"Mas yakin mau nikahin ponakan saya?" Pak Siddiq bertanya dengan tampang super serius.
Melihat Pak Sidiiq bertanya dengan nada seperti itu, entah kenapa seakan menguatkan dugaanku kalau gadis berwajah arang itu pasti jelek. Kadang feelingku tentang cewek itu sembilan puluh persen benar.
Kalau seumpama aku tanya ponakannya cantik atau jelek, pantas nggak ya?
"Iya, Pak. Saya yakin." jawabku dengan terpaksa.
"Tapi ..." Pak Siddiq menggantung kalimatnya. Dan itu semakin membuatku yakin kalau perkiraanku tidak meleset.
Mampus aku sekarang. Gimana aku harus mengatasinya. Jangan-jangan ledekan Dewa kemaren bisa jadi kenyataan. Apa aku akan muntah pada malam pertama setelah aku menikah?
"Apa benar Dok, kalau Pak Takur minta Dokter Ariel ngelunasin hutang gadis yang bernama Yani itu dua kali lipat?" tanya Doni penasaran.
"Iya, Don."
"Dua ratus juta ini Dok, bukan dua juta?" Doni masih histeris.
Pletak!
"Aduh! sakit tahu, Jal." Doni mengelus kepalanya yang dijitak Jali sangat keras sampai berbunyi.
"Kalau Dokter Ariel bilang dua ratus juta maka dua ratus juta, Don. Mana ada dua ratus juta jadi dua juta doang."
"Aku kan cuma kaget aja, Jal. Seumur-umur aku belum pernah lihat uang dua ratus juta lho."
"Uang yang kamu lihat tentu beda dengan uang yang Dokter Ariel lihat, Don Don! kita ini lagi ngomongin tentang pemilik Rumah Sakit lho! Bukan perawat biasa kayak kita."
"Ril." panggilan Dewa untukku, menghentikan perdebatan Doni dan Jali sejenak.
Aku menatap Dewa. Wajah bocah ini yang biasanya hanya suka becanda dan petakilan, kini terlihat begitu serius.
"Kira-kira apa ya niat Pak Takur sebenarnya, kenapa memberi syarat pada lo untuk membawa gadis itu ke kota setelah lo nikahin dia?" tanya Dewa.
Aku terdiam. Tak bisa menjawab. Aku juga tak tahu apa niat Pak Takur sebenarnya. Cuma aku punya keyakinan bahwa, kakek tua itu pasti punya alasan tertentu kenapa memberi syarat seperti itu.
"Apa mungkin untuk mengetes Yani?" Pak Siddiq memberi pendapat.
"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Apakah saya sudah pernah cerita kalau gadis di sini itu kebanyakan takut keluar dari desa ini?"
"Ya. kemaren bapak sudah cerita. Para gadis takut keluar dari desa karena ada keyakinan, kalau mereka meninggalkan desa kelahirannya maka dia akan menjadi tidak cantik lagi." Dewa yang menjawab.
"Ya. Mungkin karena alasan itu Pak Takur memberi syarat seperti itu pada Mas Ariel. Karena beliau juga ingin mengetes Yani. Jika Yani menolak pergi ke kota dengan Mas Ariel, itu berarti keponakanku lebih memilih dia tetap terlihat cantik dari pada kebebasannya, maka secara otomatis pernikahan Mas Ariel dengan Yani batal. Dan jika Yani bersedia meninggalkan desa ini, maka gadis itu benar-benar ingin bebas dari belenggu Pak Takur dan siap hidup dengan Mas Ariel di manapun."
Penjelasan Pak Siddiq begitu masuk akal.
Berarti kakek tua itu memang cerdik. Dalam jangka waktu sebentar, padahal tidak sampai setengah jam kami bertemu siang tadi, langsung bisa memikirkan cara jitu untuk mengetes dan menguji aku dan juga menguji gadis berwajah arang itu.
Kalau ujian untuk gadis itu, sepertinya penjelasan dari Pak Siddiq sudah bisa menjawab semuanya.
Sedangkan ujian untukku sendiri adalah bayar hutang si gadis dua kali lipat dan pernikahan itu sendiri.
Sepertinya Pak Takur sudah sedikit tahu tentang diriku. Aku yang masih begitu gemar bersenang-senang dengan banyak gadis pastilah berat jika disuruh menikah. Karena dengan menikah, tentu saja kebebasanku jadi terkekang. Dan aku tidak dapat bersenang-senang lagi dan meniduri banyak gadis.
Kayaknya Pak Takur mengumpulkan banyak informasi tentangku dulu sebelum kakek tua itu menemuiku tadi siang.
"Mas Ariel." Panggilan Pak Siddiq menyadarkanku dari lamunanku sejenak.
"Ya?"
"Apa perlu aku membicarakan masalah ini pada Yani, keponakanku?"
Aku kembali terdiam sebentar. Berpikir, apa yang terbaik, yang harus aku lakukan.
"Sepertinya tidak perlu, Pak."
"Mas Ariel yakin?"
"Iya, Pak."
"Tapi ..."
"Tenang saja! Bapak nggak perlu khawatir. Saya tidak akan mengingkari perkataan saya yang akan melunasi hutang keponakan bapak. Tapi untuk keputusan, apakah keponakan bapak mau menikah dengan saya dan ikut saya ke kota, biarlah keputusan itu milik gadis itu sepenuhnya. Saya tidak akan memaksa atau memberi penjelasan. Biarkan keponakan Bapak memutuskan sesuai kata hatinya."
"Baiklah kalau memang seperti itu keputusan Mas Ariel. Aku nggak akan memaksa dan bertanya lagi."
"Terima kasih, Pak. Tapi bisakah saya meminta bantuan Bapak?"
"Bisa, Mas. Mas Ariel mau minta bantuan apa?"
"Tolong pertemukan saya dengan keponakan Bapak. Indriyani."
***
Di bawah langit malam, aku merebahkan tubuhku dengan telentang di kursi panjang, di pekarangan rumah Pak Siddiq.
Akulah yang memang meminta bertemu dengan gadis berwajah arang itu di rumah pamannya, Pak Siddiq. Aku memang sengaja tidak mengajak bertemu di polindes, karena pembicaraan yang akan kami bahas bersifat pribadi, sedangkan di polindes terlalu banyak orang. Aku hanya ingin menjaga privasi gadis itu. Apapun keputusannya, akan aku hargai.
Srek srek srek!
Suara langkah kaki yang lemah terdengar menghampiriku.
"Maaf, anda Dokter Ariel?" lalu tak lama kemudian, sebuah suara seorang gadis terdengar memanggil namaku. Suara yang lumayan lembut. Dan aku sangat yakin kalau itu adalah keponakan Pak Siddiq.
Aku melipat tanganku, dan aku taruh di bawah kepala, memakainya sebagai bantal. Posisiku masih tetap telentang menatap langit malam yang penuh taburan bintang.
"Apa kamu yang bernama Yani?" tanyaku tanpa merubah posisi dan tanpa menatap atau melirik gadis itu. Bahkan aku tak mau repot-repot untuk sekedar berdiri menyambut kedatangan keponakan Pak Siddiq tersebut.
"Ya." jawabnya lemah. Dari arah suaranya, dalam cetak posisi di dalam otakku, aku yakin gadis itu berdiri tak jauh dariku.
Tapi aku tetap masih enggan untuk melihat wajahnya. Dalam bayanganku, gadis yang berdiri di dekatku ini masih berwajah hitam arang seperti saat terakhir kali aku melihatnya.
"Apa kamu sudah diberitahu Pak Siddiq?"
"Ya. Paman sudah memberitahu saya, kalau Pak Dokter akan membayar hutang orang tua saya dengan imbalan menikahi saya. dan Pak Dokter juga akan membawa saya ke kota,"
Ya. Akulah yang meminta Pak Siddiq untuk mengatakan seperti itu, membalikkan fakta. Di sini aku berperan sebagai orang yang jahat yang ingin menolong gadis berwajah arang, dengan imbalan pernikahan dengannya.
"Lalu apa keputusanmu?"
Tak ada sahutan, tak ada jawaban. Sepi.
Panca indera pendengarku yang tajam hanya menangkap deru nafas gadis ini yang begitu tenang.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
"Sebelum menjawab pertanyaan Pak Dokter, bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Tanyalah!"
"Apa alasan Pak Dokter ingin menikahi saya?" tanyanya membuatku ganti terdiam.
Sungguh aku tidak memprediksi jika akan mendapat pertanyaan dari gadis ini. Aku kira, karena dia masih bocah, dia hanya akan menjawab mau atau tidak. Pertanyaannya sungguh diluar dugaanku dan membuatku sedikit berpikir keras untuk menjawab pertanyaan keponakan Pak Siddiq ini. Aku tahu, jawabanku nanti ini akan sangat mempengaruhi keputusan yang akan diambil bocah ini. Sedangkan aku ingin mendengar jawaban jujur dari gadis itu tentang pernikahan yang seperti transaksi ini. Serta aku sedikit berharap kalau dia akan menolak menikah denganku.
"Kata Pak Siddiq apa benar orang tuamu baru saja meninggal?"
Diam. Gadis ini tidak langsung menjawab pertanyaanku. Karena aku tidak menatapnya sejak awal janjian di sini, aku pun tidak bisa membayangkan raut wajahnya bagaimana. Tapi aku bisa menebak kalau gadis ini pasti kaget dengan pertanyaanku.
"Ya. Benar." jawabnya sangat lirih. Tapi telingaku masih bisa menangkap suaranya.
"Apakah kamu percaya jika aku menjawab, aku ingin membayar hutang orang tuamu dan menikahimu karena kasihan?"
Diam. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya gadis ini tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ya, aku tahu kalau ini tidak mudah baginya. Menikah dengan orang asing yang nampak jahat, serta menikahinya dengan alasan kasihan. Bukan dengan alasan suka atau cinta.
"Bagaimana?" kejarku.
"Baiklah. Saya akan menikah dengan Pak Dokter."
Ha?
Apa?
Kini ganti aku yang kaget atas jawaban bocah ini
Ga-gadis ini serius mau menikah denganku? Padahal aku sudah berusaha bersikap jahat seperti ini. Kok dia tetap mau menikah denganku sih? Sungguh, aku ingin melihat mimik wajahnya seperti apa ketika menjawab pertanyaanku tadi. Tapi bayang-bayang gadis dengan wajah hitam arang masih selalu saja menggelayut dalam benakku. Dan al hasil malah membuatku tak punya keberanian untuk menatap dirinya.
"Apa kamu yakin mau menikah denganku?" tanyaku. Siapa tahu akan bisa merubah keputusannya mau menikah denganku.
"Ya."
"Apa aku boleh tahu alasannya?"
"Karena Pak Dokter baik dan ... tampan."