Arka memperhatikan Venya yang sedang salat. Setelahnya Ia belajar salat dengan dibimbing oleh perempuan itu. Sesekali Venya menjelaskan perbedaan beberapa gerakan salat antara laki-laki dan perempuan. Venya juga menjelaskan secara garis besar keutamaan salat.
“Mas tahu, beberapa penelitian ilmiah bahkan mengatakan kalau salat itu juga bermanfaat untuk kesehatan.” Venya duduk berhadapan dengan Arka.
“Oh, ya? Kalau yang ini baru denger sih.”
“Yang pertama, pada posisi rukuk.” Venya berdiri, lalu mempraktekkan rukuk.
“Pada saat kita rukuk, ini bisa membantu melancarkan aliran darah di dalam tubuh. Di posisi seperti ini, aliran darah bagian atas diatur. Sedangkan pada posisi tasyahud, aliran darah bagian bawah yang diatur.” Kali ini Venya menjelaskan dengan gerakan tangan. “Pada posisi sujud, itu membantu membuka dan meringankan persendian. Oh iya, selain rukuk yang awal, manfaat lainnya juga bisa mengurangi rasa sakit di punggung bawah dengan merilekskan ligamen dan otot, jadi ini kurang lebih semacam yoga. Dan masih banyak manfaat lainnya.”
“Kamu tahu dari mana hal ini?”
“Waktu di sekolah, kebetulan guru agama menjelaskan, ditambah penjelasan dari almarhum ... “ Venya menghentikan kalimatnya. Ia menarik napas, lalu tersenyum tipis, baru melanjutkan kata-kata. “Bapak.”
“Oh, maaf.”
“Nggak apa-apa, Mas. Sebenarnya salat juga bentuk olahraga dan meningkatkan metabolisme seseorang. Gerakan salat ini melibatkan haluan di arteri belakang, sehingga tekanan darah yang mengalir ke jantung menjadi lancar. Bahkan posisi sujud, dapat memecahkan penyumbatan pembuluh darah, sehinga dapat mencegah jantung koroner. Katanya, posisi sujud juga bisa meningkatkan kecerdasan loh.”
“Kenapa bisa gitu, ya?”
“Karena pada saat kita sujud, posisi jantung lebih tinggi dari pada otak. Jadi, otak mendapatkan pasokan oksigen dari jantung melalui darah yang inshaAllah akan meningkatkan kecerdasan pada manusia.”
“Manfaat lainnya, selain untuk kesehatan apa?”
“Emm, apa ya? Oh masih ada, yaitu membuat jiwa lebih damai, membuat postur tubuh lebih ideal. Sepertinya belajar hari ini cukup. Untuk bacaan-bacaan salat, Mas bisa lihat di youtube atau artikel yang bisa Mas cari di google.”
“Oke, makasih, ya! Nanti tolong simak hapalanku.”
“Selalu siap sedia inshaAllah.”
“Kalau gitu, aku kembali ke kamar dan ... terimakasih.”
Venya tersenyum. Arka keluar kamar Venya dan masuk ke kamarnya. Sampai di kamarnya ia langsung mengotak atik hapenya untuk membaca mengenai segala sesuatu mengenai salat. Sementara Venya memilih menyapu rumah itu, mengepel dan menyiram bunga-bunga yang ada di halaman rumah. Azan magrib berkumandang, baru saja Arka akan menuju ke kamar Venya, wanita itu sudah lebih dulu menunggu di ruang tengah.
“Salat di sini?” tanya Arka.
“Iya, Mas. Rasanya kok agak gimana gitu kalau di kamar. Meskipun nggak ngapa-ngapain, tapi rasanya tetep kurang nyaman. Kita salat sama-sama di sini aja, ya!”
“Oh gitu. Ya udah, nggak apa-apa kalau mau salat di sini.”
Arka dan Venya berdiri bersebelahan, lalu salat bersamaan. Hari ini Arka sudah menghapal surat alfatihah, dia berjanji dalam satu minggu dia akan hapal semua bacaan dan niat salat.
**
Tok! Tok! Tok!
"Mas, salat subuh!" teriak Venya dari balik pintu kamar Arka.
Laki-laki itu menggeliat, lalu menyipit melihat jam di dingin.
"Iyaa!" Sahutnya balas berteriak.
Mendengar Arka sudah terjaga, Venya kembali ke kamarnya. Pagi itu, Venya sudah disibukkan dengan menyiapkan sarapan. Sementara Arka terlihat sibuk akan menyetrika kemejanya untuk mengajar. Sayang, laki-laki itu tidak tahu caranya, karena selama ini semuanya dilakukan oleh ART di rumahnya. Venya yang baru saja selesai menyiapkan sarapan dan akan menuju ke kamar menghentikan langkah saat melintas di depan kamar Arka. Laki-laki itu memandangi setrikaan dan pakaiannya secara bergantian. Venya tersenyum, lalu mengetuk pintu.
