Keesokan harinya. Sempat terungkap kabar mengenai keinginan Aydan untuk tinggal di rumah orang tuanya yang sudah lama tidak dihuni. Mereka tidur di tempat pamannya hanya sementara saja.
Micha segera mengajak mereka ke sana bersama suaminya. Rumah itu adalah hak Aydan sebagai penerus Dae Jun.
Aydan sangat ingin melihat apartemen orang tuanya yang akan mereka tempati mulai hari ini.
Namun, Jae Sun sudah memberi izin pada istrinya untuk membawa mereka ke sana sendirian. Kebetulan di perusahaan sedang sibuk, jadi Jae Sun tidak bisa menemani.
Micha langsung membawa kedua keponakannya itu untuk menemui pengelola gedung dan bagian keamanan. Menyampaikan pesan pada mereka bahwa apartemen nomor 109 akan mulai ditempati oleh anak dari pemiliknya.
Pria yang bertanggung jawab atas penghuni apartemen segera memberikan formulir, Ada beberapa pertanyaan terkait kebenaran bahwa dia adalah orang yang akan menempati rumah tersebut. Mereka tidak mau ada kesalahan dikemudian hari.
Aydan langsung mengisinya bersama Dara di meja si penjaga. Dara tidak paham sama sekali huruf-huruf di atas kertas itu dan menyerahkannya pada sang suami.
Micha menepi sebentar untuk menghubungi Jae Sun, memberitahukan bahwa keponakannya sudah berada di apartemen Dae Jun, tetapi sepertinya Jae Sun sibuk sekali.
Usai mengisi formulir, mereka pun bergegas menuju lantai 10. Aydan mengangkat semua tas milik mereka seorang diri, tetapi seorang pemuda yang bekerja untuk apartemen itu turut membantu sambil membawa troli.
Sesampainya ditujuan, Alan langsung disambut ingatan akan masa kecilnya di sini. Aydan melihat bayangan masa kecil yang sedang berlarian mengejar papa dan mamanya. Bibir Aydan tersungging meninggi. Hingga istrinya menyadari kalau suaminya sedang senyum sendiri.
Mas Aydan pasti terkenang masa lalu bersama mama dan papanya. Aku ikut sedih juga bahagia, batin Dara.
Langkah kakinya semakin mendekati rumah peninggalan mendiang ayah dan ibunya. Jantungnya berdegup kencang, seperti sedang berada dalam arena pacuan kuda. Momen-momen yang hilang serasa jelas dan satu per satu muncul walau samar.
Bukan hanya Aydan, Micha juga merasa sedih mengenang tempat tinggal pria yang pernah menjadi sahabat dan orang yang dicintainya semasa muda. Jodoh tidak menggariskan Dae Jun menjadi suaminya dan malah bersama kakaknya.
Micha menyeka sudut mata yang menjatuhkan buliran air dengan cepat kemudian menghampiri Aydan yang terdiam di depan pintu.
Micha memeluknya erat karena terbawa emosi. Mereka sampai ditempat bersejarah untuk seorang anak yang telah lama berpisah dengan kedua orang tuanya. Apalagi perpisahannya karena maut. Sakitnya tak terbayangkan.
"Aku pulang, Bi! tapi kenapa hanya aku? di mana papa dan mama?" tanyanya sedih.
"Mereka di surga Min Joon, kau doakan agar mereka bisa senyum kembali karena melihatmu pulang." Micha melepas pelukannya dan mengelus punggung Aydan.
"Aku selalu mendoakan mereka, Bi!" kata Aydan, ikut menyeka pipi.
Micha memberikan kunci rumahnya pada Aydan. Biar dia sendiri yang membuka pintunya.
Dara menghampiri suaminya, memegang serta mencium lengannya dengan sedih. Rasa haru menyelimuti mereka hari ini.
Begitu pintu terbuka, ruangan yang sudah berpuluh tahun dia tinggalkan kini kembali terlihat. Penerangan remang, cukup membuat penglihatan meraba isinya. Micha mengajak mereka masuk, lalu menyalakan lampu utama. Sontak semua sudut kini tak lagi bersembunyi di balik gelapnya cahaya.
Semua tampak seperti dulu, tidak banyak berubah. Itu karena Jae Sun selalu datang setiap 3 hari sekali dan menghabiskan waktu sampai 3 jam demi menjaga kesehatan alat-alat elektronik di dalamnya. Jae Sun rutin meremajakan semu bagian yang dirasa kurang baik karena faktor usia barang.
Aydan tersimpul lebar, menatap dan memegang semua benda yang ada di ruangan tersebut, termasuk keranjang mainan kepunyaannya yang ada di dekat lemari tv. Aydan langsung menariknya dan mengambil salah satunya.
Aydan ingat sekali saat dia bermain ke taman bersama papanya, pasti selalu membawa mainan satu, lalu pulang dengan dua mainan. Itu karena papanya menambah koleksi anaknya.
"Ini punya Mas?" tanya Dara tidak menyangka kalau masih ada. "Paman dan bibi menjaga semua dengan baik," lanjutnya.
Micha mengangguk, "Benar sekali! paman kalian tidak mengizinkan siapa pun menyentuhnya termasuk sepupu kalian itu. Haha!" sahutnya geli dan kedua keponakannya itu ikut tertawa.
"Dara, ini adalah rumah mama dan papa mertuamu. Sayangnya mereka tidak ada lagi. Dara jangan sedih, ya!" kata Aydan, padahal dia yang sangat terpukul.
Dara mengangguk. “Iya, Mas. Walau mama dan papa sudah tiada, tapi mereka akan selalu ada dalam ingatan Mas maupun paman serta bibi," sahutnya.
Aydan tertawa gembira, memeluk istrinya dan mencium kening wanita itu berkali-kali kemudian mengelus perut Dara yang sudah semakin mendekati masa kelahiran. “Aku sayang kalian calon anakku, kita sudah pulang! kita di Korea!" ucapnya pada perut Dara.
Micha punya kenangan juga di sini bersama Dae Jun. Wanita itu melihat ke arah kamar tidur milik Dae Jun. Micha masih ingat kalau Dae Jun tidak pernah memiliki tubuh yang bau saat bangun tidur.
Kalau ada yang bilang bau, maka Dae Jun akan marah besar dan menyuruh orang itu mencium ketiaknya langsung. Bahkan Micha dan Dae Jun bisa sampai kejar-kejaran hanya demi pembuktian itu.
Beberapa jam kemudian, Micha membantu Aydan merapikan baju ke lemari. Micha tidak tega melihat wanita itu lelah karena pindahan.
"Ini adalah ruangan khusus pakaian," kata Micha. "Lumayan besar, mama kalian juga pernah tidur di sini karena sedang marah pada papa kalian," tunjuknya kemudian tersenyum.
"Sayang, apa nanti kamu juga begitu?" tanya Aydan ke Dara.
"Haha, untuk apa tidur di antara pakaian? lebih baik tidur dalam dekapan Mas. Pertengkaran rumah tangga itu biasa, tapi jangan sampai saling menyakiti," jawab Dara.
Micha langsung cekikikan dan melanjutkan proses pemindahan barang. Tidak lama kemudian Dara menemukan sebuah album kenangan orang tuanya. Dara membuka lembaran pertama di balik sampulnya.
Dara tercengang, melihat wajah asli kedua orang tua suaminya. Dae Jun sangat tanpa dan Lee Yun Hee pun begitu cantik. Pantas saja anaknya setampan Aydan.
Dara tidak sengaja meneteskan air mata, spontan sedih kemudian memanggil suaminya. "Mas, ke marilah!"
Aydan langsung menoleh dan mengernyit. "Ada apa, Sayang?"
"Lihat ini," jawab Dara tetap menahan sedih.
Aydan dan Micha melihat apa yang sudah ditunjukkan Dara. Bibirnya terbuka lebar, akhirnya ada foto yang bisa dia simpan sebagai kenang-kenangan masa kecil bersama orang tua. Selama ini hanya sketsa yang dia buat saja menjadi patokan mencari papanya.
Hari ini adalah hari yang penuh tangisan. Tangis bahagia, juga kesedihan. Namun, tak lupa pula mereka mengucapkan syukur karena sudah bisa merasakan kembali ke rumah orang tuanya.