Seketika wanita tua yang duduk tepat di depanku ini terperanjat. “Mbok!” seruku saat wanita ini tiba-tiba beranjak, kemudian berdiri dengan gesture gugup. Tangan ini berusaha menahan lengan pengurus rumah tangga ini, tapi dengan sigap ia menghindar dengan gerakan menarik meja susun beroda itu. “Mbak Rayya, maaf Mbok Warih nggak bisa menjawab pertanyaan itu, em ... dan lagi ... ada pekerjaan yang harus diselesaikan di dapur,” dalihnya seperti sebelumnya. Ah ... kekecewaan kembali menyerbu. Apa sampai saat ini hanya para orang tua saja yang mengetahui masalah itu? Otak ini menyambungkan pertanyaan itu dengan apa yang kudengar dari percakapan antara mantan suami emak dan Ustaz Hamzah, apa itu yang diharapkan tidak terjadi lagi? Mata ini hanya bisa memandangi Mbok Warih yang bergeg

