7. Doa Wanita Tua

1084 Words
Hari ini adalah hari pertama aku kerja di polindes di sebuah desa pedalaman. Bukan kerja sih sebenarnya, aku ke sini hanya untuk menemani dewa dan liburan. Jadi nanti yang kerja pun si Dewa bukan aku. Nanti rencana aku mau keliling desa nyari cewek cantik yang ada. Sudah nyampe di sini, jadi rugi kalau nggak sekalian mencari yang bening-bening. Hihihihi. Karena semalam aku tidur sore, jadi mau tak mau, ketika jam menunjukkan jam lima pagi aku udah bangun dan nggak bisa tidur lagi. Padahal biasanya aku selalu molor kalau waktunya bangun tidur. Tapi pagi ini aku memang agak berbeda. Tubuhku lebih terasa fresh dan segar. Dan ketika aku berjalan ke ruang makan karena terdengar suara berbisik alat dapur yang saking bergesekan, serta seperti orang yang berbincang. Ah ... ternyata dua perawat itu ya. Ngomong-ngomong perawat yang di bawa dewa itu cukup rajin. Mereka berdua sudah bangun terlebih dahulu dan bersih-bersih. Bahkan mereka udah punya sarapan untuk kami berempat. "Wow ... kalian rajin sekali. Pagi-pagi udah dapat makanan aja?" Pujiku. Tampak kedua bocah yang mengeluarkan berbagai makanan dari rantang itu menoleh ke arahku. "Selamat pagi, Dok!" Sapa Jali. "Selamat pagi, Dokter Ariel!" Donibjuga menyapa. "Selamat pagi juga." Balasku. Berjalan mendekat pada mereka. "Makanan catering?" Tanyaku melihat makanan khas orang desa yang tersaji di meja makan. Ada nasi, sayur asem, sambel sama tempe dan tahu goreng. "Ah ... makanan ini dikirim istrinya Pak Siddiq, Dok, habis subuh tadi." Doni yang menjawab. "Oh ... aku kira kalian beli di warung." Keduanya tersenyum. "Tidak, Dok!" ""Dokter Dewa belum bangun, Dok?" tanya Doni melihat ke arah pintu. Mungkin dipikiranmya kok aku datang ke ruang makan sendirian. "Si Dewa? Biarin aja! Anak itu sudah biasa bangun molor!" Keduanya mengangguk-angguk. "Mau sarapan sekarang, Dok?" Tanya Jali. "Eh tapi apa nggak nunggu dokter Dewa agar bisa sarapan sama-sama?" Doni menimpali. Lalu menatapku dengan ragu. "Apa nggak papa kita tinggal sarapan dulu dokter Dewa, Dok?" Aku tersenyum menangkap pendengaran langkah kaki Dewa yang sedang menuju kemari. Dan akupun punya ide untuk ngerjain dia. "Nggak papa, nggak disisain juga nggak papa tuh bocah." "Sadis bener lo jadi temen Ril. Semua makanan mau lo embat juga!" Protesnya ketika sampai di ruang makan menyusul kami, masih dengan tampang bangun tidurnya. Nah kan, pendengaranku nggak akan salah. Bocah ini sudah bangun dan menyusul ku ke sini. "Selamat pagi, Dok!" Sapa Doni dan Jali. "Selamat pagi juga." Balas Dewa. "Ngomong-ngomong, makasih ya makanannya!" "Ini bukan dari kami, Dok. Ini dari nyonya Siddiq semua makanan ini!" "Wah dari calon ibu mertua gua ya?" Aku mengangkat alis, tak mengerti. "Calon ibu mertua?" Dengan mata berbinar, Dewa menatapku penuh senang. "Memangnya lo nggak lihat putri Pak Siddiq yang cantik jelita itu?" Putri Pak Siddiq? Apa maksudnya gadis yang menangis karena ingin menolong temannya itu? Ya. Aku memang melihatnya. Gadis cantik dengan rambut hitam tergerai. Menangis sesenggukan karena tak berdaya ingin menolong temannya. Ah ... membicarakan itu aku jadi ingat gadis bertopeng arang kemaren. Gimana kabar dia ya? "Dia kan calon istri gua." Pengakuan Dewa menyadarkanku dari lamunan sekejabku. Aku mengangkat alis, tak percaya. "Sejak kapan?" "Bentar lagi. Sedikit pendekatan, gua yakin dia pasti klepek-klepek dengan pesona gua!" Katanya penuh percaya diri. "Kalau gitu lo harus siap LDR an sama calon istri lo!" "Loh kenapa?" Jiah nih anak. Baru kemaren dijelaskan udah lupa dia. Memangnya dia kemaren di sini selama sebulan ngapain aja sih? Berendam di sungai? "Dokter Dewa yang terhormat, bukankah kemaren sudah di terangkan sama bapak yang nganter kita kalau cewek di sini nggak mau pergi dari kampung ini karena takut berubah jadi jelek?" Dewa terdiam sebentar. Mungkin kembali mengingat-ingst percakapan kami dengan para bapak kemaren. "Eh ... iya juga ya." Nah, akhirnya inget juga dia. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelemotan temanku satu ini. "Tapi aku kan bisa menetap di sini sebagai dokter. Jadi bisa bersama-sama terus dengan putrinya Pak Siddiq." Aku bersidekap, menatap Dewa dengan tatapan mengintimidasi. "Yakin?" Bocah itu sekarang malah garuk-garuk kepala yang nggak gatal. "Entah. Hehehe." Dan malah cengengesan. Aku hanya geleng-geleng kepala tak percaya melihat kelakuan bocah absurd satu ini. "Dah lah terserah lo aja. Tapi kalau ada apa-apa jangan cari gua ya!" Aku berbalik pergi dari ruang makan. Males debat sama nih anak. "Oeee Ril. Mau ke mana?" "Mandi." Dan aku sudah nggak peduli bocah itu kembali ngomel-ngomel lagi. *** Hari yang lumayan sibuk. Sejak polindes buka jam sembilan pagi tadi, sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk diperiksa. Dan kebanyakan adalah para orang tua yang mengeluhkan kakinya yang sering linu, atau punggung mereka yang sakit tiap mencangkul. Kadang mereka juga sering mengeluh karena kepalanya yang terus-menerus pusing. Aku dan Dewa dengan sabar memeriksa mereka satu persatu. Rencanaku yang ingin keliling kampung nyari gadis cantik, pupus sudah. Melihat betapa banyaknya pasien yang mengantri, akhirnya tak tega juga aku ninggalin Dewa sendirian memeriksa seluruh pasien. Gini-gini, aku ini cowok yang setia kawan juga lho, Bro! Jali bertugas menerima pasien dan mendatanya, lalu memberikan antrian sesuai cepet lambatnya datang. Agar proses pemeriksaan lancar dan tak terkendala dengan nomer antrian yang semrawut. Makanya dibutuhkan kerja sama kayak Jali. Mengatur pasien yang datang. Sedangkan Doni bagian menerima resep dari kami, mengambilkan obat, atau meracik obat, untuk para pasien. Dan menjelaskan kepada mereka cara minum obatnya, manfaat obatnya, dan kadang sampai menerangkan efek obatnya untuk tubuh mereka. Kami berempat, bekerja dengan sangat kompak, terstruktur dan juga profesional. "Dokter Ariel!" Tiba-tiba Jali datang, masuk ruangan pemeriksaan dan langsung berbisik di telingaku yang sedang memeriksa seorang wanita tua. Karena aku masih sibuk memeriksa dan tidak etis jika aku tinggalkan ditengah-tengah pemeriksaan, akhirnya aku hanya bertanya 'kenapa?' lewat pandangan mata. "Ada orang yang nyari dokter. Katanya namanya Pak Takur!" Pak Takur? Oh ... Pak Takur tukang ngoleksi istri itu? Ternyata datang juga dia. "Oke. Suruh dia nunggu sebentar di taman belakang polindes!" "Baik, Dok!" Setelah Jali pergi keluar ruangan, kini aku malah yang nggak bisa fokus untuk memeriksa wanita tua di depanku ini. Pemberitahuan tentang Pak Takur yang datang, sedikit banyak menjadi beban pikiranku. Setelah selesai memerika wanita tua ini, aku menuntunnya pada Doni dan memberikan selembar resep untuk Doni racik. Setelah Doni mengangguk, paham akan resep yang aku berikan, aku langsung pergi dari tempat itu setelah berpamitan dengan wanita tua itu. "Saya kergi dulu ya, Nek! Nanti kalau ada keluhan lain, nenek bisa ke sini." Aku tersenyum manis pada wanita tua yang aku papah ini. "Makasih ya, Nak. Semoga kamu segera mendapat istri yang bisa membuat mata dan hatimu jadi tenang dan tentram." "Aamiin." Dan aku hanya menganguk dan berterima kasih atas doanya. Tanpa tahu jika itu akan terjadi sebentar lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD