"Dimana?" Bu Adity bertanya melalui telpon.
Setelah sekitar tiga puluh menit kami naik mobil dari panti asuhan, Bu Adisty mengajakku istirahat di sebuah restoran untuk makan. Padahal ini masih jam lima sore. Bu Adisty juga beralasan, beliau harus menelpon seseorang. Ingin sekali aku bertanya, apakah beliau akan menelpon Dokter Ariel, tapi aku nggak berani.
Ah ... biarlah. Aku akan ngikut aja ke mana pun Bu Adisty membawaku.
"Lagi?" Bu Adisty tampak sekali terkejut. Raut wajahny sampai berubah berkerut. Seperti tidak senang akan sesuatu. Tapi ketika Bu Adisty melihatku memperhatikannya, beliau dengan berangsu-angsur mengembalikan mimik wajahnya ke mode wajah datar.
Bu Adisty menjauhkan handphone dari telinga sebentar kemudian menatapku. "Aku keluar sebentar, Nona." pamitnya.
Aku hanya mengangguk.
Bu Adisty pun segera keluar dari restoran, masih dengan menempelkan handphone di telinga kirinya.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Steak Wagyu.
Mungkin kalian heran, bagaimana bisa, aku yang tinggal di panti asuhan tahu dengan yang namanya steak dan memakannya.
Tahu, Tentu saja aku tahu.
Ketika aku baru masuk ke panti, Bu Adisty sudah memberiku ATM tanpa limit. Dan itu membuatku bebas jika ingin berbelanja apa saja. Tapi aku sangat jarang memakainya karena Bu adisty setiap bulan juga sudah memberiku uang tunai lima juta. Katanya, yang ATM itu dari Mamanya Dokter Ariel. Kalau uang tunai, itu dari Dokter Ariel sendiri.
Ini lah yang membuatku bertahan menunggu Dokter Ariel tanpa menyerah. Bukan. Bukan karena uangnya. Dokter Ariel tidak lupa memberiku nafkah, padahal kita nggak bertemu sama sekali selama setahun ini. Bagiku, itu juga berarti Dokter Ariel tidak melupakanku. Makanya aku kini bertekad ingin bertemu dengannya. Aku hanya ingin memastikan kalau Dokter Ariel memang nggak melupakanku dan untuk meyakinkan hatiku.
Sungguh, aku deg-degan banget mau ketemu. Padahal sama suami sendiri. Hihihi.
Oke. Kita kembali lagi ke daging steak wagyu.
Selama setahun ini, setiap Bu Adisty menjenguk panti, beliau pasti mengajakku keluar dengan alasan ingin mengecek kuliahku. Apakah mengecewakan beliau atau nggak, pada Bu Dian, ibu kepala panti. Padahal sebenarnya, Ibu Adisty mengajakku kelauar itu karena mau mengajariku tata krama pergaulan kelas atas. Aku lah yang meminta Bu Adisty berkata seperti itu karena aku nggak mau kalau identitasku sebagai menantu pemilik panti terbongkar. Aku nggak mau sikap Bu Dian padaku berubah gara-gara aku adalah istri Dokter Ariel.
Dan t***k bengek tentang pergaulan kelas atas adalah, salah satunya ya tentang tata krama makan ini. Bagaimana aku harus makan dengan elegan layaknya seorang putri. Bagiku sih nggak masalah. Toh ini kan juga untuk diriku sendiri.
Selain mempelajari tata krama tentang caranya makan, Bu Adisty juga memintaku memperlajari tentang makanan kelas atas juga. Kayak steak ini.
Steak bukan hanya ada satu macam. Ada beberapa macam steak. Tapi yang paling aku suka ya steak wagyu ini. Kalau steak wagyu ini adalah potongan daging sapi yang diperoleh dari proses genetik hewan dan metode perawatan ternak yang berkualitas. Perlakuan khusus yang diberikan kepada hewan sapi ini membuat dagingnya menjadi begitu lembut, berwarna lebih putih dibandingkan daging sapi lainnya, kaya akan lemak tak jenuh, memiliki kualitas daging yang sangat bagus, dan harganya pun cukup mahal karena memang daging sapi ini diciptakan khusus untuk dikonsumsi. Mungkin ini lah yang membuat daging ini begitu sangat enak ketika menyentuh lidah. Dan rasanya seprti ketagihan dengan steak wagyu ini.
Selain steak wagyu, ada juga steak sirloin. kalau yang ini aku juga suka setelah steak wagyu. Sirloin merupakan potongan dari daging sapi yang diambil dari sekitar pantatnya. Daging sirloin bertekstur lebih keras dibandingkan dengan potongan daging yang diambil dari pinggang atau tulang rusuk. Meskipun begitu, daging sirloin ini dikenal paling populer diantara jenis daging steak lainnya. Dan ini juga sangat enak.
Ada juga steak tenderloin. Tenderloin dikenal juga sebagai red fillet atau fillet mignon yang merupakan daging khas dalam yang terletak pada bagian tengah sapi. Tenderloin merupakan jenis daging steak yang paling dicari dan memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan sirloin. Hal ini dikarenakan tekstur dari tenderloin yang sangat lembut dan lapisan lemaknya sedikit. Teknik yang paling tepat untuk memasak tenderloin adalah dengan memanggang atau broilling. Biasanya tenderloin akan disajikan dengan ukuran daging yang lebih kecil daripada sirloin. Dan karena ukuran penyajiannya sangat kecil, kadang aku menamai steak ini sebagao steak mungil. Karena hanya dengan beberapa gigitan saja, steak ini sudah habis. Sedangkan aku belum kenyang.
Oke. kita sudahi dulu pelajaran tentang steak nya. Bu Adisty seperti sudah selesai bertelpon dan sekarang menuju ke arah sini.
"Nona belum makan?" Tanyanya melihat steak-ku masih utuh.
"Nunggu, ibu." Aku menjawab sambil tersenyum pada Bu Adisty.
Bu Adisty balas tersenyum. "Terima kasih."
Ini lah yang paling aku suka dari Bu Adisty. Selalu menghargai apa pun yang aku lakukan.
Dan kami pun mulai makan steak dengan tenang, perlahan dan sangat elegan.
Ketika kami masih menikmati steak kami, seorang cowok pramusaji datang dan menuangkan wine di gelas kami masing-masing
Dalam dunia wine terkenal istilah “red goes with red and white goes with white”. Ini artinya, red wine cocok dikonsumsi bersama dengan daging merah, seperti steik sapi dan white wine dengan daging putih seperti seafood dan beberapa olahan daging ayam.
Dalam penyajiannya, red wine biasanya menggunakan gelas cembung yang lebih kecil dan berukuran lebar.
Dan itulah yang sedang kami lakukan. Makan steak dengan wine merah.
"Nona, apakah kita harus menemui Tuan Muda Ariel hari ini juga?"
Aku mengangkat wajahku dari piring, menatap Bu Adisty. "Apa ada sesuatu yang Bu Adisty khawatirkan?"
Bu Adisty terdiam cukup lama sebelum mejawab. "Ya."
Aku pun juga nggak langsung menanggapi. Aku masih memperhatikan gerak gerik Bu Adisty yang nampak gelisah walau sudah dipaksa untuk tenang.
Setelah mnegerti bagaimana perasaan Bu Adisty yang mengkhawatirkanku, aku pun tersenyum. Mengangkat gelas wine, meminumnya dua teguk, lalu memutar-mutar gelas wine yang masih sisa sedikit. "Tenang saja, Bu. Bukankah ibu tahu kalau aku adalah wanita tangguh." Kuletakkan gelas wine yang sempat aku pakai mainan tadi. Menatap Bu Adisty yang ternyata juga menatapku. "Apa pun yang terjadi nanti, aku yakin aku akan kuat." Dan aku pun tersenyum. Senyum untuk menenagkan Bu Adisty yang sudah setahun ini selalu menemaniku dan mengajariku.
Bu Adisty pun tersenyum. "Baiklah. Aku tahu kamu pasti bisa." Dan kami kembali saling melempar senyum. Seakan dengan begitu, kami bisa meyakinkan diri kami sendiri kalau aku kuat.
Setelah itu kami pun diam, makan dengan tenang hingga steak dan wine kami habis tanpa sisa.
***
Aku merasa sedikit aneh. Kenapa Bu Adisty membawaku ke tempat ini. Bukankah ini namanya diskotik? Aku benar-benar merasa nggak nyaman berada di sini. Aroma alkohol yang sangat kental bercampur dengan aroma keringat para manusia yang sedang gila berjoget di lantai dansa. Musik yang terdengar sangat keras hingga memekakkan telinga. Bukan hanya di telinga, suara dentuman basnya juga sampai terasa memukul-mukul d**a.
Ingin sekali aku bertanya pada Bu Adisty, kenaa membawaku kemari. tapi aku urungkan. Bu Adisty nggak mungkin membawaku ke tempat seperti ini tanpa tujuan. Beliau nggak mungkin membawaku ke sini dengan tujuan ingin menjerumuskanku. tapi kenapa?
Sedari tadi Bu Adisty menggandeng tanganku dan menuntunku melewati, membelah lautan manusia yang sembilan puluh persen mabuk. Sepertinya Bu Adisty juga agak kesusahan menggandengku karena aku sering tertahan oleh orang-orang yang berjoget nggak aturan ini. Tapi, syukurlah itu hanya sebentar. Kami segera bisa keluar dari lautan manusia dan sampai pada sebuah ruangan yang sedikit privat. Bu Adisty langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Dan ternyata, di dalam ada seorang cowok yang duduk tenang, yang seakan memang menunggu kedatangan kami. Ketika melihat kami masuk, cowok itu langsung berdiri dan membungkuk sopan ke arah kami.
"Di mana?" tanpa basa basi lagi, Bu Adisty langsung bertanya pada cowok itu.
"Di lantai dua di ruangan VVIP nomer seratus delapan."
Bu Adisty hanya mengangguk dan kembali keluar dari ruangan itu. Tak lupa, Bu Adisty juga masih menggandeng tanganku. Dan masih tanpa berbicara sepatah kata pun padaku, Bu Adisty masih menggandengku naik tangga menuju lantai dua. Di lantai dua ini, suasananya nggak terlalu ruwet seperti di lantai satu, tapi aku semakin ngeri di lantai ini. Setiap kami melewati satu ruangan, selalu saja aku mendengar suara tawa wanita, tawa yang entah bagaimana terdengar ganjil di telingaku. Bahkan, kadang aku mendengar desahan di salah satu ruangan. Dan itu semakin membuat bulu kudukku merinding, meremang.
Sebenarnya tempat apa ini? Ada apa sebenarnya? Apa yang di cari Bu Adisty sampai harus ke tempat seperti ini? Kita kan akan bertemu dengan Dokter Ariel, kenapa ....
Tunggu!
Tunggu dulu!
Aku terdiam. Pikiranku langsung macet. Jangan-jangan ...
Dan benar saja.
Ketika kami masih berjalan di lorong, di depan kami nampak ruangan yang pintunya terbuka. Dan seluruh penghuni ruangan itu terlihat jelas di mataku.
Deg!
Langkahku langsung terhenti begitu saja. Dan membuat langkah Bu Adisty yang menggandeng tanganku otomatis juga berhenti.
"Nona ...!"
Telingaku buntu, pikiranku kosong. Tubuhku pun terasa kaku. Yang masih normal bekerja hanyalah mataku.
Mataku terpaku pada para penghuni di ruangan itu. Bukan. Bukan para penghuni di ruangan itu. Mataku hanya bisa fokus pada tiga penghuni di ruangan itu.
Dua cewek berbaju seksi dan suamiku, Dokter Ariel.
Nyuuut!
Sakit.
Sungguh, seperti ada sebuah tangan besar yang meremas hatiku, rasanya seperti ada sebuah palu godam yang memukul jantungku, sepertinya ada sebuah jarum yang sangat tajam, yang menusuk perasaanku.
Sakit. Sakit sekali. Sungguh ... sangat ... sakit.
Tiba-tiba pandanganku mulai mengabur, seperti ada sebuah kaca yang menghalangi pandanganku dan membuat objek yang sedari tadi aku perhatikan mengabur. Wajah Dokter Ariel, gerak gerik Dokter Ariel yang mencium dan menggerayangi tubuh dua cewek itu jadi kabur. Dan ketika kaca bening itu menetes jatuh membasahi pipi, sosok yang bermesraan dengan dua wanita lain itu pun kembali jelas. Mereka bermesraan seperti sepasang kekasih. Mereka berciuman, bahkan saling meraba dan menggerayang.
Cekkiiittt!
Sirrr ...!
Nyuuuttt!
Rasanya ... hatiku sudah hancur, lebur, tak terbentuk.
Sakit. Sangat sakit.
Seperti ada sesuatu yang mengiris, mencincang seluruh perasaanku hingga terburai. Tak berbentuk. Hatiku, rinduku, perasaanku. Hancur.
Cintaku melebur.