"Kak Yani!"
Aku menoleh, seorang bocah laki-laki berlari ke arahku yang baru saja memasuki gerbang panti. Aku pun berjongkok dan merentangkan tanganku, memyambutnya. Bocah itu langsung menghambur ke pelukanku dan memeluk leherku dengan erat.
"Kenapa? Kamu diganggu lagi sama-sama anak-anak lain?" Tanyaku mengangkat tubuhnya yang ringan dan menggendongnya. Bocah laki-laki lima tahun ini memanglah anak yang paling kecil diantara anak panti yang lain.
"Tidak." jawabnya dengan suara yang menggemaskan. "Kalau kakak-kakak yang lain menggangguku, aku akan lari ke kantor Bu Dian untuk mengadu. Seperti kata Kak Yani."
Aku tersenyum, megusap- usap kepalanya gemas. "Pinter." Aku pun berjalan sambil sambil menggendong bocah laki-laki ini masuk ke dalam panti.
Sudah setahun aku tingal di sini. Dan Dokter Ariel sama sekali belum melihatku sama sekali. Ada yang berderak ketika menyadari kalau Dokter Ariel seakan sudah melupakanku. Tapi ... ada sesuatu, di sudut hatiku yang terdalam, yang memintaku untuk tetap menunggunya, untuk tetap sabar menantinya.
Bocah laki-laki ini terus saja berceloteh, bercerita tentang kesehariannya bermain di panti. Aku aku menanggapinya dengan antusias, agar bocah ini merasa selalu diperhatikan.
"Leo!"Bu Dian, kepala panti menegur anak yang ada di dalam gendonganku. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan minta gendong Kak Yani yang baru pulang kuliah. Kak Yani masih capek."
"Nggak papa, Bu." Aku menengahi. "Leo bukan minta gendong. Aku yang menggendongnya tadi."
"Nanti bocah ini terlalu manja padamu, Yan. Nanti kamu bisa kerepotan sendiri lho."
Aku hanya tersenyum. "Nggak papa, Bu. Leo anak yang baik dan imut. Aku nggak keberatan direpotin bocah menggemaskan ini." Aku mencubit pipi Leo yang temben. Bocah ini memanglah sangat manja sekali padaku. Dia masuk ke panti ini baru beberapa bulan yang lalu. Ibunya, datang ke sini tengah malam, ketika hujan deras. Dengan menangis sesenggukan ibunya Leo memberikan Leo yang tertidur pada Bu Dian. Ibu itu dengan berat hati menitipkan anaknya pada Bu Dian dan nggak bisa mengatakan alasannya. Setelah menitipkan Leo, ibu itu kembali pergi menembus derasnya hujan. Padahal Bu Dian sudah menyuruhnya utnuk menginap lebih dulu, tapi ibu itu malah berkata. "Semakin cepat kami berpisah, anakku akan semakin aman." Sambil menangis menatap putranya dalam dekapanku.
Setelah keesokannya bocah itu bangun, anehnya dia nggak menangis memanggil ibunya. Dia hanya diam menatap aku dan Bu Dian yang menemaninya. Hanya diam dan tak berucap apapun.
Ketika Bu Dian bertanya siapa namanya, bocah itu menjawab ...
"Al ...bukan." bocah itu menggeleng sendiri. "Leo. namaku Leo."
"Berapa umurmu?"
Bocah itu, Leo, menunjukkan lima jari tangan kanannya. "Lima tahun,"
Aku menatap takjub dengan bocah sekecil ini. Bagaimana bisa bocah sekecil ini bersikap seperti ini. Aku tahu, dan aku sangat paham kalau dia sedang berbohong. Namanya tidak mungkin Leo. Bukankah sebelum bilang kalau namanya Leo dia sempat mengucapkan dua huruf? Al? Tapi Al ... siapa? Alif? Alex? Ali? Alan? Atau siapa?
Dan kenapa dia berbohong? Aku bahkan tidak yakin kalau umurnya lima tahun. Tapi aku juga nggak tahu berapa umur pastinya.
Awal-awalnya dia masih bersikap waspada dan selalu diam. Bahkan ketika anak-anak yang lain mengejek dan menghinanya dia hanya diam tak menjawab. Bocah itu seperti sedang memendam perasaannya dengan sangat dalam, atau bisa aku katakan dia mengubur perasaannya dan nggak mau memberitahukan apa yang dia rasa pada orang lain.
Dan suatu hari, ketika aku berkeliling mengontrol kamar anak-anak, aku mendengar suara tangisan yang menyayat hati. Dan ketika aku mencari asal suaranya, ternyata itu adala suara tangisan Leo.
Kasihan, aku langsung mendekap erat bocah itu. Tanpa bertanya apa pun, tanpa mengatakan apa pun, aku hanya memeluk bocah yang menangis sendirian di malam yang dingin itu.
Sejak saat itulah, Leo mulai dekat denganku dan tanpa sungkan bermanja padaku. Dan hanya padaku.
Aku pun nggak pernah bertanya kenapa dia menangis malam itu, kenapa dia berbohong tentang namanya, aku juga nggak pernah tanya tentang ibu yang meninggalkannya. Aku hanya bilang padanya, kalau dia ada masalah cari aku dan aku akan membantunya. Sejak itu lah kami dekat.
"Yan, Bu Adisty ke sini." Bu Dian memberitahu.
"Benarkah, Bu?"
Bu kepala panti itu pun mengangguk. "Aku sudah bilang kalau kamu ingin bicara dengannya. Jadi, dia menunggumu di kantor ibu."
Aku menurunkan Leo dari gendonganku. "Mau kah kamu bermain sendiri? Kakak ada urusan dengan Bu Adisty dan harus bicara dengannya."
Di sini, nggak ada yang nggak kenal Bu Adisty. Bagi semua anak panti, Bu Adisty adalah penyambung nyawa mereka karena semua keperluan panti, Bu Adisty lah yang memenuhinya. Walau semua itu adalah perintah Nyonya Emili, Mamanya Dokter Ariel, tapi tetap semua yang terjun langsung memperhatikan kesejahteraan panti adalah Bu Adisty. Makanya yang dikenal anak-anak panti pun hanya Bu Adisty.
"Oke, Kak Yani!"
"Pinter!" Aku kembali mengusap-usap kepalanya penuh sayang,
Anak itu lalu lari ke arah lapangan tempat biasanya para anak-anak panti lain bermain sambil melambaikan tangannya padaku. AKu pun membalas lambaiannya.
"Mari, Bu!"Ajakku setelah Leo nggak keliahatan batang hidungnya.
Bu Dian mengangguk lagi. Kami pun berjalan beriringan menuju kantor Bu Dian.
Tok tok tok!
Aku mengetuk pintu pelan.
Nggak ada sahutan.
"Masuklah!" perintah Bu Dian. Karena Bu Adisty memang pasti nggak akan menyhut sahutan.
Dan aku pun membuka pintu lalu masuk. Nampak Bu Adisty duduk di sofa tempat Bu Dian menerima tamu.
"Selamat sore, Bu."
"Selamat sore juga, Nona!" jawabnya berdiri menyambutku. Aku pun ikut duduk di sofa berhadaoan dengan Bu Adisty. "Kata BU Dian kamu sedang mencariku?"
Aku mengangguk. "Benar, Bu."
"Ada apa Nona mencariku?"
"Aku ... mau minta bantuan ibu."
Nampak Bu Adisty mengangkat kedua alisnya. "Ada apa Nona? Selama setahun di sini, Nona hanya diam, hanya menerima apa pun yang aku berikan dan nggak pernah protes sama sekali, nggak pernah meminta bantuan dariku dan tiba-tiba sekarang ingin bertemu dan meminta pertolongan. Apa ada sesuatu yang serius yang sudah terjadi?"
Aku tersenyum. "Nggak ada apa-apa, Bu. Aku hanya ... ingin bertemu seseorang saja."
Bu Adisty terlihat kaget dengan jawabanku, tapi beliau masih berusaha tetap tenang. "Apa Tuan Muda Ariel?"
Aku mengangguk malu dan tersenyum getir. "Mungkin ini terdengar konyol untuk Bu Adisty. Padahal dia sudah membuangku seperti ini tapi aku masih tetap ingin bertemu dengannya. Aku tahu, aku memang nekat. Tapi entah mengapa aku masih berharap pada Dokter Ariel. Siapa tahu jika nanti melihatku, Dokter Ariel akan berpikir ulang tentangku dan mau menerimaku."
Kalimat yang bodoh. Sangat amat bodoh. Aku tertawa miris dalam hati menyadari kebodohanku sendiri. Aku pun tahu kalau Bu ADisty menatapku kasihan atas haraoanku ini. Tapi mau gimana lagi, aku ingin bertemu dengannya. Sangat amat ingin bertemu dengannya. Sudah setahun kami berpisah, apakah salah jika kau ingin bertemu dengan suamiku sendiri?
Ah ... mungin memang salah karena yang ingin bertemu itu hanya aku sendiri. Sedangkan Dokter Ariel, aku tidak tahu. Bahkan aku tidak tahu apakah dia masih ingat padaku atau nggak.
"Apakah Nona beneran mau bertemu dengan Tuan Muda?"
Entah kenapa pertanyaan bu Adisty terdengar seperti sebuah peringatan untukku. Tapi, walau pun begitu, aku tetap mengangguk.
"Yakin?"
Aku kembali mengangguk.
"Jika seumpama aku menyarankan jangan bertemu dengan Tuan Muda dulu, apa Nona akan mendengarku?"
Lagi-lagi aku hanya tersenyum, Senyum yang penuh luka. Entah kenapa peringatan dari Bu Adisty seakan sudah bisa memberiku gambaran jika aku tetap nekat ingin bertemu dengan Dokter Ariel, kemungkinan besar aku akan terluka kembali.
"Maaf, Bu. Sepertinya tidak. AKu masih ingin bertemu dengan Dokter Ariel. Entah bagaimana nanti, aku tetap ingin bertemu dengan Dokter Ariel. Bukannya apa-apa, aku hanya ingin hatiku sedikit tenang. Jika nanti pertemuan kami kembali menyakitkan, mungkin bisa membuatku tak terlalu berharap lagi dengan Dokter Ariel."
Tapi aku berharap pertemuan nanti adalah pertemuan yang manis. lanjutku dalam hati.
"Baiklah." Terlihat Bu Adisty menghembuskan napas napas panjang. Mungkin beliau juga agak susah untuk mengabulkan permintaanku, tapi terpaksa karena aku menuntut. "Silahkan Nona siap-siap. Aku akan menunggu Nona di dalam mobil di depan gerbang panti."
Aku tersenyum sumringah. Senang bukan main. "Terima kasih, bu. Terima kasih banyak." Aku menyalami Bu Adisty dengan segenap hati. "Kalau gitu aku akan siap-siap dulu."
Setelah Bu Adisty mengangguk, aku pun langsung melesat keluar dari kantor Bu Dian dan masuk ke dalam kamarku sendiri.
Dokter Ariel, tunggulah sebentar. Aku akan datang. Pasti!