"Astuti, apa itu?" tanya Ibu Kirana.
"Ini belanjaan ndara, ada sayuran, buah-buahan dan juga bumbu ndara ibu Kirana." jawab Astuti.
"Bukan itu maksudku, tapi maksudku adalah itu yang kamu bawa?"
"Oh ini.." seru Astuti.
"Iya, apa itu Astuti?"
"Astaghfirullah maaf ndara, saya lupa ini adalah foto keponakan pak Suryo."
"Cantik sekali bukan mbak Suryati?" tanya Ibu Kirana lagi.
"Iya benar diajeng Kirana, gadis yang ada di foto ini cantik sekali." jawab Ibu Suryati.
"Ibu ngomong gadis cantik. Siapakah kiranya? Aku harus mengetahuinya." kata Kinanti yang penasaran dan tidak sengaja mendengar percakapan kedua ibunya dengan abdi dalem nya.
"Tidak masalah mengenai kekurangannya yang buta huruf itu, aku menerimanya sebagai menantuku di rumah ini juga aku menerimanya sebagai istri Daffa."
"Ya pilihan mbak Suryati memang tepat. Ini adalah jodoh yang cocok untuk Daffa."
" Apa!! Mas Daffa akan di jodohkan dengan seorang wanita yang buta huruf. Gak bisa saya harus cerita pada mas Daffa. " kata Kinanti terkejut di dalam hati saat mendengarkan percakapan antara kedua ibunya dan juga abdi dalem nya.
Kediaman Pak Eko.
"Nduk.. Tah.." panggil Pak Suryo.
"Nggih pakdhe." jawab Titah.
"Oh belum tidur, pakdhe kira kamu sudah tidur nduk." kata Pak Suryo.
"Ada apa pakdhe?" tanya Titah.
"Jadi seperti ini nduk, hari sabtu ini ada yang akan datang ke rumah untuk melamarmu." jawab Pak Suryo.
"Melamar?" Titah bingung.
"Inggih nduk, melamarmu hari sabtu ini. Oh ya satu lagi besok pakdhe akan belikan sesuatu untukmu, astagfirullah." jawab Pak Suryo menjelaskannya pada Titah.
"Kenapa pakdhe?"
"Pakdhe lupa memberitahu kalau mereka akan datang ke rumah ini hari sabtu pagi."
"Oh iya pakdhe. Aku sudah paham sekarang, mereka akan datang untuk melamarku hari sabtu ini dan waktunya pagi kan pakdhe?"
"Nah iya benar, kau pintar sayang. Ya sudah sana kau tidur, selamat malam sayang." kata Pak Suryo.
"Selamat malam pakdhe." sambung Titah.
----
"Apa!! Maksud ibu si gadis buta huruf itu akan menjadi menantu di keluarga Wiraguna yang terkenal sukses dan kaya raya itu?" tanya Sarah.
"Iya sayang, makannya ibu mau kamu yang menggantikan Titah untuk berjodoh dengan penerus keluarga Wiraguna itu sayang." jawab Ibu Ratih.
"Tapi bagaimana kalau rencana itu gagal ibu?"
"Ibu akan mengatur rencana yang lainnya asalkan kau yang menikah dengan salah satu penerus dari keluarga Wiraguna."
" Apakah yang dimaksud ibu itu adalah Daffi, apakah Daffi yang akan di jodohkan oleh Daffi. Daffi adalah bagian dari keluarga Wiraguna juga. " kata Sarah di dalam hati yang sedang melamun.
"Hai.... Anak ini, Sarah.." keluh Ibu Ratih.
"Iya bu.." seru Sarah.
"Kau ini melamun saja, kau dengar tidak apa yang di katakan oleh ibu tadi hah..?" tanya Ibu Ratih.
"Iya bu, aku dengar."
"Dan ibu tenang saja aku akan menjalankan rencana ibu agar aku masuk ke dalam keluarga Wiraguna itu." kata Sarah meyakinkan ibunya.
"Nah begitu dong itu baru anak ibu." sambung Ibu Ratih.
----
"Apa yang di rencanakan oleh ibu dan anak itu ya? Jangan sampai ibu dan anak ini menghancurkan hari penting besok." kata Pak Suryo saat mendengarkan percakapan antara istri dan anaknya.
Kediaman Keluarga Wiraguna.
"Mas, mas Daffa...." panggil Kinanti.
Tok.... Tok.. Tok.... Tok..
Suara pintu kamar di ketuk oleh Kinanti Wiraguna.
"Kinanti.. Masuk lah." Daffa mempersilahkan adiknya masuk ke dalam kamarnya.
"Assalamu'alaikum mas Daffa." Kinanti memberikan salam pada Daffa.
"Wa'alaikumussalam." Daffa menjawab salam dari Kinanti.
"Mas Daffa harus tahu apa yang baru aku dengar tadi." kata Kinanti.
"Maksud?" tanya Daffa heran.
"Jadi seperti ini mas Daffa, kedua ibu kita." jawab Kinanti yang membuat Daffa penasaran.
"Kedua ibu kita, kenapa dengan kedua ibu kita Kinan?" tanya Daffa penasaran.
"Dia akan menjodohkan mu dengan seorang gadis yang buta huruf." jawab Kinanti lagi.
"Apa!!" Daffa terkejut saat mendengar jawaban dari adiknya.
"Ada apa ini Daffa, kenapa kau teriak nak?" tanya Ibu Suryati.
" Haduh ibu datang ke kamar mas Daffa. " kata Kinanti di dalam hati dengan ketakutan.
" Sepertinya adikku ini ketakutan melihat ibu dan ibu Kirana masuk ke dalam kamarku. Kau tenang saja adikku di sini ada mas Daffa. " kata Daffa di dalam hati ketika melihat adiknya ketakutan, karena kedua ibunya masuk kedalam ke kamarnya.
"Assalamu'alaikum." Ibu Kirana memberikan salam pada Daffa dan Kinanti.
"Wa'alaikumussalam bu." Daffa dan Kinanti menjawab salam dari Ibu Kirana.
"Jawab pertanyaan ibu Daffa." pinta Ibu Suryati.
"Tidak ada apa-apa bu, aku hanya terkejut saja kalau adik kesayanganku ini ternyata baru pertama kali jatuh cinta dan ibu tahu apa yang terjadi? Dia di tolak ibu. Haha...." jawab Daffa memberikan alasan pada ibunya agar ibunya tidak curiga juga demi melindungi adik kesayangannya.
"Oh ya, apakah itu benar sayang?" tanya Ibu Kirana.
"I-iya ibu Kirana, mas Daffa benar." jawab Kinanti.
" Hmmmm mas Daffa.... Aku ini kan sudah punya boyfriend kenapa malah kau bilang aku di tolak sih hmmm.. " Kinanti kelihatan marah pada Daffa.
" Hehe.. Pis.. Adikku, pis.... Aku lakukan ini untuk melindungimu adik. Hehe.... " kata Daffa di dalam hati yang sedang melindungi adiknya.
"Baguslah kau di tolak Kinan. Ibu tidak mau kau mengalami nasib yang sama seperti kakakmu ini." kata Ibu Suryati.
"Ih.... Ibu ini. Hemm.." keluh Daffa.
"Sudah, ada yang ingin ibu bicarakan padamu leh. Kinanti Wiraguna."
"Itu namaku ibu. Hehe...." kata Kinanti.
"Pergilah ke kamarmu, ibu dan ibu Kirana ingin membicarakan sesuatu yang serius pada kang mas mu." pinta Ibu Suryati.
"Baiklah bu." kata Kinanti patuh.
"Assalamu'alaikum." Kinanti memberikan salam pada kedua ibunya dan Daffa.
"Wa'alaikumussalam." kedua ibunya dan Daffa menjawab salam dari Kinanti.
"Daffa.."
"Iya bu, ada apa?" tanya Daffa.
"Ibu ingin menunjukkan sesuatu padamu." jawab Ibu Suryati.
"Menunjukkan apa bu?" tanya Daffa penasaran.
"Ini untukmu." Ibu Suryati memberikan foto Titah pada Daffa.
"Dia siapa bu?"
"Jodohmu."
"Bagaimana cantik kan Daffa?" tanya Ibu Kirana.
"Iya ibu cantik." jawab Daffa.
"Namanya adalah Titah." kata Ibu Suryati.
"Besok hari sabtu pagi kita akan ke rumahnya." sambung Ibu Kirana.
"Dan kau harus bersiap dari sekarang, karena besok adalah hari pertama kau bertemu dengannya mengerti itu Daffa?"
"Tapi bu, aku tidak bisa menerimanya."
"Kenapa? Kalau belum bisa menerimanya tidak masalah. Witing tresno jalaran soko kulino."
"Bukan begitu bu, tapi dia.." kata Daffa yang di potong perkataannya oleh Ibu Suryati.
"Tidak ada tapi-tapian Daffa. Sudah kita bahas besok lagi dan ibu akan masuk ke kamar untuk istirahat." Ibu Suryati menolak alasan yang akan di berikan oleh Daffa.
"Assalamu'alaikum." kedua ibunya memberikan salam pada Daffa.
"Wa'alaikumussalam bu." Daffa menjawab salam dari kedua ibunya.
Keesokan Harinya..
Kediaman Pak Eko.
"Budhe, pakdhe, Sarah sarapannya sudah siap." kata Titah.
"Iya...." kata Pak Suryo, Ibu Ratih dan Sarah.
"Loh Titah, kamu juga ikut sarapan pagi bersama dengan kami. Sini nduk." kata Pak Suryo.
"Tidak pakdhe, Titah masih banyak pekerjaan." Titah menolak permintaan Pak Suryo dengan halus.
"Sudah biarkan budhe mu saja yang melanjutkannya, sekarang kau kemarilah setelah sarapan pagi kau ganti baju dan siap-siap untuk ikut pakdhe." kata Pak Suryo.
"Baik pakdhe." kata Titah patuh.
"Hai kenapa aku kang mas?" tanya Ibu Ratih.
"Karena kau adalah ibu rumah tangga di rumah ini. Sudah ayo Titah sarapan." jawab Pak Suryo.
"Inggih pakdhe."
"Hmm...." keluh Ibu Ratih.
"Titah.." panggil Pak Suryo.
"Iya pakdhe." jawab Titah.
"Sudah atau belum?" tanya Pak Suryo.
"Sudah pakdhe." jawab Titah lagi.
Keluarga Wiraguna pun akhirnya sampai di rumah pak Eko (almarhum ayah Titah).
"Assalamu'alaikum.." pak Aditya memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam.." pak Suryo menjawab salam dari pak Aditya.
"Silahkan duduk.." pak Suryo mempersilahkan keluarga Wiraguna duduk.
"Baik langsung saja kedatangan kami kemari untuk melamar keponakan pak Suryo." kata ibu Suryati.
"Oh nggih bu, tunggu sebentar biar saya panggilkan keponakan saya dulu." sambung pak Suryo.
"Bagaimana ini Sarah, kita harus menyembunyikan Titah. Agar yang menikah itu kamu?" tanya ibu Ratih.
"Tunggu sebentar ibu, aku sedang berpikir." jawab Sarah.
"Cepat, keburu ayahmu datang dan membawa pergi Titah untuk menemui keluarga Wiraguna." pinta ibu Ratih.
"Titah, nduk.." panggil pak Suryo.
"Tuh kan kau dengar itu, itu suara ayahmu Sarah...." kata bu Ratih.
"Aha..!!" teriak Sarah.
"Ah..!! Kenapa kau berteriak Sarah, kau ini ya membuat ku kaget saja. Untungnya jantungku tidak copot.." protes ibu Ratih.
"Ngapura bu, nanging kula kagungan ide." kata Sarah. Menggunakan bahasa jawa krama inggil.
"Oh nggih sampun punapa ide panjenengan?" tanya ibu Ratih.
"Kados pundi kita kunci kan saja Titah di jedhing bu?" tanya Sarah.
"Oke, kita lakukan sekarang saja sebelum bapakmu sampai.." jawab ibu Ratih.
"Titah.." panggil Sarah.
"Iya Sarah, ada apa Sarah?" tanya Titah.
"Cincin ku ketinggalan di kamar mandi bisakah kau mengambilkannya untukku tidak?" tanya Sarah juga.
"Tapi Sarah, pakdhe memanggilku." kata Titah.
"Kau ini ya, Sarah ini hanya meminta tolong padamu sebentar saja. Setelah itu baru kau boleh menemui pakdhe mu itu." sambung ibu Ratih.
"Baiklah budhe." kata Titah lagi.
"Sekarang.." ibu Ratih memberikan kode pada Sarah.