Pindah Rumah

1132 Words
"Apa? Pindah ke kontrakan? Arka, kamu apa-apaan sih? Sengaja mau buat Mami malu?" Amarah mami memuncak saat Mas Arka mengutarakan niat. Apa kata dunia kalau salah satu anaknya tinggal di kontrakan. Nama baiknya akan tercoreng sebagai orang yang terpandang. Papi sedang tidak ada di rumah, sedangkan Beni pergi kuliah. Saat Mami akan keluar, Mas Arka memanggilnya. "Mi, untuk sementara aja, toh nanti setelah rumah Arka jadi, kami akan pindah ke sana." "Nggak bisa sabar nunggu? Oh atau karena wanita ini kamu jadi seperti itu?" Aku hanya duduk menunduk mendengarkan. Hanya saja tiba-tiba, perutku rasanya tidak enak. Aku merasakan mual yang hebat dan langsung berlari ke kamar mandi belakang.... "Huek! Huek!" Aku memuntahkan semua isi perut. Melihat itu Mas Arka langsung menyusulku. Ia berkali-kali mengetuk, lalu menanyakan keadaanku. Keluar dari sana Mami menatap tajam padaku. "Apa maksudnya ini? Jadi wanita ini hamil?" "Mungkin dia hanya masuk angin, Mi." Mami mendekat, memegang tanganku erat. "Ngaku kamu! Kamu hamil sebelum sah menjadi istrinya Arka, kan? Jawab!" "Mami, sakit, Mi ... " Aku mengeluh karena Mami sangat erat mencengkram pergelangan tanganku. Tapi Mami terus memaksaku untuk jujur, hingga akhirnya aku mengangguk. "Sudah Mami duga, mengapa kamu ngotot mau menikahi wanita ini. Jadi kalian sudah tidur bersama duluan, hah?! Hey! Kamu memang gadis murahan, ya! Kamu sengaja jebak anak saya supaya dinikahi sama Arka? Iya, sengaja?" Mas Arka mencoba melepas pegangan Mami, setelah berhasil ia berkata. "Terserah Mami mau berkata apa. Yang jelas aku sudah pamit dan bicara baik-baik, Mi. Aku sudah dewasa, aku bisa menentukan kehidupanku sendiri. Mami sadar ngga sih, sikap mami dan papi seperti menganggap aku dan Beni boneka. Kami tidak boleh menentukan kehidupan kami sendiri, tidak boleh mengemukakan pendapat dan semuanya kalian atur seolah kalian yang berhak atas kami. Ya, kalian orangtua kami, tapi tidak berarti kalian berhak menentukan bagaimana hidup kami! Arka pergi Mi. Jaga diri Mami baik-baik." Mas Arka menuntunku berjalan. Ia membawa aku pergi dari hadapan mami. "Durhaka kamu Arka. Ingat! Kalau kamu melangkah keluar dari rumah ini, Mami anggap kamu MAT*!" Mas Arka tidak perduli, dengan penuh keyakinan ia menjauh dari Mami. Membantuku membereskan pakaian, lalu keluar dari sana. Mami membuang muka saat kami melintas keluar dari rumah. "Tidak usah bawa mobil Mami! Awas, ya!" Mas Arka berhenti. Ia menoleh, lalu mendekati Mami. Diambilnya tangan Mami, lalu menyerahkan kunci mobil. Bukan hanya kunci mobil, lelaki itu bahkan mengeluarkan dompet dan menyerahkan semua kartu pada ibunya. "Itu semua milik Mami. Arka kembalikan. Terimakasih untuk semua fasilitas yang mami berikan padaku selama ini. Arka, pamit." Mas Arka mengulurkan tangan. Mami menatap tajam pada anaknya, lalu membuang pandangan dengan wajah memerah. "Cepat pergi dari sini, pergi!" Mas Arka menarik kembali tangannya, dan berbalik, lalu melangkah pergi. Sampai di hadapanku ia berhenti. "Mas, yakin dengan keputusan ini?" "Yakin. Ayo kita keluar dari rumah ini." Aku mengangguk, selanjutnya berjalan beriringan keluar bersama. Karena tidak memiliki kendaraan, akhirnya Mas Arka memesan kendaraan online. "Mas, kita mau tinggal di mana?" tanyaku setelah kami sudah berada dalam taxi. "Aku sudah memesan kontrakan milik temanku. Kita akan menuju ke sana. Kebetulan kamarnya ada dua, jadi kita tidak perlu berada dalam satu kamar." "Mas, mengapa Mas lakukan ini semua?" Mas Arka tersenyum tipis, lalu menjelaskan. "Sebenarnya sudah lama aku ingin memberontak seperti ini, tapi aku terlalu takut melakukannya. Aku dan Beni itu ibarat robot, atau ... boneka. Kami berdua itu harus mengikuti semua keinginan Mami. Dari pekerjaan, hobi, teman dan jodoh sekalipun harus mengikuti pilihannya. Mami tidak segan marah kalau kami berteman dengan orang yang biasa-biasa saja. Dulu, aku pengen jadi dokter, tapi Mami memaksa supaya kami menjadi dosen, dengan seperti itu kami tetap ada di sekitaran Mami dan dia bisa memantau kami. Terimakasih sudah menjadi alasanku untuk mencoba hal ini, aku sangat ingin mencoba mandiri. Ingin mengukur kemampuanku sendiri hidup tanpa Mami." "Jadi Mas seorang dosen?" "Ya. Itupun tidak boleh di universitas lain, harus di universitas milik Papi. Kami tidak bisa hidup bebas lepas seperti anak-anak lain. Bebas dalam arti bebas mengemukakan pendapat, bebas berteman, dan bekerja sesuai keinginan kita dan lain sebagainya. Sudah lama sekali aku ingin mencoba hal ini, aku ingin hidup tanpa bayang-bayang Mami." "Memutuskan silaturahmi itu nggak baik, Mas. Apalagi dengan orangtua sendiri." "Bukan aku, tapi Mami. Aku akan mengunjunginya setiap bulan." "Alhamdulillah, syukurlah, Mas." Mobil berhenti, lalu kami keluar dari mobil. Setelah membayar langsung saja Mas Arka menuju sebuah rumah. Bangunan minimalis satu lantai dengan cat berwarna biru nampak bagus. Mas Arka langsung menelepon seseorang. Tidak berapa lama datang seorang pria membawa mobil berwarna putih berhenti di pekarangan. Ia menyerahkan kunci pada Mas Arka. Setelah pria itu pergi, Mas Arka membuka pintunya. "Masuk, yuk! Rumahnya minimalis, ada dua kamar, satu ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan satu kamar mandi." Aku masuk, lalu kepalaku berkeliling menatap isi rumah. "Itu kamarmu, kalau mau istirahat dulu. Siang ini kita makan makanan luar saja. Aku akan pesan. Kamu mau makan apa?" "Apa aja, Mas." "Oke." Setelah itu aku masuk ke kamar. Merebahkan tubuh ke pembaringan dan memejamkan mata. Tidak berapa lama pintu diketuk oleh seseorang. Aku membuka mata, dan kulihat jam di dinding. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Bergegas aku bangun dan membuka pintu. Ternyata sudah ada Mas Arka di sana. "Makan siang dulu yuk! Sebenarnya udah datang dari tadi, tapi aku memilih menunda membangunkanmu, membiarkan kamu istirahat dulu." Aku merapikan hijabku yang sedikit berantakan. "Oh iya, Mas. Nanti aku nyusul, ya!" "Oke." Mas Arka menjauh. Aku menutup pintu, lalu membasuh muka terlebih dahulu. Setelahnya baru menuju ke meja makan untuk menyusulnya. Mas Arka mempersilakan aku duduk, lalu kami makan bersama. Ada rasa bersalah berpendar dalam d**a. Mas Arka yang biasa hidup tanpa kesulitan seperti akan hidup lebih susah setelah memilih menikahiku. Katanya, dia merasa ikut bertanggung jawab atas janin yang ada di rahimku. "Gimana, masih mual?" "Nggak, Mas." "Nanti kita ke dokter spesialis kandungan, ya. Sekalian beli s**u hamil untuk kamu." "Tapi, Mas. Apa tidak lebih baik kita berhemat, karena ... " Mas Arka tersenyum. "Jangan khawatir, aku punya tabungan sendiri. Selama menjadi seorang dosen, gaji yang kuterima selalu kutabung, karena selama ini Mami rutin memberi uang jajan untuk kami." "Oh, ya sudah kalau begitu." Mas Arka mengatakan kalau memang selama ini dia ketergantungan dengan orangtuanya dan sekarang nekat untuk belajar mandiri tanpa bantuan dari mereka. "Mas, nggak kerja?" "Ijin selama 3 hari. Selama tiga hari aku bisa nemenin kamu di rumah. Besok sudah mulai kerja." Aku mengangguk mengerti. Setelah makan aku membereskan dapur. Langsung membersihkan piring dan mengelap mejanya. Setelahnya hendak menuju ke atas. "Ve!" panggil Mas Arka saat aku baru saja melangkah hendak pergi dari sana. "Mau ke mana?" "Mau ke kamar, Mas. Aku ... belum salat Zuhur soalnya." "Oh." Aku kembali melangkah. "Ve!" Kembali menghentikan langkah, lalu menoleh ke arahnya. "Iya, Mas?" "Ehhh, boleh ajarin aku salat? Aku ingin mengenal Tuhan kita lebih dekat ." Aku tertegun, lama, lalu tersenyum dan mengangguk setuju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD