Bibir ini kembali tersenyum mengingat kejutan Emak ketika aku sudah duduk di sekolah menengah atas. Ketika itu aku sudah butuh laptop, aku yang mengikuti kelas akselerasi, sangat butuh benda itu untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Tapi, seperti biasa, mana berani mulut ini minta Emak barang yang kutahu harganya akan sangat memberatkan Emak itu. Membayangkan berapa duit yang harus disisihkan dari pesanan-pesanan kue itu pun aku nggak sanggup. Tapi, ibu yang memiliki mata-mata di mana-mana itu, akhirnya tahu jika aku membutuhkan benda itu. Mungkin kecurigaannya berawal dari aku yang bolak-balik minta izin ke warnet. “Ibumu sendiri yang ke sini dan menanyakan laptop murah untuk anak sekolah.” Begitu kata abang-abang penjual netbook itu ketika mendadak Emak meminta mengambil yang