“Pagi, Mas.”
“Hey, pagi.”
“Emm, ada yang bisa aku bantu?”
“Aku kesulitan mau merapikan pakaianku. Entahlah, aku bingung bagaimana caranya.” Arka tersenyum samar.
“Aku rapikan, boleh?”
“Apa tidak merepotkan?”
“Tidak sama sekali.”
Arka mengambil pakaiannya dan setrikaan, lalu menyerahkan pada Venya. Wanita itu membawa ke kamarnya, lalu menggosoknya. Setelah selesai ia kembali memberikan pakaian itu pada Arka.
“Makasih banyak,” kata Arka setelah Venya memberikan bajunya.
“Sama-sama. Oh iya, untuk pakaian yang harus disetrika selanjutnya, letakkan saja di sana."
Venya menunjuk meja setrikaan yang ada di dekat ruang tengah.
“Oke. Tapi, apa tidak merepotkanmu?”
“Mas, kamu sudah menanggung biaya hidupku dan aku anggap ini caraku membalas budimu. Aku ... tidak memiliki siapapun di dunia ini selain ...” Venya menghentikan kalimatnya, sementara Arka seperti menunggu kalimat terakhir yang akan wanita itu katakan. “Ah, sudahlah. Aku ke depan dulu.”
“Oh, baik. Jangan terlalu lelah, pikirkan keponakanku dalam perutmu.”
Venya yang hendak pergi mengurungkan niat. “Keponakan?” tanyanya sambil meraba perutnya yang masih datar.
“Ya, dia keponakanku dan bisa dibilang anakku. Iya, kan?”
Venya hanya tersenyum tipis, lalu pergi dari sana, sementara Arka menutup pintu untuk berganti pakaian. Setelah rapi Arka menuju ke meja makan dan sarapan. Sedangkan Venya sudah sibuk mengatur ulang pot pot yang ada di depan rumahnya. Selesai makan Arka menemui Venya.
“Ve, aku kerja dulu, ya.”
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”
Arka menuju ke garasi, lalu membuka pintu mobil. Detik berikutnya dia sudah duduk di belakang kemudi. Sebelum pergi ia kembali menemui Venya, lalu bertanya.
“Mau titip apa nanti siang?”
“Apa, ya?” Venya menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.
“Kamu ngidam apa?”
“Aku sih, pengennya kedondong, Mas.”
“Kedondong ya. Itu di mall ada nggak?”
“Nggak tahu.”
“Ya udah deh, nanti coba aku cari.”
“Oke.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Venya mengantar kepergian Arka sambil memegang teko siraman bunga, lalu kembali sibuk menyirami bunga-bunga yang ada di sana. Tiba-tiba ia ingat kata-kata Arka yang menyebut anaknya adalah keponakan. Venya meletakkan teko, lalu kembali meraba perutnya dengan kedua tangan dengan wajah yang menunduk untuk melihat perut itu. Setelah cukup lama, ia tersenyum, lalu masuk untuk melakukan pekerjaan rumah lainnya.
‘Ibu apa kabar, ya?’ tanya sendiri yang entah ditujukan untuk siapa, sedangkan tangannya sibuk memotong bawang merah.
Hatinya gerimis, karena rindu akan keberadaan seorang ibu. Biasanya, di luar sana, jika anak perempuannya sedang hamil, pasti orangtuanya akan sangat bahagia dan memanjakan mereka. Tiba-tiba mata Venya terasa perih, ia menangis. Di satu sisi perih karena sedang mengiris bawang, tapi di sisi lain, hatinya pun sedang gerimis, karena bersedih memikirkan nasib diri. Sesekali gadis itu mengusap mata dan pipinya yang basah dengan lengan. Saat sedang asik dengan kegiatan dan perasaannya sendiri terdengar bel rumah berbunyi. Venya mencuci tangan dan menuju ke depan. Pintu terbuka dan alangkah terkejutnya Venya melihat siapa yang datang.
“Hai, Mbak. Mas Arka, ada?”
Beni, adik iparnya datang mencari keberadaan saudaranya. d**a wanita itu mulai bergemuruh melihat pria di depannya. Kebencian terlihat jelas berkilauan di matanya.
"Mas Arka nggak ada!" katanya galak, lalu hendak menutup pintunya, tapi Beni menahannya. Ia balas menatap mata Venya dengan tajam. "Salah aku apa, sih? Kenapa mbak seperti sangat membenciku?"