Setelah perpisahan yang menyakitkan itu, aku memang langsung di bawa oleh Bu Adisty ke dalam mobil tanpa ada seorang pun yang tahu. Sedangkan Dokter Ariel sudah pergi dengan mobil yang lain.
Dokter Dewa mengantarku sampai dalam mobil dan berkata, kalau dia akan menjelaskan situasinya pada paman Siddiq dan juga Dian, kenapa aku bisa sampai pergi dari desa tanpa pamit pada mereka berdua.
"Apakah saya bisa berpesan sesuatu, Dok?" tanyaku ragu sambil merapatkan jas Dokter Ariel yang diberikan padaku, untuk menutupi tubuhku yang masih terlihat karena piyama tidur yang menerawang ini.
"Bisa. Kamu mau berpesan apa pada Pak Siddiq?"
"Tidak. saya tidak akan berpesan apa pun untuk paman. Aku hanya ingin berpesan pada Dokter Dewa saja."
"Padaku?" Dokter Dewa menunjuk dirinya sendiri.
Aku pun mengangguk.
"Boleh." jawabnya walau terdengar ragu. "Kamu ingin berpesan apa padaku?"
Aku menatap Dokter Dewa dengan pandangan serius. "Tolong, jika nanti Paman Siddiq atau Dian menanyakan alasanku pergi tiba-tiba dan tanpa pamit pada mereka, itu semua karena ketakutanku."
"Apa maksudmu?"
"Tolong bilang saja, aku pergi karena, aku takut Tuan takur akan mengambilku lagi makanya aku meminta Dokter Ariel untuk segera membawaku pergi dari desa."
Dokter Dewa tampak membelalak kaget. Tapi di detik berikutnya malah jadi kesal. "Kenapa kamu mau melindungi b******n itu? Bukannya dia sudah meninggalkanmu seenak udelnya."
Raut wajahku melunak. Aku tahu, maksud Dokter Dewa berkata seperti itu bukannya ingin menjelekkan temannya sendiri. Dia hanya merasa kecewa pada sahabatnya, dan merasa nggak enak padaku yang notabene-nya jadi korban temannya.
"Dokter, Dokter Ariel adalah sahabat Anda."
"Tidak. Aku tidak punya sahabat sebrengsek itu." Wajah Dokter Dewa seperti anak yang sedang merajuk dan itu membuatku tertawa. Apalagi setelah merajuk,sekarang Dokter Dewa seperti sedang melongo menatapku karena menertawakannya. sungguh lucu. "Kamu ..."
Kata Dokter Dewa terpenggal. Karena aku masih tertawa. aku hanya mengangkat alis, kode bertanya 'Apa?'
"Kamu punya lesung pipit."
Aku kembali tersenyum.
Ya, aku memang punya lesung pipit. Ayah selalu bilang kalau lesung pipitku terlihat sangat cocok dan manis setiap aku tersenyum lebar.
"Kamu cantik."
Senyumku langsung lenyap begitu mendengar Dokter Dewa mengatakan kalau aku cantik.
"Ehem-ehem." suara deheman Bu Adisty menyadarkan kami.
Aku pun segera masuk ke dalam mobil dan berpamitan pada Dokter Dewa. "Selamat tinggal, Dok!"
Dokter Dewa pun hanya mengangguk melepaskanku pergi.
Di dalam mobil, perjalanan menuju kota kelahiran Dokter Ariel.
Aku dan Bu Adisty masih sama-sama terdiam sejak mobil mulai berjalan. Mobil ini dikemudikan oleh seorang sopir. Bu Adisty duduk di samping sopir, sedangkan aku duduk di belakang.
Bu Adisty melirikku dari kaca spion mobil yang ada di dalam.
"Apa Nona punya motif tersembunyi dengan menikah dengan Tuan Muda Ariel?"
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Bu Adisty. Pertanyaan itu sangatlah kuno. Memangnya kenapa jika gadis miskin sepertiku menikah dengan pria kaya seperti Dokter Ariel? Kenapa semuanya selalu dilihat dari segi harta. Kenapa yang lebih kaya selalu menutup mata jika kadang justru yang kayak lah yang bermasalah.
"Aku dengar, Mama dari Dokter Ariel mempunyai rumah sakit?" tanyaku mengabaikan pertanyaan Bu Adisty
Setelah beberapa detik berlalu, Bu Adisty baru menjawab. "Ya."
"Selain rumah sakit. Mama Mertua juga punya apa?" Pertanyaan yang tentu saja terdengar sangat belagu, aku tahu itu. Tapi bukan itu inti dari pertanyaanku.
Lagi, Bu Adisty pun tak langsung menjawab pertanyaanku. Sepertinya Bu Adisty mencoba meraba maksud dari pertanyaanku itu. "Selain rumah sakit, Nyonya juga punya saham di sebuah perusahaan, apartemen, dan juga panti asuhan."
"Lalu saya mau ditempatkan di mana jika sampai di sana?"
"Di salah satu apartemen milik Nyonya dan Anda akan mendapatkan segala fasilitas dan keperluan hidup yang nggak akan kurang."
"Tolong tempatkan saya di panti asuhan saja."
"Eh? Apa?" Dari suaranya, sepertinya Bu Adisty kaget.
Kadang, aku juga heran pada orang yang nggak suka jika gadis miskin sepertiku ini menikah dengan cowok kaya. Kenapa mereka selalu kaget jika pemeran seperti aku kayak gini nggak tertarik dengan kemewahan yang ditawarkan. Padahal sebenarnya alasannya sangat simpel orang kayak aku menolak fasilitas lengkap yang dijanjikan Bu Adisty. Hanya satu saja alasannya, menjaga diri sendiri agar nggak terlena dengan barang mewah yang diberikan orang lain, yang di tengah-tengah itu, kita juga sadar kalau itu bukanlah milik kita.
"Saya tidak punya ayah dan ibu. Mereka baru saja meninggal seminggu yang lalu. Jadi bukan kah aku seorang anak yatim piatu?" tidak ada tanggapan dari Bu Adisty. "Makanya saya minta tinggal di panti asuhan saja."
Sepi. Tak ada yang menyahut perkataanku. Aku jadi makin aneh. Sebenarnya dua orang di mobil bagian depan itu mendengarku atau tidak sih. Hingga sampai beberapa menit pun masih tak ada yang bicara. Aku jadi nggak peduli, apakah mereka kan mengabulkan permintaanku atau nggak. Atau akan menenpatkanku seperti rencana mereka sejak awal. Aku sudah tak peduli.
"Nanti akan ada orang yang ingin bertemu dengan, Nona." Akhirnya Bu Adisty bicara juga.
"Ya. Nggak papa."
"Apa Nona nggak ingin tahu siapa yang ingin bertemu dengan Nona?"
Nggak lah. Aku sudah tahu siapa yang ingin bertemu denganku dalam situasi kayak gini. Tentu saja Mamanya Dokter Ariel. Aku sangat yakin jika Mamanya sangat ingin melihatku lebih dari apapun. Seorang gadis yang menikahi dengan anaknya yang tampan.
"Siapa?" Tapi walau pun begitu aku tetap bertanya demi menghormati Bu Adisty.
"Nyonya."
Nah kan apa kubilang. Pasti Mamanya Dokter Ariel yang ingin bertemu denganku.
"Tapi sebelum Nona bertemu dengan Nyonya, saya ingin membawa Nona ke suatu tempat dulu."
"Ke mana?"
Dan di sini lah kami sekarang. Di salon dan butik.
"Apa sekarang saya akan di dandani ala putri, Bu?" tanyaku sedikit merasa aneh ketika menginjakkan kaki ke dalam salon. kami berdua, saku dan Bu Adisty, menunggu di ruang tunggu khusus.
Bu Adisty menatapku dari atas ke bawah, bawah ke atas. "Sepertinya nggak buruk juga kalau di dandani ala snow white."
"Bu ... saya serius."
Bu Adisty menata duduknya kembali menghadap depan, mengambil satu koran, membuka dan membacanya. "Tenang saja. Pemilik salon akan mendandanimu dengan sopan. Kamu nggak mau kan bertemu dengan Mama mertuamu dengan pakaian kayaka gitu."
Aku menatap piyama lingerie yang aku gunakan. Untung saja Dokter Ariel menutupi piyama ini dengan jasnya. Kalau nggak mungkin baju tipis ini akan mengekspos tubuhku denagn bebasnya.
Ya juga sih, aku ngak mungkin bertemu dengan Mama mertuaku untuk pertama kalinya dengan baju tak sopan ini.
Tapi ... bagaimana Mama mertuaku ya?
Apa beliau seperti Mama seperti di drama korea, yang akan melakukan apapun untuk memisahkan aku dan Dokter Ariel? Atau Mama adalah sosok Mama yang baik yang selalu mendukun apa pun perkataan Mama.
Seperti apa ya beliau?