14. Siapa Dia?

2114 Words
Empat tahun kemudian. "Hai, cantik!" Sapaku pada perawat cantik yang baru saja masuk jadi pemagang di rumah sakit tiga hari yang lalu. "Boleh kenalan nggak? Siapa namamu?" Yang kugoda tersenyum malu-malu khas cewek ketemu cowok tampan. "Nama saya Nirmala, Dok. Panggi saja saya Mala." "Ah ... nama yang cantik, secantik yang punya." Lagi cewek ini tersenyum malu hingga pipinya merona. "Perkenalkan namaku, Ariel." Aku mengulurkan tangan pada perawat cewek cantik dan juga manis ini. Dan cewek itu menyambut uluran tanganku. "Saya tahu, Dok. Dokter kan dokter yang paling terkenal di antara semua dokter lajang di sini." Ah ... lajang ya. Entah kenapa mendengar status itu masih disematkan untukku, masih membuat hatiku terasa ganjal. Padahal sudah empat tahun berlalu. Tapi entah kenapa setiap orang yang mencapku masih lajang, rasanya seperti ada sesuatu yang bikin sesak di d**a. "Yang paling terkenal, karena ketampananku atau karena aku anak dari pemilik Rumah Sakit ini?" "Dua-duanya, Dok!" "Kamu cerdas juga ya ternyata." Pujiku basa basi. Menggoda gadis, entah kenapa lama kelamaan rasanya begitu hambar. Tak ada rasa bangga atau rasa senang ketika aku berhasil menggaet hati seorang gadis. Semua gadis entah kenapa nggak ada yang menggugah hatiku sama sekali. "Ah dokter Ariel bisa aja!" Dan aku masih melancarkan serangan rayuanku dengan mengelus dan mengggelitik telapak tangannya. "Dokter Ariel." Bagas, dokter di rumah sakit ini juga, memanggilku dari arah UGD. Cowok itu berjalan pelan ke arahku. Lah... kenapa nih kunyuk malah nyamperin aku ke sini? Bukannya tadi kami sepakat ini giliranku menggoda. Tadi, ketika aku baru saja datang dan masih duduk di kantorku, Bagas dan Kenzo, dokter di rumah sakit sini juga, sudah ribut menghampiriku dan memberitahuku kalau ada mangsa baru. Tiga hari kemarin, ketika aku liburan untuk jalan-jalan ke Hawai, ada tujuh perawat yang baru saja masuk sebagai pemagang di rumah sakit. Empat cewek dan tiga cowok. Dan di antara keempat gadis itu ada yang paling cantik menurut mereka. Bagas, cowok lajang yang sudah mulai lapuk itu, karena sudah berumur tiga puluh tahun tapi belum menikah, sudah mencoba untuk merayu si perawat cantik. Tapi katanya dia gagal. Si cewek cantik itu, walau masih menanggapi rayuan Bagas tapi cuma sebagai tanda sopan santun saja. Apalagi ada perawat cowok baru yang selalu nampak di sekitar perawat cewek cantik itu. Ditambah lagi perawat cowok itu juga nggak kalah tampan dari Bagas. Perkiraan Dokter muda itu, perawat cowok dan perawat cewek cantik itu, pacaran. Beda dengan Kenzo. Pria yang sudah beristri itu tidak ikut-iktan menggoda. Dia hanya ingin ikut seru-seruan aja. Dan Dokter itu juga yang paling keras berteriak senang jika kami gagal mendapatkan gadis yang kami incar. Serta, pria yang berumur tiga puluh tiga tahun itu, yang paling cerewet selalu menyuruh kami agar cepat-cepat menikah. Pria yang sebentar lagi akan jadi ayah itu juga selalu bilang, jangan sampai jadi bujang lapuk yang nggak laku-laku, hanya karena kami yang suka banget main cewek. Cih, bujang lapuk apaan? Aku baru berumur dua puluh enam tahun. Masih muda, masih gagah dan tentu masih punya jangka panjang untuk masuk dalam katergori lapuk. Beda lagi dengan Si Bagas. Dia kan udah umur kepala tiga. Nah, itu baru yang namanya lapuk. Hahaha. "Ada pasien aorta abdominal yang pecah di UGD. Sepertinya butuh penanganan dokter." Bagas dengan wajah serius memberi kabar. Aku mengangkat alis heran dengan laporan Bagas. Kenapa dia memberitahuku ini? Bukannya di UGD sudah ada Dokter Ali dan juga Dokter Jauhar yang ahli dalam menangani pasien UGD di sana. Lagipula, aku bukan dokter UGD. Aku Dokter Kardiologi. Merasa aneh dengan pemberitahuan Bagas, aku pun melepas jabatan tanganku dengan Mala. "Aku pamit dulu ya, Cantik. Nanti kita sambung lagi percakapan kita. Tentu di tempat yang lebih privasi." Pamitku, sambil melirik pengganggu yang berdiri di sampingku. Bagas tidak peduli dan dengan sedikit memaksa menarik lenganku. Masih sempat kulihat cewek itu kembali tersenyum malu-malu sebelum aku menghilang di balik tembok menuju UGD. Nah kan apa kubilang. Nggak mungkin si Bagas ngajak aku ke UGD beneran. Sudah kubilang kan, di UGD sudah ada dokter yang ahli di sana. Cowok ini hanya beralasan saja agar bisa membawaku pergi dari tempat jaga gadis itu. Setelah yakin tidak akan terlihat oleh cewek itu, barulah Bagas melepas lenganku dan berhenti menarikku. "Lo kenapa sih Gas? Ganggu orang lagi pedekate aja." Semburku nggak terima. "Hei, Pak Dokter sok kepedean! Lo itu salah target dodol." Aku mengernyit heran. "Salah target gimana?" "Yang gua maksud perawat magang baru yang cantik itu bukan itu." ""Lalu yang mana?" tanyaku tak mengerti. "Bukannya dia cantik?" "Ya. Memang cantik sih. Tapi tetep saja kurang cantik. Yang gua maksud itu bukan dia. Yang gua maksud itu lebih cantik lagi. Cewek yang gua goda kemaren, kalau senyum ada lesung pipit di kedua pipinya. Dan dia nggak pernah tersenyum malu-malu kayak remaja SMP kayak tadi. Pokoknya, gadis itu bukan kayak gadis kebanyakan." Ah ... benarkah? Apa aku tadi beneran salah? Kata Bagas tadi cewek yang aku goda kurang cantik. Apa seleraku dalam menilai cewek sudah turun ya? "Lalu dimana gadis itu sekarang?" tanyaku makin penasaran dengan gadis yang dimaksud Bagas. "Ada di UGD, sedang membantu pasien yang baru datang dengan keluhan pembengkak aorta." "Makanya lo tadi buru-buru ngajak gua pergi, karena gadis itu ada di sana." "Iya." Bagas menjawab agak jengkel. "Mumpung perawat cowok yang selalu berada di sisinya itu nggak ada, ini kesempatan emas buat lo bisa ngerayu cewek itu." "Cih ... memangnya kenapa kalau perawat cowok itu ada? Gua nggak akan kalah tampan dan nggak akan kalah kaya. Cewek itu pasti langsung bertekuk lutut jika gua udah maju duluan." "Ya Tuhan. Sombong lo itu ya emang udah nggak ada obatnya." Rutuk Bagas. Siapa juga yang sombong. Memang kenyataannya begitu kok. Aku memang cowok ganteng dan kaya. "Udah ah, ayo kita ke UGD. Akan gua tunjukin yang mana cewek itu biar lo nggak salah lagi." Kali ini aku menurut aja waktu cowok ini lagi-lagi menarik lenganku. Dan ketika aku baru saja melangkah masuk ke ruang UGD, terasa ada yang aneh dalam indera penciumanku. Di antara aroma desinfektan, khas aroma Rumah Sakit, ada lagi satu aroma yang terasa berbeda di hidungku. Bukan aroma parfum, bukan pula aroma keringat dari seluruh penghuni UGD ini, dan juga bukan aroma kentut. Aroma yang sangat berbeda tapi juga tidak asing. Seakan aku sudah pernah mencium aroma ini. Tapi apa ya? "Tuh disana!" Bagas menyadarkanku dengan menunjuk seorang gadis yang sibuk dengan beberapa rekannya menangani pasien dengan perut membesar. Dan diantara rekannya itu ada dokter Ali dan dua lagi yang nggak aku kenal. Sepertinya dokter residen tahun pertama. Kutajamkan mataku, mengamati gadis yang ditunjuk Bagas tadi. Ya. Memang cantik. Sangat cantik memang. Dan benar kata Bagas, aura kecantikan gadis ini memanglah terasa berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya, menarik mata semua pria. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Dan benar dugaanku. Tak hanya aku saja yang langsung tertarik ketika melihat gadis itu. Kebanyakan cowok dalam ruangan ini, entah pasien, dokter magang, dokter sungguhan, perawat, tua, muda, remaja, semua yang berjenis kelamin laki-laki pasti mencuri-curi pandang pada gadis itu. Bahkan tak hanya pria, perempuan pun juga ada yang melihat gadis itu dengan kagum. Ah ... sepertinya aku dapat tangkapan bagus nih. "Apa gadis itu yang kamu maksud berlesung pipi itu?" tanyaku pada Bagas, memastikan. Aku nggak mau keliru lagi. Tapi seumpama keliru pun, aku juga nggak akan menyesal jika tangkapan yang keliru secantik itu. "Ya. Benar. Itu dia." Bagas menjawab dengan antusias. "Gimana? Beda kan kecantikannya dengan yang lo ajak kenalan tadi?" tanyanya dengan nada menghina. Dasar kunyuk b******n. Awas saja kalau aku sampai mendapatkan gadis itu. Nangis, nangis darah lo. "Jika nanti gua berhasil dapetin dia, jangan nangis ya!" peringatku sambil menepuk-nepuk punggungnya prihatin. "Dasar b******k lo!" umpatnya tapi sambil tertawa. Tak memperdulikan cowok ini lagi, aku pun mulai berjalan mendekati gadis yang masih sibuk itu. Dan anehnya, semakin aku berjalan mendekati gadis itu, aroma yang terasa aneh tapi tidak asing itu tercium makin kuat. Dan lebih anehnya lagi, semakin kuat aroma itu, tidak tahu kenapa hasrat laki-lakiku tiba-tiba muncul, padahal ini di tempat umum dan juga ramai. Baru pertama kali ini aku merasakan yang seperti ini. "Bagaimana ini, Dok?' terdengar suara rekan gadis itu, cowok yang memakai stetoskop di lehernya. Sepertinya dia dokter residen. Cowok itu bertanya agak panik pada dokter Ali, dokter senior di UGD. Aku menatap pasien dengan perut membesar yang terbaring di kerubungi empat orang itu . Sekilas lihat saja, aku sudah tahu bahwa pasien itu bukanlah pasien yang bisa di tangani dokter UGD. "Pasien ini memerlukan operasi open repair AAA." jawabku menyela Dokter Ali yang hampir menjawab pertanyaan Dokter residen itu. Keempat orang itu langsung menatapku setelah mendengar suaraku menjawab. Dan aku, dengan sedikit bergaya menyandarkan bahuku pada pintu masuk ruang yang mereka pakai untuk memerika, balik menatap mereka juga. "Dokter Ariel." Dokter Ali menganggukkan kepala memberi salam sopan padaku. Aku pun membalas anggukan Dokter senior itu. Kutarik bahuku dari sandaran, lalu dengan penuh kharisma berjalan perlahan mendekati mereka. "Aneurisma aorta." kataku ketika sudah sampai di samping ranjang pasien. Berhadapan dengan gadis itu. Menatapnya dalam. Tapi gadis itu hanya sekilas saja membalas tatapanku. Serta tak ada kekaguman di dalam tatapannya, tak ada sorot mata kaget melihat ketampananku seperti gadis-gadis pada umumnya. Benar kata Bagas, gadis ini berbeda. Dan aroma yang membuatku merasa aneh sedari tadi semakin tercium kuat. Satu pertanyaanku. Apa gadis ini pemilik aroma enak ini? "Dan sepertinya sudah ruptur." tambahku mengalihkan tatapanku dari gadis itu. Jujur kuakui, ada yang berderak di dadaku melihat keacuhan gadis ini, yang tidak terlalu peduli dengan kedatanganku. Aku menatap dokter residen yang yang bertanya pada Dokter Ali tadi. Sepertinya cowok itu belum terlalu mengerti dengan perkataanku. "Kamu tahu apa itu aorta abdominal?" tanyaku pada dokter cowok residen itu. Cowok itu mengangguk. "Pembesaran aorta, pembuluh darah utama yang menyalurkan darah ke tubuh, pada level abnomen." "Lalu apa aneurisma aorta perut?" tanyaku lagi. "Penonjolan pembuluh darah utama yang membawa darah dari jantung ke organ dan jaringan di bagian bawah tubuh, yang di sebut dengan aorta. Lalu ..." Cowok ini terdiam. Bingung. "Pembuluh ini merupakan arteri terbesar di dalam tubuh." Lanjutku. "Peregangan atau penggembungan aorta dapat berbahaya karena dapat merusak daerah pada dinding aorta sehingga aorta pecah dan itulah yang dinamakan ruptur." jelasku. Ketika penjelasanku sampai pada kata ruptur, nadaku sedikit aku tekan sambil menatap gadis beraroma enak itu. Ingin menunjukkan pada perawat cantik itu kalau aku ini hebat dan cerdas. Apa sekarang kalian, para pembaca, mengumpat aku sombong seperti Bagas tadi? Ck ck ck! Bukankah tadi sudah aku bilang kalau aku ini tidak sombong. Aku hanya mengatakan apa adanya saja. Karena aku memang hebat dan cerdas. "Jika sudah seperti ini maka perlu memakai tindakan operasi open repair AAA." Jelasku lagi. Seakan belum puas memamerkan diri pada gadis itu. Walau, yah, penjelasanku juga bermanfaat untuk mereka, para dokter magang, yang ada di sini, tapi fokusku kali ini adalah gadis perawat cantik ini. "Yaitu operasi bedah vaskular dengan tingkat kesulitan dan resiko yang tinggi, dengan mengangkat pembuluh darah aorta perut dan menggantinya dengan pembuluh darah buatan. Tindakan ini disebut by pass aorto bi iliac." Aku tahu, seharusnya aku menjelaskan semua ini dengan melihat dua dokter residen yang menangani pasien ini. Karena ini adalah hal yang memang harus mereka pelajari sebagai dokter. Tapi mataku tak bisa berpaling dari perawat cantik yang berada di tepat di depanku ini. Padahal perawat cantik ini tidak melihatku sama sekali. Tapi entah mengapa aku enggan mengalihkan tatapanku dari gadis ini. "Dokter Ali." panggilku dengan mata yang masih fokus pada satu titik yang berpusat di depan mataku. "Iya, Dokter!" "Dimana wali pasien?" "Di depan ruang UGD, Dok." "Kalian, dua dokter magang." panggilku lagi pada dua dokter magang yang bekerja di bawah pengawasan Dokter Ali. Mataku masih tak bisa beranjak pada sosok mempesona ini. "Iya, Dok!" jawab keduanya. "Temui wali pasien! Jelaskan keadaan pasien pada walinya! Tanyakan pada mereka, apa mereka setuju jika pasien di operasi? Jika ya minta tanda tangan mereka lalu kabari aku. Aku sendiri yang akan mengoperasi pasien ini." "Baik, Dok!" Dan kedua dokter magang itu segera pergi melaksanakan perintahku. "Dokter Ali." "Iya, Dok!" "Hubungi bagian anastesi. Bilang kalau kita akan segera melangsungkn operasi." "Baik, Dok!" Dan Dokter Ali pun segera menghilang dari ruangan ini. Sekarang tinggal kami berdua saja di sini. Aku dan gadis ini." "Siapa namamu?" tanyaku pada si gadis. Setelah beberapa menit berlalu, setelah penjelasan panjang lebarku tadi, gadis ini akhirnya balik menatap mataku dengan matanya yang besar dan indah. Mata itu begitu jernih dan bersinar. Dan sekali lagi, entah mengapa mata itu terasa tidak asing bagiku. "Saya Riri, Dok!" Dan suaranya, kenapa suara itupun terasa tidak asing di telingaku? Aku sangat yakin kalau aku baru pertama kali melihat wajah cantik gadis ini selama hidupku. Tapi kenapa rasanya gadis ini tidak asing? Aromanya, matanya dan suaranya, seakan semua itu sudah melekat di indera penciumanku, di indera penglihatanku dan di indera pendengarku. Siapa gadis ini sebenarnya? Siapa dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD