Dua hari setelah pertemuanku dengan Tuan Takur di depan polindes, paman Siddiq menemuiku di rumah. Katanya Dokter Ariel ingin menemuiku di rumahnya.
Memang, setelah kejadian agak menakutkan yang terjadi di depan polindes akibat Tuan Takur, aku pun langsung pulang dan nggak ikut Dian untuk mengantar makanan para petugas kesehatan itu. Aku tak sanggup jika harus melihat Dokter Ariel berbincang dengan Tuan Takur dan mendengar apa jawaban darinya. Aku benar-benar nggak bisa jika sampai mendengar Dokter Ariel menolak syarat dari Tuan Takur dan aku jadi menikah dengan Tuan Takur. Aku takut.
Aku tahu kalau aku egois, tapi mau gimana lagi?
Aku hanya lah gadis yang baru lulus SMA, yang baru saja kehilangan orang tuaku sekaligus, dan sekarang harus dihadapkan dengan masalah yang asangat pelik ini. Lalu apa yang harus aku lakukan?
"Yan." Paman Siddiq memanggilku dengan lembut.
"Ya, Paman."
"Apa kamu sudah tahu syarat yang diajukan oleh Tuan Takur untuk Dokter Ariel agar bisa membebaskanmu dari utang ini?"
Aku hanya bisa menunduk saja. Nggak tahu apa yang harus kulakukan. Sepertinya, dari nada Paman Siddiq, Dokter Ariel menolak syarat dari kakek tua c***l itu.
"Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, mungkin saja ini berat untukmu. Tapi kamu tetap harus memilih."
Aku semakin menunduk dalam. Daeri perkataan Paman Siddiq, seakan aku sudah bisa menyimpulkan kalau Dokter Ariel menolak syarat dan melepaskanku untuk Tuan Takur.
"Dokter Ariel menerima semua syarat yang diajukan oleh Tuan Takur."
Kaget, aku langsung mengangkat wajahku menatap Paman Siddiq dengan mata membelalak. Tapi Paman tidak melihat keterkejutanku. Beliau memijat pelipisnya seakan ragu dengan apa yang akan beliau katakan selanjutnya.
"Dokter Ariel mau membayar semua hutangmu yang dilipat gandakan oleh Tuan Takur dengan syarat, kamu harus mau menikah dengan Dokter Ariel dan dibawanya keluar dari desa."
Lho? Kok Paman Siddiq berbohong? Bukannya yang memberi syarat aku harus menikah dengan Dokter Ariel dan mau dibawanya adalah Tuan Takur. Tapi kenapa Paman berbohong kalau yang meminta dua syarat itu adalah Dokter Ariel sendiri?
Apa ini karena aku? Agar aku nggak terlalu terbebani karena syarat untuk menolongku sangatlah banyak untuk Dokter Ariel. Makanya Dokter Ariel seakan di sini berperan sebagai arang jahat yang menginginkanku dengan membayar hutangku. Kenapa Dokter Ariel sampai melakukan sejauh itu? Padahal kami belum pernah bertemu dengan benar.
Kepalaku meneleng, menatap tak mengerti pada paman Siddiq yang sepertinya berat untuk diajak berbohong itu.
"Dan aku ke sini untuk menyampaikan perkataan Dokter Ariel untukmu sebelum kamu menemuinya nanti malam." Terlihat Paman Siddq menghembuskan napas panjang sebelum menyampaikan pesan Dokter Ariel. "Kamu bebas menentukan keputusanmu. Entah kamu mau menikah dengan Dokter Ariel dan dibawanya keluar dari desa atau nggak, semua keputusan hanya ada di tanganmu. Tak ada orang yang bisa memaksamu mengambil keputusan. Dan apapun keputusanmu, semua terserah padamu."
Aku kaget. Sangat-sangat kaget. Ternyata Paman Siddq tidak terlalu pandai untuk beradu akting berbohong.
Saking kagetnya aku sampai nggak bisa menjawab. Dan sepertinya paman Siddiq salah paham atas kekagetanku. Wajah tuanya terlihat kecewa melihat reaksiku. Dan dari sorot matanya juga terasa seperti beliau menyerah padaku.
"Untuk jawabannya sebaikya kamu katakan langsung pada Dokter Ariel. Nanti malam datanglah ke rumah paman. Dokter Ariel menunggumu di sana."
"Baik, Paman." Hanya itu yang bisa aku katakan sejak paman berada di sini dan membahas tentang keputusan yang harus diambil. Aku terlalu terkejut hingga nggak bisa mengeluarkan ekspresiku dengan benar.
"Baiklah. Kalau gitu Paman pamit pulang dulu." Paman beranjak berdiri. "Assalamu alaikum." Dan berjalan keluar.
"Wa alaikum salam." Jawabku sambil memandang pungung tua itu yang terlihat semakin ringkih.
Dan setelah itu, aku mulai bersiap-siap untuk pertemuan pertama kali dengan Dokter Ariel. Kali ini kami harus bertemu dengan benar.
***
"Maaf, Anda Dokter Ariel?" tanyaku ketika melihat seorang cowok yang tiduran kursi panjang pekarangan rumah Paman Siddiq.
Kata Paman tadi, Dokter Ariel menungguku di pekarangan rumah untuk bicara. Makanya aku segera ke sini dan mendapati Sang Dokter sedang tiduran dengan nyaman.
"Apa kamu yang bernama Yani?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, tapi Dokter Ariel malah membalas pertanyaanku dengan pertanyaan juga. Jangan kan melihat, melirik pun sepertinya dia enggan. Cowok itu bertanya dengan posisi yang tidak berubah, menatap langitnya malam. Ada sesuatu yang berderak di hatiku ketika mendapati sikap Dokter Ariel yang sepertinya cuek padaku.
"Ya." Dan pada akhirnya aku hanya bisa menjawab dengan lemah. Aku masih berdiri kaku di dekat kursi yang ditempati Dokter Ariel. Tanpa berani melangkah lebih dekat lagi.
"Apa kamu sudah diberitahu Pak Siddiq?" tanyanya lagi.
"Ya. Paman sudah memberitahu saya, kalau Pak Dokter akan membayar hutang orang tua saya dengan imbalan menikahi saya, dan Pak Dokter juga akan membawa saya ke kota." Pada akhirnya, aku hanya bisa mengikuti permainannya. Biarkan saja kalau dia ingin terlihat jahat di mataku karena menginginkanku setelah membayar hutangku. Aku tidak peduli. Toh yang tahu tentang kebenaran, kalau syarat itu dari Tuan Takur juga, aku sendiri.
"Lalu, apa keputusanmu?" tanyanya.
"Sebelum menjawab pertanyaan Pak Dokter, bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Tanyalah!"
"Apa alasan Pak Dokter ingin menikahi saya?''
Dokter Ariel tak langsung menjawab. Dia terlihat masih diam. Mungkin memikirkan jawaban yang tepat yang akan diberikannya padaku. "Kata pak Siddiq, apa benar orang tuamu baru saja meninggal?"
Deg!
Kenapa Dokter Ariel bertanya tentang kedua orang tuaku? Ada apa?
"Ya. Benar." Akhirnya aku menjawabnya walau dengan lirih. Masih ada luka yang terasa jika membicarakan tentang keluargaku. Ayah dan ibuku.
"Apakah kamu percaya, jika aku menjawab, aku ingin membayar hutang orang tuamu dan menikahimu karena kasihan?"
Ah ... sudah kuduga jawaban Dokter Ariel pasti seperti ini. Tapi walau pun begitu kenapa perasannku tetap terasa nggak enak.
"Bagaimana?"
"Baiklah. Saya akan menikah dengan Pak Dokter."
"Apa kamu yakin mau menikah denganku?"
Kenapa suara pertanyaan Dokter Ariel jadi kaget dan terkejut gitu ya? Apa jawabanku salah? Apa aku keliru? Apa bukan itu jwaban yang seharusnya aku katakan.
"Ya. aku yakin." jawabku tapi tidak seyakin tadi. Kini perasaanku jadi agak ragu melihat keterkejuta Dokter Ariel tadi.
"Apa aku boleh tahu alasannya?"
Aku terdiam. Tak langsung menjawab pertanyaan Dokter Ariel secara langsung. Aku kembali mengingat bagaimana kita bertemu bebrapa hari yang lalu. Ingat ketika dengan gagahnya Dokter Ariel menghajar para pengawal Tuan Takur dan menantang balik mereka. Bagaimana kerennya Dokter Ariel yang langsung meninggalkan korban bogeman mentahnya dan melenggang berjalan santai menuju polindes Desa. Dan seketika itu juga aku langsung jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
"Karena ..." aku mulai menjawab pertanyaannya. "Karena Pak Dokter baik dan ...tampan."