Penolong Rupawan nan Tampan

1503 Words
"Gimana pembicaraanmu dengan Dokter Ariel tadi?" Dian bertanya padaku sambil jalan menuju rumahku. Setelah pembicaraanku dengan Dokter Ariel tadi, aku langsung pamit pulang dan Dian menawarkan diri untuk menemaniku. "Entahlah. Dokter Ariel bahkan tidak menatapku sama sekali. Dia hanya menatap langit malam, dari aku datang hingga aku pamit pulang. Aku nggak bisa menebak isi hatinya seperti apa." "Apa? Bagaimana bisa seperti itu?" Aku tersenyum miris. "Aku sendiri juga nggak tahu. Tapi sepertinya kami akan menikah." "Apakah kamu sudah yakin?' Dian menatapku cemas. "Apa kamu khawatir padaku?" Aku tersenyum menggoda. Buk! Buk! "Aduh!" aku mengaduh sakit. Dian memukul punggungku tanpa belas kasihan. Pukulannya sangat kuat sampai aku harus menghindar dari pukulan ketiganya. Untung nggak kena. "Kamu masih bisa bertanya apa aku khawatir padamu?" Dian agak histeris. "Dasar gadis bodoh! Aku takut tahu! Sangat takut. Bagaimana jika kamu jadi menikah dengan Dokter Ariel lalu kamu beneran dibawa ke kota? Kamu dengan siapa di sana? Bagaimana jika kamu sakit? Bagaimana jika nanti kamu kesusahan di sana? Bagaimana aku akan membantumu? Bagaimana aku bisa mengetahui keadaanmu?" Aku langsung merengkuh tubuh Dian ke dalam pelukanku. Dia memanglah masih kerabatku walau jauh. Bukan hanya kerabat, tapi dia juga sahabat terbaikku selama ini. Tak ada yang sebaik dia dalam membantu dan selalu mendukung segala keputusanku. Dia adalah kerabat dan sahabat terbaikku. Bukannya tenang, tangisan Dian makin histeris di dalam pelukanku. Aku tahu dia seperti itu karena terlalu khawatir padaku. Di dunia ini aku sudah sendirian. Aku tak punya saudara. Kerabat pun juga hanya ada di sini. Jika Dokter Ariel membawaku ke kotanya, otomatis aku pasti akan sendirian di sana. Dan aku mengerti bagaimana kekhawatiran Dian padaku. "Sudah. Sudah." Aku menepuk-nepuk punggungnya agar dia tenang. "Aku nggak papa. Aku pasti baik-baik saja nanti. Tenang saja." "Ba-bagaimana kamu bi-bisa seyakin itu? Ka-kamu kan belum ke-kenal Dokter Ariel secara keseluruhan." Sahut Dian tersendat-sendat karena tangisnya yang masih membanjir pipinya yang putih. "Nggak papa. Aku yakin aku akan nggak papa. Dokter Ariel pasti akan menghormatiku sebagai wanita." Tapi sepertinya pembelaanku nggak berguna sama sekali. Tangis Dian sama sekali nggak berkurang, "Bagaimana jika Dokter Ariel jahat padamu? Bagaimana bisa jika Dokter Ariel nanti menyia-nyiakanmu?" "Kalau itu terjadi, maka aku ..." "Balik o mrene, Nduk." tiba-tiba ucapanku terpotong. Mendengar suara orang yang paling ingin kuhindari tapi malah justru seperti makin sering bertemu, tubuhku kaku dan aku langsung berhenti berjalan secara otomatis. Begitu pula dengan Dian. Tangisannya langsung berhenti saat itu juga dan seperti aku, tubuhnya kaku. Tap! Tap! Tap! Kudengar suara langkah kaki yang pelan mendekat pada kami dan berhenti tepat di depanku. Aku tahu siapa dia dan aku sama sekali nggak berani mengangkat wajahku. Aku terlalu takut. "Aku krungu jare Dokter sialan iku gelem nikahi kowe?" tanyanya terdengar begitu menusuk telinga Yani. "Selamat ya Nduk, ternyata akhir e kowe nikah karo Dokter iku. Kowe gak usah khawatir soal pesta nikah, aku mesti bantu kowe. Lha kowe kan wes nggak duwe wong tuo. Hahaha." Aku hanya terdiam mendengarkan. Tubuhku kini bukan hanya kaku saja, bahkan sampai gemetar walau samar. "Tenang ae! Masalah pesta kowe ojo wedi. Serah no ae karo aku. Aku mesti gawe pernikahanmu semeriah mungkin nganggo adat istiadat deso kene." Pats! Mataku membelalak kaget. Nikah pakai adat istiadat sini. Jangan bilang kalau pasti nanti ada ritual itu? kalau iya, bagaimana mungkin nanti Dokter Ariel bisa menemukanku. Dia bahkan belum melihat wajahku. Lalu bagaimana dia akan bisa memilih dan menemukanku? Dan dari takut tiba-tiba aku berubah jadi geram. "Dasar Pak tua licik!" unpatku masih dengan menunduk. Dan aku sangat yakin, walau aku tidak melihat wajah Tuan Takur secara langsung tapi dia pasti kaget karena mendengar aku mengumpatinya. "Anda benar-benar melakukan segala cara untuk mengikat saya agar tetap ada di sini kan?" Kini aku baru mengangkat wajah dan menatap langsung ke dalam manik mata Tuan takur. "Kenapa Anda sangat beranggapan kalau aku bisa menjadi keberuntungan Anda hingga Anda melakukan semua hal ini? Padahal aku hanyalah gadis yatim piatu yang tidak mempunyai apa-apa. Padahal aku hanyalah gadis biasa seperti gadis kebanyakan di desa ini. Tapi kenapa Anda begitu terobsesi dengan keberuntunganku? Memangnya apa keberuntunganku itu? Jika aku sendiri merasa hidupku penuh dengan ... kemalangan." Kulihat Tuan Takur tersenyum menyeringai. "Uripmu memang melas, Nduk. Tapi wong seng urip mbi kowe iku lah seng beruntung. Soal e neng itungan lahirmu dan jam lahirmu, iku gawe bejo wong seng urip mbi kowe." "Dan bagaimana Anda tahu, Tuan? Bagaimana Anda bisa tahu hal semacam itu?" "Bukan ne kowe yo wes ngerti kan, ne aku iki keturunan nenek moyang Yunani langsung. Tentu ae aku ngerti." Deg! Jadi itu bukan hanya bualan saja? Jadi itu memang benar? "Dadi ... mergo aku wes ngerti dalan takdirmu, aku moh ngeculno kowe. Soal e kowe gowo untung gede nggo wong seng urip mbi kowe." Tuan Takur membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya pada wajahku. Entah kenapa aku merasakan auranya semakin seram mengancamku. "Aku mesti kudu ngetokno kabeh rencanaku lan kekuatanku ben iso miliki kowe. Ngerti kowe, Nduk?" Dan kalimat terakhirnya semakin membuatku menciut, takut. Serta semakin membuatku ragu, apakah aku bisa lepas dari cengkeraman kakek tua menakutkan ini? *** Dua hari setelah pertemuanku dengan Dokter Ariel, yang dilanjut dengan ancaman dari Tuan Takur, hari inilah hari H pernikahanku dengan Dokter Ariel. Seperti perkataan Tuan Takur dua hari yang lalu, dia benar-benar menyiapkan pernikahan kami dengan sangat mewah dan meriah. Bahkan seluruh desa diwajibkan untuk datang memeriahkan acara pernikahan kami. Lalu satu lagi, acara pernikahanku sungguh-sungguh memakai adat pernikahan desa. Yang mana nanti mempelai pria harus bisa menemukan calon istrinya di antara banyaknya gadis di satu ruangan, yang dirias sama persis seperti mempelai wanita. Dan mempelai wanita beserta gadis-gadis penggantinya, diberikan tudung penutup kepala hingga wajah untuk mempersulit sang mempelai pria mendapatkannya. Padahal adat istiadat ini sudah sangat lama nggak dipakai. Keluarga Tuan Takur sendiri yang melanggarnya. Tapi kenapa tiba-tiba, ketika dalam pernikahanku, adat istiadat ini dipakai lagi? Tuan Takur benar-benar pria tua yang licik. Sudah dua jam aku dirias habis-habisan oleh penata rias. Sebenarnya bukan aku saja, tapi ada beberapa gadis yang dirias sama persis sepertiku. Dari mulai pakaian, perhiasan bahkan make upnya, di bikin persis satu ama lain. Jika seperti ini, aku jadi semakin takut. Apa nanti Dokter Ariel bisa menemukanku atau nggak? Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan Dokter Ariel. Aku hanya berharap dan memohon supaya Dokter Ariel nggak lari di tenga-tengah pernikahan karena begitu banyaknya adat istiadat pernikahan yang harus dijalaninya. Setelah semua persiapan selesai, kami pun di giring untuk masuk ke dalam sebuah ruangan dan di suruh berdiri secara acak. Dan setiap dua menit kami diminta untuk berganti bergerak dan berganti posisi yang tidak mencolok. Kami juga dilarang untuk berbicara. Nggak ada yang boleh berbicara selama proses pemilihan berlangsung. Lalu pintu kembali ditutup dan lampu dimatikan. Tiba-tiba ada yang mencolekku dari belakang. "Jangan khawatir, nanti aku pasti akan membantumu." Suara Dian. Dan itu pasti dia. Walau nggak bisa melihatnya, tapi aku sudah merasa nggak terlalu khawatir ada temanku ini di dekatku. Tak lama kemudian, pintu lain tiba-tiba terbuka dan lampu kembali menyala. Tap! Tap! Tap! Terdengar suara langkah kaki di ruangan yang sepi ini. Siapa dia? Apakah dia Dokter Ariel? Karena tinggi semua gadis di sini sama, aku jadi nggak bisa melihat siapa yang datang. Karena posisiku juga agak jauh dari tempat si punya langkah masuk tadi. Sudah dua menit, dan kami pun bergerak ganti posisi secara lembut dan tidak mencolok. Lalu di beberapa detik berikutnya terdengar suara orang yang masuk ke dalam ruangan ini. "Hai!" Ternyata benar. Itu suara Dokter Ariel. Entah mengapa mendengar suaranya saja sudah bisa membuat hatiku lega. Padahal belum tentu juga Dokter Ariel bisa menemukanku, tapi aku sudah merasa begitu ringan. "Hai! "Hai!" "Hai!" Dari suaranya, sepertinya Dokter Ariel mengetes setiap gadis di sini. Tapi sayangnya, kami dilarang untuk berbicara, jadi kami pun hanya diam. "Hai! "Hai!" "Hai!" "Pfffttt!" Su-suara tawa tertahan? Itu bukan aku. Bukan aku yang membuat suara tertahan itu. Ah ... itu pasti Dian yang melakuaknnya. Sepertinya dia hanya ingin membuat kode kalau aku ada di sini. Dan benar saja, tak lama kemudian, Dokter Ariel sudah berdiri tak jauh dariku dan menatap bebrapa gadis yang berada di samping kanan dan kiriku. Deg deg deg! Deg deg deg! Deg deg deg! Jantungku berdetak semakin cepat. Aku benar-benar nervous. Apakah Dokter Ariel bisa menemukanku atau nggak? Beberapa detik kemudian, Dokter Ariel berjalan mantap ke arah kami. Dan aku semakin deg-degan nggak karuan. Karena takut jika sampai dia salah memilih gadis, aku pun sampai memejamkan mataku. Tapi ... Grep! Dokter Ariel langsung meraih tanganku dan menggandengku berjalan menuju pintu keluar. Tanpa memastikan dulu apakah yang dibawanya itu benar calon istrinya atau nggak. Dengan keyakinan penuh, Dokter Ariel langsung membawaku keluar dari ruangan itu dan mempertontonkan kemenangan besarnya, karena telah berhasil mendapatkan calon istrinya dengan benar dalm sekali percobaan. Tanpa aku sadari, air mataku sampai merebak saking terharunya. Ibu! panggilku dalam hati. Benar kata ibu, ada seorang penolong yang datang untukku ketika aku sangat terpuruk begini. Dan apa ibu tahu? Penolong itu sangat tampan, Bu. Dan aku berkali-kali jatuh cinta padanya. Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Tuhan. Karena telah mengirimkan seorang penolong yang rupawan dan begitu tampan. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD