tuan Haryono?" Aileen menebak, dan itu berhasil membuat wanita paruh baya itu mengangkat tangan kanannya ke udara, dan langsung melayangkan satu tamparan ke pipi putih Aileen.
Namun, Aileen yang melihat gerakan tangan wanita paruh baya itu, langsung memundurkan sedikit tubuhnya, hingga tangan yang sudah melayang ke depan itu, hanya menampar angin.
Wanita paruh baya itu, hendak kembali melayangkan satu tamparan lagi, tapi dengan cepat Aileen menyekal lengannya, "Dasar tidak tahu malu, murahan, jaalaang!" sarkas Nyonya Haryono, mengeluarkan kata-kata hinaan untuk Aileen.
Aileen yang mendengar itu hanya menunjukkan ekspresi mengejek, dan dia perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nyonya Haryono, "Iya, itu aku. Lalu, apa masalahmu?" tanya Aileen dengan entengnya membuat Nyonya Haryono semakin marah.
"Apa masalahnya? Gara-gara kau suamiku jarang pulang, jaalaang. Gara-gara kau hubungan kami tidak harmonis lagi." Nyonya Haryono menuding, tapi itu justru membuat Aileen tersenyum.
"Gara-gara aku? Apa Nyonya tidak salah menuduh?" tanya Aileen dengan masih memperlihatkan gaya anggunnya, dan sedetik kemudian. Senyum yang tadi tersungging di wajah Aileen menghilang, dan tergantikan oleh sebuah seringai yang sangat menyeramkan.
Nyonya Haryono yang melihat itu, bahkan langsung terdiam tanpa suara, pun embusan napasnya tidak lagi terdengar. Dia bungkam, dan...
Bug!
Aileen menghempas tubuh Nyonya Haryono hingga tersungkur jatuh, dan terduduk di atas paving blok jalanan kompleks. Semua orang yang masih menonton terkejut, karena Aileen tidak pernah sama sekali menunjukkan sifat ini sebelumnya.
Memang ini bukan kali pertama mereka mendapati Aileen didatangi seperti ini. Tetapi, setiap kali mereka menonton. Mereka semua melihat Aileen meladeni wanita-wanita itu dengan gaya anggun.
Namun, malam ini. Aileen nampak beda, "Jangan asal menuduh seperti itu Nyonya. Asal Nyonya tahu. Saya tidak pernah menggoda suami orang, tapi merekalah yang tergoda dengan saya, termasuk suami Nyonya." Aileen menjeda ucapannya hanya untuk merubah posisinya yang berdiri, menjadi sedikit menunduk.
"Lihatlah diri Nyonya. Pantas saja suami Nyonya tidak betah, dan memilih mengunjungi saya setiap malam, dan saya selalu menolaknya. Karena, saya tidak suka tidur dua kali dengan orang yang sama." Setelah mengatakan itu, Aileen kembali menegakkan tubuhnya. Senyum penuh kemenangan langsung terukir jelas di wajahnya.
"Oh saya hampir lupa. Malam itu, Tuan Haryono memuji saya, dan dia bahkan mengatakan istrinya tidak bisa dibandingkan dengan saya, karena saya begitu sempurna di matanya." Aileen langsung memutar tubuh kembali menghadap ke gerbang rumahnya.
Dia melihat ke arah tetangganya yang masih setia menonton dengan suami mereka masing-masing. Aileen yang melihat itu, mulai memainkan permainan mata, dan dia juga menunjukkan senyum menggoda yang dia miliki. Sontak semua laki-laki yang menonton perseteruan Aileen tadi, langsung menganga dengan binar cerah yang keluar dari tatapan mata mereka.
"Jaga suami Nyonya baik-baik, dan jangan pernah menyalahkan orang lain. Yang salah di sini Nyonya, karena anda tidak pernah memberikan kepuasan kepada suami. Hingga, dia pergi mencari kepuasan di tempat lain." Aileen langsung mengayunkan langkah memasuki gerbang rumahnya, dan meninggalkan Nyonya Haryono yang terlihat mematung di tempat.
***
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Aileen masih setia duduk di ruang keluarga rumahnya. Wanita itu duduk sendirian ditemani segelas teh hangat, karena beberapa menit yang lalu. Hujan kembali turun.
Entah kenapa akhir-akhir ini hujan selalu turun di waktu yang tidak menentu. Padahal saat dia berseteru tadi. Bintang masih setia di atas langit, tapi tiba-tiba saja saat jam menunjukkan pukul sepuluh. Langit langsung menggelap, dan tanpa ada bunyi geledek. Rintikan air hujan langsung menyeruak turun.
Aileen menghela napas, dan setelahnya. Dia bergerak meraih cangkir tehnya, menempelkan pinggiran gelas itu di bibir ranum bagian bawahnya, dan...
Srupp!
Aileen menyeruput teh panasnya, dengan mata terpejam seolah menikmati tenggorokannya yang tiba-tiba menghangat.
Suara dering nada panggilan masuk keluar dari dalam ponsel, membuat Aileen meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca berukuran kecil di depannya.
Setelah dipastikan cangkir itu berdiri dengan sempurna, Aileen kembali mengulurkan tangan meraih ponselnya yang sekarang memperlihatkan nama Gwen di layarnya.
Aileen berdecak sebal, tapi dia tetap menggeser icon telpon berwarna hijau ke sebelah kanan, dan setelahnya. Dia langsung menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Katakan!" perintah Aileen to the poin.
"Seseorang ingin bertemu denganmu Ai. Jadi, cepatlah datang kemari." Aileen yang sudah sekian kali mendapatkan telepon seperti ini, hanya mengeluarkan decakan.
"Ai— jangan bilang kau tidak mau," tebak Gwen— nama wanita yang menelepon di seberang snaa.
"Kau sudah tahu jawabannya kan. Jadi, matikan teleponnya, dan kalian berhenti menggangguku." Aileen menjawab dengan nada malas.
"Jangan seperti ini Ai. Sungguh, orang itu sudah sering datang kemari, dan dia hanya ingin dipuaskan olehmu."
"Tapi aku lagi malas melakukannya, dan kenapa tidak kau saja yang pergi bersamanya."
"Itu jika dia mau Ai," jawab Gwen prustasi.
Aileen yang mendengar itu hanya memutar kedua matanya dengan malas, "Terserah. Sekarang aku lagi malas, dan ingin istirahat."
Tut!
Sambungan telepon terputus, dan Aileen menghela napas lelah. Dia kembali meletakkan ponselnya ke atas meja kaca berukuran kecil itu, dan setelahnya dia langsung menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Mereka semua aneh. Bukankah sudah aku katakan setiap tanggal dua belas Mei, aku tidak mau melakukan itu, karena hari ini adalah peringatan kematian Papaku." Aileen bergumam dengan lengan kanan yang sudah berada di atas mata.
Iya, padahal Gwen sudah sering mengatakan kalau dia tidak akan memuaskan siapapun di hari peringatan kematian almarhum papanya. Tetapi, semua teman seprofesinya begitu tidak bisa mengerti, dan selalu saja mengganggu Aileen. Buktinya tadi Gwen, dan juga ada beberapa orang lagi yang tadi menelpon sebelum Gwen.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang diketuk membuat Aileen menoleh kan kepala dengan tatapan mata malas. Wanita itu lagi-lagi menghela napas lelah, saat suara ketukan itu berubah menjadi gedoran.
"Siapa?!" Aileen bertanya dengan nada berteriak, sembari bangkit dari duduknya, dan langsung berjalan ke arah pintu masuk rumahnya.
Tidak ada sahutan dari luar sana, tapi bunyi ketukan semakin terdengar menyalami gendang telinga Aileen, membuat dia mengeluarkan sebuah decakan.
Aileen dengan mata malas, dan hati yang dongkol meraih ganggang pintu, "Siapa sih yang datang ke rumah orang malam-malam begini." Aileen terlebih dahulu mengeluarkan gerutuan, dan baru setelah itu. Dia menarik pintu ke dalam, dan ....
Aileen mematung saat setelah pintu terbuka, dan di depan sana dia melihat seorang wanita paruh baya berdiri dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Ayu ...." Wanita paruh baya itu memanggil nama Aileen dengan sebutan Ayu, di mana hanya kedua orang tuanya, dan Arsenio lah yang memanggilnya dengan nama itu.
"Nak ...." Imbuh wanita paruh baya itu lagi, dengan air mata yang sudah deras mengalir keluar, dan bahkan intensitasnya melebihi hujan yang saat ini mengguyur ibu kota.
"Mama kang-"
Brak!
Belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya. Aileen sudah lebih dulu menutup pintu dengan kasar. Wanita itu maju satu langkah, dan dia langsung bergerak memegang kunci yang terpasang di tempatnya, dan baru setelah itu. Aileen memutarnya ke arah kanan.
Pintu pun tertutup, dan Aileen kembali mundur satu langkah dengan mata yang terus menatap tajam ke arah depan.
"Ayu, dengerin Mama, nak!" Wanita paruh baya itu mulai berteriak sembari terus menggedor pintu rumah Aileen.
Sedangkan Aileen yang dipanggil dengan kata-kata nak, langsung terduduk jatuh ke lantai dengan air mata yang entah kapan mengalir.
"Ayu— Mama minta maaf. Mama minta maaf, karena dulu tidak percaya sama kamu." Iya, wanita paruh baya yang sedang berteriak di luar sana adalah Friska— Mama dari Aileen.
"Mama seharusnya dulu percaya sama Ayu, dan Mama dulu tidak seharusnya mengatakan itu kepada Ayu. Yu, tolong buka pintunya, dan kita akan bicarakan in-"
"Pergi! Pergi kau dari sini!" Ayu memotong. Dengan masih dalam posisi duduk dia berteriak mengusir, Mamanya. Orang yang dulu pernah menyayanginya, dan juga orang yang menjadikannya seperti sekarang ini.
"Mama akan pergi, tapi kita bicara dul-"
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, karena itu percuma. Mama lebih baik pergi dari rumah Ayu, dan jangan pernah menunjukkan wajah, Mama lagi di depan, Ayu, karena Ayu sudah sangat membenci, Mama." Ayu menjeda ucapannya hanya untuk menghapus air mata yang semakin deras keluar.
"Pergi dari sini sekarang juga!" Teriak Ayu, dan sedetik kemudian. Dia tidak lagi mendengar suara ketukan pintu, karena Friska sudah pergi.
Ayu menarik napas sangat dalam, berniat untuk menghilangkan sesak yang ada di dadanya. Tetapi, bukannya hilang. Sesak di dadanya malah semakin menjadi.
Bahkan untuk bangun dari duduknya saja, Ayu serasa sulit. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk tidur di atas lantai, "Jika saja, dulu Mama percaya pada, Ayu. Mungkin hidup Ayu tidak akan seperti ini. Ayu menjadi seperti ini, itu semua karena Mama, dan dia." Ayu tidur meringkuk di atas lantai.
Dia tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk kulitnya, karena rasa sakit lebih nyata terasa menggerogoti tubuhnya. Tetapi, anehnya. Aileen tersenyum.
Dalam tangis yang tersendu-sendunya. Aileen masih bisa menyungging seutas senyum, 'tidak semuanya yang terjadi di masa lalu itu buruk, Yu,' seketika otak Aileen tiba-tiba saja memutar sepenggal ucapan Arsenio, dan hal itu berhasil membuat dia memutar kilas balik hidupnya, di mana keluarganya masih nampak utuh.