Aku merasakan setiap kepala di rumah ini seketika menoleh ke arahku dan memandang dengan ekspresi heran, mungkin mereka bertanya-tanya tentang apa yang hendak kulakukan. Mata ini menatap eyang Ustaz Hamzah itu dengan tajam, walaupun hati nurani dalam d**a memintaku untuk sejenak menenangkan diri, tapi syaraf motorik kaki ini telah terprogram untuk tetap berdiri. “Apa yang akan Bu Nyai Rahma rasakan jika seseorang menjelek-jelekkan orang yang melahirkan Bu Nyai?” cetusku dengan suara yang cukup kencang. Tentu saja ucapanku membuat semua orang dalam ruang tengah rumah megah ini terhenyak. Aku mengikuti panggilan yang biasa diucapkan oleh Mbok Warih. Ini untuk menegaskan bahwa aku berada di luar keluarga ini. “Rayya!” Suara para laki-laki di ruang ini terdengar berseru menegurku. Mat

