Imla berbalik dan berjalan dengan cepat ke arahku melewati Salwa dan Arofah yang berada di belakangnya. Gadis cantik ini berjalan menjajariku hingga aku harus sedikit bergeser. “Sebagai remaja yang peduli pada kesehatan mental sahabatnya, aku benar-benar ingin tahu, apa yang membuatmu menjadi begini. Heh! Nggak kesurupan ‘kan?” ucap Imla kemudian membisikkan ayat kursi di telinga ini. “La!” seruku kesal. “Ya udah! Makanya itu, ngomong! Ngomong, Ra!” seru Imla sambil mengusap-usap dan merangkul bahu ini. Aku mendengkus kesal, kemudian menjejak-jejakkan kaki ke tanah, ini bukan gerakan memanggil dewa tanah ala film kera sakti mencari kitab suci, ini hanya sekadar melepaskan ketidakberdayaan yang mendadak meluluhlantakkan mood. “Aku pengen cerita, tapi aku nggak tahu harus gimana, aku

