13. Berpisah

1856 Words
Krieeettt...! Kubuka pintu kamar pengantinku. Aroma bunga yang memenuhi kamar ini semerbak wangi tercium di hidungku. Setelah acara prosesi akad nikah tadi, dua wanita yang meriasku tadi, menghampiriku dan membantuku untuk berdiri. Mereka memintaku untuk mengikuti mereka. Dan mengantarku ke sini. Di kamar pengantin. Lampu dengan penerangan yang temaram, wangi bunga yang menggugah hasrat jiwa, lilin-lilin yang tertata indah, yang membuat suasana dalam kamar terasa begitu romantis, hawa dingin yang keluar dari AC kamar. Semua tatanan suasana di dalam ruang yang berukuran sebelas kali sepuluh meter ini, memanglah sangat mendukung untuk dijadikan malam pertama bagi sepasang pengantin baru. Apalagi, disana, nampak dalam keremangan selambu yang terpasang di atas ranjang, ada seorang gadis yang duduk membelakangiku, menungguku untuk menghampirinya. Dari deru napasnya yang terdengar di telingaku, sangat ketara bahwa gadis itu sedang gugup. Aku melangkah perlahan mendekat pada ranjang. Menyingkap kelambu yang terpasang di belakang gadis itu dan naik ke atas ranjang. Aku memang sengaja tidak naik ke atas ranjang lewat kelambu yang sudah terbuka di depan gadis itu. Aku memang sengaja memposisikan diriku berada di belakangnya. Aku tahu gadis itu kaget atas tindakanku dan segera bergerak ingin memutar tubuhnya menghadapku. Tapi aku segera mencegahnya dengan menahan bahunya. "Jangan bergerak!" Larangku. "Kita seperti ini saja!" Dan gadis itupun menurut. Dia sekarang tidak bergerak lagi. Bahkan gadis ini tidak bertanya kenapa aku berlaku seperti ini. "Maaf!" kataku memulai percakapan. "Mungkin kamu akan membenciku setelah kamu tahu tentang apa yang akan aku lakukan padamu." Gadis itu diam, tak membalas ucapanku. "Aku melakukan ini bukan karena aku membencimu, bukan pula karena aku tidak menyukaimu. Aku melakukan ini karena aku adalah seorang b******n yang b******k. Yang tidak bisa bertanggung jawab atas segala tindakanku." Aku terdiam sebentar, mengambil napas panjang. "Aku tahu aku egois dan kekanak-kanakan. Tapi aku masih ingin seperti ini. Aku tidak akan meminta pengertianmu, aku juga tidak akan memberikan alasan untuk pembelaan diri. Karena semua ini berawal dariku, kesalahanku, dan keegoisanku. Dan kamu di sini adalah sebagai korban kebejatanku." "Apa anda akan meninggalkan saya, Dokter?" Aku membelalakkan mata, kaget dengan pertanyaan gadis ini. Ternyata gadis ini cerdas juga, bisa menangkap makna dari kata-kataku yang berbelit-belit. "Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu di desa ini. aku tidak mungkin mempermalukanmu. Setelah aku berkata akan menikahimu dan membawamu ke kota, aku tidak akan mengingkari perkataanku itu. Aku akan tetap membawamu ke kota. Tapi mungkin di sana kita tidak akan berjumpa. Atau lebih tepatnya, kita akan menjalani hidup kita sendiri-sendiri di kota. Aku akan menempatkanmu di tempat yang bagus. Dan aku jamin di tempat itu semua kebutuhanmu tercukupi dan kamu akan hidup dengan layak. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Aku jamin itu. Tapi ya itu, kita tidak bisa hidup bersama." "Apa anda akan menceraikan saya sesampainya kita di kota nanti?" Ada nada yang getir di dalam pertanyaannya. Dan mau tak mau membuat hatiku nggak enak juga. "Tidak. Bukan seperti itu. Aku tidak akan menceraikanmu. Kamu masih lah istriku." "Jadi apakah saya adalah istri tersembunyi anda, Dokter?" Walau aku tidak dapat melihat ekspesi wajahnya karena gadis ini membelakangiku, tapi aku sangat yakin, dia pasti kecewa dengan keputusanku. Aku terdiam. Tidak dapat menjawab pertanyaannya kali ini. Kutatap punggungnya yang kecil. Malam ini, tubuh kecil itu memakai pakaian yang sangat tipis. Dari pakaian yang menerawang itu, aku yakin dia memakai pakaian seksi dengan tali kecil di pundaknya. Dan pakaian seksi itu ditutupi jubah tipis, yang bahkan tidak bisa menyembunyikan tali kecil yang menyangkut di pundaknya. Aku benar-benar ingin meng-umpati orang yang memakaikan pakaian seperti itu pada gadis ini. Entah kegilaan dari mana, aku malah menggeser dudukku mendekat pada gadis itu. Tubuhnya yang hanya tertutup baju tipis dan jubah tipis itu, mau tidak mau menggugah kejantananku. Dan membuatku menempelkan tubuhku sendiri di