8. Pak Takur

1318 Words
"Selamat siang Pak Takur!" sapaku ketika menemui dua orang laki-laki setengah baya ini di taman belakang polindes. Aku tidak dapat menjamu tamuku di ruangan khusus tamu karena memang di polindes nggak ada ruang untuk itu. Lagipula aku juga malas untuk menjamu mereka secara formal, secara aku memang sudah tidak menyukai mereka, yang datang sebagai wakil Tuan Tanah. Entahlah sejak mendengar ceritanya, dan melihat secara langsung bagaimana dia memperlakukan gadis yang akan menjadi minatnya, seperti gadis berwajah arang itu, aku sudah nggak suka dengan apapun yang berbau Tuan Tanah. Begitulah aku menyebut orang itu. "Selamat siang juga. Benarkah anda yang bernama Dokter Ariel?" Seorang laki-laki berpakaian formal yang menjawab sapaku. Laki-laki ini memakai kemeja dan jas lengkap berserta dasinya. Celana berbahan kain dan juga sepatu fantofel. Dari segi penampilannya, sama sekali tidak terlihat kalau dia adalah penduduk desa pedalaman. "Ya. Benar." Laki-laki berjas itu beranjak dari kursi taman dan menyalamiku. "Perkenalkan nama saya Ardika Martadiyanto. Pengacara dari Tuan Takur." Dan mau tak mau, sebagai sopan santun, aku pun juga menjabat tangan pengacara ini. "Salam kenal juga, Tuan Pengacara, Saya Ariel." "Panggil saja saya, Dika." "Baik, Pak!" "Dan ini adalah Tuan Takur." Setelah melepas jabatan tangan, Pak Pangacara ini memperkenalkan laki-laki yang masih duduk di kursi taman. Dan hanya melirikku sekilas. Khas orang kaya yang sombong. Ah ... ternyata ini yang namanya Pak Takur. Aku kira kakek tua satu ini juga orang yang mewakili Pak Takur itu sendiri. Aku yakin, kakek tua rentenir ini pasti penasaran denganku yang dengan berani menghajar anak buahnya dan mengambil calon istrinya, sampai-sampai dia datang ke sini sendiri untuk menemuiku. Kutatap pria berumur yang hanya memakai kaos dan celana pendek ini, mempelajari karakternya. Dari segi wajah pria ini memang sudah terlihat berumur tapi dari segi tubuh, laki-laki yang sudah beruban ini tidak dapat disepelekan. Tubuhnya masih terlihat kuat dan kekar. Tidak seperti dalam bayanganku. Aku kira pria yang bernama Pak Takur ini hanyalah kakek-kakek kurus yang suka mengoleksi istri muda seperti dalam film India jaman dahulu. Ternyata perkiraanku salah. Untuk lebih jelasnya akan aku beri gambaran. Apa kalian pernah nonton mahabarata? Apa kalian tahu pemeran Bhisma dalam versi India? Arav Chowdahry? Nah untuk versi tubuhnya, tubuh Pak Takur ini memang sekokoh pemeran Bhisma itu. Kalau untuk versi wajah, walau sudah berumur tapi sisa-sisa ketampanan masa mudanya masih sangat melekat di garis wajahnya. Aku akui, aku sangat keliru dalam membayangkan Pak Takur dalam versi imajinasiku. Aku hanya menundukkan kepala sopan ketika mataku dan mata Pak Takur ini bertatapan. Pak Takur pun melakukan hal yang sama. Kemudian baik aku dan pak pengacara yang bernama Dika ini kembali duduk di kursi taman polindes. "Gimana kesan anda pertama kali praktik di polindes desa ini, Pak Dokter?" Cih ... basa-basi. Memang sih sudah tugas bagi pengacara untuk membangun suasana yang nyaman dan kondusif untuk klian dan juga lawan sang klien. Tapi aku nggak suka basa-basi. "Bisa kita langsung ke intinya saja?" pintaku. "Pasien saya banyak. Dan saya nggak mungkin membuat mereka menunggu terlalu lama." "d****k!" umpat Pak Takur sangat lirih. Yah, sangat lirih, nyaris berbisik. Sampai-sampai Pak Dika yang duduk tepat di sampingnya tidak mendengar u*****n tuan yang dilayaninya. Tapi beda denganku yang punya indera pendengaran yang sangat tajam. Selirih-lirihnya u*****n Pak Takur, aku masih bisa mendengar. "Dasar bocah kemaki!" lanjut kakek tua itu lagi. Aku hanya tersenyum mendengar umpatannya. Jangan kalian kira aku nggak paham apa yang diucapkannya. Aku sangat paham. Yah, walau selama ini aku selalu hidup di kota besar tapi aku juga punya banyak teman dari desa. Kadang mereka saling berbicara pakai bahasa Jawa, Dan aku belajar dari sana. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau IQ-ku itu tinggi melebihi rata-rata. Dan bagiku memahami bahasa Jawa tidaklah sulit. "Oh maaf. Apakah kami mengganggu waktu praktek anda?" Pak Dika masih bertanya sopan. Khas tindak tanduk orang yang menjaga kinerjanya. "Ya." jawabku tanpa basa-basi. "Apa perlu kami pergi dulu dan kembali di lain waktu ketika anda senggang?" "Tidak!" Ini bukan aku yang menjawab. Melainkan Pak Takur yang terlihat marah dengan tanggapan pengacaranya. "Aku ingin masalah ini segera selesai." Dan mendapat uangmu kembali kan? terusku dalam hati. Dasar kakek tua penggila uang. Melihat Pak Dika yang kesusahan menangani kliennya, aku hanya tersenyum menertawakan. "Tidak perlu Pak. Kita bisa membahasnya dan langsung menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tidak perlu ditunda." Dan pada akhirnya aku juga nggak tega. "Mumpung pasien sudah berkurang banyak." "Baik, Terima kasih Pak Dokter." Aku hanya mengangguk mengiyakan. "Oke, kita akan mulai membahas pemasalahan ini." Pak Dika memulai sesi pembahasan. "Apakah benar anda kemarin menghadang para bodyguard Tuan Takur ketika mereka menjemput pelaku hutang?" Aku mengernyit kaget dengan bahasa yang digunakan Pak Pengacara ini. "Menjemput? Pelaku hutang?" tanyaku sedikit kaget. "Bukannya memaksa dengan menariknya? Atau sandera sebagai penebus hutang orang tuanya." "Maaf, mungkin anda salah paham tentang sesuatu." "Benarkah? Apa ini hanya kesalah pahaman saya saja?" tanyaku menatap Pak Takur, menantangnya. Pak Takur pun membalas tatapan mataku dengan tajam. "Kendel juga kowe bocah!" ucap Pak Takur setelah sejenak diam, dengan senyum miringnya. Aku pun hanya tersenyum mengiyakan. Ya, aku memang tidak berniat menyembunyikan sifat asliku. Aku memang blak-blakan dan suka mengucapkan apapun yang aku pikirkan. Bukan sifatku menahan apapun yang mengganjal di hatiku. "Jadi bagaimana Pak Takur. Apa bisa kita mulai transaksinya?" tanyaku. "Bwahahahhahaha ... transaksi jaremu? Opo mbok kiro cah wedok iku dagangan?" "Kalau anda menginginkan gadis itu untuk anda nikahi sebagai tumbal dari hutang kedua orang tuanya, bukannya itu tak ada bedanya dengan dia adalah dagangan? Aku hanya menawarkan sesuatu sebagai timbal balik jika anda berkenan untuk memberikan dagangan itu untuk saya." "Bwahahahaha ... pinter juga kowe bocah." "Terima kasih atas pujiannya Pak!" "Tapi sayang e, aku wes kadung seneng mbi dagangan iki. Pancaran aura mbi itungan nasib e gowo untung gede. Rugi no aku ne tak wehno kowe." Jiah, malah pake alasan kayak paranormal aja. Apa itu pancaran aura? Apa itu hitungan nasib? Kalau orang mau bekerja keras dan terus berusaha pasti akan sukses dan kaya. Mana ada jaman sekarang yang masih percaya yang begituan? Ada-ada aja alasan kakek tua ini. "Lalu apa yang harus saya berikan pada Anda agar Anda memberikan dagangan ini pada saya?" "Memang e kowe wes ngerti piro utang e genduk iku?" "Kata Pak Siddiq hampir seratus juta." "Ora hampir seratus juta. Tapi memang seratus juta." "Oke. Saya tak masalah membayar hutang gadis itu sebesar seratus juta." "Bwahahahaha ..." Sudah tiga kali sejak sepuluh menit yang lalu Pak Takur terbahak. "Ternyata sugeh juga kowe bocah." "Terima kasih, tapi memang inilah saya." Pak Takur kembali tertawa sangat keras. "Tapi sayang e, walau utang e mbok lunasi, aku tetep ape golek coro ben genduk iku tetep dadi bojoku. Aku gak peduli." Ancam Pak Takur. Kini sifat aslinya mulai keliahatan. Dasar kakek-kakek pecinta daun muda. Memangnya apa sih yang menarik dari gadis berwajah arang itu? Wajahnya aja dilaburi arang, itu berarti gadis itu jelek dan nggak ingin ketahuan. Apalagi yang menarik minatnya. Jangan bilang kalau itu tentang pancaran aura atau hitungan nasib. Cara kayak gitu udah nggak jaman. "Lalu apakah Anda akan melepasnya jika saya menikahinya?" "Gak bakalan. Mbok kiro aku iso mbok bodoni? Hahahaha." Aku diam. Mencoba memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan kakek tua ini. "Oke. Koyok e kowe naksir genduk iku temenan." Akhirnya akan ada keputusan final. "Aku gelem ngewehno genduk iku tapi nganggo dua syarat." Aku diam, menyimak. "Siji, kowe nikah mbi genduk iku neng kene terus genduk iku mbok gowo muleh neng kotamu. Loro, kowe kudu bayar utang e dua kali lipat. Dua ratus juta. Piye?" Kakek tua itu tersenyum penuh kemenangan. Dasar Kakek tua pecinta uang dan penggila istri muda. Ternyata banyak juga akalnya. "Baik." jawabku membuat Pak Takur melotot kaget menatapku. "Aku akan menikahi gadis itu di sini dan membawanya ke kotaku. Serta aku akan membayar hutangnya dua kali lipat dari yang seharusnya. Dua ratus juta. Deal?" Mendengar jawabanku yang mantap, pasti membuat jiwa kakek tua itu sedikit terguncang. Buktinya dia sampai melongo saking kagetnya melihat responku. Hahahahaha ... lihat sekarang siapa yang tertawa. Mau main-main denganku? Rasakan sekarang akibatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD