Waktu berlalu, keduanya mulai beradaptasi dengan tempat tinggal baru. Mereka harus menjalani kehidupan di sini layaknya di Indonesia.
Aydan mengurus perusahaan sementara Dara masih meraba mengenai bahasa. Dia terpaksa harus belajar dengan seorang guru privat untuk menguasai cara bicara masyarakat di sana agar mudah berbaur dan juga beraktivitas normal di luar.
Aydan sendiri juga masih sibuk belajar untuk memahami perusahaan. Pamannya setia membimbing di saat punya waktu luang. Namun, sisanya dijelaskan oleh sekretaris baru Aydan yang sudah lama bekerja bersama Jae Sun.
Pamannya meminta Aydan menjadi direktur utama, tetapi pria itu menolak sementara waktu karena dirinya tidak bisa langsung duduk di jabatan teratas sementara belum pernah mengamati pondasinya.
Aydan tidak mau gegabah. Setidaknya yang menjalani selama ini adalah pamannya, jadi Aydan bisa tenang bila masih dipegang oleh Jae Sun. Namun, selama beberapa hari ini, Aydan mulai memegang penuh kegiatan di dalam perusahaan sementara Jae Sun di luar.
Hari ini Aydan harus menghadiri rapat kecil untuk pengadaan sebuah acara di sebuah pusat perbelanjaan. Perusahaan mereka memegang kendali atas acara itu.
Sekretarisnya, Siwon, mengikuti sambil memberi penjelasan serta ide cemerlang. Pria yang umurnya tidak jauh darinya itu memang sangat cekatan dan cepat kerjanya, tetapi terkadang dia lupa caranya bercanda. Alan selalu menggodanya agar tersenyum. Siwon akhirnya belajar senyum dari Alan sampai membuat karyawan wanita di perusahaan ikut meliriknya.
“Jadi, bagaimana menurut bapak?” tanya Siwon, menggunakan kemeja putih, vest biru tosca dengan gaya penampilan rapi. Mereka sedang menunggu lift terbuka.
“Kurang setuju, terlalu berlebihan membuat glitter di sisi panggung. Temanya adalah cinta anak dan wanita, harusnya pilih sesuatu yang lebih lembut karena mereka memang begitu adanya,” jawab Aydan.
“Baik, Pak, saya akan cari yang lain.” Siwon akan menuliskan saran bosnya itu.
“Pencahayaan kita arahkan semua ke panggung?” tanya Siwon lagi.
“Penonton tanpa pencahayaan? Acara tersebut menyewa beberapa toko di sisi lantai bawah. Penonton bertiket khusus datang untuk mengikuti acaranya. Jika semua lampu ke arah panggung, bagaimana dengan tamu undangan yang takut kegelapan?” tanya Aydan balik.
“Benar juga, kalau begitu pencahayaan merata, tetapi fokus ke panggung,” tambah Siwon.
Aydan setuju dengan ide Siwon tersebut kemudian mereka masuk ke dalam lift.
Mereka melihat di dalam ruangan berukuran 2x2 meter itu telah berisi sekitar tiga orang karyawan. Aydan dan Siwon tetap masuk tanpa merasa keberatan.
Aydan disapa ramah oleh seorang pria juga wanita, tetapi yang satu lagi tidak bisa menyapa karena dirinya bisu. Siwon mengatakan pada Aydan secara pribadi agar tidak menyinggung perasaannya. Tidak lama kemudian wanita bisu itu menyapa dengan caranya, tersenyum dan menganggukkan kepala sekali.
Aydan membalas sapaan mereka semua dengan ramah, lalu berbincang sekejap dan bertanya mengenai kabar mereka. Wanita yang berdiri di samping Siwon, terus memperhatikan ke arah sekretaris Aydan itu. Dia sepertinya suka pada Siwon, tetapi tidak mendapat tanggapan.
Setibanya di lantai 6, Aydan dan Siwon keluar. Walau bosnya sudah tidak ada lagi di dalam lift, tetapi wanginya masih tertinggal.
Sementara itu, Aydan seperti sedang dihadapkan pada pemandangan dalam lorong UGD yang menangani kasus kecelakaan, banyak orang berdiri dan bersandar ke dinding bahkan ada yang jongkok pula. Ketika Aydan berdiri dan berjalan lambat menuju mereka, spontan semua yang melihat kedatangan Aydan langsung memberi salam.
Aydan bingung karena melihat masih banyak karyawan yang berada di luar ruangan, padahal rapat akan dimulai 5 menit lagi.
“Siwon, cek ruangan. Mengapa mereka masih berada di luar?” tanya Aydan.
Siwon langsung bergegas ke arah pintu masuk dan mengetuknya. Sementara itu Aydan menghampiri salah satu karyawan yang menjabat sebagai kepala operasional yang menghadiri rapat.
“Selamat pagi, Pak Aydan!” sapa pria itu lebih dulu melihat bosnya mendekat.
Aydan menyahut ramah dan bertanya mengenai kendala sampai mereka tidak masuk ke ruangan. Jawaban dari pria itu cukup mengejutkan.
“Kami belum dipersilakan masuk karena katanya tim yang menyiapkan bahan alat sedang mengalami kendala,” jawabnya.
“Kenapa bapak tidak mengecek masalahnya?” tanya Aydan.
“Haha, para pekerja itu sudah lama berada di perusahaan, tentu tahu cara menyelesaikannya,” jawab pria paruh baya tersebut dengan santai.
Aydan segera permisi untuk melihat secara langsung ke dalam ruangan. Sepertinya terjadi sesuatu yang berat. Tidak biasanya ada kendala di saat rapat akan berlangsung.
“Bagaimana bisa kabelnya hilang?!” tanya Siwon bingung, setelah mendapat laporan dari bagian operasional.
“I-iya, Pak! Kami tidak tahu mengapa bisa hilang. Semalam semua sudah terpasang baik, tinggal memasukkan data presentasi saja pagi ini. Namun, kabel-kabelnya malah hilang.”
Aydan mendengar penjelasan itu dari pintu, sengaja tidak bersuara agar mengetahui permasalahan tanpa ada yang tertutupi. Aydan masih merasa kalau kehadirannya dianggap orang asing yang berusaha menguasai perusahaan.
Padahal sudah dijelaskan oleh Jae Sun bahwa dia adalah anak dari pemilik perusahaan, tetapi karena latar belakangnya tinggal di luar negeri selama ini dan tidak pernah terlihat, Aydan masih dianggap asing.
Siwon menyadari kehadiran bosnya dan langsung menyapa Aydan. Beberapa orang di ruangan itu menoleh kemudian memutar mata.
Aku lebih suka kalau pak Jae Sun yang mengurus masalah dan rapat. Kalau ada masalah, dia akan memaafkan, kata salah satu pria tua di sana dalam hati.
Wajah Aydan sedikit tegang karena mendengar kabar hilangnya kabel di ruangan rapat. Langkahnya mendekati meja dan kerumunan orang itu membuat para karyawan di bidang operasional mundur. Isu yang beredar, Aydan sangat tegas dan lebih keras dari Jae Sun.
“Siwon, saya sudah dengan yang mereka katakan,” sahut Aydan tanpa mendengar kata sapaan dari tiga orang selain sekretarisnya itu.
“Pak, kita hanya perlu mengganti kabelnya saja,” kata Siwon.
“Ya, apa persediaan kabel di ruang operasional masih ada?” tanya Aydan.
“Ma-masih, Pak!” jawab seorang wanita di sana keceplosan, tangannya disenggol oleh pria yang bergumam dalam hati tadi.
Aydan memperhatikan perilaku tersebut kemudian menatap wajah mereka satu per satu.
“Saya ingin rapat tetap berjalan pagi ini. Masalah kabel hilang, nanti akan saya tangani. Pelakunya tidak akan bisa lepas dari jerat hukum. Hilang berarti mencuri, meski setelah ini pelakunya menaruh kembali kabel ke perusahaan, tetap saja dia sudah mencurinya,” kata Alan memberi peringatan.
Ketiga orang itu mengangguk, tetapi salah satu menunduk dengan tatapan mendengar secara fokus, seperti sedang mencari ide lain.
“Kalau begitu saya akan bawakan gantinya, Pak!” kata wanita yang tadi menjawab pertanyaan Aydan.
Pria yang menyenggolnya tadi langsung mengikuti arah temannya itu keluar dari ruangan. Aydan sudah mencium aroma busuk dari salah satu karyawan di sana, tetapi belum berani menuduhnya secara verbal sebelum ada bukti.
“Saya mendapatkan laporan, dari sekian banyak karyawan saya di perusahaan, hanya bagian operasional yang katanya-tidak menghargai saya di sini,” sindir Aydan sambil menunggu kabel baru datang.
Kedua karyawan tersisa pun langsung menelan ludah.
“Benar begitu?” tanya Aydan pada keduanya.
“Ti-tidak, Pak!” jawab pria lain yang sejak tadi diam saja.
“Apa anda yakin?” tanya Aydan lagi menyudutkan mereka.
Pria yang sudah dicurigai Aydan itu pun melirik temannya. Kaki kirinya menyentuh kaki pria pendiam itu. Meski Aydan tidak melihatnya karena berada di bawah meja, tetapi Siwon memperhatikannya. Siwon juga mendengar rumor itu dari beberapa karyawan saat makan siang.
Entah siapa yang menjadi biang kerok atas larangan untuk bersikap baik pada Aydan.
Tidak ingin merusak mood, Aydan akan mengundur proses penyelidikannya setelah rapat.
Kabel ganti sudah tiba. Sebenarnya tanpa harus membuat kehebohan, mereka bisa melaporkan masalah ini ke kepala operasional yang berdiri di depan, tetapi pria itu malah asyik berbicara dengan karyawan lain dan tidak ikut menyelesaikan masalah di sini.
Setelah 10 menit kemudian, proses penggantian kabelnya selesai. Rapat bisa segera di mulai.
Siwon diminta memanggil karyawan di luar yang sudah menunggu. Terlambat 5 menit saja, semua sudah bubar.
“Astaga! Ke mana mereka semua? Berani sekali pergi sebelum diberi izin oleh pak Aydan?” tanya Siwon, pusing sendiri dan takut mengatakannya pada Aydan bahwa semua orang sudah tidak ada lagi di lantai 6 tersebut.