Kok Tahu Namaku?

1125 Words

Tangan ini menghentikan angkutan umum. “Gayana Camping Ground?” tanyaku pada sopir angkotan kota yang mengemudikan bus kecil hanya memiliki satu pintu. “Ayo!” ucapnya singkat. Aku duduk di satu jok kosong yang berada di dekat pintu sambil memangku seabrek peralatan camping ini. Pikiran ini kembali mengembara. Apa penghuni rumah megah itu merasa kehilangan? Ah! Mungkin mereka justru bahagia mengetahui aku pergi. Mungkin mereka malah senang karena anak yang dipandang durhaka sudah tak ada lagi. “Ah ...,” gumamku lirih. Kenapa harus kupikirkan mereka? Lebih baik fokus pada menghabiskan waktu “sementara” ini sebelum aku diperbolehkan pulang ke rumah Emak. Aku bisa kembali ke kotaku pada saat akan melakukan tes masuk univeristas. Ya! Lebih baik mengisi waktu ini untuk menjauh dar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD