"Nama gadis tadi adalah Indriyani. Keponakanku. Ibunya adalah adik sepupuku." Terang Pak Siddiq setelah meletakkan empat gelas kopi di meja kecil depan kami.
Kami, aku, dewa, Doni dan Jali, sekarang berada di rumah Pak Siddiq. Berbincang di teras rumahnya yang sederhana. Beliau meminta kami agar mampir ke rumahnya dulu sebelum benar-benar tinggal di polindes desa. Di polindes itu sendiri memang sudah di buatkan tempat untuk kami tinggal beserta segala perabotannya.
Sedangkan Pak Beno dan juga supirnya, langsung pamit balik pulang. Dia bilang kalau istrinya di rumah yang lagi hamil besar sudah menelponnya terus menerus.
Kembali lagi ke Pak Siddiq.
Oh ternyata keponakan sepupu. Aku kira gadis berwajah arang hitam tadi adalah keponakan Pak Siddiq asli. Aku kira ayah atau ibunya gadis itu adalah saudara kandung dari Pak Siddiq. Ternyata saudara sepupu.
"Ayah dan ibunya baru saja meninggal di dalam hutan karena di serang hewan buas. Ini aku baru kembali dari tempat pemakaman orang tuanya."
Ya. Memang. Setelah kejadian yang agak menegangkan dengan tiga bodyguard. Pak Siddiq langsung pamit pergi ke rumah gadis berwajah hitam arang beserta membawa gadis itu. Sedangkan dia menyuruh putrinya untuk mengantar kami ke rumahnya yang berada di dekat polindes.
"Mereka memang hidup dengan kekurangan. Tapi Yani adalah gadis baik. Dia selalu berusaha untuk membantu ayah dan ibunya. Bahkan dia sempat berhenti sekolah karena tahu diri bahwa orang tuanya kesusahan dalam membiayai sekolahnya."
"Bukannya ada dana bantuan buat setiap sekolahan, Pak?" Dewa bertanya.
"Tidak, Mas. Semua sekolah di sini. Dari TK sampai SMA adalah sekolah swasta. Dan pendirinya adalah Pak Takur. Pak Takur lah yang membiayai pembangunan setiap sekolahan di sini. Jadi untuk pembayaran setiap sekolah juga Pak Takur yang menentukan.
"Lalu kalau polindes nya?"
"Polindes juga. Pak Takurlah yang mengusahakan polindes ada. Agar penduduk di sini gampang untuk periksa ketika sakit."
Biar gampang periksa ketika sakit, atau biar penduduk nggak ada yang punya niatan keluar dari desa? memfasilitasi kebutuhan umum penduduk desa agar penduduk di sini nggak ada yang keluar dari kampung. Entah mengapa pikiranku tentang pak Takur ini semuanya negatif. Membangun sekolahan dan membangun polindes, entah kenapa dipikiran ku itu, semua itu untuk mengharumkan nama dia saja. Agar orang-orang di sini bertekuk lutut padanya. Agar nggak ada yang berani menentangnya. Dan juga agar penduduk sini nyaman berada di desa dan malas untuk keluar. Menurutku itu adalah kejahatan yang dibungkus dengan kebaikan.
"Lalu kenapa jalan yang menuju sini nggak dibangun pak?" Tanyaku penasaran. Jika di dalam désa sudah maju begini, ada sekolah yang bagus dan polindes yang bagus, tapi kenapa akses ke sini kayak mau pergi ke pedalaman kampung primitif. Jalan yang sangat amat parah rusaknya. Padahal di dalam désa jalanan kampung kebanyakan sudah berpaving dan lancar.
"Entah Mas, saya juga nggak tahu." Pak Siddiq mengangkat cangkir kopinya dan menghirupnya sedikit. " Silahkan di minum mas kopinya!"
"Eh, iya pak." Jali yang menjawab.
Lalu kamipun melakukan hal yang sama seperti pak Siddiq. Meminum kopi kental kami sedikit demi sedikit.
"Dulu aku sudah pernah mengajukan tentang perbaikan jalan untuk menuju ke sini mas." Lanjut Pak Siddiq meneruskan percakapan tentang akses jalan. "Niatku, jika jalan menuju ke sini lebih mudah maka aku harap perekonomian di sinipun bisa lebih baik. Paling nggak nanti ada pedagang yang mau masuk sini. Atau penduduk sini bisa ke pasar yang ada di desa tetangga. Desanya Pak Beno. Tapi sampai hari ini pun, pengajuan proposalku belum juga disetujui."
"Lalu bagaimana dengan keperluan penduduk sini, Pak?" Dewa bertanya. "Setahu saya ada minimarket modern yang besar di dekat polindes. Itu punya siapa?"
"Wah, ada minimarket besar di dekat polindes? Kok aku nggak tahu?" Doni menyela.
"Ada. Cuma masuk ke lorong dikit baru terlihat minimarket itu." Terang Dewa. "Sebulan yang lalu, ketika aku baru sampai di sini, akupun kaget. Kok ada minimarket besar di desa terpencil kayak gini? Mana di dalamnya lengkap banget isinya. Kayak minimarket di kota-kota besar. Cuma di sini lebih lengkap. Dari keperluan sehari-hari dan juga keperluan rumah tangga ada semua."
"Itu milik Pak Takur, Mas. Istri pertama dan keduanya yang mengelola minimarket itu."
"Waahhh ... Hebat juga ya si Pak Takur ini." Jali memuji takjub.
Bukan, itu bukan hebat. Tapi cerdik dan licik.
Pak Takur mencegah adanya perbaikan akses jalan menuju ke desa ini karena jika jalanan menuju desa lain sudah bagus, maka tidak menutup kemungkinan kalau penduduk sini pasti banyak yang keluar dari desa. Jika sudah begitu maka cuan yang dihasilkan Pak Takur pun tidak selancar ketika penduduknya hanya berkutat di dalam désa saja.
Benar-benar pemikiran yang pintar.
"Lalu untuk mata pencaharian penduduk gimana, Pak?" Kali ini aku yang bertanya.
"Kebanyakan penduduk sini itu bertani. Menggarap sawah juga dengan bantuan Pak Takur. Untuk keperluan seperti membajak, memanen atau menyelep, semua alat itu tersedia di gudang Pak Takur dan beliau menyewakan semua alat itu untuk penduduk desa. Lalu untuk pupuk dan sejenisnya, ada toko khusus yang menjual pupuk pertanian milik Pak Takur. Dan semua itu bisa dihutangkan dulu pada penduduk."
"Dan menagih bunganya sebesar dua puluh persen untuk semua hutang-hutang yang menumpuk itu." Kataku menyela perkataan Pak Siddiq.
"Ya." Pak Siddiq menjawab setelah menghela napas panjang. "Kadang aku berpikir, kapan desa ini bisa lepas dari Pak Takur itu."
Lalu kami terdiam dengan pikiran kita masing-masing.
Yah, aku akui, Pak Takur ini memanglah hebat dan cerdas. Tapi di balik kehebatan dan kecerdasan itu, tersembunyi dengan baik niat jahat yang terus menggelap di dirinya.
"Oh ya, Mas Ariel. Tentang perkataan mas yang mau membayar utang keponakanku tadi ...." Pak Siddiq tidak meneruskan kalimatnya.
"Ooohhh itu. Tenang saja pak!" Dewalah yang menjawab.
Dan aku duga, cowok ini sebentar lagi pasti akan membual.
"Ariel ini anaknya orang kaya. Putra konglomerat."
Nah kan, apa kubilang. Juniorku tapi lebih tua dariku ini pasti akan mengeluarkan jurus sombongnya.
"Rumah sakit tempatku bekerja saja punya mamanya si Ariel."
"Benar, Pak! Tenang saja!"
Lah, kenapa si Jali, si bocah perawat ini malah ikut-ikutan.
"Dokter Ariel ini sangaaaatttttt kaya. Jadi bapak nggak perlu khawatir."
"Benarkah?" Pak Siddiq bertanya dengan mata berbinar tapi tetap ada keresahan di sana. "Tapi mas utang saudaraku itu sangat banyak. Kalau nggak salah hampir seratus jutaaa."
"APAAAA?" Baik Dewa, Doni dan Jali, berteriak kaget.
***
"Lo yakin Ril mau bayar utang gadis berwajah hitam itu?"
Kulirik Dewa yang duduk disampingku, menungguiku membongkar barang-barang yang kubawa.
Sekarang kami sudah ada di polindes. Ada dua kamar di sini. Setiap kamar ada ranjang yang bertingkat. Jadi kami memutuskan satu kamar digunakan berdua. Dan aku sekamar dengan Dewa.
"Kenapa memangnya?" Tanyaku acuh meneruskan kerjaanku yang tertunda.
"Itu seratus juta lho Ril. Bukan seratus ribu."
"Memangnya gue b**o apa nggak bisa bedain seratus juta sama seratus ribu?"
"Lah itu, kenapa lo tadi dengan entengnya malah berjanji ke Pak Siddiq kalau lo pasti akan bayar utang keponakannya? Itu kan jumlahnya gede banget."
"Nggak papa. Itung-itung aja sedekah." Cuekku. Setelah selesai membongkar baju dalam koper, aku mulai menata peralatanku ke dalam lemari kecil yang tersedia di kamar polindes.
"Wuuuiiiihhhhh yang anak Sultan. Enak benar. Seratus juta dibilang sedekah."
Aku tahu, Dewa sekarang sedang menyindirku. Tapi aku bodo amat. Entahlah aku nggak tahu kenapa tapi sepertinya aku memang harus melakukan ini.
"Apa iya aku perlu ngikut caranya pak Takur? Aku lunasi utangnya gadis itu dengan syarat dia mau menikahiku?"
"Bwahahahahaha ...!" Kini cowok yang tadi menyindirku sekarang malah mengejekku secara terang-terangan. "Lo? Nikah sama cewek berwajah hitam tadi? Lo mana doyan yang kayak gituan. Bwahahahahaha."
Setelah selesai menyelesaikan ritual menata barangku, aku segera menuju ranjang dua tingkat dan naik ke atas. Aku memang memilih untuk tidur di ranjang atas.
"Nah lo juga tahu selera gue itu yang kayak gimana. Masak iya masih perlu dipertanyakan lagi."
Dewa mematikan lampu kamar dan menyusul di ranjang bawahku.
Kami bersiap tidur awal malam ini. Perjalanan yang melelahkan seharian tadi benar-benar menguras tenaga kami.
"Bwahahahahaha iya. Tentu aja gue hapal selera Lo tentang gadis. Selera Lo itu pasti gadis dengan kecantikan di atas rata-rata. Lo mana mau sama gadis yang kecantikkannya biasa aja. Apalagi kayak gadis yang tadi, nggak cantik sama sekali. Bisa-bisa Lo muntah pas malam pertama. Bwahahahahaha!"
Dasar Dewa b******k. Seneng banget dia bisa ngejek aku.
Kuambil selimut di dekat bantal. Menggelarnya menutup seluruh tubuhku. Bersiap tidur.
Tapi ... mengenai gadis berwajah hitam tadi, entahlah, aku tidak yakin kalau dia jelek. Tapi aku juga nggak yakin kalau dia cantik. Memang sih wajahnya yang hitam itu, aku yakin karena diolesi arang hitam atau yang sejenisnya. Karena selain wajahnya tadi aku juga melihat kulit lengannya yang terbuka. Tangannya terlihat putih dan bersih..beda banget sama wajahnya. Tapi itu juga tidak memungkinkan kalau dia cantik. Bisa saja kan, dia mencoret-coret wajahnya seperti itu karena memang dia jelek.
Entahlah, aku juga nggak tahu. Akupun juga nggak mau tahu.
Bagiku, besok, jika Pak Takur benar-benar datang untuk meminta uang pembayaran hutang maka akan langsung aku berikan dan masalah selesai.
Aku nggak mau di tempat terpencil kayak gini aku malah dapat masalah yang malah bikin aku ruwet. Di sini aku hanya ingin bersenang-senang dengan para gadis cantik di sini. Aku nggak mau repot hanya masalah satu gadis saja.
Semoga aja bisa begitu.