Ada yang bilang, kalau malam pertama sepasang pengantin itu tidak akan pernah terlupakan karena saking bahagianya.
Ya. Itu memang benar. Malam pertama aku jadi pengantin memang tidak akan pernah akan aku lupakan. Tapi bukan karena saking bahagianya. Tapi karena aku sangat terluka. Luka pertama yang digoreskan oleh cinta pertamaku. Luka yang sangat dalam yang ditorehkan oleh suamiku sendiri. Luka yang pasti lama untuk sembuh kembali.
"Maaf." Katanya sambil menahan punggung agar aku tidak bisa berbalik menatapnya. Alih-alih memilih duduk berhadapan denganku, Dokter Ariel lebih memilih duduk di belakangku. Dan menolak ketika aku ingin duduk bertatapan dengannya. "Mungkin kamu akan membenciku setelah kamu tahu tentang apa yang akan aku lakukan padamu. Aku melakukan ini bukan karena aku membencimu, bukan pula karena aku tidak menyukaimu. Aku melakukan ini karena aku adalah seorang b******n yang b******k. Yang tidak bisa bertanggung jawab atas segala tindakanku."
Mendengar ucapan Dokter Ariel yang seperti ini, entah mengapa ingatanku langsung tertuju pada Dian dan segala kekhawatirannya padaku.
'Bagaimana jika Dokter Ariel jahat padamu? Bagaimana jika nanti Dokter Ariel menyia-nyiakanmu?'
'Dian.' Panggilku merintih dalam hati. Kuraih dadaku yang tiba-tiba saja terasa begitu sesak. Kuremas baju pengantin yang aku pakai. Seakan dengan begitu aku bisa menahan rasa sakit di dalam dadaku. 'Sepertinya kekhawatiranmu jadi kenyataan. Sepertinya Dokter Ariel bukan hanya menyia-nyiakanku. Tapi sepertinya akan ... membuangku.'
"Aku tahu aku egois dan kekanak-kanakan." Dokter Ariel melanjutkan. "Tapi aku masih ingin seperti ini. Aku tidak akan meminta pengertianmu, aku juga tidak akan memberikan alasan untuk pembelaan diri. Karena semua ini berawal dariku, kesalahanku, dan keegoisanku. Dan kamu di sini adalah sebagai korban kebejatanku."
Kutarik napasku agak panjang untuk melonggarkan paru-paruku yang terasa sesak. "Apa Anda akan meninggalkan saya, Dokter?" tanyaku nekat.
Ya. Walau pun aku sudah bisa menebaknya, tapi entah mengapa aku masih ingin bertanya. Aku ingin mendengar jawabannya secara langsung tanpa berbelit-belit seperti ini. Aku tahu, jika aku bertanya pasti akan membuat luka ini semakin dalam, tapi aku juga butuh kepastian. Jika Dokter Ariel memang tidak menyukaiku, apa boleh buat. Aku hanya bisa diam. Jika Dokter Ariel memang ingin meninggalkanku di desa ini dan membatalkan perjanjiannya dengan Tuan Takur, aku bisa apa. Aku hanya bisa pasrah saja.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu di desa ini. Aku tidak mungkin mempermalukanmu." Dokter Ariel menjawab sedikit histeris. "Setelah aku berkata akan menikahimu dan membawamu ke kota, aku tidak akan mengingkari perkataanku itu. Aku akan tetap membawamu ke kota. Tapi mungkin di sana kita tidak akan berjumpa."
Hatiku yang awalnya mulai terasa lega ketika Dokter Ariel membantah tidak akan meninggalkanku di desa, kini karam lagi. Memang. Dokter Ariel akan membawaku ke kotanya, tapi apa gunanya jika di sana kami tidak akan berjumpa. Sama saja dengan dia membuangku di kota.
"Lebih tepatnya, kita akan menjalani hidup kita sendiri-sendiri di kota. Aku akan menempatkanmu di tempat yang bagus. Dan aku akan menjamin di tempat itu semua kebutuhanmu tercukupi dan kamu akan hidup dengan layak. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan. Aku jamin itu. Tapi ya itu, kita tidak bisa hidup bersama."
Sakit. Sangat sakit. Sakit sekali.
Kata-katanya. Ucapannya. Semua penjelasannya terdengar begitu menyakitkan di hati. Dadaku semakin terasa sesak. Tenggorokanku tercekat. Dan mataku rasanya sudah mulai berembun. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan air mataku agar tak turun. Dengan sekuat tenaga aku menahan tubuhku sendiri agar tidak bergetar saking sakitnya. Aku ... aku ... berusaha keras untuk mengendalikan diriku sendiri.
"Apa Anda akan menceraikan saya sesampainya kita di kota nanti?"
Tapi gagal. Walau aku sudah berusaha keras untuk mengontrol tubuhku sendiri tapi suaraku masih terdengar getir. Pertanyaanku yang terlontar begitu saja, terdengar begitu menyedihkan. Dan aku memaki diriku sendiri yang gagal menahan air mata yang tanpa ijin langsung turun begitu saja.
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku tidak akan menceraikanmu. Kamu masih lah istriku."
"Jadi, apakah saya adalah istri tersembunyi Anda, Dokter?"
Dokter Ariel tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia terdiam cukup lama. Tapi tiba-tiba saja, tanpa berkata apa pun dan tanpa aba-aba, dia menggeser duduknya mendekat padaku hingga dadanya menyentuh pungungku.
Tentu saja tubuhku langsung menegang kaku. Seumur-seumur baru kali ini tubuhku sangat menempel dengan tubuh pria lain selain ayahku yang biasa memelukku. Aku ... belum terbiasa. Tubuhku rasanya mulai menghangat dan lama-lama terasa panas. Perutku rasanya juga seperti tergelitik. Dadanya terasa menempel di kulit punggungku. Mana bajuku malam ini sangat tipis dan transparan. Otomatis tubuh Dokter Ariel sangat terasa di tubuhku.
Aku semakin membelalakkan mata ketika tangan Dokter Ariel dengan perlahan menyikap baju di pundakku, memaparkan kulit pundakku tanpa kain. Dan beberapa detik hanya mendiamkannya seperti itu.
Dan anehnya, aku tidak bisa menolaknya atau menepisnya. Yang kulakukan hanya diam dan membiakan Dokter Ariel melakukan apa yang dia mau.
Gila? Ya, mungkin aku memang sudah gila. Bagaimana aku bisa diam saja pada cowok yang mengekspos pundakku seperti ini. Walau dia adalah suamiku sendiri tapi kan dia juga akan membuangku. Tapi kenapa aku begitu tak berdaya kayak gini.
Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin dan lembab menyentuh pundak polosku. Dokter Ariel mencium pundakku. Tak hanya mencium, Dokter Ariel juga seakan menelusuri seluruh pundak kanan dan kiriku. Mencium, menghirup, bahkan mengigit seluruh area punggung atasku. Tak kuasa menahan setiap sentuhan bibirnya yang lembut, tubuhku terus menerus menegang dan sampai bergetar. Setiap usapan bibirnya serasa membuat tubuhku menggila. Dan setiap kecupannya membuat respon tubuhku mendamba dengan sendirinya.
Ini nggak benar. Ini gila. Suara kecupannya di tubuhku semakin membuatku edan rasanya.
Tak hanya sampai di situ, tiba-tiba kakinya bergerak menyilang melingkupi tubuhku. Tangannya melingkar di perutku dan dalam sekali tarikan langsung membuat punggungku semakin menekan dadanya. Tentu saja perlakuannya ini semakin membuat seluruh kulitku terasa kepanasan. Bahkan aku sampai bisa merasakan wajahku sendiri terasa panas dan pasti memerah.
Kini bibirnya ganti menjelajah bagian leher belakangku. Kembali mengecup, mencium, menyedot dan mengigitnya. Seperti di punggung tadi, kali ini Dokter Ariel juga mengeksplor seluruh wilayah leher belakangku tanpa terkecuali. Entah udah berapa kali Dokter Ariel menyedot, menghisap dan mengigit leher serta pundakku. Aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Yang aku tahu hanyalah, setiap Dokter Ariel melakukan itu, suaraku seperti reflek mendesah menikmati apa yang dilakukannya pada tubuhku. Dan sekali lagi aku nggak bisa menahan diriku sendiri dari mengeluarkan desahan itu.
Semakin lama, bukan hanya bibir Dokter tampan ini saja yang bergerak. Tangannya sedikit demi sedikit, yang tadinya memeluk perut, mulai merangkak ke atas, ka arah dadaku. Aku tentu saja kaget dengan tindakannya, tapi, seperti tadi, aku tetap nggak sanggup untuk menahan atau menolak sentuhannya.
Tiba-tiba ...
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Suara pintu diketuk. dan bersamaan itu juga, Dokter Ariel langsung menghentikan semua gerakannya.
Walau aku nggak melihatnya, tapi aku bisa merasakan Dokter Ariel menarik dirinya sendiri menjauh dari tubuhku. Dikembalikannya bajuku seperti semula. Menarik baju yang dibukanya tadi untuk menutup kembali pundakku yang terlihat. Tak hanya sampai situ saja. Dokter Ariel juga memberikan jasnya untuk ditutupkan pada tubuhku. Baru setelah itu dia turun dari ranjang dan membuka pintu.
"Selamat siang, Tuan muda!" Terdengar suara wanita. Ini bukan suara seorang gadis. Ini lebih ke suara wanita dewasa.
Ada apa ini? Apa yang akan dilakukan Dokter Ariel padaku?
"Apa kamu yakin dengan apa yang akan kamu lakukan ini, Ril?'' Ini sepertinya suara Dokter Dewa.
"Ya."
"Aku tahu kamu memang b******k. Tapi aku baru tahu kalau kamu memang sebajingan ini."
Tak ada sahutan dari u*****n Dokter Dewa. Aku tak mendengar suara Dokter Ariel menanggapi amarah Dokter Dewa. Tapi aku malah mendengar suara langkah kaki yang sepertinya mendekat padaku.
"Maaf." ini suara Dokter Dewa. Berarti langkah kaki yang mendekatiku tadi bukannya Dokter Ariel, melainkan Dokter Dewa? "Ini adalah salahku. Seharusnya aku tidak membawa Ariel datang ke desa ini dan membuat kamu mengalami hal yang buruk ini. Seharusnya aku nggak memaksa si b******k itu untuk ikut denganku dan membuat kamu terluka sampai seperti ini. Maaf, ini adalah salahku."
Aku tahu Dokter Dewa mengucapkan itu dengan sangat tulus. Tapi entah mengapa ketulusan permintaan maaf Dokter Dewa tidak bisa menyentuh hatiku. Aku hanya diam saja tanpa bisa berpikir. Aku ... seperti kehilangan separuh jiwaku bersamaan dengan selesainya kecupan Dokter Ariel tadi.
"Tak apa jika kamu membenciku." Dokter Dewa melanjutkan. "Karena aku adalah alasan utama kamu bisa seperti ini. Aku paham akan hal itu. Aku cuma ingin berpesan, di manapun kamu berada nanti, bagaimanapun keadaan dan kondisimu, berbahagialah! Aku harap kamu akan selalu bahagia. Semoga Tuhan selalu mekindungi dan menjagamu agar kamu selalu bahagia."
Terima kasih, Dokter, atas doamu. tapi entah mengapa sepertinya bahagia itu adalah sesuatu yang sulit aku dapat. Bahkan di hari yang seharusnya paling membahagiakan ini, aku tidak bahagia dan hanya terluka.
Setelah kalimat panjangnya tadi, Dokter Dewa kembali menjauh dariku. Dan aku sama sekali tidak merespon semua perkataannya.
"Bu Adisty!" Ini suara Dokter Ariel. Mungkin saja dia memanggil wanita yang masuk ke kamar dengan Dokter Dewa tadi.
"Ya, Tuan Muda."
"Aku serahkan gadis ini padamu. Uruslah dia dengan sebaik-baiknya."
"Baik, Tuan Muda."
"Yani!" untuk pertama kalinya Dokter Ariel memanggil namaku. Tapi aku tetap hanya diam saja, tak bisa menjawab. "Kita berpisah di sini."
Ada yang begitu sakit ketika mendengar kata-kata pisah dari Dokter Ariel.
"Aku harap kita tidak bertemu lagi."
Ada yang tergores sangat dalam mendengar harapan suamiku ini.
"Tapi jika seumpama nanti kita ditakdirkan bertemu lagi, aku harap pertemuan itu adalah pertemuan yang manis untukmu."
Dan ada yang tertusuk ketika menyadari bahwa masih ada kemungkinan kami bisa bertemu lagi. dan Dokter Ariel berharap bahwa pertemuan itu adalah pertemuan yang manis untukku. dan entah kenapa, walau sakit tapi aku seakan masih berharap pada pertemuan manis itu nanti.
Jika Tuhan mengijinkan, aku masih ingin berharap pada pada pertemuan manis yang entah kapan bisa terwujud itu. Aku masih ingin percaya kalau kami memang jodoh yang sudah ditakdirkan Tuhan, aku masih ingin menunggunya. Menunggu datangnya pertemuan manis itu.
Tak apa jika sekarang kamu meninggalkanku sendiri seperti ini, dengan luka ini. Aku masih ingin berharap dan percaya, jika suatu hari nanti kamu pasti datang padaku dan mencintaiku. Seperti aku yang mencintaimu.
Aku akan selalu berharap pada pertemuan manis yang kamu ucapkan padaku. Jadi aku akan menunggumu. Aku disini, akan menunggumu, suamiku.