Lima

2661 Words
Garin mengamati Hera yang mengerjakan tugasnya, dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Hera, dan kepalanya yang berada di pundak Hera. Sementara Hera mengerjakan tugas Garin, dengan posisinya yang seperti itu Garin menghirup aroma tubuh Hera, bahkan wangi shampo Hera juga tercium. Mata Garin terpejam disana, tanpa benar-benar tertidur. “Gar,” panggil Hera pelan. “Hm.” Saut Garin. “Dia sekarang sekolah di Fenerald.” Garin mendengus, mengerti siapa ‘dia’ yang dimaksud Hera. “Bagus dong, jadi gue gak perlu punya alesan buat ngehajar tuh orang.” Fenerald adalah nama sekolah yang sepuluh orang siswanya pernah bonyok karena ulah Garin. Sejak kejadian itu, SMA Fenerald tidak terima dan berkali-kali melakukan penyerangan balik ke sekolah Garin. Para siswa – khususnya teman-teman Garin – yang sebelumnya tidak pernah terlibat tawuran, mendadak menjadi personel tetap tawuran sejak penyerangan pertama itu. “Jangan,” su ara Hera kini penuh permohonan, dan Garin benci mendengarnya. “Lo tau kalo Kenzi itu geger otak, dan kalo dia kena benturan lagi di kepal -“ “Her, stop it !” Garin memotong ucapan Hera. Dia tidak mau tau apa yang terjadi dengan si Kenzi Kenzi itu, jika kecelakaan beberapa tahun silam membuat kepalanya geger otak, mungkin jika terlibat tawuran dengan Garin, ia akan memukuli kepala sialan itu sampai mati, lalu Hera menjadi miliknya seutuhnya -atau membencinya sampai mati. Sudah pasti opsi kedua lebih masuk akal. “Gar, please .” Hera menggenggam tangan Garin, meremasnya, kin ia memposisikan diri untuk duduk berhadapan dengan Garin. “Tuh b******n juga gak peduli sama lo, Her, ngapain sih lo -“ “b******n itu pacar gue, Gar. Lo juga harus bisa nerima itu.” “b******k!” Garin mengumpat kesal. Sudah jelas argumennya pasti kalah. Yeah, b******n itu pacar Hera, dan Garin bukan siapa-siapa. Garin menarik tang annya yang masih digenggam Her a, lalu ia berdiri, dan menendang kaki meja Hera dengan kesal, dan segera pergi dari sana dengan wajah mengeras. Felisia yang tidak mampu mendengar percakapan antara Hera dan Garin terkejut saat melihat Garin pergi dengan wajah kesal. Ia pun segera mengemasi buku fisikanya dan bergegas mengejar Garin. “Kak gue cabut yaa, Garin udah pergi tuh soalnya.” Pamitnya pada Dicky, kemudian berlari mengikuti Garin, as always . *** Berlokasi tidak jauh dari gerbang SMA Andhara, ada sebuah warung kopi yang digemari gerombolan anak kelas dua belas untuk nongkrong setelah pulang sekolah. Warung yang juga menyediakan gorengan, mie rebus, roti dan pisang bakar dengan harga yang terjangkau oleh pelajar membuat teman-teman Garin senang berkumpul disana. Felisia yang pulang sekolah bersama Garin, tentu saja turut serta ada disana. Ia bukan cewek satu-satunya yang ada disana, ada beberapa cewek kelas dua belas yang juga ikut berkumpul disana. “Fel, Fel, mau pisang bakar, gak? Gue yang beliin deh.” Rangga yang sedang memesan pisang bakar menawari Felisia. Kontan mata Felisia pun berbinar menanggapi tawaran Rangga. “Wih, mau doong di beliin mah. Lo abis menang togel yaa, Kak?” Rangga menoyor kepala Felisia pelan. “Monyet lo ya, gak bisa berprasangka lebih baik, apa?” Felisia nyengir melihat ekspresi Rangga. Tak lama pisang bakar pesanan Rangga pun sudah matang, dan ia memberikan piring berbentuk daun pada Felisia. Felisia menerimanya dengan penuh semangat. “Hati-hati ada peletnya, Fel. Sebenernya si Rangga naksir tuh samalo , cuma gak enak aja ama Garin.” Ledek Dimas. “Nih ambil, Ngga, ikhlas guemah. Kalo perlu gue kasih cashback.” “Tai lo! Emang pake Ovo dapet cashback .” “Hush, Felis, itu kenapa ngomongnya kasar? Siapa yang ngajarin?” Dicky memelototi Felisia dengan tampang seorang Ayah memarahi anaknya. “Elo pada, Kak. Makanya, kalo ngomong di depan anak dibawah umur tuh harus hati-hati, guekan lagi masa pertumbuhan, jadi kalo denger sesuatu cepet banget nangkepnya.” “Bodoamat, Fel.” Garin tersenyum geli melihat Dicky yang merasa kesal dengan jawaban Felisia. Apalagi Garin yang dibuntuti Felisia kemana-mana. Harusnya Garin diberi penghargaan karena mampu menghadapi Felisia nyaris setiap waktu. “Woy! Anak Fenerald nyerang, udah di depan jalan!” seorang cowok berlarian samb i l berteriak menghampiri warung kopi tempat Garin dan teman-temannya berkumpul. Dan seketika suasana santai berubah riuh, anak kelas dua belas yang semula duduk menikmati makanan dan kopinya berhamburan ke jalan, beberapa dari mereka mengevakuasi cewek yang berada disana. “Garin, gue gimana?” Bukannya kabur, Felisia justru mencengkram erat bawah seragam Garin, menahan Garin yang hendak bergabung dengan teman-temannya. “Ah, sial. Lo kenapa gak ikut sama yang laen sih tadi?” “Yaa mana gue tau, gak ada yang ngajak gue.” Jelas aja, teman-teman Garin menganggap Felisia merupakan tanggung jawab Garin . Garin tidak punya pilihan, daripada menyerang, Garin akhirnya berlari sambil menarik tangan Felisia, berusaha menjauh dari tempat tawuran. Felisia sempat kewalahan mengikuti langkah Garin, membuatnya harus berhenti sejenak. “Gar, lo balik kesana ajadeh . Gue lari sendiri, nanti nyari tempat ngumpet.” Felisia melepaskan tangannya dari Garin, lalu mengisaratkan Garin agar pergi. Garin menatap Felisia ragu, “Gue anter sampe ujung san -“ ucapan Garin terpotong, dengan gerakan cepat ia kembali menarik Felisia. Tidak ada jalan, maju ke depan atau mundur ke belakang sama-sama di kepung oleh siswa SMA Fenerald, akhirnya Garin menepi pada gang sempit yang sialnya malah jalan buntu. Gang kecil ini tidak terlalu mencolok, tapi tetap saja bukan pilihan yang aman untuk bersembunyi disini, karena dari depan jalan jika diperhatikan tentu saja keberadaan Garin akan terlihat. “Gar anak Fenerald ada di depan.” Bisik Felisia, tangannya gemetar, pertanda ia juga takut. Garin memastikan dengan melihat ke arah depan gang, dan benar saja terlihat anak Fenerald yang sedang kebingungan mencari siapapun siswa SMA Andhara. “Fel, apapun yang akan gue lakuin lo ikutin aja dan percaya sama gue. Jangan teriak.” Belum sempat Felisia mencerna ucapan Garin, tangannya sudah kembali di tarik, namun gerakan kali ini bukan untuk berlari. Mata Felisia melotot menyadari apa yang akan di lakukan Garin. Garin menarik tubuhnya mendekat, lalu mendorongnya pada dinding ujung gang buntu, di dekatkannya wajah Garin ke wajah Felisia, hingga jarak bibir Garin berada kurang dari 2 cm dari bibir Felisia, Garin tidak bergera k, ia berhenti disana. Felisia yang masih terkejut, namun tidak mampu berteriak, kini mencengkram erat seragam bagian belakang Garin, nyaris seperti berpelukan. Tidak ada yang memejamkan mata, sementara Garin waspada terhadap serangan di belakangnya, Felisia justru sibuk mengontrol detak jantungnya yang tidak karuan. Garin b******k. Felisia tau ini hanya upaya melindungi diri dari musuh, tapi jarak 2 cm antara dirinya dan Garin jelas saja mengganggu. Jadi, Felisia ingin menghabiskan jarak itu? Ah! Jelas aja enggak. Hanya saja.. Pikiran aneh Felisia terpotong ketika Garin mengangkat sebelah tangan Felisia yang menggantung bebas untuk menutup jarak antara bibir Garin dengan Felisia. Gerakan itu lagi-lagi membuat Felisia shock. Kini Garin seolah menggerakan wajahnya, mungkin jika dari ujung gang akan terlihat sepasang kekasih yang menikmati ciuman. “Woy, itu ada orang!” Terdengar suara dari belakang Garin, namun Garin berusaha untuk tidak terpancing dan tetap memainkan perannya dengan Felisia. “Ah sial, orang pacaran lagi cipokan .” Langkah kaki yang semula mendekat kini terdengar menjauh setelah mendekati Garin yang sama sekali tidak terganggu – dan justru siapapun yang menghampirinya jelas akan terganggu dengan aktivitas Garin , karena Garin yang menggunakan sweater sehingga dari belakang tidak di kenali seragamnya. Merasa sudah aman, akhirnya Garin melepaskan diri. Hal itu membuat Felisia mengatur nafasnya efek dibekap tangannya sendiri oleh Garin. “Lo gak papa, kan?” tanya Garin memastikan, melihat wajah Felisia yang tampak pucat. “Hah? Enggak kok.” Garin berdecak, terekekeh pelan. “Udah gue duga, pasti lo belom pernah kissing. Makanya gue menyelamatkan first kiss lo. Gue gak mau abis ini lo ngoceh panjang lebar bikin gue sakit kepala gara-gara perkara first kiss lo sama gue.” Garin yang sudah hafal kelakuan Felisia menjelaskan tentang perlakuannya tadi. “Yuk, keluar. Kayaknya udah aman.” Garin berjalan di depan Felisia, tidak lagi menarik tangannya. Berjalan di belakang Garin, Felisia mengumpat kesal, karena sialnya ucapan Garin emang bener banget. “Ternyata elo yang tadi mesum.” Suara itu menyambut Garin dan Felisia ketika keluar dari gang buntu tadi. Dilihatnya kompolotan siswa SMA Fenerald sudah berada di kanan kiri, memblokir jalannya kemanapun. “Ah, sial.” Garin mengumpat kesal, bukannya takut, yang Garin pusingkan itu posisi Felisia yang ada bersamanya. Garin tidak tau seberapa b******k anak Fenerald, apakah mereka akan tega melibatkan cewek. “Bentar!” teriak Garin, saat menyadari Felisia yang kini sudah berdiri di belakangnya, meremas sebelah tangan Garin. Dirasakannya tangan Felisia kini berkeringat dingin, pertanda cewek itu memang ketakutan. “Biarin nih cewek pergi, kalo dia udah aman, gue ladenin lo semua.” “Yaelah, bucin juga lo.” “Maksud gue lo semua jangan sampe jadi pengecut dan ngelibatin cewek, b******k!” “Yaudah, suruh kabur lah cewek lo. Jangan pegangan mulu kalo gamau kena hajar.” Roki, yang dikenal sebagai orang yang paling tidak terima saat babak belur karena ulah Garin, menjawab dengan kesal. “Cepet pergi, Fel.” Felisia menatap Garin ragu. “Felisia ! ” Mendengar Garin memanggil namanya tanpa penggalan, Felisia tau Garin tidak mau di bantah kali ini. Ia pun melepaskan Garin. “Gue tunggu disana, jangan bonyok, nanti gue pulang sama siapa ? ” “Uhh, gemes jijik banget ya kalian.” Sebuah suara menimpali, sudah gemas ingin menghajar Garin karena Felisia yang tak kunjung beranjak. Akhirnya Felisia dibiarkan berlari menjauh, meski sesekali menoleh ke belakang dan melihat Garin sudah sibuk adu jotos dengan empat orangyang tadi mengepungnya. Beberapa kali Garin berhasil menghindari tangan-tangan yang ingin menggapai wajah atau perutnya, Garin tau anak SMA Fenerald memang sepengecut ini, membawa pasukan sebanyak mungkin, padahal mereka tau SMA Andhara tidak memiliki banyak pasukan yang terlibat tawuran b******k ini. “Kenzi, woy! Disini!” seseorang berteriak, memanggil nama yangmembuat Garin lengah, hingga sebuah pukulan sukses mengenai pipinya. Garin dapat merasakan bertambahnya orang yang melawannya, dan tambahan itu adalah Kenzi, pacar Hera. Itulah kali pertama Garin melihat sosok pacar yang begitu di dewai Hera. Garin ingin menghajarnya habis-habisan, atas perlakuan cowok b******k ini pada Hera, meski Hera tetap bertahan padanya. Namun gerakan Garin tertahan ketika suara Hera terngiang di kepalanya. Tentang Kenzi yang geger otak, dan Garin diminta untuk tidak melawannya. Garin tidak fokus. Dia kelabakan. Tapi di detik berikutnya saat ia ingin melawan, lagi-lagi bayangan Hera muncul. Sampai ia memutuskan untuk diam sejenak. Membiarkan Kenzi , Roki, dan yang lain terus menghantamnya tanpa ampun dengan kaki dan tangan kirinya. Perut Garin yang menjadi sasaran utamanya sudah terasa perih, terlebih Garin sempat mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Sesekali Garin mencoba melawan, hanya dengan gerakan ringan yang bisa dihalau oleh Kenzi. Wajah Garin kini ikut kena hantam entah oleh siapa yang sialnya kuat. Membuat perubahan warna pada kulit Garin. Garin kalah telak, dengan patah di tulang hiudung, bonyok di bagian rahang, darah yang terus mengucur dari sudut bibirnya, bahkan pelipis yang serasa mau pecah karena ikut kena hantam, sampai siku tangannya juga berdarah karena bergesekan dengan jalanan beraspal saat Kenzi menendangnya sampai terjatuh. “Oke, stop.” Ucapan Roki menghentikan seluruh aktifitas yang menghajar Garin. “Lagi cemen dia gara-gara pacarannya diganggu. Yuk cabut.” Felisia yang tidak benar-benar kabur dan hanya mengumpat, karena takut terjadi sesuatu pada Garin, segera menghambur menghampiri Garin. Ia tidak tega melihat keadaan Garin, tapi juga greget dengan perlawanan Garin. “Kok lo payah si? Masa tiba-tiba linglung gitu, kayak orang ngalah.” Kalimat pertama yang Felisia utarakan bukan menanyakan keadaan Garin. Ia malah mencela Garin. Garin berdesis pelan, ekor matanya masih menangkap Kenzi yang berjalan paling belakang. " Dia.. cowoknya..Hera." dengan susah payah Garin berbicara, membuat bibirnya semakin perih. Kenzi yang berjalan paling belakangterkejut saat telinganya dengan samar mendengar ucapan Garin. Hera. Cewek yang selalu mengatakan menjadi pacarnya. Lantas apa hubungannya dengan Garin tadi? Apa maksud Garin mengatakan Kenzi pacar Hera? Felisia meninju bahu Garin sebal, "dasar bego! Jadi lo ngalah cuma gara-gara dia pacarnya si Hera Hera itu!" Felisia berteriak nyaring, tidak habis pikir dengan pola pikir Garin. Ia membiarkan dirinya yang hancur demi cewek itu. Garin benar-benar gila. Dan saat itu, Kenzi yang sempat menghentikan langkahnya , mendengar teriakan Felisia yang cukup nyaring. Kenzi terkejut, jadi, Garin sebonyok itu karena mengalah? Bukan karena Kenzi yang hebat? Karena Hera? Apa hubungan Garin dengan cewek itu? *** Setelah keluar dari klinik terdekat untuk mengobati luka-luka Garin, kini Garin sudah persis seperti mumi berjalan. Perban dimana-mana, berjalan agak pincang sambil memegangi pinggang layaknya sudah lanjut usia. Wajah yang tadi berdarah-darah kini sudah di bersihkan, berganti dengan wajah biru dan perban yang menutupi luka-lukanya. Wajah Garin yang sebelumnya selalu di kagumi para kaum hawa, kini tak lebih baik daripada mumi firaun. Awalnya, Felisia yang ingin mengobati luka-luka Garin, tapi Garin menolak keras usul itu. Garin tau Felisia lahir batin. Dimana meskipun cewek, tangan Felisia itu keras, dan Garin yakin Felisia bukan mau mengobatinya dengan ikhlas, melainkan malah membuat lukanya bertambah naas. Lagian, Felisia sama sekali gak punya bakat buat jadi perawat. Dia gak sabaran, sekalinya ngobatin, Garin bergerak dikit, bisa ditebas abis-abisan. Bukan sembuh, Garin bisa-bisa mati ditempat. Seluruh teman-temannya yang terlibat tawuran tadi kini sedang di amankan di ruang BK. Entah Garin harus merasa beruntung karena bonyok membuatnya tidak harus mengikuti ritual ceramah tentang tidak bergunanya tawuran terhadap nusa dan bangsa, serta ancaman-ancaman yang katanya akan di keluarkanlah, di skors, dll. Dan sekarang, disinilah mereka. Di apartemen tempat Garin tinggal. Garin seketika menghambur pada sofa ruang tamunya yang empuk, rebahan disana sambil menyalakan tv. Bukannya Garin tidak mau langsung ke kamar dan tertidur di kasurnya, hanya saja bentuk kamar Garin sedang hancur bagaikan diterpa tsunami. Tak berbentuk. Garin lupa menyuruh petugas apartemen yang biasa merapikan rumahnya ini. Felisia duduk di sofa yang terpisah dari Garin, ikut mengamati tv. "Gar, lo gak balik ke rumah aja apa? Emang lo bisa ngapa-ngapain sendirian dengan kondisi kayak gitu?" Felisia membuka pembicaraan, sambil melirik Garin. Garin diam sesaat, matanya masih terfokus pada tayangan di tv. Bukan Garin tak ingin menjawab, bibirnya masih terasa perih jika di gerakan. Akhirnya ia hanya menggeleng, sambil berkata singkat. "Yang ada Kakek gue kena serangan jantung liatnya." Felisia mengangguk. Benar juga. Melihat kondisi Garin seperti ini, pasti Kakek Garin , yang kata Garin adalah orang yang mengurusnya sejak kecilkarena orang tua Garin sudah meninggal, akan histeris dan terkena serangan jantung mendadak. "Elo bakal ijin ke sekolah berapa hari?" Felisia mengalihkan topik pembicaraan. "Besok aja. Gue males lama-lama di rumah." "Males lama-lama di rumah, tapi kalo di sekolahan kerjaan lo cabut mulu. Sebenernya lo punya tujuan idup gak sih, Gar?" "Berisik! Mulut gue sakit ngomong mulu, bego!" Garin melempar salah satu bantal sofanya kearah Felisia. Yang mana sukses menghantam wajah Felisia yang tidak sigap untuk menangkapnya. Felisia mendengus, mempelototi Garin sebal. Dan yang di pelototi, kini mulai memejamkan matanya. Sepertinya Garin memang lelah, Felisia memutuskan untuk tidak mengganggunya. "Fel, beresin kamar gue dong. Gak enak tidur di sofa." sambil tetap terpejam Garin berbicara, sekedar menyuruh Felisia. Felisia berdecak, tanpa berkomentar ia menuju ke kamar Garin. Ketika membuka pintu kamarnya, dan menampakan keadaan di dalam, Felisia tidak terlalu kaget. Sudah di tebak, kepribadian Garin itu emang gak ada bagus-bagusnya. Felisia mulai membenahi kamar Garin, yang mana bahkan bantal dan selimut berserakan di lantai. Di kasurnya terdapat baju kotor bekas Garin pakai. Felisia menggeleng, gila! Masa gue musti beresin kolor Garin segala. Ya Allah, ini dosa gak ya? Kita kan belom muhrim? Akhirnya Felisia mengangkut saja apa yang ada di atas kasur Garin dengan seprainya yang sudah dekil. Felisia melirik pada lemari Garin, yang bahkan tidak tertutup bekas Garin mengambil baju untuk sekolah. Sampah-sampah minuman kaleng atau snack lainnya berserakan di lantai, kabel charger laptop membentang di lantai, menghalangi langkah yang ingin lewat. Belum lagi cairan minuman yang tumpah di lantai. Felisia jadi ragu yang menempati kamar ini adalah manusia. Rasanya ini lebih pantas disebut kandang daripada kamar. Felisia mengganti seprai kasur Garin, membenahkan barang-barang yang berserakan, tidak lupa di sapu dan di pel. Mungkin jika melamar menjadi pembantu rumah tangga Felisia akan di terima. Kini kamar Garin barulah lebih pantas di katakan kamar manusia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD