Felisia keluar dari kamar Garin, di lihatnya Garin sudah tertidur pulas. Entah sudah berapa sering Felisia mengunjungi apartmen Garin yang biasa di jadikan tempat ngumpul anak-anak. Tapi sampai sekarang Felisia belum tau rumah Garin dan satupun keluarganya. Kata orang, keluarga Garin lumayan terkenal. Tapi serius deh, Felisia emang gak tau. "Pindah sana." Felisia berdiri di samping sofa Garin, mengguncang pelan bahunya. " Ah.. " Garin memiringkan tubuhnya, menghindari Felisia. Felisia mendesah. Garin udah pules banget tidurnya. Kalo udah gini susah di bangunin. Tak peduli lagi tangan Garin yang masih lecet-lecet, tubuhnya yang masih kretek-kretek, Felisia menarik tangan Garin untuk di dudukan. "Aw! Bego! t***l! Pea! Tangan gue sakit!" Garin terlonjak dan bangun dari rebahannya, menari

