Sarah mendorong Titah, lalu kemudian mengunci pintu kamar mandi dan meninggalkannya sendiri agar tidak ada yang curiga.
Sampai pada akhirnya Titah di temukan oleh ibu Suryati sendiri ketika itu ibu Suryati ingin ke kamar mandi dan mendengar suara Titah di dalam kamar mandi.
Pak Suryo sekaligus paman Titah sangat marah pada anaknya dan istrinya karena hampir saja gagal acara lamaran Titah sang keponakan dengan anak dari keluarga terpandang (keluarga Wiraguna).
Lalu kemudian ibu Ratih menyusun rencana yang lainnya agar anaknya Sarah bisa menjadi menantu di keluarga Wiraguna juga sama seperti Titah.
Ibu Ratih melihat anaknya Sarah menyukai pemuda bernama Daffi.
Daffi adalah anak kedua dari Ibu Kirana Wiraguna dan Bapak Aditya Wiraguna.
Dan ya ibu Ratih akan menikahkan keduanya setelah ijab kabul Titah dan Daffa.
"Titah.." panggil pak Suryo.
"Kemana lagi itu anak ya kok di panggil dari tadi tidak ada ya, biar aku cek saja ke kamarnya." kata Pak Suryo di dalam hati.
"Maaf semuanya sepertinya Titah malu makannya Titah tidak mau keluar kamarnya. Jadi aku akan ke kamarnya sebentar." kata pak Suryo.
"Baik pak Suryo.." kata pak Aditya.
"Tunggu sebentar, pak Suryo.." sambung ibu Suryati.
"Iya ibu ada yang bisa saya bantu." kata pak Suryo.
"Tunjukan saya dimana kamar mandinya." sambung ibu Suryati.
"Silahkan bu Suryati, saya akan mengantarkan anda terlebih dahulu sebelum memanggil Titah ke kamarnya.
"Baiklah, Diajeng.." panggil Ibu Suryati.
"Nggih mbakyu?" tanya ibu Kirana.
"Kau temani aku ya." pinta ibu Suryati.
"Oh inggih mbakyu." kata ibu Kirana patuh.
"Tolong.... Tolong aku, siapapun yang ada di luar tolong aku. Aku terkunci di dalam, tolong.... Tolong hambamu ini ya allah, semoga ada yang menolongku. Bismillahirrahmanirrahim." Titah berdoa.
"Kok di kunci kamar mandinya." kata ibu Suryati di dalam hati.
"Tunggu sebentar pak Suryo." Ibu Suryati menghentikan langkah pak Suryo.
"Iya ibu Suryati, ada apa?" tanya pak Suryo.
"Mengapa pintu kamar mandinya terkunci, apakah ada seseorang di dalam kamar mandi ini?" tanya ibu Kirana juga.
"Tidak Ibu Kirana, tapi tunggu sebentar biar saya bukakan pintunya ya." jawab pak Suryo.
"Titah...." Pak Suryo terkejut ketika mendapatkan Titah yang pingsan di kamar mandi.
"Titah, keponakan pak Suryo maksudnya. Seorang perempuan cantik yang akan di jodohkan oleh Daffa?" tanya Ibu Kirana memastikan.
"Iya Ibu Kirana, dia adalah Titah. Keponakan saya." jawab Pak Suryo.
"Ya sudah kalau begitu kita bantu pak Suryo dulu diajeng, pak Suryo kita bawa ke kamarnya saja ya." pinta Ibu Suryati.
"Iya mbakyu." kata Ibu Kirana patuh.
"Baik bu, mari." Pak Suryo mengendong Titah ke kamarnya.
~~
"Ini pasti perbuatan anak dan ibu itu, Ratih.. Sarah.." kata Pak Suryo di dalam hati dengan kesal.
"Keponakanmu sangat cantik Pak Suryo, baik saya setuju jika anakku dan keponakanmu menikah, dan aku putuskan saja pernikahannya 3 hari lagi."
Tiga Hari Kemudian..
Hari ini adalah hari bahagia untuk Titah yaitu hari pernikahannya meskipun calon suaminya Daffa belum menerimanya dan juga belum bisa mencintainya. Titah yakin dengan ketulusan hatinya suatu saat nanti Daffa bisa mencintainya juga menerimanya sebagai istrinya.
"Haduh cantiknya keponakan budhe.." Ibu Ratih mencari muka dengan cara memuji Titah di depan pengrias pengantin yang baru saja selesai mengrias Titah.
"Budhe, Sarah kemana?" tanya Titah.
"Iya ya kemana anak itu, tapi sudahlah lupakan saja dia lagi pula dia tidak pentingkan sekarang ini. Kamu yang lebih penting sekarang Titah, karena kamu yang mempunyai acara ini bukan Sarah, sepupumu itu. Ya sudah kamu di sini saja dulu ya budhe mau ke depan dulu nanti setelah saksi menjawab sah budhe akan membawamu keluar dari kamar ini untuk mempertemukan kamu dengan suamimu." jawab Ibu Ratih.
"Oh baik budhe...." kata Titah polos.
Ijab qobul pun berjalan lancar Titah sudah sah menjadi istri Daffa. Sementara itu Daffi dan Sarah berada di satu kamar, kamar Sarah tanpa pakaian yang lengkap.
Ibu Ratih berpura-pura berteriak ketika mencari keberadaan Sarah di kamarnya, ya ini adalah rencana lain dari Ibu Sarah.
"Sarah.... Aaaa.." Ibu Ratih berteriak.
"Kenapa, ada apa kau berteriak seperti itu?" tanya Pak Suryo.
"Lihat itu kang mas, lihat putri kita.." jawab Ibu Ratih yang pura-pura syok melihat anaknya satu kamar dengan laki-laki yang bukan suaminya.
Daffi dan Sarah pun akhirnya tersadar kepalanya sangat pusing, sepertinya ibunya memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
"Hemm.. Au.. Kepalaku...." keluh Daffi dan Sarah bersamaan.
Membuat keluarga besar Wiraguna syok dan malu karena perbuatan Daffi pada Sarah. Padahal Daffi dan Sarah tidak melakukan apapun hanya di berikan obat tidur saja oleh bu Ratih.
Dan Akhirnya Bapak Aditya Wiraguna mengambil keputusan agar tidak mencoreng nama baiknya maka Daffi dan Sarah akan di nikahkan di hari pernikahan Titah dan Daffa juga.
"Kamu ini membuat malu saja Daffi.." bentak pak Aditya.
"Tapi mo.." kata Daffi yang ingin menjelaskannya pada pak Aditya.
"Bagaimana ini pak, anakku.." Ibu Ratih pura-pura bersedih.
"Kang mas Aditya.." panggil ibu Kirana.
"Nggih diajeng?" tanya pak Aditya.
"Saya juga kecewa pada Daffi, anak yang selama itu ku banggakan ternyata malah berbuat memalukan seperti ini. Ingat le hari ini adalah hari bahagia kakakmu Daffa." jawab ibu Kirana.
"Ibu ini.." Daffi ingin menjelaskan kembali tetapi di potong oleh ibu Kirana.
"Sudah cukup, ibu dan Romo tidak ingin mendengarkan satu kata apapun lagi Daffi. Ini keputusannya kau berani berbuat maka kau harus bertanggung jawab, kau harus menikahi Sarah." Ibu Kirana kecewa atas perbuatan anaknya Daffi.
"Yes, akhirnya rencanaku berhasil." kata Ibu Ratih kesenangan di dalam hati.
"Baik diajeng, saya setuju dengan keputusan ini. Kalian hari ini menikah di sini." kata pak Aditya yang pergi meninggalkan kamar Sarah dengan rasa kecewa.
Sarah dan Titah sama-sama menjadi menantu keluarga Wiraguna, Sarah dan Titah sekarang di bawa ke kediaman keluarga besar Wiraguna.
Sesampainya di kediaman keluarga besar Wiraguna, kedua menantu dari keluarga besar Wiraguna masuk ke kamar untuk istirahat.
Kamar Daffa dan Titah..
"Tunggu sebentar.." kata Daffa menghentikan langkah Titah.
"Iya mas Daffa ada apa?" tanya Titah menghentikan langkahnya.
Kemudian Daffa berjalan menuju pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya, lalu Daffa membuka lemari untuk mengambil selimut. Ia juga menuju ke tempat tidurnya, untuk mengambil bantal dan guling. Kemudian ia berikan pada Titah.
"Ini untukmu..!!" Daffa memberikan selimut, bantal dan guling pada Titah.
"Ini kan Selimut, bantal dan guling mas Daffa. Untuk apa ini semua mas Daffa?" tanya Titah polos.
"Untuk kau tidur di bawah.." jawab Daffa tanpa melihat wajah Titah.
"Kenapa saya tidur di bawah mas Daffa?" tanya Titah lagi.
"Saya tidak mau tidur bareng kau, ini kamarku dan kau tidur di bawah. Aku menikahimu karena terpaksa, dan aku juga tidak ingin mengecewakan ibuku. Jadi kau tidur di bawah ku harap kau mengerti itu." jawab Daffa.
"Baik Daffa, aku akan tidur di bawah.." kata Titah.
Titah tidur di ubin dengan beralaskan karpet sendirian sedangkan Daffa tidur di kasurnya, berbeda dengan Sarah sepupunya. Sarah tidur bersama Daffi suami di kasur yang empuk.
Keesokan paginya..
Titah yang baru saja selesai membuatkan sarapan untuk keluarga suaminya membuat Ibu Suryati, ibu mertuanya bangga mempunyai menantunya.
Sedangkan Sarah masih tertidur sampai pada akhirnya Daffi sendiri yang membangunkannya untuk sarapan bersama sebelum dirinya berangkat bekerja.
Di Kamar Daffi dan Sarah..
"Sarah.. Bangun Sarah.." Daffi membangunkan Sarah.
"Em iya Daffi.. Jam berapa sekarang? Ya allah sudah jam tujuh pagi, aku kesiangan." kata Sarah yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ya memang, sudah sana cepat mandi. Aku tunggu kau di kamar ini sampai kau selesai mandi dan kita akan turun ke bawah untuk sarapan bersama sebelum aku pergi bekerja." sambung Daffi.
"Oke baiklah Daffi.." kata Sarah patuh.
Di Ruang Tengah..
"Emm.. Wanginya harum sekali sepertinya Astuti membuat makanan yang lezat deh hari ini. Ke dapur saja deh.."
Di Dapur..
"Astuti.. Loh kau sedang apa menantuku di sini?" tanya ibu Suryati.
"Sedang menyiapkan sarapan ibu mertua." jawab Titah.
"Kau yang mempersiapkan nya sendiri?" tanya ibu Suryati lagi.
“Tidak ibu, tadi Astuti juga membantuku sebentar lalu sisanya aku yang mengerjakannya. Ini sarapannya akan saya taruh di meja makan." jawab Titah.
"Tunggu nduk, Sarah kemana? Kenapa dia tidak membantumu, apakah dia belum bangun tidur?" tanya Ibu Suryati.
"Ada apa ini mbakyu?" tanya Ibu Kirana.
"Kau bantu Titah menantuku ya diajeng, aku ingin ke kamar sebentar." jawab ibu Suryati.
"Iya mbakyu." kata ibu Kirana patuh.
Di depan kamar Daffi dan Sarah..
"Ibu Suryati.." sapa Daffi.
Daffi dan Sarah terkejut mendapati Ibu Suryati sudah ada di depan kamar mereka.
"Sarapannya sudah siap dan kau Sarah...." kata Ibu Suryati.
"Iya bu.." sambung Sarah dan Daffi bersamaan.