punggung kecilnya. Sejenak kurasakan tubuh gadis ini menegang dan kaget, tapi tidak berusaha untuk menghindari perlakuanku. Kubuka jubah tipis yang menutupi baju dengan tali kecil ini, menampakkan pundak dengan kulit yang putih, halus dan mulus. Melihat pundaknya yang seperti ini. saja sudah membuat penilaianku sedikit berubah padanya. Pundak seputih ini, kulit semulus dan sehalus ini, tidak mungkin mempunyai wajah yang hitam atau pun wajah yang jelek. Dan hanya dari kulit yang terlihat ini saja sudah merubah keyakinanku bahwa gadis ini tidaklah jelek. Tapi walaupun begitu tidak dapat merubah keputusanku kalau aku masih ingin hidup merdeka tanpa suatu ikatan. Aku yang masih berumur dua puluh dua tahun ini, masih ingin hidup bebas dan bersenang-senang. Aku, Ariel, dokter termuda dalam sejarah catatan rumah sakit, memanglah sebrengsek ini. Aku memanglah genius dalam pelajaran hingga selalu bisa melompat kelas. Sehingga di umurku yang ke dua puluh tahun, dua tahun kemaren, aku sudah bisa menjabat gelar dokter di rumah sakit. Tapi tentu saja di rumah sakit Mamaku sendiri. Tapi sikapku dan akhlak-ku, masih begitu jongkok. Aku masih begitu sangat egois. Buktinya, aku tidak bisa bertanggung jawab pada gadis yang aku nikahi ini, yang kubuka jubah tipisnya ini, yang aku nikmati kulit mulusnya ini. Dengan setengah sadar, ku dekatkan wajahku pada pundak si gadis. Kukecup dan kuhirup aroma tubuhnya yang sudah melekat erat di indera penciumanku. Kurasakan tubuh gadis ini semakin kembali menegang, serta tubuhnya sedikit bergetar menahan kecupanku yang semakin liar, memenuhi seluruh area pundaknya kanan dan kiri. Cup! Cup! Cup! Cup! Cup! Hasratku semakin terasa panas. Kakiku yang awalnya menekuk, kuluruskan ke sebelah kanan dan kiri gadis ini, melingkupi tubuhnya. Serta tanganku meraih perutnya, memeluknya dan menarik tubuhnya yang kecil ke belakang, menempel pada tubuh bagian depanku, melekatkan punggungnya pada dadaku. Kini bibirku ganti mengeksplor daerah lehernya. Mengecupnya, menciumnya, menggigitnya bahkan menghisap leher itu sehingga meninggalkan bekas kissmark di beberapa bagian leher dan pundaknya. Dan rasanya aku makin menggila. Semakin aku merasakan aroma tubuhnya, hasratku semakin menggelora dan aku tidak dapat menghentikan tindakanku. Hampir saja tangan nakalku yang awalnya berada di perut rampingnya, naik ke atas. Untung saja ada suara tak terduga yang menyadarkan kegilaanku. Tok! Tok! Tok! Suara pintu kamar pengantinku di ketuk. Tersadar, aku segera menarik wajahku dari leher gadis ini. Dan sedikit menyesal ketika melihat begitu banyak kismark yang aku buat di sekitar leher dan punggungnya. Aku mendorong tubuhku sendiri ke belakang, dan menarik kakiku yang melingkupi tubuh gadis yang sedari tadi hanya diam atas tindakanku. Mengembalikan jubah tipisnya menutupi pundaknya. Lalu melepas jasku sendiri dan menutupi tubuhnya yang masih terlihat walau sudah berpakaian ini. agar tidak ada yang bisa melihat kulitnya yang terekspos. Dan sekali lagi, tubuh gadis ini menegang karena tindakanku. Dia pasti terkejut karena setelah aku membuka tubuhnya kini aku kembali menutupinya, bahkan dengan jasku segala. Tanpa berkata apa-apa lagi aku kembali turun dari ranjang melewati jalan yang aku pakai untuk naik ranjang tadi. Yaitu, menyikap kelambu di bagian belakang gadis itu. Kulihat si gadis merapatkan jas yang kupakaikan ke tubuhnya. Dan aku tahu, dia melakukan itu karena terluka akan tindakanku. Tapi aku tidak mengucapkan permintaan maaf atau pun bertanya keadaannya. Aku malah membiarkannya dan berjalan ke arah pintu yang tadi diketuk. "Selamat siang, Tuan Muda!" seraut wajah wanita setengah baya, langsung menyapaku hormat ketika tahu bahwa akulah yang membuka pintu. Bu Adisty, asisten pribadi Mamaku, sekretaris handal dalam setiap pekerjaan Mama, dan tangan kanan Mamaku. Aku hanya mengangguk dan membuka pintu lebih lebar lagi. Bu adisty dan Dewa masuk ke kamar. Jika Bu Adisty terlihat biasa saja melihat kamar pengantinku, beda dengan temanku satu ini. Dia begitu tampak takjub dengan kamar pengantin yang di dekorasi begitu romantis dan intim. Dan inilah rencana jahatku. Sebelum hari pernikahan tiba, aku menelpon Bu adisty. Memintanya untuk menyusulku ke desa ini dengan dua mobil. Dan Dewa aku tugaskan untuk menjemput asisten Mamaku itu dan mengantarnya padaku. Mobil yang satu, digunakan Bu Adisty untuk membawa gadis ini pergi dari desa. Aku memintanya untuk menyiapkan segala keperluan gadis yang sudah menjadi istriku ini, di kota. Dari rumah, keuangan, dan apapun kebutuhan gadis ini di kota, aku meminta Bu Adisty untuk menyiapkan segalanya. Bahkan jika gadis yang baru lulus SMA ini ingin kuliah maka aku meminta Bu Adisty untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuknya. Sedangkan mobil yang satunya lagi, aku pakai untuk diriku sendiri, kembali ke kota. Kembali ke kehidupanku yang dulu. Kembali menjadi Ariel yang bebas dan selalu bersenang-senang. Brengsek kan aku? Ya. aku memang b******k. Bahkan sebenarnya aku lebih dari seorang yang b******k. Kalau dikatakan biadap pun sepertinya masih kurang untuk menggambarkan tindakan kejamku ini. Aku yang sudah menikahi seorang gadis dan di malam pertama kami, aku malah meninggalkannya seperti ini. Kabur dari kenyataan dan hanya ingin mengejar kesenangan saja. Tak apa jika gadis yang masih duduk diam di atas ranjang itu membenciku. Aku memang pantas dibenci atas kelakuan jahatku padanya. "Apa kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan ini, Ril?" tanya Dewa menyadarkanku. "Ya." jawabku mantap. "Aku tahu, kamu memang berengsek. Tapi aku baru tahu, kalau kamu memang sebajingan ini." Cowok yang lebih tua empat tahun dariku itu, mengumpatiku dengan kesal. Aku hanya diam saja mendapat u*****n darinya. Karena dia memang benar. Dewa berjalan mendekat ke arah ranjang, tapi tidak terlalu dekat juga sampai bisa melihat wajah gadis itu. "Maaf!" ucap Dewa pada si gadis yang masih diam. "Ini adalah salahku. Seharusnya aku tidak membawa Ariel datang ke desa ini dan membuat kamu mengalami hal yang buruk ini. Seharusnya aku tidak memaksa si b******k itu untuk ikut denganku dan membuat kamu terluka sampai seperti ini. Maaf, itu adalah salahku." Dewa begitu tulus mengucapkan kata-kata maaf itu. Dan gadis itu masih diam. Aku tak tahu bagaimana reaksinya atas permintaan maaf Dewa. Aku juga tidak dapat memprediksi tanggapannya atas permintaan maaf Dewa itu. Tubuhnya sama sekali tak ada pergerakan, napasnya pun terdengar berhembus begitu tenang. Aku sama sekali tidak bisa menebak yang dirasakan gadis itu, bahkan dengan ketajaman panca inderaku, aku masih tidak bisa. "Tak apa jika kamu mau membenciku karena aku adalah alasan utama kamu bisa seperti ini. Aku paham akan hal itu." lanjut Dewa. "Aku cuma ingin berpesan. Di manapun kamu berada nanti , bagaiamanpun keadaan dan kondisimu, berbahagialah! Aku harap kamu akan selalu bahagia. Semoga Tuhan selalu melindungi dan menjagamu agar selalu bahagia." Setelah kalimat panjang Dewa itu, gadis itu masih bergeming. Tidak menunjukkan reaksi apapun. Sedangkan Dewa sendiri, langsung berbalik, berjalan ke arah pintu kamar dan segera keluar begitu saja. Tanpa menatapku, tanpa melirikku, dan tanpa berbicara lagi padaku. Hah ... aku menghembuskan napas panjang melihat reaksi Dewa. Aku tahu dia kecewa berat padaku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini memanglah salahku. "Bu Adisty!" panggiku setelah keheningan yang begitu lama menyelimuti kamar ini. "Ya, Tuan Muda!" "Aku serahkan gadis ini padamu. Uruslah dia dengan sebaik-baiknya!" "Baik, Tuan Muda!" Lalu akupun beralih pada gadis yang masih duduk diam di atas ranjang. "Yani!" panggiku untuk pertama kalinya pada gadis itu. "Kita berpisah di sini!" putusku, yang aku yakini pasti menyakiti gadis itu. "Aku harap, kita tidak bertemu lagi!" tambahku. "Tapi jika nanti kita ditakdirkan bertemu lagi, aku harap pertemuan itu adalah pertemuan yang manis untukmu." Setelah berkata seperti itu aku berjalan keluar dari kamar pengantin pertamaku, meninggalkan kamar yang berdekorasi romantis ini, meninggalkan istri pertamaku, meninggalkan gadis yang terluka itu. Terluka karena meninggalnya orang tuanya seminggu yang lalu dan kini terluka karena ditinggalkan suaminya yang kejam. Bahkan sampai di detik terakhir perpisahan, suami jahatnya itu tidak melihat bagaimana rupa wajah istri yang ditinggalkannya itu. Dan suami yang kejam dan jahat itu adalah aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD