Part 09

1915 Words
22 tahun yang lalu. "Ayu! Sini! Jangan berlari terlalu jauh sayang!" Suara pria dewasa yang terbilang cukup muda menggema tepat di halaman rumah bagian belakang. Di mana, di sana sekarang sedang diadakan piknik, "Ayu!" imbuh pria itu, membuat Aileen kecil yang berusia empat tahun menoleh, dengan tersenyum lebar seolah ingin menunjukkan gigi-gigi tanggalnya. "Ayu hanya berlari di taman, Papa! Jadi, Papa tidak perlu takut seperti itu!" jawab polos Ayu dengan suara melengking khas seorang bocah perempuan. Iya, pria itu iyalah Wahyu Antoni Admadja. Papa Aileen, "Baiklah— tapi Ayu hati-hati, dan larinya jangan kencang-kencang." Antoni memperingati dengan terus menyungging seutas senyum di bibirnya yang dihiasi kumis tipis, dan berewok yang terpotong rapi di rahangnya. "Kenapa Papa enggak temani, Ayu, saja sana?" Friska yang sedari tadi fokus mengeluarkan beberapa makanan seperti buah, sekotak roti lapis isi daging, dan beberapa cemilan di sebuah bentangan kain yang sudah tergerai rapi di atas rerumputan mulai menyeletuk, membuat Antoni yang sedari tadi fokus melihat Aileen kecil , bergerak menurunkan pandangannya untuk melihat sang istri. "Lalu siapa yang akan membuat arang?" Bukan jawaban yang Antoni berikan. Malahan pria dewasa berusia tiga puluh tahun itu memberikan pertanyaan kepada sang istri. "Ya— Papa lah. Masak iya, Mama yang buat arang," jawab Friska, membuat Anton mengeluarkan kekehan. "Nah loh. Tadi Mama sendiri yang nyuruh Papa buat main-main bareng Ayu. Tadinya Papa kira Mama bakalan gantiin Papa buat arangnya." Antoni berucap dengan nada santai sembari tangan terus mengias-ngipasi batok kelapa yang saat ini sedang dibakar agar menjadi sebuah arang. Di mana, nanti arang itu akan mereka gunakan untuk Barbequean. Friska yang mendengar ucapan kelewat santai suaminya, langsung menghadiahkan sebuah lirikan tajam. "Itu kalau Mama bisa buat begituan. Lagian salah Papa. Kenapa enggak beli aja arang di pasar," protes Friska dengan mata yang masih melirik tajam ke arah suaminya. "Mama pasti bisa kok. Wong cuma di kipas-kipas gini aja. Lagian buat apa beli kalau batok kelapa banyak? Nanti kalau beli kan jadi mubazir yang di rumah, Mama." Antoni tak mau mengalah, dan terus saja mengeluarkan kata-kata sanggahan yang mampu membuat istrinya merasa kesal. Buktinya saja sekarang dia melihat istrinya sedang monyong sembari dia gerakkan ke kiri ke kanan, terus jangan lupakan tatapan matanya yang sekarang mendelik. "Iya, Papa. Jadi, biar batok kelapanya enggak kebuang. Buat aja— buat yang banyak, biar besok enggak beli-beli." Friska berucap sinis, membuat suaminya tertawa dengan masih bergerak mengipasi batok kelapa yang beberapa sudah berubah menjadi arang yang menyala merah. "Ini kan Papa lagi buat, Mama. Dari tadi malahan," jawab Antoni, dan pria tiga puluh tahun itu kembali tertawa, bahkan suara penuh kebahagiaan itu tertangkap jelas oleh gendang telinga Aileen yang sekarang duduk di pojok taman melihat bunga mawar yang dihinggapi kupu-kupu. Aileen memicingkan mata, karena bocah perempuan berusia empat tahun itu terserang rasa penasaran saat mendengar suara tawa Antoni semakin keras. Akhirnya, dengan penuh rasa penasaran. Aileen bangkit dari duduknya, dan langsung berlari kencang mendekat ke Papa kesayangannya, "Papa!" seru Aileen dengan suara melengking. Antoni yang melihat putri kecil kesayangannya berlari ke arahnya, langsung bergerak jongkok dengan kedua tangan terbuka lebar. "Anak kesayangan, Papa, ada apa? Kangen yah?" Antoni bertanya dengan nada lembut, sembari kembali berdiri saat Aileen sudah berada di gendongannya, tapi biar begitu. Satu tangannya masih setia mengipas-ngipasi agar batok kelapa itu, lebih cepat menjadi arang. Sedangkan Aileen yang mendengar pertanyaan Papanya, hanya bisa menggeleng polos. Setelahnya, kedua tangan mungilnya langsung bergerak membingkai wajah Papanya. Antoni yang mendapati perlakuan putri kecil kesayangannya seperti ini langsung fokus melihat netra hitam cerah milik anak perempuan semata wayangnya. "Ada apa cantik?" tanya Antoni sembari bergerak mengecup pipi gembul Aileen. "Tadi, Ayu denger— Papa ketawa. Apa ada yang lucu?" tanya polos Ayu, membuat Antoni mengerutkan keningnya, seolah berpikir. "Ada," jawab Antoni yang sontak membuat Aileen ingin tahu. Sedangkan Friska yang melihat tingkah suami dan anaknya itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Entah kenapa hatinya serasa menghangat jika melihat dua orang yang begitu penting di hidup Friska, berbicara seperti itu. "Apa, Papa? Apa yang lucu?" tanya Aileen dengan nada terdengar begitu tidak sabaran. "Adalah, tapi Ayu tidak boleh tahu. Karena ini khusus untuk Papa, dan Mama saja." Antoni menerangi dengan nada lembut, dan tentu kata-kata yang di pakai Antoni sangat mudah dimengerti oleh Aileen yang baru berusia empat tahun. Mendengar itu, Aileen mengangguk, dan tidak bertanya lagi. Pun dia langsung menarik kedua tangannya dari rahang kokoh berbulu milik Antoni, "Papa, sedang buat apa?" Aileen bertanya setelah kedua matanya melihat ke arah depan, tepat ke alat pemanggangan. "Lagi buat arang, sayang. Ayu, tahu apa itu arang?" jawab Antoni, dan diakhiri oleh sebuah pertanyaan yang membuat Aileen menggeleng. "Tidak, Papa. Ayu, tidak tahu apa itu arang. Emang itu bisa di makan?" jawab Aileen polos, dan bocah perempuan empat tahun itu setelahnya, langsung memberikan pertanyaan lucu yang membuat Antoni, dan juga Friska terkekeh. "Enggak sayang. Arang itu bukan makanan." Antoni menjawab sembari bergerak mengecup pipi gembul anaknya. Aileen yang mendengar jawaban Papanya, kembali menggerakkan kepalanya menoleh melihat wajah tampan Antoni, "Kalau bukan makanan, lalu Apa? Dan kenapa Papa membakarnya?" Antoni yang mendengar pertanyaan polos anaknya itu, bergerak menoleh ke arah sang istri yang di mana sekarang sudah berdiri di sebelah kanannya, "Arang itu bahan bakar, untuk nanti Papa membakar daging, apa Ayu paham?" Bukan Antoni yang menjelaskannya, melainkan itu suara Friska. Aileen yang mendengar itu langsung membentuk mulutnya menjadi lingkaran yang mengeluarkan suara O,"Ayu paham?" tanya Antoni, dan bocah perempuan itu, langsung mengangguk seolah paham. Antoni yang melihat itu, langsung membombardir pipi berisi Aileen dengan kecupan yang tentu saja, akan membuat bocah perempuan berusia empat tahun itu merasakan geli. "Karena Ayu sudah paham, gimana kalau sekarang, Ayu, bantu Papa untuk membuat arang? Gimana? Ayu mau kan bantu Papa?" Seketika mata Ayu langsung mengeluarkan binarsaat bocah itu mendengar permintaan tolong yang keluar dari mulut papanya. "Tentu saja, Papa. Tetapi, Papa ajarin Ayu dulu." Aileen menjawab hanya untuk membuat kedua orang tuanya terkekeh geli, karena melihat tingkah laku anaknya begitu pintar di usianya yang masih terbilang cukup kecil, yaitu empat tahun. "Pintarnya Putri, Ma-" Friska menghentikan ucapannya saat suara dering ponsel memaksa dirinya untuk mengalihkan fokus. Sama halnya dengan Antoni. Pria tiga puluh tahun itu, langsung menoleh ke arah sang istri dengan satu alis mata terangkat seolah bertanya, "Siapa?" Merasa mendapatkan tatapan penuh selidik dari sang suami. Friska langsung saja menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan nama, "Jeng Tika." Antoni yang melihat itu, hanya menganggukkan kepalanya, dan kembali fokus melihat Aileen. Saat ini gadis itu, sedang mengipasi batok kelapa yang sedang terbakar. "Ohhh, kalian sudah sampai?' Friska bertanya dengan suara girang, dan kedua sudut bibirnya terangkat naik ke atas. "Ohh, kalau gitu tunggu di depan yah. Saya akan membukakan pintu, untuk kalian." Friska berbicara kembali, tapi bedanya tadi dia mengeluarkan kekehan di akhir kalimatnya. "Okeh— ditunggu yah? Iya, sampai jumpa." Friska langsung bergerak menjauhkan ponselnya, dari telinga, dan wanita itu langsung menoleh ke arah sang suami yang begitu asik bersama anaknya. "Papa— tuan, dan nyonya Adelard sudah sampai. Mama ke depan dulu untuk membukakan mereka pintu yah?" Friska meminta izin, dan Antoni yang mendengar itu langsung menganggukkan kepala. "Bukakan mereka Ma. Kasihan, mereka pasti sudah lama menunggu.' Antoni menjawab, dan itu membuat Friska menganggukkan kepala. Friska melangkah pergi meninggalkan taman belakang rumah, dan tepat setelah kepergian wanita itu. Antoni langsung menggerutu, "Pasti bocah perusak suasana antara aku dan juga anakku itu, ikut juga." Antoni bergumam dengan nada sinis. *** "Adek Ayu!" Terdengar suara jeritan seorang bocah laki-laki langsung menggema memenuhi taman bagian belakang kediaman keluarga Atmaja. Sontak Aileen yang tadinya fokus mengipasi batok kelapa yang hampir semua sudah menjadi arang, langsung menegakkan kepala, dan menoleh ke arah Papanya yang sekarang sedang berekspresi tidak suka. "Papa denger, enggak?" tanya Aileen, dan Antoni langsung menggelengkan kepala. "Tidak. Emang, Ayu tadi denger apa?" Antoni menjawab dengan berbohong, karena sejujurnya dia sangat jelas tadi mendengar suara jeritan seorang bocah laki-laki dari dalam rumahnya, yang di mana saat ini belum menampakkan batang hidungnya. "Tadi suara kak Ars, Papa. Apa, kak Ars datang ke sini?" Aileen memberitahukan suara yang dia dengar tadi kepada Papanya, membuat Antoni langsung mengeluarkan ekspresi pura-pura berpikirnya. "Enggak— Papa enggak denger, tu-" "Adek Ayu! Lihat kakak bawa apa untuk adek!" Seketika ucapan Antoni terpotong, karena sosok bocah yang tadi dipanggil oleh Aileen dengan nama kak Ars itu, tiba-tiba muncul dari dalam rumah, dan sekarang sedang berdiri di depan ambang pintu dengan tangan kanan memperlihatkan sebuah boneka Doraemon. Sontak— mata Aileen langsung berbinar, dan bocah perempuan berusia empat tahun itu langsung meminta Papanya untuk, menurunkan dirinya, "Papa turunkan, Ayu. Ayu mau main bareng, kak Ars." Antoni yang mendengar permintaan Aileen, dengan berat hati menurunkan putri kecil kesayangannya itu dari gendongannya, dan ini semua gara-gara bocah songong bernama Arsenio Adelard yang selalu saja mengganggu kebersamaannya dengan sang putri. "Kak Ars! Ayu kangen!" Aileen menjerit dengan kaki berlari mendekati Arsenio— bocah laki-laki berusia enam tahun yang sekarang sedang menatap Aileen. "Kak Ars, juga kangen sama Ayu. Makanya kakak dateng ke rumah Ayu, dan membawakan ini untuk, Ayu." Arsenio berucap sembari bergerak menyerahkan boneka Doraemon yang ada di tangannya itu, ke Aileen. Tentu saja Aileen yang sangat suka boneka mengambilnya dengan senang hati, "Ayok kita main-main ke sini." Arsenio langsung menggenggam pergelangan tangan Aileen, dan bergerak membawa kabur Aileen ke pojok taman belakang yang ada di bagian kiri. Sedangkan Antoni yang melihat itu, hanya mengeluarkan ekspresi cemberut, "Jangan cemberut seperti itu, Tuan Atmaja. Biarkan mereka bermain-main. Toh mereka masih kecil-kecil juga, dan mana mungkin anak kami akan membawa kabur anakmu." Itu suara milik Tuan Adelard— Papa Arsenio yang baru saja datang, dan langsung berjalan mendekati Antoni. Sementara Antoni yang mendengar itu, hanya mendengus, membuat dua wanita yang juga baru masuk ke taman belakang, langsung terkekeh, "Papa mah suka gitu. Cemburuan jika ada orang yang deketin, Ayu." Friska menyeletuk, membuat Antoni semakin menekuk ekspresi wajahnya. "Masak sih? Bagaimana nanti kalau Ayu dewasa, terus ada cowok yang datang ngelamar?" Nyonya Adelard ikut menimbrungi obrolan, membuat suasana dipenuhi kekehan, dan Antoni yang semakin menekuk raut wajahnya. *** 22 tahun kemudian. Aileen dewasa tersenyum kala ingatan masa-masa kecilnya yang di mana Papanya masih hidup, kembali menyapa memorinya. Dengan masih menangis, Aileen bangkit dari tidurannya di atas lantai. Dia bergerak menghapus jejak-jejak air mata yang ada di pipinya, dan baru setelah itu. Dia langsung berjalan mendekati tangga untuk naik ke lantai dua. Di luar hujan semakin deras mengguyur ibu kota. Hawa dingin yang ia bawa, semakin terasa nyata menggerogoti tubuh Aileen yang sekarang sedang menaiki anak tangga demi anak tangga. Tidak memerlukan watu yang lama, Aileen sudah menapakkan kaki di marmer dingin lantai dua. Wanita itu, kembali mengayunkan langkah untuk mendekat ke pintu kamarnya. Namun, belum sampai setengah jalan. Tiba-tiba saja Aileen menghentikan langkahnya. Wanita itu memutar tubuhnya, hanya untuk melihat figur foto laki-laki dewasa berusia tiga puluh dua tahun yang terlihat sangat bahagia. Terlebih lagi, di pangkuannya ada seoeang bocah perempuan. "Papa— Ayu rindu. Ayu rindu peluk hangat papa." Aileen kembali terisak, saat tiba-tiba saja dia melihat figur foto Antoni yang sedang memangku dirinya yang masih berusia enam tahun. Dari foto itu dapat kita lihat, betapa bahagianya sepasang ayah dan anak itu, tapi Aileen justru melihat foto itu, dengan penuh kesedihan. Kenapa begitu? Karena Aileen masih jelas mengingat kepergian ayahnya itu terjadi saat Aileen berusia enam tahun, dan kehidupan Aileen yang dipenuhi oleh dosa itu tersulut karena kematian Papanya, tapi itu bukan pemicu awal, kerena sakit ditinggal pergi oleh papanya itu bisa terobati. Sebenarnya— Aileen menjadi seperti ini karena kedatangan dia. Dia yang telah membuat Aileen terjerumus kedalam jurang penuh dosa ini, dan tidak ada lagi yang lain selain Dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD