Hidung ini mencium auro adu otot yang mulai menyeruak. “Nurma!” seruku dengan suara yang mulai naik-naik ke puncak gunung. “Apa?” balasnya menandingi volume suaraku. Tangan ini mulai mengepal. “Rayya!” Suara Arip menyela situasi yang mulai memanas. Agh ... aku mengembuskan napas panjang. Suara itu menyadarkan diri ini dari gerakan motorik tangan yang ingin menggampar gadis di depanku ini. Hampir saja, apa jadinya jika kuturutkan amarah ini? Di serambi masjid lagi, oh no! Aku dan Nurma masih saling tatap. “Rayya, aku aja yang potokopi, ya, nanti bagian akhwat tinggal Kamu bagi,” seru Arip datar. Aku menyahut dengan kata oh tanpa menoleh. Telinga ini menangkap langkah Arip yang mendekat dengan tergesa. “Ada apa, Ra?” tanyanya sambil melihat ke arahku, aku tahu dari sudut mata i

